Kamis, 26 Juni 2014

Twoshot - My Love is My Life (2/2)

Hanya akan bilang ... HAPPY READING ALL :*



Hari ini semuanya terasa berbeda. Apalagi bagi Agni Tanasya Rani. Sejak kejadian waktu itu di sekolahannya. Dimana sahabatnya – Cakka menggenggam seorang perempuan di hadapan seluruh warga Star high School.

          Perempuan ini merasa ada keganjilan dengan perasaannya. Dia seperti tidak rela dan ingin sekali melenyapkan semua perempuan yang mencoba mendekati laki – laki itu. Sebenarnya ada apa dengan perasaannya ??

          Perempuan itu berada di depan rumah Cakka sekarang. Biasanya dia langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu terlebih dahulu. Tetapi entah mengapa dia ingin sekali melakukan ini, dengan harapan yang membuka pintu adalah Cakka sendiri.

“Agni.”

          Agni melebarkan senyumannya saat harapannya terjamah. Yang membuka pintu adalah Cakka. Laki – laki itu hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana jeans hanya sebatas lutut. Tapi penampilan sahabatnya malam ini benar – benar membuatnya terpesona. Dan Agni mengakui sekarang, jika Cakka ...... Tampan.

“Bagaimana bisa kau berada disini.” Tanya Cakka yang masih terkejut akan kedatangan perempuan ini pada malam hari ini.

“Kau tidak suka dengan kedatanganku.” Agni merenggut seraya mencengkram sebuah tas kecil yang ia sampirkan menyilang di bahu kananya.

“Bukan begitu. Tapi ini kan ... lagian biasanya kau langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Kau datang bersama siapa ??” Cakka meninggikan tubuhnya berusaha mencari tahu seseorang di belakang tubuh sahabatnya.

“Aku datang sendiri. Tadi aku menggunakan taksi untuk membawaku kemari.”

          Cakka kembali ke posisi semula. Lalu dia mengamati penampilan sahabatnya yang baru laki – laki ini sadari jika perempuan itu menggunakan dress sebatas lutut. Dan tanpa lengan. Apa gadis ini gila, menggunakan pakaian seperti ini saat hujan baru saja turun membasahi bumi dengan hebatnya.

“Masuk.” Cakka menyeret perempuan itu masuk ke dalam rumahnya. Kemudian mendudukannya di sofa yang terdapat di ruang keluarga.

“Dimana orang tuamu ?? Sepi sekali.” Ucap Agni seraya mengedarkan pandangannya.

“Mereka sedang berkunjung ke rumah Oma. Sudah 3 hari ini.”

“Apa ?? 3 hari ??” Agni memasang wajah terkejutnya. Bagaimana bisa dia tidak tahu jika sahabatnya tinggal sendiri sudah 3 hari ini ??

“Kau tunggu disini sebentar.”

          Agni hanya menatap punggung kokoh sahabatnya yang menaiki anak tangga. Mungkin laki – laki itu ingin menuju ke kamarnya. Setelah punggung sahabatnya menghilang dari pandangannya barulah perempuan ini merutuki kebodohannya yang tidak tahu jika laki – laki itu selalu sendiri 3 hari ini.

          Memang sejak kejadian itu, dia tidak pernah bercakap cakap dengan Cakka lagi. Jika bertemu pun Agni dulu yang mengalihkan tatapannya. Dia merasa kesal saja karena waktu itu Cakka lebih memilih menggenggam tangan perempuan berkaca mata tebal daripada menggenggam tangannya.

          Dan selama beberapa hari ini, Agni kehilangan berita seputar Cakka. Dia hanya sibuk dengan kekasihnya. Tanpa pernah ingin tahu apa yang sedang dilakukan sahabatnya saat itu. Dan Agni merasa bersalah sekarang.

“Pakai. Kau bisa sakit jika berpakaian seperti itu Agni. Sudah beberapa kali kukatakan, jika ingin bepergian pakailah pakaian yang tidak terbuka seperti ini.”

Agni merenggut lagi. Dia menarik sebuah jaket yang baru saja dilemparkan oleh Cakka kearahnya. Kemudian memakainya tanpa mengucapkan sesuatu apapun.

“Ada apa kemari ?? Tidak biasanya jika malam minggu seperti ini kau berkunjung ke rumahku. Kau tidak berkencan dengan Rava ??”

          Agni menoleh kearah samping kirinya. Cakka sudah duduk di sana. Dan Agni merasakan jantungnya berdebar sangat kencang saat menatap wajah Cakka dari samping seperti ini. Agni hanya bisa menjerit dalamm hati bahwa Cakka sangat tampan dengan pakaian rumah dan rambut acak – acakkannya.

“Ada apa dengan wajahku ??”

Agni segera menggeleng gelengkan kepalanya dengan kuat. Dia menghela nafas panjang untuk menormalkan jantungnya dan kembali menatap kearah Cakka.

“Aku tidak berniat untuk pergi berkencan dengan Rava hari ini. Aku hanya ingin mengunjungimu saja. Sudah lama aku tidak kemari.”

Cakka hanya mengangguk tanpa berniat membalas ucapan Agni.

“Siapa yang mengurusmu 3 hari ini ?? Kau selalu makan di luar ?? Atau kau bisa memasak untuk makananmu 3 hari ini ?? Atau ada kerabat kedua orang tuamu yang membantumu mengurus rumah dan dirimu ??” Celoteh Agni.

“Semuanya salah. Tebakanmu semuanya salah.”

“Lalu ??” Tanya Agni sangat ingin tahu. Dia mulai fokus menatap wajah sahabatnya yang baru di sadarinya sangat tampan. Apalagi dilihat dari jarak dekat seperti ini.

“Ada seseorang yang membantuku selama 3 hari ini. Adik kelas kita. Yang dulu pernah bertemu denganmu di depan ruang guru. Kau ingat ??”

          Agni memaksa otaknya berfikir siapa orang yang dimaksud oleh Cakka. Di depan ruang guru. Dia tidak pernah ke ruang guru bersama Cakka. Kecuali saat ...

“Perempuan berkaca mata tebal itu ??” Tebak Agni saat sudah mengingatnya.

Cakka menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis. “Dia yang membantuku selama ini. Dia yang membuat sarapan untukku, dia yang selalu mengajakku makan siang dan dia yang selalu mengantarkan makan malam ke rumahku.”

          Agni hanya terdiam. Lagi – lagi perasaan sakit itu kembali datang menerjang dadanya dengan cukup hebat membuatnya tergoncang. Jika saat ini Agni sedang berdiri, mungkin dia akan merosot ke lantai akibat tidak bisa menumpu tubuhnya dengan kedua kakinya karena lemas dan tidak bertenaga.

“Namanya Shany Valleria. Dia yang membantuku. Perempuan itu sangat baik dan polos. Aku sampai selalu merasa bersalah waktu itu sudah membentaknya. Dia benar – benar berbeda dengan perempuan pada umumnya. Dia menolongku dengan tulus dari hatinya. Jika perempuan lain, mungkin sudah meminta imbalan dengan ingin menjadikanku kekasihnya. Tapi tidak dengan perempuan itu.”

“Termasuk aku ??” Sela Agni dengan suara tercekat membuat Cakka berhenti bercerita dan menoleh kearah sahabatnya.

“Kau kenapa ?? Wajahmu pucat Agni. Kau sakit ??” Tanya Cakka dengan perasaan khawatir. Dia menyentuh dahi Agni tapi langsung ditepis kasar oleh perempuan itu. Cakka benar – benar tidak mengerti mengapa Agni melempar tangannya dengan sangat kasar.

“Kau tadi mengatakan hanya perempuan itu yang menolongmu tanpa imbalan apapun ?? Hanya dia ?? Jadi secara tidak langsung, kau menuduhku sama dengan perempuan lain yang jika menolongmu membutuhkan imbalan ?? Iya ?? Jawab aku Kka. Apa selama ini itu yang kau pikirkan tentangku ??”

          Cakka terdiam melihat air mata Agni yang turun membasahi wajah mulus perempuan itu. Awalnya hanya beberapa butir air mata saja, tapi lama – lama air mata itu meluncur deras menyebabkan isakan kecil keluar dari mulut Agni.

Cakka merasa sakit melihat air mata Agni. Sakit ... di bagian dadanya.

          Laki – laki ini langsung memeluk Agni dengan sangat erat. Dia membiarkan Agni membasahi kaos putih yang saat ini dikenakannya. Dia membiarkan Agni menangis puas di dadanya. Dia hanya mengusap usap punggung perempuan itu dan tangan satunya mengusap rambut halus milik Agni. Berusaha menenangkan.

          Setelah tangisan perempuan itu mereda, Cakka mengangkat wajah Agni agar berhadapan dengan wajahnya. Cakka menghapus air mata perempuan itu dengan menggunakan ibu jarinya dengan lembut. Cakka tersenyum menatap Agni.

“Kau tahu, baru kali ini aku melihatmu menangis. Terakhir kali aku melihatmu menangis saat umur kita baru 7 tahun, saat itu aku tidak memperbolehkan kau menyentuh semua mainanku karena aku pikir kau hanya akan merusaknya saja.”

Cakka tertawa renyah membuat Agni mau tidak mau ikut tersenyum.

“Nah, bagitu jauh lebih cantik sayang. Kau tahu, kau sangat cantik jika sedang tersenyum. Maafkan aku. Aku tidak ada niat sedikitpun untuk membuatmu menangis seperti tadi. Maafkan aku.”

Agni hanya diam seraya menundukkan wajahnya. Tapi Cakka tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia mengangkat dagu perempuan itu untuk menatapnya.

“Kau tahu, yang aku bicarakan perempuan lain tentu saja bukan dirimu. Aku tidak pernah menganggap kau orang lain. Karena aku menganggap kau sebagai bagian dari hidupku. Kau yang terbaik buatku Agni.”

“Aku yang seharusnya meminta maaf. Seharusnya sebagai sahabat aku selalu ada untukmu. Tapi 3 hari ini aku selalu disibukkan dengan urusanku sendiri. Aku tidak pernah memperdulikanmu. Maafkan aku.”

Cakka menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang dipaksakan. Ya kau benar, karena selama ini kau selalu mengabaikanku dan lebih memilih bersenang senang dengan kekasihmu itu Agni. Cakka berteriak di dalam hatinya. Dia hanya bisa tersenyum miris mendengar teriakan hatinya.

Story of my life.
Searching for the right, but it keeps avoiding me.
Sorrow in my soul, cause it seems that wrong.
Really loves my company.

          Lagu Rihanna yang berjudul Unfaithful memenuhi indera pendengaran Cakka dan Agni. Cakka menatap Agni yang sedang sibuk mencari ponselnya. Laki – laki itu mengintip sedikit nama sang penelepon. Dan dia membuang wajahnya kearah lain saat nama Rava Prince muncul disana.

“ ............”

“Hai juga Rav. Aku berada di rumah Cakka sekarang. Kau sendiri sedang berada di mana ??” Cakka hanya menatap kosong kearah depan mendengar suara Agni.

“ ...........”

“Kau sudah selesai ?? Benarkah ?? Yasudah, datang saja ke rumahku. Aku akan segera pulang sekarang.” Jawab Agni dengan senyum cerianya.

“ ............”

“Tidak. Tidak perlu. Aku bisa menggunakan taksi untuk membawaku ke rumah. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan pulang sekarang. Sampai bertemu di rumah Rav.”

          Agni menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas kecil yang ia bawa. Kemudian menatap kearah sahabatnya yang tidak menatap kearahnya. Agni menggigit bibirnya karena tidak tega harus meninggalkan Cakka sendiri. Hatinya menolak jika ia pergi. Tapi otaknya memerintahkan dia untuk pergi.

“Kka. Aku ...”

“Kau mau pergi ?? Yasudah tidak apa – apa. Apa perlu aku mengantarmu ??” Cakka mencoba tersenyum kearah Agni. Berusaha untuk meyakinkan perempuan itu jika dia baik – baik saja jika Agni memilih untuk pergi.

Agni merasa hatinya bergetar melihat senyuman Cakka yang terlihat sekali jika itu senyuman yang dipaksakan. Dia sungguh tidak ingin pergi. Dia ingin selalu berada di sisi Cakka. Tapi otaknya tetap kekeh untuk menyuruhnya pergi.

“Tidak usah Kka, aku bisa menggunakan taksi. Terima kasih sudah mengijinkan aku untuk singgah disini. Dan terima kasih untuk ini.” Agni menyerahkan sebuah jaket yang sebelumnya ia kenakan untuk menutupi tubuhnya.

“Sama – sama.”

“Aku pergi Cakka. Kau baik – baik disini.”

          Cakka mengangguk dan mencoba tersenyum. Dia membiarkan Agni keluar dari rumahnya. Agni berjalan kearah pintu sesekali menatap kearah Cakka. Laki – laki itu masih tersenyum membuat Agni ingin menangis sekarang. Mengapa otaknya tidak sejalan dengan hatinya ?? Mengapa otaknya lebih menang dalam memerintahnya ??

Dan Agni benar – benar menghilang di balik pintu.

          Cakka menekan dadanya – lagi. Dan tanpa sadar, air matanya mengalir dengan sendirinya dari kedua matanya. Dia kembali ditinggalkan. Agni lebih memilih menemani kekasihnya yang baru beberapa minggu ini dikenalnya, daripada menemani dirinya yang sedang tinggal sendirian di rumah.

          Cakka menghapus air matanya dengan kasar saat ia sadar ada sesuatu yang membasahi wajahnya. Dia tertawa dengan keras. Menertawakan kebodohannya. Menertawakan perasaannya yang tidak pernahh terbalas. Menertawakan sikapnya yang selalu tersenyum padahal hatinya merasa sakit yang sangat hebat.

          Cakka membuka ponselnya untuk menyibukkan diri. Dia ingin sekali menghilang sekarang. Sekaligus menghilangkan perasannya. Sampai kapan Cakka akan tahan dengan perasaannya yang menekan batinya ini ?? Sampai kapan Agni akan tahu mengenai perasannya ?? Sampai kapan ??

***********

          Jam yang berada di semua muka bumi selalu berdetak dan bergerak seiring dengan berjalannya waktu dari hari ke hari. Semua orang pasti akan selalu merasakan perubahan dalam hidupnya entah kapanpun itu. Manusia akan mengalami saat – saat membahagiakan di waktu tertentu, dan waktu pula yang menyebabkan manusia merasakan saat – saat menyedihkan.

          Dan sekarang, Agni sedang merasakan itu. Merasakan saat – saat paling menyedihkan seumur hidupnya. Sudah hampir genap 1 bulan dia tidak bertemu dengan Cakka. Hidup Agni sungguh hampa. Bahkan dia tidak bersemangat dalam melakukan apapun dari hari ke hari. Yang ia pikirkan hanya Cakka dan selalu Cakka. Kenyataan bahwa laki – laki itu sengaja menjauhinya membuatnya sakit.

          Yah, Cakka menjauhinya akhir – akhir ini. Dia benci kenyataan itu. Dia sakit melihat Cakka selalu berdekatan dengan Shany di sekolahnya. Dia kesal tidak bisa berbuat apapun untuk memisahkan mereka berdua.

          Cakka terlihat sangat dekat dengan Shany. Bahkan banyak sumber yang mengatakan jika mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih. Cakka selalu saja menghabiskan waktunya di perpustakaan sekarang. Dan Agni sadar, jika Cakka melakukan itu pasti karena perempuan berkaca mata tebal.

          Agni pernah melihat secara langsung saat Cakka bermain basket di lapangan indoor di sekolahnya seperti biasa. Tapi lain halnya dengan seseorang yang menunggunya disana. Biasanya Agni yang duduk disana, tapi sekarang Shany lah yang duduk di sana dengan wajah ceria sesekali bertepuk tangan akan kehebatan Cakka.

          Agni baru menyadari sekarang. Setiap laki – laki itu memintanya menemaninya untuk bermain basket, Agni hanya duduk diam seraya sibuk sendiri dengan ponselnya tanpa memperdulikan pemuda itu yang sedang menunjukkan kehebatannya yang akan membuat perempuan manapun mengaguminya.
Dan Agni menyesal sekarang.

Mengapa dulu dia tidak terlihat senang jika menemani pemuda itu bermain basket ??

          Sekarang tidak ada sahabat sebaik Cakka, tidak ada seseorang yang memiliki perhatian yang terlalu berlebihan seperti laki – laki itu. Tidak ada seorang Cakka lagi yang mendengar cerita ceritanya. Dan Agni merasa kehilangan.

          Setiap saat dia selalu terpikirkan satu nama – yaitu Cakka. Setiap berjalanya waktu hanya ada nama Cakka yang mengelilingi otaknya. Bahkan saat dia berkencan dengan kekasihnya saja masih terpikirkan akan Cakka. Mengapa laki – laki itu selalu masuk ke dalam pikirannya ??

Ada apa dengan perasaannya ??

Dia selalu tidak suka jika Cakka dekat dengan perempuan manapun termasuk Shany.

Dia tidak suka jika Cakka tersenyum untuk perempuan lain.

Dia juga tidak suka jika Cakka memberi perhatian untuk perempuan lain.

Apakah Agni mencintainya ?? Apakah perasaan itu adalah perasaan cinta untuk sahabatnya sendiri ?? Apakah perasaannya kali ini benar – benar perasaan cinta ??

Dan Agni tidak menemukan jawabannya. Dia tidak pernah menemukan seseorang yang memiliki tingkat perhatian melebihi batas seperti Cakka. Dia tidak pernah menemukan seseorang yang selalu ada seperti Cakka. Agni benar – benar merasa kehilangan sekarang. Dia benar – benar merindukan sahabatnya itu.

“Permainan kakak bener – bener mempesona tadi.”

          Suara itu. Suara tawa yang terdengar sesudahnya membuat Agni mencari tahu darimana asal suaranya. Dia sekarang berada di SHS park. Dia duduk sendirian dari tadi disana. Dan sekarang sudah ada 2 orang lagi yang menemani. Agni tentu saja mengenal mereka. Mereka Cakka dan Shany. Yang baru saja datang ke sana dan duduk di tempat yang cukup jauh dari Agni.

“Itu jelas Shany. Kalau tidak mempesona bukan Cakka namanya.”

“Pantas saja jika semua perempuan mengejar kakak. Bagaimana bisa aku tidak tahu jika aku bersekolah yang di dalamnya ada makhluk yang mempunyai kelebihan batas seperti kakak. Andai saja aku tahu dari awal, pasti aku sudah menjadi fans kakak.”

“Berlebihan. Aku sungguh tidak suka dengan semua perempuan yang mengejarku.”

“Apa alasanya ??”

“Aku tidak tahu. Yang aku tahu, aku hanya nyaman berada di sisi perempuan seperti Agni dan juga dirimu.”

“Bagaimana kabarnya kak Agni ?? Kakak pernah mengobrol berdua ??”

          Agni mendengar namanya mulai disebutkan sekarang. Jadi dia lebih memilih menajamkan pendengarannya untuk bisa mendengar apa yang akan mereka bicarakan lebih lanjut mengenai dirinya. Dia rindu Cakka. Sungguh. Dia ingin berlari ke arah mereka, mendorong Shany menjauh dan memeluk Cakka seerat yang ia bisa.

“Agni ?? Aku selalu mengingatnya setiap saat. Tapi aku tidak yakin dia masih mengingatku. Dia sudah bahagia dengan laki – laki pilihannya.”

Tidak. Aku tidak merasa bahagia jika tidak ada dirimu di sampingku Cakka. Dan aku juga selalu mengingatmu setiap saat. Sungguh. Agni mulai menjerit dalam hatinya berharap Cakka bisa mendengarnya.

“Mengapa kakak tidak mengutarakan perasaan kakak yang sebenarnya ??”

          Perasaan ?? Perasaan apa yang perempuan berkacamata itu maksud ?? yang membuatnya bahagiakah ?? Atau malah membuat hatinya sakit ??
“Suatu saat nanti aku pasti akan jujur dengan perasaanku. Tapi tidak untuk saat ini.”

“Kak, bagaimana kalau kita berfoto bersama ??”

          Agni mencibir mendengar perempuan itu mengalihkan pembicaraan mereka. Mungkin tidak ingin melihat Cakka sedih – yang bisa dilihat dari suaranya yang terlihat lemah – dan ingin membuat laki – laki itu kembali ceria.

“Kau merasa dirimu cantik ?? Berani sekali mengajakku berfoto bersama.”

          Agni tertawa bahagia di dalam hatinya mendengar ejekan pedas dari seorang Cakka Nuraga. Rasakan. Memangnya enak mendengar ejekannya. Batinya senang.

“Hey, aku bercanda. Kau tidak perlu menunjukkan wajah jelek seperti itu. Kau harus tahu bahwa kau cantik. Aku saja mengakuinya saat pertama kali kita bertemu.”

          Agni meremas rok sekolahnya yang berwarna biru putih kotak kotak yang panjangnya hanya 5 centi di atas lutut. Dia menatap geram kearah Cakka yang sudah berani – beraninya memuji perempuan lain di hadapannya. Seharusnya hanya Agni yang mendapat pujian seperti itu.

“Benarkah ?? Waaah aku sangat tersanjung mendengar bahwa pangeran sekolah mengakui jika aku cantik. Aku harus cerita pada ibuku. Dia pasti sangat gembira mendengar bahwa ada pangeran tampan yang menyebut anaknya cantik.”

“Cih, berlebihan sekali perempuan berkacamata itu. Dia pikir Cakka memuji dengan tulus ?? Cakka hanya memuji dengan tulus jika pujian itu ditujukkan untukku.” Gumam Agni dengan penuh rasa kesal. Dia masih menatap tajam kearah mereka.

“Kau sangat lucu Shany Valleria. Yah, kau cantik. Bahkan sangat cantik. Cerita saja pada ibumu bahwa aku mengakui jika kau cantik.”

          Cakka. Berhenti membual seperti itu. Agni berteriak kembali di dalam hatinya dengan rasa kesal yang amat sangat. Agni sungguh tidak rela, jika laki – laki itu memuji perempuan lain. Cakka hanya boleh memujinya.

Tanpa sadar, daun yang sedari tadi ia gunakan untuk menutupi tubuhnya dari penglihatan mereka berdua ia remas remas dengan penuh minat. Wajahnya penuh kemarahan. Ingin menerkam Shany segera dan mencakar perempuan itu hingga wajahnya tak berbentuk. Dasar perempuan sok manis. Berani sekali dia mengambil Cakka dariku. Awas saja kau. Agni terus mengumpat tidak jelas karena kesal.

          Karena kesal melihat adegan mesra mereka berdua yang sekarang sedang berfoto bersama, Agni segera melangkahkan kakinya keluar taman. Dia menghentak hentakkan kakinya dengan kesal dan memasang wajah tidak bersahabat kepada setiap orang yang ditemuinya.

“Aku ingin membunuh orang sekarang juga.” Teriaknya dalam hati.

************

          Selama beberapa hari ini. Dia selalu saja mencari tahu tentang perasaannya yang sebenarnya. Perasaan dirinya untuk sahabatnya. Kalian tahu apa itu ?? Agni mencintainya. Yah, Agni mencintai sahabatnya sendiri yang selama bertahun tahun ini selalu ada untuknya.

          Selama ini Agni pikir, dia nyaman berada di sisi Rava – kekasihnya. Tapi itu semua tidak membuktikan kebenarannya sekarang. Nyatanya, di setiap kencan mereka beberapa kali ini, Agni merasa kekosongan yang sangat luar biasa. Dan dia tidak bisa berhenti memikirkan Cakka.

          Dan dia baru menyadari, jika Agni nyaman karena Cakka masih berada di sisi dirinya. Di setiap kencan mereka, Agni selalu mengirim pesan singkat untuk laki – laki itu. Dia tidak sepenuhnya fokus kepada Rava. Pikirannya juga terus menuju ke sahabatnya. Dia menyesal baru menyadari sekarang.

Agni merindukan Cakka.

          Dia sampai terbaring lemah sekarang diatas tempat tidurnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak makan dengan teratur. Membuat penyakit maag’nya kambuh di saat seperti ini. Ini karena perasaannya untuk sahabatnya sendiri. Sudah dua hari ini dia sakit. Tapi Cakka belum menjenguknya kesini.
“Agni, makan dulu sayang. Kamu tidak akan sembuh jika terus seperti ini.”

“Agni tidak ingin makan mah. Perut Agni selalu sakit jika dimasukkan oleh makanan – makanan itu. Sungguh.”

“Apa yang kamu mau ?? Mama janji akan menurutinya kali ini. Tapi setelah itu kamu juga harus janji sama mama akan makan.”

Agni menatap Mamanya dengan pandangan berbinar. “Benarkah ??”

“Iya. Mama akan mengabulkan keinginan kamu.”

“Agni mau Cakka ada disini. Disamping Agni. Dan dia yang menyuapi Agni dengan makanan itu. Agni janji akan makan.”

          Mama tersenyum begitu manis. Agni sampai harus bertanya – tanya ada apa dengan mamanya kali ini. Permintaannya tidak sulit kan ?? Tapi mengapa Mama menangggapinya hanya dengan senyuman itu ??

“Mama. Mama sudah janji akan mengabulkan permintaan Agni kan. Sekarang mana.”

“Iya mama janji. Dan mama akan mengabulkan permintaan kamu.”

“Sekarang permintaan kamu terkabulkan Agni.”

          Suara itu. Agni dengan cepat beralih kearah pintu. Dan dia membelalakan matanya melihat seseorang yang sangat ia rindukan berada di sana. Dengan kemeja bergaris berwarna biru putih dan celana panjang berwarna hitam. Di tangannya ada sebuket bunga yang sangat Agni yakini itu adalah mawar putih. Bunga kesukaannya.

“Cakka.”

“Hey. Kau tidak merindukanku ?? Hanya memanggilku ?? Apa setelah ini kau juga akan menyuruhku untuk pulang ??”

“Tidak. Tentu saja tidak. Kemari. Aku ingin memelukmu.” Dengan cepat Agni menjawab dan menepuk ranjang di sebelah kirinya yang masih kosong. Sedangkan di sebelah kananya masih ada mamanya yang melihat mereka dengan senyuman.

          Cakka berjalan kearah Agni. Belum sempat ia duduk dengan benar di sebelah kiri Agni, perempuan itu sudah memeluknya membuat Cakka tertawa. Dia kembali membetulkan posisi duduknya dan membalas pelukan Agni dengan sama eratnya. Sama. Dia juga sangat merindukan sahabatnya yang sangat ia cintai ini.

“Kau tahu, aku sungguh rindu padamu Cakka. Sangat.”

Cakka hanya tertawa pelan seraya mengusap punggung perempuan itu dengan penuh kasih sayang. Tangan lainnya ia gunakan untuk menggenggam tangan kanan Agni yang dirasanya memiliki suhu badan di atas rata – rata. Panas.

“Kau sakit ??” Tanya Cakka dengan wajah tidak berdosa. Dia menganggukkan wajahnya saat mama Agni meminta ijin untuk keluar dari kamar anak perempuannya dan meningggalkannya hanya berdua dengannya.

“Ini semua karenamu. Aku sakit seperti ini karena menahan rindu yang sangat hebat kepadamu. Tapi kau tidak peka dengan perasaanku.”

          Cakka menarik tubuh gadis itu agar Cakka bisa melihat wajah perempuannya. Dan dia tersenyum melihat wajah pucat Agni. Perempuan ini benar – benar keras kepala. Kesehatan aja buat main – main. Hanya karena merindukannya.

“Aku punya ini buatmu. Tapi kau harus menghabiskan makanan yang ada di piring ini. Setuju ??” Cakka menyodorkan sebuket bunga mawar putih kepada Agni. Dia sangat tahu jika perempuan itu sangat menyukainya.

“Iya, aku setuju. Berikan itu padaku.” Agni langsung merebutnya dari tangan Cakka.

          Cakka tertawa lebih keras sekarang. Tingkah lucu Agni membuat dirinya bahagia. Cakka sangat merindukan perempuan ini. Sangat. Perlahan Cakka mengambil piring itu dan mulai menyuapi Agni sedikit demi sedikit.

          Agni sendiri menerima makanan itu dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya. Perempuan itu menatap wajah tampan sahabatnya yang juga sangat ia cintai. Cakka memang selalu terlihat tampan. Dalam keadaan apapun.

“Semoga cepat sembuh.” Ucap Cakka seraya mencium kening perempuan itu. Agni hanya memejamkan matanya dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.

“Bagaimana bisa kau berada disini ??”

“Aku mendengar bahwa kau sakit aku langsung menuju kesini. Dan aku sudah disini dari satu jam yang lalu.” Ucap Cakka seraya meletakkan kembali piringnya.

“Apa ?? Mengapa tidak masuk ??” Tanya Agni dengan wajah terkejutnya.

“Sengaja menunggu perintah dari mamamu. Bagaimana hubunganmu dengan Rava ??”

Agni menggelengkan kepalanya dengan lemah. “Aku ternyata tidak menyukainya. Aku baru menyadari jika ada satu orang laki – laki yang sangat aku cintai.”

Cakka juga memasang wajah lemahnya. Ada satu laki – laki ?? Laki – laki mana lagi yang dicintai perempuan ini sekarang ?? Entah mengapa Cakka merasa sudah tidak ada harapan lagi untuk mengejar perempuan ini.

“Kau ingin tahu siapa ??” Tanya Agni dengan nada gembira.

Cakka mencoba tersenyum. “Siapa ??”

          Agni mendekatkan wajahnya kearah laki – laki itu. Cakka tersentak kaget. Apa yang akan dilakukan perempuan ini ?? Agni melingkarkan tangannya di leher Cakka. Cakka hanya diam seraya menunggu apa yang akan dilakukan perempuan ini.

CUUUPPP

          Cakka membelalakan matanya. Agni menciumnya. Dan kalian tahu dimana ?? Dia menciumnya tepat di bibirnya. Agni mencium tepat di bibir. Oh God. Apa yang terjadi dengan sahabatnya ini ??

“Agni.” Gumam Cakka dengan suara yang sangat pelan karena terlalu terkejut.

“Laki – laki yang baru saja aku cium itu adalah laki – laki yang sangat aku cintai.”

          Cakka kembali dikagetkan dengan satu kalimat yang baru saja diucapkan oleh Agni. Jadi, dia yang perempuan itu cintai ?? Benarkah ??
“Kau tidak bercanda kan ?? Tanya Cakka memastikan.

Agni menggeleng gelengkan kepalanya dengan kuat. Senyumannya masih belum pudar sama sekali. “Bagaimana dengan perasaanmu ??” Tanyanya gembira. Tapi saat wajah Shany melintas di kepalanya, senyumnya langsung memudar. “Apa kau sudah dimiliki oleh Shany ??” Agni bertanya dengan pelan tanpa senyuman sekarang.

“Shany ?? Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan adik sepupu ku sendiri.” Ucap Cakka dengan pasti. Agni melebarkan matanya.
“Sepupu ?? Bagaimana bisa ??”

“Aku baru menyadari saat aku bermain ke rumahnya pertama kali. Aku merasa jika rumah Shany pernah aku datangi sebelumnya bersama kedua orang tuaku. Ternyata itu rumah tanteku. Dan aku bertambah dekat dengannya. Sekaligus membuatmu cemburu. Kau cemburu kan melihatku bersama Shany ??”

“Yah, rencanamu sungguh berhasil Cakka Nuraga. Aku terjebak dalam permainanmu.”

“Itu sangat menguntungkan buatku. Karena perasaanku terbalas.”

“Terbalas ?? Jadi kau juga mencintaiku ??”

“Yah, jauh sebelum kau menyadari bahwa kau juga mencintaiku.”

          Dengan cepat Agni memeluk Cakka seerat yang ia bisa. Ia merasa bahagia sekarang. Sangat. Agni terus menerus tersenyum dalam pelukan laki – laki itu. Dia tidak tahu jika perasaannya bisa sebahagia ini. Bahkan waktu ia bersama dengan Rava, dia biasa saja. Tidak merasakan perasaan membuncah bahagia seperti ini. Dan ini semakin membuktikan bahwa Agni memang mencintai Cakka.

“Maukah kau menjadi kekasihku Agni Tanasya Rani ??”

“Tentu saja aku mau. Siapa yang akan menolak jika seorang Cakka yang memintanya. Apalagi menjadi kekasihnya.”

“Apa yang kau ingin bicarakan kepadaku Agni ?? Sesuatu yang belum pernah kau ucapkan untukku mungkin ??” Tanya Cakka dengan senyuman menggodanya.

          Agni semakin menenggelamkan wajahnya di bahu laki – laki itu. Dia merasakan wajahnya memanas. Dan dia tidak ingin Cakka melihatnya.
“Aku hanya ingin berkata bahwa kau ... tampan.” Gumam Agni.

          Cakka semakin melebarkan senyumnya. Dia mendengar apa yang dikatakan oleh Agni barusan. Tapi, dia ingin menggodanya.

“Apa ?? Aku tidak mendengarnya. Aku ingin kau mengatakannya sekali lagi. Tapi kau harus menatap kearahku. Lepaskan pelukannya dan ucapkan di depan wajahku.”

“Cakka.” Rengek Agni dengan manja. Masih menyembunyikan wajahnya di bahu laki – laki itu.

“Ayo Agni. Aku hanya ingin mendengarnya sekali lagi.”

          Agni perlahan melonggarkan pelukannya. Dia mengangkat kepalanya dan benar – benar melepaskan pelukannya. Kemudian menarik kepalanya agar bisa menghadap kearah laki – lakinya yang sudah berstatus sebagai kekasihnya.

Agni menatap Cakka yang masih tersenyum manis dengan wajah malu – malunya. “Aku hanya ingin bilang bahwa kau ... tampan.”

“Kau mengakui hal itu sekarang ??” Tanya Cakka dengan tatapan menggodanya.

          Agni memukul bahu laki – laki itu pelan. Cakka terkekeh dan menarik Agni kembali ke dalam pelukannya. Cakka memejamkan matanya seraya memeluk tubuh Agni dengan erat. Sangat erat. Tanda bahwa Cakka tidak akan pernah rela jika Agni mencoba untuk melepaskan diri darinya.

          Cakka bersyukur jika semuanya berakhir seperti ini. Semuanya tidak terduga. Entah mengapa menyadari jika perempuan yang selama ini ia cinta juga mencintainya membuatnya merasa berada di langit ke tujuh. Dia senang ?? Itu sangat jelas.

          Mereka hanya berharap bahwa kebahagiaan mereka tidak akan berakhir dengan cepat. Mereka hanya berharap kebersamaan mereka sejak mereka kecil hingga sekarang bahkan selamanya akan terus seperti ini. Bersama – sama, berdua untuk selamanya.

***********

Hanya butuh komentar kalian atau jempol kalian di karya gue yang satu ini ;)
See guys ;)

Twoshot - My Love is My Life (1/2)

Hay semuanyaaa :D lama tidak berjumpa, haha.
Kalian harus tahu, kalau aku itu lagi memperjuangkan masa depan #bahasanyaaa :D
tapi nyata loh guys.
ck, gak usah curhat lah. aku cuma mau bilang kalau ini cerbung CAGNI :))
gak tahu kenapa gue lagi kepikiran sama pasangan KEDUA favorit gue setelah RIFY :D
langsung aja guys. HAPPY READING :*



Cakka Nuraga. Seorang laki - laki yang sangat tampan dan juga berbakat yang mempunyai kelebihan hampir mendekati sempurna. Laki - laki itu sedang memainkan bola basketnya di dalam sebuah lapangan indoor yang berada di sekolahnya. Siapapun yang melihatnya, pasti tidak akan bisa mengalihkan tatapan mereka dari laki - laki ini. Cakka, tidak bisa dilewatklan begitu saja.

Tapi sayangnya, tidak banyak orang yang menontonya. Dia hanya berdua. Bersama dengan seorang perempuan yang sedang duduk di bangku penonton dengan raut wajah penuh kebosanan dan kelelahan. Seharusnya, bukan seperti itu, raut wajah seseorang jika sudah melihat seorang Cakka bermain basket. Tapi sepertinya itu sebuah pengecualian untuk seorang perempuan yang satu ini.

Agni Tanasya Rani.

          Nama itu yang membuat seorang Cakka lebih bersemangat bermain basket pada siang hari ini. Sesekali laki - laki itu melirik ke bangku penonton dimana perempuan itu benar – benar tidak berniat untuk menontonya. Hanya diam seraya memainkan ponselnya dengan wajah bosan.

Cakka berhenti dan menoleh kearah perempuan yang berada dalam satu ruangan bersamanya dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibir seksinya.

Laki - laki itu tersenyum, menambah nilai plus dari siapapun yang akan melihatnya. Dan sekali lagi, tidak ada yang melihatnya tersenyum begitu manis seperti ini, termasuk gadis yang masih memainkan benda hebat itu dalam genggaman tangan mungilnya dengan malas.

“Apa sebegitu membosankan, menontonku dalam bermain basket, Agni ??”

          Perempuan itu mencibir pelan. Jarak yang cukup jauh membuat Cakka tidak bisa mendengar baik apa yang diucapkan oleh perempuan itu. Dia mendekat dan duduk tepat di sebelah Agni dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku penonton seraya mengatur nafasnya.

          Agni menoleh. Seharusnya dia terpesona melihat wajah laki – laki itu yang bahkan jika selesai bermain basket, tingkat ketampananya tidak berkurang sama sekali, justru berkali kali lipat lebih dan lebih dari biasanya. Tapi Agni hanya diam seraya menatap malas laki – laki itu.

          Wajahnya putih, dengan mata indahnya yang membuat siapapun terhipnotis tidak bisa mengalihkan pandangannya dari laki – laki ini. Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis dengan warna merah membuatnya semakin seksi. Dengan rambut acak – acakkan dengan butiran keringat yang selalu saja meluncur dari wajahnya membuatnya semakin seksi. Ini Cakka Nuraga. Idola semua wanita hampir di seluruh dunia.

Tapi Agni tidak menunjukkan wajah terpesonanya sama sekali.

Aneh. Tapi membuat Cakka justru hanya menatap dengan pandangan lain kearahnya. Pandangan yang memiliki arti tersendiri yanga hanya seorang Cakka yang tahu.

“Ada apa dengan wajahku ?? Apa aku terlihat tampan ??” Tanya Cakka dengan nada menggoda membuat perempuan itu lagi – lagi mencibir.
“Tampan ?? Hanya orang bodoh yang menyebut dirimu tampan.”

Cakka terkekeh pelan. Dia kembali melanjutkan untuk menggoda perempuan itu. “Kau salah. Yang benar itu, hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat ketampananku.”

“Jadi kau menuduhku bodoh.” Ucap Agni dengan pandangan menusuk kearah laki – laki itu. Tatapan tajamnya justru membuat perempuan ini semakin manis.

“Aku tidak bilang begitu.”

“Apa ini balasan untuk orang yang sudah bersedia menemanimu dalam bermain basket selama berjam jam tanpa melakukan apapun. Kau pikir aku tidak bosan.”

          Laki – laki itu tersenyum. Dia sangat suka jika perempuan ini sudah mengeluh dengan nada marah dan ekspresi yang justru membuat gemas seorang Cakka. Dia mengacak acak rambut perempuan itu dengan penuh rasa sayang.

“Aku juga tidak pernah bosan mengikuti kemauanmu kemanapun. Pergi ke salon, ke mall, bahkan menonton bioskop yang didalamnya hanya terdapat sepasang kekasih yang terus menerus membuat keadaan menjadi sangat memiriskan. Hanya bertengkar tidak jelas dan ujung ujungnya membuat sang perempuan menangis histeris karena kata putus yang terlontar dari bibir laki – lakinya. Itu jauh lebih buruk daripada menonton aksi bermain basketku.
“Itu menurutmu. Tidak menurutku.”

          Agni menatap ke depan dengan kedua tangannya yang menyangga tubuhnya di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Dia tahu, jika sedari tadi, seseorang yang berada di sampingnya terus menerus menatap kearahnya. Entah dengan ekspresi seperti apa.

          Cakka menaikkan alisnya dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibir tipis dan seksinya itu. Dia menatap perempuan di hadapannya sekarang karena posisi dia yang tepat menghadap ke perempuan itu.

          Dilihat dari samping seperti ini, perempuan itu masih terlihat cantik. Dengan rambut panjangnya yang sekarang sedang diikat ekor kuda. Menyisahklan beberapa helai rambutnya di sisi kanan dan kiri wajah gadis itu. Matanya sangat cantik, alisnya berbentuk dan dahinya tertutup oleh rambut kecil yang disebut poni. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan bersinar karena lips yang ia gunakan. Dan Cakka sangat menyukai apa yang perempuan itu miliki.

Siapa yang tahu jika Cakka menyukai perempuan ini.

Perempuan yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka berada di bangku sekolah dasar. Dan perasaan Cakka yang entah muncul sejak kapan.

Ya, Cakka menyukai sahabatnya sendiri. Tanpa ada satu orangpun yang tahu tentang perasaan laki – laki itu terhadap Agni. Termasuk perempuan itu sendiri.

“Sudah hampir malam. Ayo pulang.” Ajak Cakka seraya menyodorkan tangan kananya di hadapan perempuan itu.

          Agni menatap tangan itu. Tangan yang sudah berkali kali membantunya jika dia sedang ‘terjatuh’ ataupun sedang ada masalah apapun. Tangan yang selalu menopanganya saat tubuhnya tidak kuat menahan segalanya. Tangan yang selalu menghapus air matanya dan tangan yang selalu memeluknya.

Tanpa membutuhkan waktu lama. Agni meraih tangan itu dan menggenggamnya erat.

“Aku masih butuh hadiah atas jasaku hari ini. Dan aku akan menagihnya. Karena aku tahu, kau tidak mungkin memberikannya sekarang.” Ucap Agni setelah berdiri berhadapan dengan laki – laki itu.

“Kau tahu ?? Memang apa alasanya ??”

“Aku sudah bertahun tahun menjadi sahabatmu. Kau baru saja bermain basket tanpa istirahat selama berjam jam. Bagaimana mungkin aku merengek kepadamu disaat tubuhmu itu begitu kelelahan.”

“Kau memang sahabatku yang pengertian. Aku mencintamu.” Ujar Cakka dengan nada penuh keseriusan. Tidak ada nada bercanda dalam kalimatnya tadi.

“Aku juga.” Balas Agni seraya tertawa.

Cakka hanya tersenyum perih. Perkataannya kembali dijadikan lelucon oleh Agni.

Dan selamanya, perempuan itu akan menganggap kata – kata cintanya sebuah lelucon. Cakka hanya tersenyum perih dengan nasib percintaannya yang tidak pernah berujung menuju sebuah kebahagiaan. Entah kapan ini semua akan berakhir. Tapi laki – laki ini akan terus menunggunya hingga kebahagiaan itu dapat ia raih dengan kemampuannya sendiri.

**********

          Cakka sekarang sedang berada di rumah Agni. Lebih tepatnya berada di dalam kamar perempuan itu. Hanya berbaring seraya melihat apa yang dilakukan sahabat yang dicintainya itu dalam diam. Tanpa berkomentar sedikitpun.

          Laki – laki ini sangat tahu apa yang dilakukan oleh Agni. Perempuan itu sedang memilih pakaian untuk dipakaiannya pada acara dinner hari ini. Jika bersama Cakka, pasti laki – laki itu sudah tersenyum bahagia melihat jika perempuan itu berdandan untuknya. Tapi nyatanya tidak, perempuan itu berdandan untuk laki – laki lain.

“Bagaimana dengan yang ini ??”

          Cakka menatap sebuah long dress yang baru saja ditunjukkan oleh perempuan itu kepadanya. Tidak buruk. Sungguh. Tapi jika perempuan itu memakainya hanya untuk ditunjukkan khusus untuknya. Tapi, lain dengan kali ini.

“Sangat buruk. Kau tidak pantas memakai gaun panjang seperti itu.” Ungkapnya dengan tidak berperasaan. Agni hanya memasang wajah tidak sukanya.

“Sedari tadi, kau selalu berkomentar seperti itu. Kau sengaja ?? Atau kau memang tidak suka aku tampil cantik seperti perempuan pada umumnya ??”

Aku tidak suka karena kau akan tampil cantik untuk laki – laki lain. Kau tahu. Batin laki – laki itu berteriak. Tapi hanya disimpan di dalam hatinya, Cakka belum mempunyai keberanian untuk mengatakannya.

“Daripada kau mengurusi kehidupanku, sebaiknya kau mengurusi hidupmu sendiri. Sampai sekarang, kau selalu saja menolak semua perempuan yang menyatakan cinta padamu dengan tulus. Kau ini sebenarnya bodoh atau apa ?? Semua laki – laki bahkan ingin sekali berada di posisimu. Bisa dekat dengan perempuan – perempuan cantik seperti itu. Tapi kau justru menolak semua sikap baik mereka.”

          Cakka berpura pura memainkan gadget milik perempuan itu. Tapi dia bisa mendengarkan apa yang perempuan itu ucapkan. Seharusnya Agni tahu, jika dia menolak semua perempuan – perempuan yang memang selalu menunjukkan rasa suka pada dirinya karena perempuan ini. Karena Cakka mencintai Agni.

          Tapi sepertinya perempuan itu mempunyai perasaan tidak peka. Bahkan sekarang dia tidak segan – segan menunjukkan bahwa dia terlihat sangat gembira akan berkencan dengan laki – laki lain – yang berstatus sebagai kekasihnya sendiri –di depan matanya.

          Kekasih ?? Mengingat hal itu membuat Cakka merasakan kesakitan yang luar biasa hebatnya di bagian dadanya. Agni sudah memiliki kekasih. Kenyataan itu membuat Cakka frustasi akhir – akhir ini.

“Kau tidak mendengarkanku.” Teriak Agni dengan kesal. Perempuan ini paling tidak suka jika ada seseorang yang tidak mendengarkan perkataannya.
“Aku mendengarkanmu Agni.” Jawab Cakka dengan malas.

“Lalu ?? Mengapa sampai saat ini kau tidak memiliki kekasih ?? Kau bisa memiliki kekasih dengan mudah mengingat banyaknya perempuan yang sudah menyatakan cintanya padamu.” Ungkapnya tanpa menoleh kearah Cakka.

“Aku belum menemukan yang tepat.”

“Seperti apa perempuan yang kau mau ?? Semua perempuan yang mendekatimu hampir mencapai nilai sempurna. Kau memang bodoh jika sudah menyangkut hati.”

          Cakka membalas dengan cibiran pelannya. Agni pasti tidak akan mendengarnya karena perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaiannya dengan long dress yang baru saja ditunjukkan kearahnya.

          Laki – laki itu mengusap wajahnya kasar. Dia kembali berbaring telentang di atas tempat tidur perempuan itu. Tempat tidur yang sudah berkali kali ia tempati dari saat ia masih kecil bahkan sampai sekarang.

          Orang tua Agni selalu percaya kepadanya bahwa Cakka tidak akan berbuat macam – macam terhadap putri tunggal mereka. Karena Cakka memang selalu keluar masuk rumah Agni tanpa merasa tidak enak hati. Bahkan orang tua Agni menyayangi Cakka seperti anak sendiri. Begitupun dengan keluarganya yang menganggap Agni seperti bagian dari keluarga mereka.

          Cakka ingat sekali saat Agni datang kerumahnya saat dia sedang bermain basket di belakang rumahnya sendiri. Perempuan itu datang dengan wajah ceria dan senyum lebarnya membuat Cakka yakin jika ada sesuatu yang baru saja terjadi.

          Cakka ikut tersenyum waktu itu, senyuman perempuan itu menular begitu cepat kearahnya. Saat itu laki – laki ini sangat yakin, jika apa yang akan disampaikan oleh Agni adalah berita bahagia yang jika ia mendengarnya, dia juga akan bahagia. Tapi kalimat perempuan itu benar – benar membuatnya terdiam menegang.

“Kau tahu, hari ini Rava menyatakan cintanya padaku. Kau ingat dengan laki – laki yang pernah bertanding denganmu saat perlombaan basket antar sekolah itu kan ?? Rava Alviano. Dan laki – laki ini ternyata mencintaiku Kka. Dan cintaku terbalas. Aku juga mencintai dia saat baru pertama kali bertemu.”

          Saat itu dunia Cakka merasa hitam dan tidak berwarna. Dia merasa baru saja dijatuhkan ke dalam jurang panas yang sangat dalam. Membuat organ tubuhnya mengalami ketegangan yang sangat luar biasa. Dia menangis di dalam hatinya. Tapi dia berusaha menunjukkan wajah cerianya kepada sahabat perempuannya yang paling ia sayangi dan juga paling ia cintai.

Dan dengan sikap tenangnya, dia berusaha menjawab.

“Aku turut bahagia mendengar ceritamu. Sekarang sudah ada laki – laki yang akan menjagamu jika aku tidak berada disisimu. Itu membuatku lega sekaligus bahagia.”

Dan Cakka mengeluarkan senyum palsunya. Dia berpura pura bahagia melihat sahabatnya yang sedang bahagia. Apakah dia bahagia melihat perempuan yang sangat dicintainya bahagia bersama laki – laki lain ?? Jelas saja jawabannya tidak. Tapi dia berusaha menguatkan hatinya agar senyuman sahabatnya itu tidak pernah pudar. Setidaknya untuk hari itu sampai sekarang.

“Kau melamun lagi.”

          Suara itu membuat laki – laki ini kembali ke alam sadarnya. Dia menggeleng gelengkan kepalanya berusaha melupakan moment paling menyakitkan yang sempat muncul dalam ingatanya. Cakka berusaha fokus terhadap sahabatnya. Dan Cakka membelalakan matanya begitu melihat penampilan perempuan itu.

          Rambut sebatas dada Agni tergerai dengan begitu indah, ditambah dengan long dress berwarna putih yang dikenakannya plus high heels yang menyelimuti kedua kaki indahnya yang warnanya senada dengan dress yang ia kenakan. Sungguh, penampilan Agni sangat amat cantik hari ini. Dia seperti seorang bidadari.

Sampai Cakka lupa mengerjapkan matanya saat itu.

“Berhenti melihatku seperti itu Cakka. Kau seperti orang yang akan memburu mangsanya saat melihatku. Bagaimana dengan penampilanku ??” Tanya Agni seraya memutar tubuhnya dengan begitu mempesona. Bahkan laki – laki sampai lupa bagaimana caranya berkedip.

“Cakka.”

          Laki – laki ini kembali menggeleng gelengkan kepalanya. Dia kembali masuk ke dalam dunia khayalannya lagi. Ini sudah keberapa kalinya laki – laki ini melamunkan orang yang sama hari ini.

“Kau sangat cantik Agni.”

“Tentu saja aku harus tampil cantik. Malam ini Rava mengajakku dinner serta berkencan. Jadi aku harus memberikan penampilan terbaik malam ini.”

          Seperti ada bom yang meledak di dalam diri laki – laki ini membuat Cakka tersadar bahwa sahabat perempuannya ini akan berkencan dengan Rava. Musuh abadinya dalam dunia basket. Entah mengapa, kenyataan itu membuatnya nyaris berteriak karena tidak tahan dengan rasa sakit di hatinya.
Sampai kapan aku harus mengalami kejadian seperti ini ?? Batinya berteriak.

“Aku pergi dulu Cakka. Doakan semoga kencanku hari ini berjalan lancar. Okey.” Agni menghampiri Cakka yang masih terduduk terdiam di atas kasurnya. Dia memeluk Cakka dan mencium pipi sahabatnya itu. Kemudian berlalu pergi.

Agni pergi meninggalkannya – lagi. Dan hanya untuk mengejar laki – laki lain yang bahkan baru dikenalnya beberapa minggu ini.

          Cakka menekan dadanya yang terasa amat sangat mmenyakitkan. Dia bangkit dan berjalan pelan kearah jendela kamar Agni kemudian melihat kearah bawah. Dia menemukan Agni dan Rava yang sedang berpelukan di bawah sana. Dengan senyuman manis dan juga tatapan penuh cinta.

Cakka menundukkan wajahnya dalam dalam. Laki – laki ini mengepalkan kedua tangan dengan seerat mungkin karena tidak bisa mencegah semuanya.

“Mengapa hanya aku yang merasakan perasaan ini Tuhan. Mengapa Engkau tidak membiarkan perempuan itu mempunyai perasaan yang sama denganku ??”

************

          Cakka berjalan di koridor sekolahnya dengan wajah dingin seperti biasa. Tangan kananya memegang lengan tas punggungnya yang hanya tersampirkan asal di bahu kananya. Laki – laki itu sendiri sekarang. Karena tadi pagi perasaan yang sangat menyakitkan kembali hadir dalam organ tubuhnya yang paling intim.

“Cakka, aku tidak bisa berangkat bersamamu hari ini. Rava mengajakku berangkat bersama. Kau tenang saja, dia pasti mengantarku dengan selamat sampai sekolah. Kau hati – hati di jalan yah. Aku mencintaimu sahabatku.”

          Beberapa kalimat itu lagi – lagi menampar Cakka dengan cukup keras. Agni menghubunginya hanya untuk menyampaikan beberapa kalimat menyakitkan itu. Tanpa memberikan waktu untuk dirinya menjawab ucapannya.

Apakah sebahagia itu perasaan Agni saat berada di dekat Rava ?? Apakah Agni lebih bisa tertawa lepas hanya jika bersama Rava ??

          Pertanyaan – pertanyaan itu lagi – lagi membuat laki – laki ini menekan dada dengan gerakan cukup kuat. Berusaha meredam perasaan menyakitkan yang langsung menyentuh organ vitalnya.

“Kak Cakka.”

          Cakka memejamkan matanya dengan erat. Berusaha menahan emosi saat dia mendengar namanya disebut oleh seorang gadis – jika didengar dari suaranya yang lembut. Rahangnya mengeras dan laki – laki ini memutuskan untuk berbalik.

“Ada apa ??” Tanyanya hampir membentak. Membuat perempuan di hadapannya mundur beberapa langkah karena ketakutan. Perempuan itu hanya menundukkan wajahnya, terlalu takut jika menatap wajah Cakka yang sangat menakutkan saat ini.

“Itu kak, Mmm, Itu ...”

Cakka menunjukkan wajah tidak sukanya melihat perempuan ini. “Kau pasti sengaja mencari perhatianku. Jangan menggangguku, jika kau masih ingin selamat saat ini.”

          Suara itu benar – benar membuat seluruh tubuh perempuan ini menggigil karena ketakutan. Dia meremas tangannya sendiri dan menggigit gigit bibir bawah dan atasnya secara bergantian karena terlalu takut dengan Cakka.

“Tidak kak. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Hanya ingin menyampaikan sesuatu dari Pembina basket.”

“Apa ??” Tanya Cakka dengan tidak sabaran. Perempuan ini terlalu bertele – tele membuatnya geram sendiri. Kalau saja, di hadapannya bukan seorang perempuan pasti sudah habis di tangan Cakka sekarang.

“Kak Cakka harus menemuinya sekarang. Ada yang ingin beliau sampaikan kepada kak Cakka. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku pergi.” Ujar perempuan itu seraya membalikkan tubuhnya bersiap pergi.

Tapi Cakka menahannya dengan mencengkram erat lengan perempuan itu yang pastinya akan menyakitinya.

“Ada apa kak ??” Tanyanya dengan takut.

          Cakka mengamati wajah perempuan itu. Manis dan terlihat lugu dan polos. Kulitnya putih bersih dan wajahnya cantik tanpa ada cacat sedikitpun dengan hidung mancung dan bibir tipisnya yang membuatnya semakin cantik. Wajahnya tanpa polesan make up dan kaca mata besarnya menutupi mata coklat perempuan itu.

Cantiknya alami. Tanpa harus menggunakan benda benda untuk berhias.

“Kau harus ikut denganku. Jika apa yang kau ucapkan adalah sebuah kebohongan. Aku tidak akan segan – segan untuk menghabisimu sekarang.”

          Perempuan itu menegang. Cakka bisa merasakan itu. Tapi dia tidak perduli. Karena suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang. Dan dia butuh pelampiasan. Dia hanya ingin bermain – main sebentar. Karena sudah banyak yang menggunakan cara ini untuk menarik perhatiannya.

“Namamu siapa ?? Dan berada di kelas mana ??”

Perempuan itu masih belum menatap Cakka. Terlalu takut.

“Shany Valleria kak. Aku duduk di kelas X IA 1.” Jawabnya dengan takut – takut.

          Cakka mengangguk anggukkan kepalanya. Dia baru menyadari jika sedari tadi perempuan ini memanggilnya dengan embel – embel ‘kak’ di depan namanya. Ternyata dia berada dua tahun di bawah Cakka karena laki – laki ini duduk di kelas XII IA 4.

          Cakka berjalan dengan memegang lengan perempuan itu, ah bukan memegang tapi mencengkram lebih tepatnya. Dan menimbulkan pertanyaan besar bagi seluruh warga SHS – Star High School. Pangerannya yang paling tampan sedang berjalan berdampingan dengan seorang perempuan selain sahabatnya – Agni.

Penggosip akan mulai bekerja hari ini. Dan Cakka lah yang menjadi tokoh utamanya.

“Kau tunggu disini. Kau tidak bisa melarikan diri karena aku sudah tahu siapa dirimu. Mengerti Shany.” Ucap Cakka penuh penekanan membuat perempuan itu mengangguk dengan kuat berusaha untuk meyakinkan Cakka.

Cakka menepuk kepala perempuan itu dengan pelan. “Bagus.”

          Perempuan itu menghela nafas lega karena diberi kesempatan untuk bernafas dengan teratur kembali sekarang. Walau untuk sementara, tapi itu merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri perempuan ini.

Perempuan ini berharap jika kakak seniornya itu akan lebih lama di dalam sana. Kalau bisa sampai bel berbunyi. Jadi dia mempunyai alasan untuk melarikan diri.

“Kau ada hubungan apa dengan Cakka.”

          Pertanyaan itu membuat Shany menoleh dengan cepat. Dan dia kembali menegang melihat Agni – yang ia tahu merupakan sahabat baik kakak seniornya yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya – berdiri tidak jauh darinya.

“Kak Agni. Aku ... aku hanya .. hanya ..”

          Agni menatap heran perempuan di hadapannya yang sekarang sedang gemetar melihat kedatangannya. Keringat dingin mulai muncul dari dahinya dan juga tangannya yang sedang ia remas di depan tubuhnya. Apa sebegitu berbahayakah dirinya sampai reaksi perempuan ini sebegitu berlebihan ??

“Aku hanya ingin mendengar jawabanmu secara jelas.” Ucap Agni tegas.

“Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan kak Cakka. Aku berani bersumpah.”

“Lalu mengapa Cakka bisa menggenggam tangamu dan berjalan berdampingan dengamu ?? Kau sedang tidak mencoba untuk membohongiku kan ??”

“Tidak kak, tidak. Aku tidak membohongiku. Aku berkata yang sebenarnya.”

          Entah mengapa ada perasaan kesal saat tadi dia melihat adegan dimana Cakka menggenggam perempuan ini di hadapan semua orang. Karena biasanya tangannya lah yang laki – laki itu genggam. Seharusnya dia senang melihat Cakka bisa berjalan dengan seorang perempuan. Bukankah ini yang ia mau ??

          Tapi hatinya menolak saat melihat adegan tadi. Dia tidak suka. Dia tidak rela Cakka menggenggam tangan perempuan lain. Dan dia tidak tahu karena alasan apa dia tidak menyukai adegan itu.

“Agni ??”

          Agni tersadar dari lamunanya saat namanya disebutkan oleh seseorang yang sangat ia kenal selama bertahun tahun. Agni tersenyum begitu manis melihat laki – laki itu. Tapi Cakka hanya tersenyum sekilas dan kembali menatap perempuan lain selain Agni yang berada disana. Membuat Agni merasakan sakit luar biasa.

“Kita harus berbicara.” Ucap Cakka dengan tegas kearah Shany. Shany hanya diam karena tidak tahu harus berbuat apa melihat tatapan menyeramkan milik Cakka.

“Kka, kau sudah sarapan ?? Kebetulan aku tadi membuat ...”

“Agni. Maafkan aku. Tapi aku benar – benar harus pergi dengan perempuan ini. Aku sudah sarapan pagi tadi. Aku pergi.” Ucap Cakka memotong ucapan Agni tadi dengan sangat terburu buru kemudian menarik tangan perempuan lain dan pergi meninggalkan Agni.

Cakka pergi meninggalkan Agni sendiri. Dan itu baru terjadi sekarang. Baru kali ini selama bertahun tahun mereka hidup bersama – sama sebagai seorang sahabat.

Dan Agni hancur mengetahui kenyataan jika Cakka memilih menarik tangan perempuan berkacamata tebal itu daripada menarik tangannya.

          Agni kembali merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Entah itu karena dia tidak rela ada perempuan lain yang berada di sisi Cakka atau tidak rela bahwa Cakka lebih memilih menggenggam tangan perempuan itu dari pada tangannya.

          Perempuan ini benar – benar tidak tahu mengapa perasaan seperti ini menyerang hatinya. Dia tidak suka ada perempuan lain yang berada di samping Cakka – sahabatnya. Dia sudah tidak ingin melihat Cakka bersama seorang perempuan seperti permintaannya yang selalu menyuruh laki – laki itu memiliki kekasih.

Dia mencabut ucapannya yang selalu menyuruh laki – laki itu untuk memiliki seseorang yang selalu berada di sisinya. Dia tidak suka.

Bolehkah ia egois sekarang ?? Dia hanya ingin Cakka berada di sisinya. Hanya dia seorang yang selalu ada bersama Cakka. Dia tidak ingin Cakka bersama seorang perempuan selain dirinya. Bisakah ia egois sekarang ??

Agni menangis tanpa sadar. Dan baru kali ini ia menangis karena Cakka. Sahabatnya yang selalu ada untuknya. Selalu ada di saat dia sedang ‘terjatuh’. Selalu ada di saat dia membutuhkan pertolongan untuk kembali ‘bangkit’ dari keterpurukan.

Agni membutuhkan Cakka sekarang. Tidak hanya sekarang, tapi untuk besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan bahkan untuk selamanya.

***********

gak butuh apa - apa. hanya ingin bilang.
DON'T BE A SILENT READERS :))
hanya meminta kalian untuk meninggalkan jejak ;)