Minggu, 25 Mei 2014

Love in Danger - Chapter 2 (RIFY)

Salut Salut mes amis :*
maafkan atas keterlambatan post saya ya teman :D buat kalian yang demo saya minta maaf :D
okeh, hari ini aku post 2 chapter karena ke potong jadi gak enak kan -__-
okeh dah, langsung aja nih yah ^^
HAPPY READING GUYS :*


Cahaya pagi menembus ke dalam sebuah kamar melalui ventilasi di semua lubang yang ada di kamar kost tersebut. Kedua insane manusia  berbeda kelamin itu masih asyik bergelut dalam mimpi indahnya. Mereka tidur dengan posisi saling merapat satu sama lain.

            Beberapa saat kemudian, salah satu dari mereka menggeliatkan tubuhnya. Alyssa membersihkan matanya dan wajahnya dengan menggunakan kedua tangan. Dia langsung membuka kedua matanya dan mengernyitkan keningnya saat dirasakan ada sesuatu yang menindih perutnya. Sesuatu yang berat membuat dia cepat – cepat mengecek ada apa disana.

            Dan matanya membelalak begitu melihat ada seorang pria yang masih tertidur pulas di sampingnya. Pria itu dalam keadaaan telanjang bagian atas. Dengan cepat, dia membuka selimut yang sedari tadi menutup tubuhnya dan ...

“Mariooooooooo.” Teriaknya membuat pria disampingnya menggeliatkan tubuhnya.

            Mario membuka matanya dan menatap siapa orang yang sudah mengganggu tidur pulasnya. Dan matanya membulat begitu melihat seorang wanita yang sangat ia kenali sedang tertidur di sampingnya. Cepat – cepat dia bangun dan menarik tangannya dari perut wanita itu.

“Apa yang loe lakukan ??” Tanyanya lagi seraya berteriak. Dia berusaha duduk dengan satu tangannya, sedangkan tangan yang lain berusaha menahan selimut agar tidak merosot dan memperlihatkan tubuh telanjangnya.

“Gue ... gue ..” Ucap Mario terbata. Dia hanya menatap takut ke wajah wanita di sampingnya. Dia juga tidak tahu, mengapa dia bisa berada disini bersama dengannya.

“LOE.” Bentak Alyssa. Dan tanpa disadari, air matanya mengalir di kedua matanya. Menatap benci ke bos’nya yang hanya memasang wajah tidak bersalahnya.

“Alyssa. Gue bisa jelasin, gue gak ngerti kenapa ini bisa terjadi. Tadi malam, kita ...”

“Diem.” Potong Alyssa cepat. Mario membungkam mulutnya rapat – rapat.

            Alyssa menatap kearah sprei ranjang dengan pandangan nanar. Dia tidak menyangka, ada noda darah disana. Sesuatu yang ia jaga selama ini harus berakhir sia – sia sekarang. Wanita ini menundukkan wajahnya dengan air mata yang masih mengalir di kedua mata indahnya.

            Mario mengikuti pandangan wanita itu. Dan dia terkesiap saat melihat noda darah disana. Dan pria ini sangat yakin, itu berasal dari kegadisan wanita yang tengah menundukkan wajahnya ini. Pria ini tidak menyangka, ternyata wanita di sampingnya masih menjadi seorang gadis.

“Alyssa. Gue minta maaf.” Lirih Mario seraya mendekatkan diri kearah Alyssa.

“Andaikan tadi malam gue gak memaksa loe minum wine itu, pasti gak seperti ini jadinya. Gue minta maaf. Sekali lagi gue minta maaf.”

            Alyssa menatap Mario dengan wajah sendunya. Air matanya tidak bisa ia hentikan, semakin mencoba untuk berhenti, semakin banyak pula yang mengalir. Mario meneguk saliva’nya dengan pelan. Entah mengapa, kerongkongannya terasa kering. Dia merasa bersalah sekarang.

“Apa dengan permintaan maaf loe, sesuatu yang hilang dalam diri gue akan kembali lagi ?? Apa bisa ?? Hah.”

            Mario langsung memeluk Alyssa dengan sayang. Dia mengusap usap rambut wanita itu supaya tenang. Alyssa masih terus menangis dengan tangannya yang selalu memukuli dada bidang milik pria itu.

“Gue akan tanggung jawab kalau terjadi sesuatu sama loe. Gue janji. Tapi please, berhenti nangis. Gue akan tanggung jawab Alyssa.”

            Mario bisa merasakan gelengan kepala dari gadis itu. Ini pertama kalinya dia melakukan ini, sama seperti Alyssa. Dia juga tidak tahu harus berbuat apa. Selama ini, pria tampan ini selalu memegang prinsip, dia akan melakukan perbuatan ini bersama dengan pendamping hidupnya nanti. Tapi sekarang, dia bahkan melanggar sendiri prinsip yang sudah ia tetapkan susah payah.

“Gue mohon berhenti nangis.” Mohon Mario seraya menarik kedua bahu telanjang milik Alyssa dengan lembut. Kemudian dia menghapus air mata yang masih mengalir dari kedua mata cantik milik wanita itu.

            Alyssa menatap pria di hadapannya dengan wajah kecewanya. Bagaimana bisa dia melakukan ini dengan bos’nya sendiri. Bagaimana bisa dia merelakan miliknya yang paling berharga untuk pria di hadapannya.

“Apa yang akan terjadi sama gue setelah ini.” Gumam Alyssa lirih.

Mario mengusap wajahnya kasar. Dia langsung mencium bibir Alyssa dengan lembut. Kemudian melumatnya dan menggigit bibir bawah wanita itu. Hanya beberapa detik, dan detik berikutnya, Mario langsung mencium dahi wanita itu cukup lama dengan penuh rasa sayang.

“Loe akan selalu sama gue. Loe gak akan sendirian lagi Alyssa. Gue janji bakalan selalu ngelindungin loe dan ngejagain loe. Gue janji. Loe bisa pegang janji gue.”

“Tapi kita gak saling mencintai.”

“Bantu gue untuk bisa mencintai loe.” Ucap Mario tegas. Alyssa hanya menatap kedua mata pria itu, mencoba untuk mencari kebohongan disana. Ternyata tidak ada, dia yakin ucapan pria itu dapat dipercaya.

“Gue yatim piatu. Gue gak punya barang mewah. Dan gue hanya seorang wanita yang bekerja di sebuah pub untuk bertahan hidup. Apa loe masih mau sama gue ??”

            Ucapan lirih wanita itu benar – benar membuat Mario tidak tega. Pria ini tahu, jika kedua orang tua Alyssa sudah meninggal dunia entah karena apa. Saat pertama kali wanita ini bekerja di kantornya, Mario sempat menanyakan perihal itu, tapi Alyssa tidak menjawab dan mengalihkan perhatiannya.

“Gue udah bilang kan tadi. Loe gak akan sendirian lagi sekarang. Apalagi menjadi seorang yatim piatu. Gue bisa jadi ayah, ibu, bahkan kakak buat loe.”

“Loe Cuma merasa bersalah kan sama gue.”

“Itu bener Alyssa. Gue gak mau menyangkal hal itu. Maka dari itu gue mohon sama loe, bantu gue untuk bisa mencintai loe. Loe hamil atau enggak, gue tetep akan ada di samping loe.”

“Janji ??” Tanya Alyssa seraya menyodorkan jari kelingkingnya pada Mario. Mario hanya tertawa dan menautkan jari kelingkingnya pada jari Alyssa. Kemudian Mario mengecup bibir wanita itu secara singkat.

“Gue mau, loe berhenti bekerja di melody’s club. Sekarang profesi loe Cuma sebagai sekretaris Mario di dalam kantor ataupun di luar kantor. Mengerti ??”

            Saat Alyssa ingin membalas ucapan Mario, pria itu sudah lebih dulu memotong pembicaraan wanita itu. “Tidak ada penolakan Alyssa. Kalau sampai loe berani datang ke tempat itu lagi tanpa gue, gue akan ngurung loe seharian penuh di ranjang ini.”

            Alyssa mencubit lengan pria itu tanpa perasaan membuat Mario memekik kesakitan. Pria itu menatapnya dengan garang, tapi Alyssa hanya menganggapnya angin lalu, dia mengangkat bahunya acuh kemudian turun dari ranjang.

“Alyssa gue serius.” Teriak Mario kesal.

“Terserah.”

“Alyssa.”

Tok tok tok.

            Mario mengalihkan perhatiannya pada pintu kamar kost Alyssa. Dia menatap bingung pintu itu, siapa yang bertamu pagi – pagi begini ke kost wanita itu ?? Pria itu mengalihkan tatapannya pada Alyssa sekarang. Wanita itu juga sama dengannya, hanya menatap bingung pintu kamar kost’nya.

“Siapa ??” Tanya Mario heran. Wanita itu hanya mengangkat bahunya acuh.

“Loe masuk ke kamar mandi gih, biar gue bukain pintunya. Jangan sampai orang di balik pintu kamar kost loe tahu apa yang udah kita lakuin semalem.” Ucap Mario seraya memakai pakaiannya dan membenarkannya. Kemudian dia merapikan ranjangnya dan menutup dengan kain tepat di bagian noda darah milik Alyssa.

            Setelah memastikan Alyssa masuk ke kamar mandi, dia berjalan untuk membukakan pintu. Dan dia mengernyitkan keningnya saat melihat wanita paruh baya dengan sebuah kipas yang dikibas kibaskan di tangan kananya serta perhiasan yang menempel dimana - mana. Postur tubuhnya yang melebar sempurna serta wajahnya yang garang membuat Mario sedikit ngeri.

“Ibu siapa ?? Ada apa ya kemari ??” Tanya Mario berusaha untuk lembut.

“Kamu tanya saya siapa ???” Bentak wanita paruh baya itu membuat Mario mundur beberapa langkah karena kaget.

“Maaf bu, tapi saya kan tidak ta ...”

“Seharusnya saya yang menanyakan kamu siapa. Mengapa kamu bisa berada di dalam kamar Alyssa ?? Apa yang sudah kalian lakukan ??” Bentaknya lagi dengan keras.

Mario hanya bersungut sungut kesal. Jarak mereka tidak terlalu jauh dan cukup dekat, tapi kenapa harus membentak dengan berteriak di depannya ?? Memangnya kuping gue gak sehat apa. Gerutu Mario dalam hati.

“Bu. Jarak kita deket. Dan kuping saya masih sehat. Ibu tidak usah berteriak seperti itu saya juga bisa mendengarnya.” Jawab Rio kesal.

“Kamu ...”

“Mario.”

            Teriakan dari dalam membuat kedua orang yang masih berseteru itu menatap kearah sumber suara. Alyssa berlari ke arah pintu dan langsung mencubit lengan pria itu membuat Rio lagi – lagi meringis kesakitan.

“Maaf bu, dia itu pemimpin di perusahaan tempat saya bekerja bu. Ada apa ya bu ??” Tanya Alyssa sopan.

            Bisa Mario lihat wanita paruh baya itu menatap kearahnya dengan matanya yang melebar kemudian mengalihkan perhatiannya kembali pada Alyssa.

“Pemimpin perusahaan, seperti ini. Perusahaan mana yang dia pimpin ?? Apa ada pekerja yang mau bekerja disana ?? Tidak sopan sekali.” Sindirnya.

            Mario hanya menatap geram wanita itu karena Alyssa sudah memberikan isyarat menggunakan matanya bahwa ia tidak boleh membalas perkataan wanita itu.

“Saya tidak perduli lagi dengannya. Saya kesini hanya ingin menagih uang sewa kost ini Alyssa. Sudah 4 bulan kamu menunggaknya, teman – teman kamu yang lain bilang kamu punya dua pekerjaan dengan bayaran yang mahal. Tapi kenapa bayar kost saja tidak bisa ??” Omel Wanita paruh baya itu dengan kesal.

            Kedua mata Mario membulat sempurna mendengar pernyataan yang baru saja di jabarkan oleh wanita itu yang ternyata adalah pemilik kost ini. 4 bulan ?? Wanita ini tidak membayar kost selama 4 bulan ?? Tapi kenapa ?? Bukankah penghasilan Alyssa cukup banyak ?? Mengingat dia pernah bekerja di perusahaan Damanik dan bekerja di sebuah pub. Mario benar – benar bingung sekarang.

“Berapa bu jumlah semuanya ??” Tanya Mario cepat.

“4 juta.” Ucap wanita paruh baya itu secara santai. Mata pria itu membulat.

“4 juta ??? Ibu bercanda ?? Ini hanya kost kecil dengan fasilitas yang tidak meyakinkan. Bagaimana mungkin 1 bulannya 1 juta ??” Ucap Mario kaget.

“Itu karena Alyssa tidak membayar tepat waktu.”

“Bu, saya janji. Minggu ini saya akan melunasinya. Saya janji bu.” Sela Alyssa.

            Mario menatap Alyssa bingung. Wanita itu benar – benar misterius. Pria ini merasa dipermainkan dengan kehidupan rumit milik Alyssa. Sebenarnya uang yang selama ini wanita itu dapatkan untuk apa ?? Kemana uangnya ??

“Tidak bisa Alyssa. Ibu sudah memberi waktu kamu. Tapi kamu selalu berkata seperti itu. Ibu tidak percaya lagi. Sekarang bayar uangnya.”

“Tapi bu ...”

“Biar saya yang membayarnya.” Sela Mario. Pria itu mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan kertas yang ternyata cek dan menuliskan disana. Kemudian dia menyerahkan cek itu kepada wanita paruh baya itu.

“Ini bu. Saya tidak membawa uang cash sekarang. Jadi silahkan ibu ambil cek ini dan jangan pernah menganggu ketenteraman kamar kost Alyssa lagi.”

“Terima kasih. Saya permisi.”

            Mario menutup pintu kamar Alyssa dengan pelan. Kemudian dia menarik kedua bahu wanita itu agar menghadapnya. Wanita itu hanya menundukkan wajahnya.

“Tatap gue Alyssa.” Ucap Mario tegas.

            Alyssa menggeleng gelengkan kepalanya membuat Mario geram lantas menaikkan dagu wanita itu dengan telunjuknya.

“Gue tanya sama loe dan jawab dengan jujur. Buat apa uang yang selama ini loe dapatkan dari pekerjaan loe. Kemana uangnya Alyssa ??”

“Itu bukan urusan loe.”

“Tapi loe menunggaknya udah 4 bulan.” Ucap Mario gemas. Menatap wanita itu dengan tatapan mengintimidasi, berusaha agar Alyssa jujur.

“Uangnya buat beli baju sama yang lainnya.” Jawab Alyssa pelan.

            Mario menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia menegakkan tubuhnya kembali setelah sebelumnya membungkukkan sedikit tubuhnya. Dia tahu, jika wanita di hadapannya berbohong. Tapi pria tampan ini juga tidak berhak untuk memaksa wanita itu supaya jujur karena Mario sadar diri, dia bukan siapa – siapa Alyssa.

“Gue gak akan memaksa loe buat jujur. Karena gue yakin banget, jawaban loe barusan bukan jawaban yang sebenarnya. Ayo siap – siap. Kita harus ke kantor sekarang. Gue pinjem kamar mandi loe.”

            Mario berlalu masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Alyssa hanya menatap punggung lebar itu dengan tatapan menyesalnya. Setelah itu, wanita itu menundukkan wajahnya dan menahan agar air matanya tidak keluar. Ucapan pria itu memang benar, jawaban tadi bukan jawaban yang sebenarnya.

“Gue pasti akan memberi tahu loe, suatu saat nanti.”

***********
            
Hari ini Mario disibukkan dengan berbagai meeting dengan beberapa clien. Dia harus rela mengeluarkan tenaganya lebih banyak sekarang. Dan dengan berat hati, Alyssa mengikuti kemana bos’nya itu pergi. Karena jabatan dia di bawah pria tampan itu sebagai sekretaris di kantor Mario.

“Hari ini kegiatan gue banyak Lys ??” Tanya Mario seraya menatap wanita yang sedang sibuk membereskan berkas – berkas pentingnya.

“Pak, ini di kantor. Bahasa formal dong. Ntar kalau ada yang denger kan gak enak.”

“Ya di bikin enak dong.” Jawab Mario asal membuat Alyssa mendengus kesal.

“Saya serius pak Mario yang terhormat.” Ujar Alyssa geram seraya menatap bos’nya itu dengan tatapan membunuhnya.

“Iya iya. Sensi banget sih.”

            Alyssa hanya mengangkat bahunya acuh. Dia kembali mengerjakan tugasnya atas suruhan bos’nya itu. Huft. Ini sih namanya bukan sekretaris, lebih tepatnya gue itu baby sitter’nya dia. Batin Alyssa sebal.

“Hey, jawab pertanyaan saya dong Alyssa.” Ucap Mario gemas karena wanita itu tidak menjawab pernyataannya.

“Tugas bapak hari ini sangat padat. Hampir full. Jadi, gak ada waktu buat bercanda apalagi bersenang senang.” Ucap Alyssa tegas seraya berjalan kearah Mario dengan susah payah. Kemudian menyodorkan beberapa berkas kearah pria itu untuk di tanda tangani oleh Mario.

            Mario memperhatikan Alyssa dengan serius saat wanita itu berjalan kearah dirinya, karena tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang janggal disana. Membuat Mario mengernyit bingung.

“Kenapa jalan loe ?? Kok aneh gitu ??”

            Alyssa menatap wajah menyebalkan di hadapannya. Pertanyaan macam apa itu. Bukannya dia sendiri yang membuatnya menjadi seperti ini ?? Ini kesalahan Mario atas apa yang sudah mereka lakukan semalam. Dan itu semua karena minuman anggur itu. Semuanya menjadi tak terduga seperti ini.

“Bapak tanda tangani kertas - kertas itu sekarang. Saya tidak punya waktu lagi.”

“Kok mengalihkan pembicaraan sih, jawab saya Alyssa.”

            Alyssa menatap tajam ke arah Mario. Dia terus menunjukkan raut sebalnya kearah pria itu. Mario balik menatap Alyssa. Berusaha untuk bisa membaca tatapan wanita itu. Setelah dia mengetahuinya, Mario tersenyum menggoda kearah wanita itu yang masih berdiri di depannya hanya terbatasi oleh meja besar. Ternyata perubahan itu karena perbuatan mereka semalam.

“Ehem, okeh gue tanda tangani berkas – berkas ini. Tapi gue punya syarat, loe cium gue disini.” Ucap Mario seraya menggoda wanita itu dengan menaruh jari telunjuknya di bibirnya.

“LOE GILA ???” Pekik Ify dengan kerasnya membuat Mario langsung maju kearah wanita itu dan menutup mulutnya dengan telapak tangan kananya.

“Loe yang gila, kalau ada yang denger gimana ??” Bisik Mario gemas plus geram. Dia melepaskan bekapannya dan menarik kedua bahu wanita itu agar menghadapnya. Dan tanpa meminta persetujuan wanita itu, Mario langsung mencium bibir merah muda Alyssa dan melumatnya perlahan kemudian melepaskannya.

            Alyssa hanya menatap kosong kearah pria itu yang sekarang sedang berkutat pada berkas – berkas penting itu. Kemudian tersadar saat Mario sudah berada di hadapannya dengan tangan kananya yang mengelus pipi kirinya dengan lembut.

“Jangan ngelamun terus.” Ucap Mario geli. “Nih berkasnya, jangan sampe salah ngerjainnya, itu berkas penting.”

            Alyssa hanya mendengus kemudian menarik kasar berkas – berkas itu dari tangan Mario. Kemudian berlalu pergi setelah sebelumnya mendorong dada pria itu dan menatap tajam pria itu yang dengan seenaknya hanya ditanggapi dengan kekehan kecil penuh godaan.

“Lumayan, buat hiburan.” Gumam Mario seraya terkekeh pelan dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.

***********
            
Mario menghembuskan nafasnya secara kasar. Dia mengusap usap wajahnya berkali kali. Tubuhnya ia senderkan ke senderan kursi tertingginya. Keadaannya sudah amat sangat berantakan. Kemeja putihnya sudah keluar dari celananya dan lengannya di tekuk sampai ke siku, sedangkan jas’nya hanya tersampirkan asal pada kepala kursi serta rambutnya yang acak acakkan.

            Pekerjaannya sudah berhasil ia selesaikan. Dan rasanya sekarang, ia ingin sekali meminum wine kesukaannya. Untuk mengusir rasa lelah pada tubuhnya. Mario melirik ke jam tangannya yang terpasang apik di tangan kirinya. Ternyata sudah hampir jam 11 malam, dan dia baru saja merampungkan pekerjaannya.

            Mario sungguh menyayangkan Alyssa yang sudah pulang lebih dulu darinya. Karena merasa tidak tega membiarkan wanita itu yang sudah sangat kelelahan, akhirnya dia mengijinkan Alyssa pulang lebih dulu.
“Mendingan gue ke kost’nya deh.” Putus Mario.

            Pria itu mengambil jas’nya kemudian keluar kantor. Dia memutuskan untuk ke kost Alyssa. Tidak enak juga jika kembali ke apartement’nya dan hanya dia sendiri disana. Dia hanya butuh teman sekarang. Karena sahabatnya – Alvin – sedang ada urusan bersama keluarganya sekarang. Jadi, Mario tidak bisa meminta bantuan ke pria itu untuk menemaninya.

            Mario berhenti di depan kost Alyssa. Dan dia mengernyit bingung saat mendapati sebuah mobil di depan kost Alyssa. Masalahnya pintu kamar wanita itu terbuka, tandanya ada seseorang yang bertamu disana. Mario memutuskan untuk menunggu sampai pemilik mobil keluar.

Tok Tok Tok !!

            Mario menatap ke samping kananya. Sudah ada dua orang wanita disana, dan dua wanita itu yang Mario yakini sebagai wanita yang telah menghina Alyssa kemarin. Kemudian, pria itu memutuskan untuk membuka kaca mobilnya.

“Kenapa ??” Tanyanya heran.

“Loe mau ke kost Alyssa ??” Tanya salah satu wanita itu dengan senyuman miringnya.

“Iya. Emang kenapa ??”

“Gak apa – apa sih. Saran gue, tunggu sampe orang tuanya pulang. Gak mungkin kan loe ketemu sama mereka dengan memperkenalkan diri loe sebagai teman kencan ‘wanita malam’ itu ??” Ucap wanita yang satunya dengan nada menyebalkannya.

“Alyssa bukan wanita malam.” Desis Mario marah.

“Dia kerja di pub saat malam hari. Apa namanya kalau bukan wanita malam ??”

“Jaga ucapan loe.” Ucap Mario marah. “Gue gak suka kalian menyebut Alyssa sebagai wanita malam, ngerti.”

“Whatever.”

“Loe bilang tadi di dalem ada orang tua Alyssa ?? Kok bisa ?? Bukannya orang tuanya udah meninggal ?? Kenapa mereka membiarkan Alyssa tinggal di kost sementara orang tuanya aja punya mobil mewah ??” Tanya Mario beruntun dengan heran.

“Kita gak akan menjawab pertanyaan loe karena loe udah membentak kita tadi.”

“Ck, loe tinggal jawab. Loe minta berapapun gue bayar.”

“Sayangnya gue gak tertarik. Mendingan gue cari cowo lain daripada bekas dari seorang Alyssa.” Ucapnya dengan marah kemudian berlalu dari hadapan Mario.

“Shit. Mereka cari masalah sama gue.”

            Mario kembali menatap ke kamar kost Alyssa yang pintunya masih terbuka. Mobil mewah ini benar – benar milik orang tua Alyssa ?? Di dalam sana benar – benar ada orang tua Alyssa ?? Bukannya kata Alyssa sendiri orang tuanya udah meninggal ?? Ck, sayangnya gak ada satupun pertanyaannya yang terjawab.

“Apa perlu gue percaya sama omongan mereka berdua ?? Mariooo, kenapa loe bodoh banget disaat seperti ini. Seharusnya loe percaya sama Alyssa.”

            Mario terus menerus merutuki kebodohannya yang hampir saja percaya pada dua musuh Alyssa. Seorang musuh pasti selalu ingin membuat musuhnya sendiri menderita. Dan bukti itu sudah di depan mata. Jadi, tidak ada alasan bagi Mario untuk percaya pada ucapan dua gadis tadi.

            Beberapa saat kemudian, Mario memutuskan untuk turun dari mobilnya. Dia berjalan mendekat kearah kamar kost Alyssa.

“Permisi.” Ucapnya sopan saat sudah berada di depan pintu kamar kost Alyssa. Orang orang yang berada di kamar kost Alyssa langsung menatap kearahnya. Dan dibalas dengan senyuman paling manis milik Mario.

            Mario tersenyum kepada Alyssa yang masih menatapnya dengan kaget. Bisa pria tampan ini lihat, wanita itu sepertinya sangat terkejut melihat kedatangannya. Beberapa detik kemudian, Alyssa menundukkan wajahnya dalam.

“Kamu siapa ??” Tanya wanita paruh baya yang sangat cantik. Mario menatap wanita itu kemudian menatap Alyssa, kemudian mengernyit saat hatinya mengatakan jika mereka berdua mirip.

“Ehm, maaf bu. Saya Mario, teman Alyssa.”

            Pria paruh baya yang ada di sebelahnya hanya menggeleng gelengkan kepalanya seraya menatap Mario dari atas hingga bawah. “Kamu Mario Raditya kan ?? Pemimpin perusahaan ternama di Indonesia.”

            Mario tersenyum canggung. Kemudian menganggukkan kepalanya. Dia menatap Alyssa yang juga sedang menatapnya untuk meminta penjelasan.

“Om, Tante. Dia bos aku di perusahaan.” Sela Alyssa.

            Bisa Mario lihat kedua orang yang ada di sana mengangguk anggukan kepala kemudian menatap Alyssa.

“Ya sudah kalau begitu, kami pergi dulu Alyssa. Kamu baik – baik disini.”

            Alyssa hanya tersenyum canggung kepada kedua orang tua itu. Mario juga memberikan senyumannya saat mereka berdua meminta ijin untuk pulang terlebih dahulu kepadanya. Mario langsung menutup pintu kamar kost Alyssa saat mobil yang ternyata benar milik seseorang yang sedang bertamu ke kost Alyssa sudah menjauh.

“Gue butuh penjelasan.” Ucap Mario secara tegas seraya menatap Alyssa dengan tatapan tajamnya. Dia masih berdiri di depan pintu. Dan Alyssa masih duduk dengan gelisah dan tidak mau menatapnya.

“Loe mau tahu siapa mereka ??”

Mario menatap Alyssa dengan datar. Alyssa juga tidak terlalu memusingkan tentang itu semua.

"Mereka adalah ..."


************

Sekian :D silahkan next ke chapter berikutnya teman :*
Don't be a silent readers !!!
tinggalin jejak kalian kalau merasa readers yang baik dan bertanggung jawab :))
Sekian dan terima kasih ... wassalam.

Kamis, 08 Mei 2014

Benci Jadi Cinta - Part 13 ( YOSHILL )

Gue maksain banget buat lanjutin cerita ini .. jadi kalau kalian gak suka, mohon maafkan saya yah :D
Langsung aja, HAPPY READING GUYS :*




PART 13

Sometimes at night, when I look to the sky.

I start thinking of you.

And then ask my self. “Why ??” Why do I love you ??

************

            Sekolah menengah atas yang berada di salah satu wilayah di Jakarta sedang ramai – ramainya. SMA Tunas Bangsa. Sekolah yang terkenal di Jakarta. Di dalam gedung mewah itu, terdapat banyak siswa siswi yang menggunakan pakaian formal. Gaun untuk para perempuan dan kemeja serta jas untuk para laki – laki.

            Malam ini acara PROM NIGHT. Entah berapa banyak waktu yang sengaja siswa siswi luangkan agar tampil cantik dan gagah di acara malam ini. Dan acara ini juga yang menjadi puncak penilaian bagi para Osis sebelum mereka melepas jabatan dan digantikan dengan angkatan di bawahnya.

            Rio turun dari mobilnya. Pemuda itu langsung berlari memutar mobilnya dan langsung membukakan pintu di samping kemudi. Beberapa saat kemudian, seorang gadis cantik keluar dari dalam mobil.

“Thanks my prince.” Bisik Shilla tepat di telinga sebelah kiri pemuda itu.

“Jangan buat gue berantakin rambut loe malam ini.” Balas Rio. Shilla hanya tertawa kemudian menggamit lengan pemuda itu.

            Rio hanya tersenyum kemudian menuntun gadis itu untuk masuk ke dalam. Pemuda itu mengenakan kemeja putih dan jas hitam malam ini. Rambutnya dibiarkan berantakan tapi kelihatan semakin keren. Sedangkan Shilla memakai gaun terusan sampai ke mata kaki berwarna pink putih. Sangat cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai di belakang punggungnya.


            Banyak diantarannya yang melihat kearah mereka berdua dengan tatapan iri. Ingin sekali kaum adam menggantikan posisi Rio untuk bisa menggandeng Shilla di acara malam ini. Begitupun dengan para kaum hawa, mereka ingin menggantikan posisi Shilla.

            Rio dan Shilla hanya tersenyum melihat tatapan para teman – temannya dan orang yang tidak dikenalnya. Karena semua yang hadir di acar prom malam ini memiliki pasangan masing – masing. Baik dalam sekolah sendiri ataupun dari sekolah lain yang bersedia untuk menjadi pendamping di acara prom night ini.

“Ehem.” Dehem Alvin saat Rio dan Shilla sudah ada di hadapannya. Pemuda itu sedang menggoda sahabatnya.

“Kenapa Vin ?? Batuk ??” Sahut Cakka seraya tertawa. Begitupun Gabriel. Pemuda itu juga ikut – ikutan tertawa mendengarnya.

“Iya nih, tiba – tiba tenggorokan gue sakit banget. Lihat pasangan hitam putih kita malam ini.” Jawab Alvin seraya tertawa. Rio hanya menjitak kepala sahabatnya itu yang terus – terusan menggodanya.

“Bro, loe dicariin sama MC tuh di ruangan belakang. Katanya di tungguin juga sama pembina Osis kita yang tercinta itu.” Ucap Gabriel.

Rio hanya mengangguk anggukan kepalanya. “Iya nanti gue kesana. Eh, pasangan loe bertiga pada kemana ?? Buat nemenin Shilla bentar nih.”

“Lagi ambil minum katanya Yo. Udah, Shilla disini aja sama kita bertiga. Di jamin aman deh. Lumayan buat cuci mata.” Ucap Cakka.

“Daripada gue tinggalin Shilla disini, mendingan gue bawa. Kalau loe bertiga belum tobat juga, gue aduin ke cewe loe masing masing. Biar END sekalian.” Ancam Rio.

“Tukang ngadu loe.” Sahut Alvin kesal.

“Bodo amat. Shill, loe ikut gue ke dalam bentar. Guys, gue duluan.” Pamit Rio dan menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya.

            Saat Rio sudah sampai di ruangan belakang, Safa menghalangi jalan mereka berdua. Rio berhenti dan menatap Safa dengan heran. Seakan menanyakan tujuan gadis itu menahannya disini.

“Yo, disini kan ruangan khusus Osis sama anak anak yang mau tampil di panggung. Ngapain sih loe ngajakkin dia juga.” Omel Safa. Shilla hanya mendengus kesal.

“Gue Cuma mau ketemu pak Duta bentar di dalem. Jadi, loe tenang aja.”

“Gak bisa gitu dong Yo. Loe kalau mau masuk ya masuk aja, jangan ajak dia juga.” Jawab Safa seraya menatap Shilla dengan penuh kebencian.

“Loe kenapa sih. Gak suka banget sama keberadaan gue. Loe fikir gue mau ngapain di dalem ?? Mau bikin keributan ??” Ucap Shilla dengan emosi.

“Tuh tahu.”

“Loe.” Desis Shilla seraya maju beberapa langkah untuk bisa menggapai Safa. Tapi tangannya keburu ditahan oleh Rio.

“Udah, jangan bertengkar disini Shill. Karena pasti loe yang akan disalahin. Jadi, mendingan gak usah di urusin. Okey.” Bisik Rio lembuat membuat Shilla tenang.

“Udah Fa. Gue bukannya mau melanggar peraturan yang dibuat loe. Tapi gue Cuma bentar di dalem. Jadi, gak masalah, gue bawa Shilla.” Ucap Rio santai.

“Yo. Ini bukan peraturan gue. Ini pak Duta sendiri yang nyuruh.”

“Apaan sih loe. Posisi kak Rio itu lebih tinggi daripada loe.” Sela Shilla kesal.

“Eh, anak bawang. Diem yah loe. Sopan loe sama senior.” Bentak Safa.

            Saat Shilla akan menyela perkataan Safa. Pak Duta sudah lebih dulu muncul dari dalam ruangan. Membuat ketiga orang itu diam seketika melihat tatapan pak Duta yang menyiratkan sebuah kemarahan yang mendalam.

“Kalian mau merusak acara malam ini ??” Tanyanya dengan nada tegas.

Rio langsung menjawab. “Bukan begitu pak. Ini hanya sebuah kesalahpahaman aja.”

“Kamu selalu aja bilang begitu setiap saya mau marah Rio.” Jawab Pak Duta.

            Rio, Shilla dan Safa hanya diam. Kemudian pria paruh baya itu menghela nafas kasar. “Rio, kamu ikut saya ke dalam. Dan kalian berdua. Tetep disini dan jangan buat keributan.” Lanjutnya seraya berjalan kembali ke dalam.

“Kak.” Panggil Shilla pelan. Menyiratkan bahwa dia tidak ingin di tinggal berdua dengan kakak seniornya yang lebih tepatnya musuhnya.

“Mau gue anterin ke tempat Cakka, Alvin dan Gabriel ?? Atau mau tetep disini ??”

Shilla menghela dan segera menjawab. “Tunggu disini aja deh.”

“Yaudah. Gue Cuma bentar kok. Inget. Jangan buat keributan. Mengerti.” Bisik Rio seraya mengusap rambut panjang dan halus milik gadis cantik itu.

            Shilla mengangguk dengan tidak bersemangat. Kemudian Rio benar – benar meninggalkan dia sendiri bersama dengan musuhnya di tempat ini sekarang. Tanpa memperdulikan tatapan sinis dari Safa, Shilla berjalan ke bangku yang ada di dekatnya sekarang dan langsung mendudukinya.

“Gue heran sama Rio. Gimana bisa dia lebih milih dateng ke sini bareng loe. Lebih kerenan juga dateng sama gue.” Sindir Safa yang masih berdiri dengan tangan yang dilipat di depan dadanya.

“Faktanya, kak Rio sekarang dateng sama gue. Jadi kesimpulannya, gue jauh lebih tinggi derajatnya dibandingkan loe, di mata dia.” Jawab Shilla santai.

            Safa maju beberapa langkah dengan emosi. Dia mendekati Shilla yang sekarang sedang menatap kearah panggung besar di hadapannya. Dan tanpa di sangka oleh siapapun –bahkan Shilla sendiri- tangan Safa terangkat dan …

PLAK !!

“Aw.” Pekik Shilla seraya memegangi pipi kirinya yang terasa panas. Ini bukan tamparan sembarangan, karena nyatanya, ini jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan kata kata tajam yang sering keluar dari mulut gadis itu.

“Loe tahu, loe gak pantes mengeluarkan kalimat seperti itu. Loe …”

“Shilla.” Teriak seseorang. Dan berhasil menghentikan kalimat Safa.

            Gadis cantik itu membalikan tubuhnya dan melihat Rio yang sedang berlari kearahnya. Safa hanya diam melihat Rio yang sekarang sedang mendekati Shilla dan langsung membungkukan setengah badanya untuk melihat keadaan gadis itu.

“Loe bener – bener keterlaluan Safa.” Desis Rio marah seraya menatap Safa.

            Pemuda ini benar – benar marah sekarang. Apalagi setelah mengetahui bahwa Shilla sekarang sedang menangis dan terlihat kesakitan di pipi’nya. Rio cukup tahu apa yang terjadi barusan. Dan dia menyesal telah membiarkan Shilla berdua dengan gadis psycho seperti Safa.

“Yo, ini gak seperti yang loe fikirin.” Ucap Safa berusaha menjelaskan.

“Setelah ini, loe berurusan sama gue.” Desis Rio kembali. Dan langsung membimbing Shilla untuk keluar dari tempat ini.

            Rio membawa Shilla ke taman yang berada di belakang sekolah. Dan untungnya taman ini terlihat sepi. Jadi, Rio bisa menggunakan tempat ini untuk menenangkan keadaan gadisnya yang sekarang sedang kesakitan karena ulahnya.

“Maaf.” Gumam Rio pelan, kemudian pemuda itu langsung menarik Shilla ke dalam pelukannya. Membiarkan gadis cantik ini menangis di dadanya.

            Beberapa saat kemudian, Rio tidak mendengar suara tangisan dari gadis itu. Rio langsung menarik tubuh Shilla agar menghadap kearahnya. Dan terlihat jelas warna merah bekas jari tangan di pipi kiri gadis itu.

“Maaf. Maaf. Maaf. Seandainya tadi kakak gak ngebiarin kamu berdua sama Safa. Pasti gak akan seperti ini jadinya.” Ucap Rio lembut. Shilla masih menundukkan wajahnya.

            Perlahan. Rio mengusap pipi kiri Shilla yang merah. Pemuda itu tahu, pasti itu sangat sakit. Apalagi jika mendengar, bahwa Shilla tidak pernah mendapat tamparan dari siapapun – bahkan keluarganya sendiri – ini pasti jauh lebih menyakitkan.

“Bro. Shilla gak apa – apa ??”

            Rio langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya Alvin yang sedang menunjukkan wajah cemasnya kepada Shilla. Rio hanya tersenyum saat pemuda itu menyodorkan sebuah kotak kearahnya.

“Thanks bro, nanti gue ceritain. Loe bisa tinggalin gue sekarang ??”

“Okeh, kalau ada apa – apa. Loe langsung hubungin gue ya bro. Gue sama yang lain siap membantu loe.” Ucapnya lagi seraya melangkah keluar taman.

            Rio langsung memfokuskan kembali kearah Shilla. Dan langsung membuka kotak itu yang berisi berbagai macam obat. Perlahan Rio mengambil sebuah kompresan yang ternyata sudah disediakan oleh sahabatnya di dalam kotak itu.

            Dan tangan kanan Rio langsung beralih ke pipi kiri Shilla. Tangan kirinya ia gunakan untuk menggenggam tangan kanan gadis itu.

“Aku janji Shill. Akan menjaga kamu lebih dari ini. Maaf udah buat kamu sakit.”

“Kakak gak salah. Shilla Cuma kaget aja. Baru kali ini diperlakukan seperti ini.”

“Iya kakak tahu. Maaf.” Rio langsung memeluk gadis itu kembali. Tangan kanannya masih sibuk mengusap usap pipi kiri Shilla yang sudah membiru. Berusaha untuk mengobati rasa sakit yang dirasakan gadis itu.

“Kakak baru tahu kalau Safa begitu membenci kamu Shill. Kamu tenang aja, kakak gak akan pernah ngebiarin dia nyakitin kamu lagi. Kakak janji.”

“Iya, Shilla percaya.”

“Mau masuk ??” Tanya Rio seraya menatap ke gedung yang menjadi tempat puncak acara untuk pelepasan jabatan Osis ini.

            Rio bisa merasakan gelengan gadis itu dalam pelukannya. Pemuda itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Rio sangat mengerti dengan keadaan Shilla. Dan hal ini merupakan sebuah peringatan bagi pemuda itu untuk lebih menjaga Shilla.

            Karena tanpa diluar dugaan, bagitu banyak rintangan yang menjadi teman dalam setiap langkah mereka berdua dalam mencapai hubungan yang lebih tinggi lagi. Dan mungkin bukan hanya Safa sekarang, banyak orang diluar sana yang tidak menyukai hubungan pemuda itu dengan Shilla. Membuat Rio harus lebih hati – hati dalam menjaga gadisnya itu.

************

            Cakka, Alvin, Gabriel yang berada di dalam ruangan pesta sedang duduk melingkar di salah satu sofa yang berada disana. Mereka sibuk memikirkan masalah sahabatnya dengann cintanya itu. Mereka bertiga baru saja mendapat kabar bahwa Shila di bullly oleh salah teman seangkatannya. Tanpa bertanya pun, mereka tahu, bahwa pelakunya adalah fans fanatik Rio, yaitu Safa.

“Gimana keadaan Shilla bro ??” Tanya Gabriel kepada Alvin.

“Ya loe tahu lah gimana keadaannya. Apalagi Shilla cewek. Sampe bekas gitu jari tangan Safa. Jadi, loe bisa bayangin sendiri sakitnya kaya gimana.”

            Gabriel mengangguk anggukan kepalanya. Cakka masih sibuk dengan ponselnya. Cukup mendengarkan apa yang Alvin bilang, tapi dia tidak mau ikut ikutan ngomong masalah ini lebih jauh lagi, karena tanpa dikasih tahupun pemuda ini juga tahu, bahwa sahabatnya – Alvin itu sekarang sedang dalam suasana hati yang buruk.

“Guys, gue dapet sms dari Agni. Kita disuruh turun. Gimana ??”

“Gue setuju. Kita turun sekarang bro.” Ucap Alvin semangat. Gabriel dan Cakka hanya mengangkat bahu acuh kemudian ikut turun mengikuti Alvin yang sudah kabur duluan.

            Cakka langsung mendekat kearah Agni dan menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya. Pemuda itu hanya ingin tidak di ganggu oleh sahabatnya, maka dari itu sekarang ia berada di barisan paling depan di lantai dansa.

“Kenapa kesini ??” Tanya Agni.

“Biar gak di ganggu sama troublemaker.” Jawab Cakka asal. Kemudian dia langsung menarik pinggang gadisnya untuk mendekat. Agni dengan refleks mengalungkan kedua tangannya di leher pemuda itu. Cakka tersenyum miring kemudian kepalanya ia tenggelamkan di lekukan leher Agni.

            Agni menahan nafas saat nafas hangat Cakka menerpa tajam di lehernya. Dia berusaha agar tidak mengeluarkan suara yang bisa membangkitkan hasrat para cowo termasuk Cakka. Tangannya sekarang melingkar di perut pemuda itu.

“Malam ini kamu cantik banget Ag.”

“Gombal.”

“Serius Agni. Aku baru kali ini lihat kamu pakai dress dan itu membuat kamu bertambah cantik dan manis.” Ucap Cakka.

            Pemuda itu melepas pelukannya dan menatap tepat di manik mata indah Agni, tanpa di sangka oleh gadis itu, Cakka mendekatkan wajahnya dan langsung mencium bibirnya. Agni berusaha meronta tapi Cakka memeluk tubuhnya erat. Dan akhirnya, gadis itu menyerah dan membiarkan kekasihnya ini berbuat hal itu.

            Sedangkan Sivia dan Alvin. Mereka tampak menikmati dansanya dengan satu dan lainnya saling melempar senyum manis. Alvin menatap mata Sivia dalam begitupun sebaliknya. This is a best moment.

            Gabriel dan Ify juga begitu. Mereka berpelukan ditengah keramaian lantai dansa yang sedang mengalunkan a slow pitch. Lagunya membuat semua pasangan di lantai dansa menjadi semakin romantis. Ditambah dengan permainan lampu yang membuat siapa saja akan terpukau.

************

            Dua orang yang saling mencintai itu masih berada di sebuah taman sekolah. Mereka masih menikmati kebersamaan dan kedekatan mereka. Rio yang masih memeluk pinggang Shilla, dan Shilla sendiri menyenderkan kepalanya pada dada bidang Rio.

“Mau dansa Shill ??” Tanya Rio lembut.

            Shilla mendongak dan menatap mata lembut pemuda itu, kemudian gadis cantik itu tersenyum begitu manis dan menganggukan kepalanya, membuat kedua bibir pemuda itu juga tertarik membentuk lengkungan manis.

“Ayo.”

            Shilla menerima uluran tangan pemuda itu. Dan Rio membimbing gadis itu ke tengah taman dan memposisikan diri untuk berdansa. Kedua tangan Rio melingkar di pinggang ramping Shilla, sedangkan tangan kiri Shilla memegangi leher pemuda itu dan tangan kananya berada pada dada bidang milik Rio. Kemudian mereka mulai berdansa dengan satu sama lain saling menatap penuh cinta.

“Kamu tahu, aku sakit banget waktu kamu bilang kamu sama Debo itu deket dari SMP.” Bisik Rio membuat Shilla tersenyum.

“Aku tahu, bahkan sangat tahu. Dan aku bahagia.”

“Bahagia ?? Lihat aku menderita ??”

            Shilla menggelengkan kepalanya. Tangan kananya berpindah pada pipi kiri pemuda itu dan mengelusnya lembut. “Bukan karena itu, tapi aku bahagia karena kamu nunjukkin rasa cemburu kamu.”

“Kenapa sekarang kita pake ‘aku kamu’ yah Shill.” Ucap Rio tiba – tiba. Merusak suasana yang sudah tercipta antara mereka berdua.

Shilla mendengus kesal. Dia berusaha untuk melepaskan pelukan pemuda itu tapi dengan cepat Rio menahannya.

“Maaf. Bercanda doang tahu. Jangan marah dong.” Bujuk Rio. Shilla masih memasang wajah cemberutnya.
“Tahu ah. Merusak suasana aja.” Protes Shilla.

“Iya iya. Maaf.” Rio tersenyum menatap Shilla. “Aku juga bahagia, karena akhirnya kamu memutuskan untuk mengakhiri sandiwara gila itu. Aku gak bisa bayangin, kalau sampai itu terjadi lebih lanjut. Karena kalau sampai itu terjadi Alvin bakalan aku pecat jadi sahabat aku.”

“Jahat banget ngomongnya.” Ucap Shilla seraya memukul lengan pemuda itu.

“Ini gimana ?? Udah gak sakit ??” Ucap Rio seraya mengelus pipi Shilla – lagi -.

“Sedikit. Tapi udah lumayan kok.”

CUUUPP.

“Biar gak sakit lagi.” Ucap Rio setelah melepaskan bibirnya dari pipi Shilla. Dia baru saja mengecup pipi gadis itu sedikit lama, membuat Shilla mematung.

“Nyari kesempatan aja.” Ucap Shilla dengan nada marah.

“Would you marry me ??” Tanya Rio tiba – tiba membuat Shilla mematung untuk kedua kalinya. Apa dia tidak salah dengar ?? Menikah ?? Pemuda itu mengajaknya menikah ??

“Please say ‘yes’ to me.” Ucap Rio memohon karena melihat raut wajah Shilla yang kaget. Membuatnya was – was juga kalau – kalau Shilla menolaknya.

“kakak bercanda ?? Kita itu gak pacaran loh. Tiba – tiba ngajakkin nikah. Kak Rio sehat kan ?? Gak sakit kan ??” Cerocos Shilla saking bingungnya.

“Sehat Shilla. Ini aku serius.”

“Tapi ... Kita gak punya status sekarang.”

“Makanya kamu jawab ‘iya’ supaya kita punya status. Kan jadinya status kamu Calon istri Mario.”

“Mana ada yang begitu.” Protes Shilla.

“Shilla, please, listen to me. Aku cinta sama kamu. Gak perlu dengan kita pacaran kan ?? kamu udah tahu kalau aku Cuma cinta sama kamu. Bukan yang lain.”

            Shilla menatap Rio dengan menggigit bibirnya karena gelisah. Sedangkan Rio berusaha meyakinkan gadis itu melalui tatapan lembutnya yang penuh cinta.

“Kamu jawab apa Shill ??” Tanya Rio sekali lagi.

“Ini ajakan nikah beneran ?? Dengan cara kaya gini ??” Tanya Shilla tidak percaya.

“Cuma aku sama kamu yang tahu.”

“Tapi ... restu orang tua itu penting kak.”

“Orang tua aku udah setuju. Sebelum berangkat kesini, aku udah minta ijin. Dan mereka merestui.”

“Orang tua aku ??”

“Orang tua kamu justru bakalan senang banget bakalan punya menantu yang ganteng kaya aku. Itu terbukti Shill.”

“Ck, ini gak bercanda.” Ucap Shilla kesal.

“Yaudah kamu jawab. Intinya orang tua kita udah merestui. Aku udah ngomong sama mereka tentang hal ini.”

“Kita masih SMA Kak Rio. Aku masih duduk di kelas 2 SMA.”

            Rio menghembuskan nafasnya secara kasar. Mendengar ucapan – ucapan Shilla yang selalu saja berusaha untuk membatalkan rencananya. Apa mungkin, jika gadis ini berusaha untuk menolaknya dengan cara seperti ini ??

“Udahlah, lupain aja obrolan kita tadi.” Ucap Rio kesal seraya berjalan ke bangku taman yang sebelumnya mereka duduki.

“Kok marah sih.” Protes Shilla ikutan kesal.

            Rio menatap Shilla yang masih berdiri di tengah taman dengan pandangan yang tidak bisa diartikan oleh Shilla. Pandangan pemuda itu menyiratkan sebuah perasaan yang terluka.

“Aku pamit ke dalem dulu Shill. Acaranya udah di puncak, gak enak kalau aku gak ada.” Ucap Rio seraya bangkit dari duduknya. Kemudian melangkah menuju ke sebuah gedung pesta itu meninggalkan Shilla seorang diri.

            Shilla menatap pemuda itu yang berjalan menjauhinya. Dia ditinggal sendirian disini ?? Dan Rio sama sekali tidak perduli ?? Shilla menundukkan wajahnya, entah mengapa air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya.

“Shill.”

            Shilla mendongak dengan bersemangat, senyumnya merekah begitu suara itu terdengar. Tebakannya mengatakan jika suara itu adalah suara Rio. Pemuda itu kembali karena tahu kesalahannya. Tapi begitu melihat sosok lain yang berada di hadapannya, senyum Shilla memudar.

“Kak Debo.”

“Kenapa nangis ?? Jelek tahu kalau nangis.”

            Shilla tersenyum palsu seraya menghapus air matanya setelah sebelumnya menyingkirkan tangan pemuda itu dari pipi’nya karena ingin menghapus air matanya.

“Kakak kok bisa ada disini ?? Pasangan siapa kak ??” Tanya Shilla lembut.

“Temen musik aku Shill. Karena gak tega, aku iyain aja.”

            Shilla menganggukkan kepalanya. Tanpa disangka – sangka pemuda itu memeluknya. Shilla membelalakan matanya dan berusaha untuk melepas pelukan pemuda itu. Tapi Debo malah memeluknya semakin erat.

“Please, sebentar aja. Aku kangen sama kamu.” Ucap Debo lembut.

            Mendengar ucapan pemuda itu yang sangat lembut membuat Shilla tidak tega untuk melepasnya. Akhirnya ia membiarkan Debo memeluknya.

            Tanpa Shilla sadari, Debo tersenyum miring plus sinis menatap orang yang berdiri menatap kearahnya. Seseorang yang melihat kejadian itu hanya tersenyum miris. Miris sekali, karena melihat perempuan yang ia cintai malah berpelukan dengan pemuda lain di hadapannya. Dan itu membuatnya semakin yakin, bahwa gadis itu menolak menjawab ‘iya’.

“Gue artiin semua ini sebagai aksi penolakan loe Shill. Thanks buat semuanya.”

************


fix ini gaje :D gue lagi kehilangan ide buat meneruskan cerita ini :)) gara gara seseorang berbuat skandal yang membuat saya shock #lebay :D
okeh, buat kalian yang masih mau baca ini, gue mohon tinggalkan jejak kalian ..
don't be a silent readers guys ^^
mohon komentarnya :))

@IndahNurAmalia9