Text Select - Hello Kitty

ONESHOOT - UNTITLE ( RIFY )

Selasa, 27 Januari 2015 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 19.56
Apa kabar teman ?? ^_^
Setelah menghilang, gue nyediain oneshoot lagi buat kalian semua.
Simple sih, cuma moment RIFY aja, gue kangen sama moment mereka soalnya :D
Selingan aja guys, biar kalian gak lupa sama gue, haha.
HAPPY READING :*




UNTITLE

            Seorang perempuan berlari dengan kecepatan sedang membuat rambutnya yang di kuncir bergerak kesana kemari. Senyum bahagia terlihat jelas karena kedua sudut bibirnya tertarik bersamaan. Setelah sampai di tempat tujuan, dia memberhentikan laju larinya di belakang seorang laki – laki yang entah sedang melakukan apa.

            Ify – nama perempuan itu tersenyum senang saat melihat apa yang sedang dikerjakan oleh laki – laki itu saat dirinya mencoba mengintip dari atas bahu kanan laki – laki itu.

“Ehem.”

            Laki – laki itu sontak membalikkan tubuhnya saat dirasanya ada seseorang di belakangnya. Dia tersenyum saat melihat orang yang mengganggunya berdiri tepat di belakangnya, perempuan cantik lengkap senyum manisnya.'

“Kok disini ?? Ngapain ?? Bukannya kamu ada kelas hari ini ??”

            Ify menghela nafas kesal kemudian berjalan ke samping laki – laki itu, sontak laki – laki itu langsung menggeser tubuhnya agar Ify bisa duduk di sebelahnya.

“Aku di hukum lagi Rio.”

            Laki – laki yang di sapa Rio itu hanya mengernyitkan keningnya bingung. Dia masih menatap perempuan, masih tetap menunggu kalimat yang sepertinya akan keluar lagi dari mulut Ify sebagai alasan hukuman untuknya kali ini.

“Kali ini Angel yang nyari masalah. Bukan aku. Aku gak ngerti kenapa dia sampai segitu bencinya sama aku Cuma gara – gara aku pacaran sama kamu. Emangnya di dunia ini enggak ada cowo lain lagi apa. Orang kamu udah punya aku, masih di kejar kejar aja sama dia.”

Rio terdiam menatap perempuannya. Dia masih mengamati wajah yang entah mengapa selalu cantik setiap ia pandang. Wajah yang sudah beberapa hari ini jauh darinya karena perbedaan jadwal kuliah mereka setiap harinya, juga kesibukkan keduanya yang selalu bertentangan jadwal.

“Kok diem ?? Kamu suka sama Angel ??”

“Kapan aku pernah bilang kalimat itu ?? Enggak usah nyari masalah Ify.” Ucap Rio seraya kembali mengerjakan tugas di laptopnya. Sama sekali tidak memperdulikan Ify yang sekarang sudah mendengus sebal karena ulahnya.

“Emangnya kamu seneng di kejar kejar sama dia ??” Ucap Ify sebal.

“Sekarang aku tanya, kamu cemburu ??”

            Ify hanya menatap datar Rio yang sekarang juga sedang menatapnya. Kemudian Ify memajukan bibirnya tanda kesal seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Setelah gak ketemu sekian lama, Cuma seperti ini kejutannya.”

“Kamu sendiri yang enggak pernah punya waktu buat aku.”

“Kamu yang enggak punya waktu buat aku. Kamu selalu lebih mementingkan jabatan kamu di kampus daripada bantuin pacarnya buat tugas. Kamu lebih mementingkan jabatan kamu daripada nemenin pacarnya yang lagi sendirian di rumah. Kamu yang ...”

“Terus disini aku yang salah ??”

“Iya. Coba kalau kamu lebih perhatian sama aku, aku gak akan sekesel ini sama kamu. Kamu itu selalu duain aku dan menomor satukan jabatan kamu di kampus. Kamu selalu gitu.” Ucap Ify dengan mata yang mulai berair. Hanya dengan sekali kedipan, pasti air matanya akan lolos dengan sendirinya. Tapi sepertinya perempuan itu masih menahannya, dia tidak ingin terlihat lemah.

“Terus mau kamu apa ??”

Runtuh sudah kekuatan satu satunya yang dimiliki Ify. Air matanya sudah lolos dari kedua matanya. Dia menatap Rio dengan pandangan terluka. Dia mengepalkan kedua tangannya di sisi sisi tubuhnya. Berusaha agar tidak berteriak di depan Rio untuk menghentikan ke acuhan laki – laki itu.

Dia hanya butuh diperhatikan, dia hanya butuh Rio disisinya. Bukan hanya sekedar komunikasi jarak jauh yang sering mereka lakukan akhir – akhir karena kesibukan mereka. Dia hanya butuh laki – laki itu. Hanya Rio. Tapi mengapa laki – laki itu tidak pernah peka dengan perasaannya ??

“Jangan salahin aku kalau aku lebih deket sama cowo lain dibandingkan sama kamu.” Teriak Ify kemudian perempuan itu berlari sekuat tenaga menjauh dari tempat Rio seraya mengusap kasar air matanya yang bertambah deras keluar dari matanya.

            Sedangkan Rio hanya menatap punggung kecil Ify yang semakin jauh diliat dari jarak pandangnya dengan perasaan berkecamuk. Dia tidak tega melihat perempuan itu yang menangis seperti tadi. Dia hanya tidak suka dengan sikap kekanak kanakkan Ify.

‘Jangan salahin aku kalau aku lebih deket sama cowo lain dibandingkan sama kamu’. Rio teringat kalimat terakhir perempuan itu sebelum perempuan itu pergi dengan air matanya tadi. Rio menundukkan wajahnya frustasi. Dia harus bagaimana ?? Dia hanya tidak ingin Ify terus terusan bergantung padanya. Dia hanya tidak ingin Ify terus terusan manja kepadanya.

Dia hanya ingin perempuan itu menjadi dewasa untuk masa depannya juga. Belum tentu dia yang akan menjadi suami perempuan itu kelak. Jadi dia tidak ingin membuat Ify salah dalam bersikap.

            Jujur, dia sangat menyayangi Ify. Dia sangat mencintai perempuan itu. Dan karena itulah dia tidak ingin Ify salah dalam bersikap. Dia ingin Ify mandiri dan menjadi dewasa. Tapi mengapa sangat sulit untuk mengubah perempuan itu ??

***********

            Ify duduk terdiam di kelas terakhirnya. Hari sudah semakin sore tapi perempuan itu tidak berniat sedikitpun untuk berlalu darisana. Setelah ini, tidak ada mata kuliah lagi, tapi entah mengapa dia sangat malas untuk pulang kerumah.

            Perempuan itu tidak bisa melupakan pertengkaran terhebatnya dengan Rio tadi. Mereka memang sering bertengkar, tetapi tidak pernah sampai seperti ini. Yang membuat Ify tidak bisa fokus melakukan apapun adalah karena laki – laki itu tidak mengejarnya untuk meminta maaf.

            Ify menenggelamkan wajahnya di lipatan tangannya di atas meja. Perempuan itu sangat tidak bisa mengerti apa kemauan kekasihnya itu. Jujur saja, Ify sangat menyayangi dan mencintai laki – laki itu. Tapi jika seperti ini terus, ucapan terakhirnya untuk Rio tadi sebelum dia meninggalkan laki – laki itu bisa saja terjadi.

“Fy.”

            Ify langsung mendongakan wajahnya berharap orang yang tadi memanggilnya adalah orang yang sedari tadi ditunggunya. Ify mendongak seraya tersenyum lebar tetapi hanya beberapa saat, dia kembali memudarkan senyumnya. Dan kemudian tersenyum penuh paksa seraya melihat kearah laki – laki di hadapannya sekarang.

“Kak Ray.”

“Kamu belum pulang ??”

Ify menggeleng. “Belum mau pulang kak. Kakak habis darimana ??”

“Habis ada urusan sama dosen. Tadi aku lewat sini terus liat kamu sendirian di dalam kelas. Mau pulang bareng sama aku Fy ??”

            Ify menundukkan wajahnya sebentar untuk berpikir, kemudian mendongakkan wajahnya dan mengangguk seraya tersenyum lebar. Dia berdiri dari duduknya dan menggamit telapak tangan laki – laki itu yang terulur kepadanya.

‘Biar dia tahu rasanya cemburu tuh kek gimana, emangnya dia aja yang punya fans apa. Aku juga punya.’ Batin Ify seraya tersenyum senang.

            Mereka berjalan melewati koridor demi koridor setiap fakultas. Banyak orang yang melihat mereka dengan tatapan iri. Apalagi para perempuan. Ray adalah Gubernur kampusnya. Mana ada orang yang tidak mengenal laki – laki itu. Apalagi Ray mempunyai wajah yang tampan dan tubuh tinggi atletis. Menambal nilai plus untuk laki – laki itu.

            Ify mengalihkan pandanganya kemudian menemukan laki – laki yang masih berstatus sebagai kekasihnya sedang melihat kearahnya. Ify tersenyum bangga karena bisa membuat laki – laki itu cemburu dengan kedekatannya dengan kakak tingkatnya ini. Ify masih tersenyum seraya mengeratkan pegangan tangan mereka dan berjalan tanpa menoleh ke laki – laki itu lagi.

‘Aku yakin, sebentar lagi kamu pasti minta maaf sama aku. Mohon sama aku supaya aku gak boleh deket deket sama cowo lain lagi selain kamu.’ Batin Ify bangga.

            Sedangkan Rio hanya bisa tersenyum tipis melihat adegan itu. Dia menekan dadanya dengan kuat untuk meredakan rasa sakitnya kemudian sibuk kembali dengan tugasnya menempelkan kertas kertas pada mading. Berusaha untuk melupakan peristiwa yang membuat hatinya sakit.

***********

            Rio terdiam dengan pandangan kosong kearah jendela. Pandangannya hanya lurus tapi dengan pikiran yang kosong. Entah apa yang sudah terjadi dalam hidupnya. Dia tidak mengerti dengan semuanya.

“Rio, kamu harus mau menandatangani kertas ini Biar ayahmu bisa bebas. Kalau kamu Cuma berdiam diri disitu, tidak akan menyelesaikan masalah.”

            Rio membalikkan badannya kemudian menghadap ke wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Wanita yang sudah merawatnya sedari kecil, wanita yang selalu menjaganya. Dan semua itu sekarang hanya sia – sia, hanya dalam khayalan Rio saja. Tidak mungkin terjadi. Karena wanita di hadapannya ini bukanlah ibu kandungnya yang dulu dikenalnya, Ibu kandungnya yang dulu sudah mati, sekarang hanya ada wanita berhati jahat di hadapannya.

“Saya tidak mengerti mengapa anda melakukan ini kepada saya.”

“Itu salah kamu Rio. Kamu yang tidak memilih ibu dari awal, kamu lebih memilih tinggal bersama ayahmu di rumah ini. Dan ayahmu yang bodoh itu sudah menyerahkan seluruh hartanya untuk ibu dengan barang bukti ini. Termasuk rumah ini dan barang barang di dalamnya. Ibu masih memberi kamu kesempatan kali ini, kamu mau tetap tinggal dengan ayahmu di rumah kecil itu atau tinggal sama ibu dengan kemewahan yang selalu kamu dapet setiap harinya.”

“Sampai kapanpun, Rio akan tetap tinggal bersama ayah daripada tinggal dengan wanita berhati iblis seperti anda.”

            Dengan gerakan cepat, Rio merebut stopmap yang berada di tangan wanita itu kemudian membukanya dengan tergesa dan langsung menandatanganinya. Kemudian kembali menyerahkan dengan kasar ke tangan wanita itu lagi. Rio menatap Ibunya sebentar sebelum berujar.

“Sampai kapanpun Rio akan tetap menganggap ibu sebagai ibu Rio. Tapi sampai kapanpun, Rio tidak akan menganggap ibu sebagai satu satunya orang yang wajib Rio hormati. Karena ibu enggak pantas dihormati.”

            Rio berjalan keluar kamar dengan tergesa gesa. Dia menuruni tangga rumahnya dengan perasaan yang berkecamuk. Dia masuk ke dalam mobil yang sudah disiapkan untuk mengantarkannya ke tempat ayahnya.

            Rio mengusap wajahnya kasar, mengapa hidupnya menjadi seperti ini ?? Mengapa dia bisa mengalami peristiwa seperti ini ??

            Dering ponselnya mengganggu konsentrasi laki – laki itu. Dia mengambil ponselnya di saku belakangnya kemudian tercengang melihat nama seseorang yang meneleponnya. Dengan berat hati, Rio menekan tombol hijau kemudian mendekatkan ke telinga kananya.

“Halo.”

*************

            Ify berjalan kesana kemari di kamarnya. Tangan kirinya ia letakkan di pinggang kirinya dan tangan kananya memegang ponselnya yang sedari tadi hanya diputar putar saja di tangannya. Dia mendengus kesal melihat tidak ada tanda tanda adanya panggilan dari kekasihnya.

“Setelah apa yang gue perlihatkan tadi, dia sama sekali gak peka. Rio, aku kesel banget sama kamu. Kenapa kamu belum telepon juga sih.”

“Oh, sepertinya kamu mau main main sama aku. Jangan salahin aku kalau aku nantinya bertambah deket sama kak Ray. Jangan salahin aku kalau aku gak punya rasa lagi sama kamu, jangan salahin aku kalau aku sampe jatuh cinta sama kak Ray.”

            Dengan kesal, Ify membanting ponselnya di atas kasur. Kemudian perempuan itu mengacak acak rambutnya frustasi. Dengan gerakan cepat, dia mengambil ponselnya dan menekan tombol 2 yang langsung melakukan panggilan dengan laki – laki itu yang sedari tadi ada dalam pikirannya.

“Halo.”

            Ify terdiam mendengar suara laki – laki itu. Suaranya sangat berbeda dari biasanya. Tidak biasanya suara Rio rendah seperti ini. Apa terjadi sesuatu dengan lelaki itu. Ah, ify langsung menepis pikiran itu. Yang sekarang harus dilakukannya adalah memarahi pemuda itu habis habisan.

“Udah lupa sama aku sekarang ??”

            Ify bisa mendengar helaan nafas panjang dari laki – laki itu. Perempuan itu mengernyitkan dahinya bingung. Tidak biasanya Rio diam seperti ini. Biasanya laki – laki itu langsung mengomelinya karena menjawab telepon tanpa memberi salam terlebih dahulu.

“Maksud kamu apa tadi di kampus ?? Mau bikin rumor baru ??” Ucap Rio skiptis.

“Kalimat aku gak main main kan ?? Terus kenapa kamu masih santai aja ?? Minta maaf kek, apa kek, biar aku ngerasa seneng. Tapi malah diem aja. Gilirin di telepon, bukannya aku yang marah malah kamu yang marah.”

“Kamu jangan bikin aku tambah pusing Fy. Rumor aku sama Angel aja belum kelar. Kamu tambahin sama Ray ada apa. Kamu tahu, berita kita putus beneran udah tersebar ke seluruh penjuru kampus tahu nggak.”

“Kamu sendiri yang salah.”

“Kamu kapan dewasanya sih Fy ?? Udah kuliah kamu, bukan anak SMA lagi. Masa masalah begitu aja di perpanjang. Pake balas dendam ada apa lagi. Kamu sebenernya mau apa sih.”

“Aku mau kamu. Bukan sekedar sms atau telepon dari kamu.” Ify menghela nafasnya pelan. “Aku bersabar banget nunggu kamu peka. Tapi susah kalau gak dibilangin. Disaat aku sendirian, kamu menghilang, disaat aku butuh semangat kamu, kamu malah pura – pura gak inget aku. Kamu bisa rasain jadi aku kan.”

“Bukan Cuma aku yang gak peka. Kamu juga. Kapan kamu bisa ngertiin posisi aku di kampus. Kapan kamu tahu masalah aku. Kamu gak pernah tahu itu kan, lebih tepatnya gak mau tahu.”

“Sekarang aku tunggu kamu dirumah. 1 jam dari sekarang. Kalau kamu gak dateng, kita putus.”

KLIK.

            Ify langsung melempar ponselnya ke atas kasur. Air matanya langsung tumpah begitu saja. Tubuhnya ia banting di atas tempat tidurnya. Telungkup. Wajahnya ia sembunyikan di atas bantal hello kity’nya.

*********

            Ify terbangun dari tidurnya. Matanya mengerjap berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya terang dari kamarnya. Perempuan ini ketiduran setelah menumpahkan semua air matanya. Ify berusaha untuk duduk, tapi tiba – tiba matanya berkunang kunang. Dengan sekuat tenaga, dia mengatur bantal di kepala ranjang untuk dijadikan sandaran olehnya.

“Panas.”

            Ify mengerucutkan bibirnya kesal. Selalu seperti ini. Setelah menangis, pasti di saat bangun sakit. Walaupun Cuma demam, tetap saja rasanya tidak enak.

“Gue ketiduran berapa lama ?? Rio beneran gak dateng kesini ?? Dia beneran mau putus sama gue ??”

“Bibiiiiiiii.” Teriak Ify masih dalam posisi bersandar pada ranjang.

“Bibi. Kekamar Ify sebentar.” Teriaknya lagi.

“Berisik Ify. Sejak kapan kamu gak sopan sama orang tua.”

            Ify mengernyitkan dahinya. Sepertinya tadi dia mendengar suara Rio. Tapi dia ada dimana ?? Gak mungkin dia disini kan ??

“Otak gue kek’nya gak beres nih gara – gara Rio. Apa karena gue terlalu cinta sama dia, nyampe suaranya aja kek deket banget sama gue.” Gumam Ify.

“Ehem.”

            Ify benar benar tidak percaya. Dia langsung mengalihkan tatapannya ke penjuru kamar. Dan matanya terbelalak begitu melihat orang yang sedari tadi ada di pikirannya sedang duduk di atas sofa di pojok kamarnya dengan tatapan tajamnya. Ify langsung membuang muka saat teringat dengan ancamanya.

“Kamu gak nanya aku disini sejak kapan ??”

“Enggak penting. Paling juga baru dateng.” Jawab Ify yang masih menjaga gengsinya.

            Ify bisa merasakan kalau sekarang Rio sedang berjalan mendekat kearahnya. Dia masih mempertahankan harga dirinya. Enak aja kalau sampe memaafkan Rio begitu aja. Biarin aja sekarang Rio yang mohon - mohon minta maaf. Batin Ify.

“Kalau kamu gak mau ngeliat aku. Aku beneran pulang.”

“Yaudah pulang aja sana.” Ujar Ify ketus. Kedua tangannya dilipat depan dadanya.

“Oke. Dengan senang hati.”

            Ify mengerucutkan bibirnya sebal. Dia benar - benar melihat Rio yang sedang berjalan keluar kamarnya tanpa menengok kembali kearahnya.

“Jadi kamu beneran mau kita putus ??” Tanya Ify cepat. Laki – laki itu berhenti melangkah dan membalikkan tubuhnya menghadap kearah Ify. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Cool. Kalau tidak ingat mereka sedang marahan, pasti Ify langsung berlari menghambur ke pelukan laki – laki itu.

“Keras kepala. Udah tiduran. Lagi sakit masih aja nyebelin.”

“Siapa yang sakit ?? Kamu kali yang sakit. Otak kamu yang kegeser. Gara – gara pacaran sama buku terus makanya otaknya geser.”

            Rio berjalan mendekat dan duduk di tepi tempat tidur Ify. Dia memaksa perempuan itu supaya mau tiduran kembali. Tapi dasar Ify’nya yang tidak mau kalah, makanya dia masih bertahan di posisi yang sama.

“Denger, aku dateng 10 menit setelah kamu matiin teleponnya sepihak. Bukannya di tungguin, malah kamunya tidur. Bisa bayangin kan aku disini berapa lama.”

“Enggak percaya.”

“Kalau kamu gak percaya, itu artinya kamu yang mau putus sama aku. Yaudah sih enggak apa – apa kalau mau putus. Yang mau jadi pacar aku juga banyak di luar sana.”

“Berani ??”

            Rio hanya tertawa pelan seraya mengacak acak rambut panjang Ify. Perempuan itu masih mengerucutkan bibirnya sebal membuat Rio memajukan wajahnya dan mencium tepat di bibir Ify sekilas dan berlanjut ke kening Ify.

“Udah sini tiduran. Biar aku kompres kening kamu supaya panasnya turun.”

“Enggak.”

Rio menatap tajam kearah Ify. Tapi perempuan itu masih dalam posisi yang sama, sama sekali tidak merespon ucapan Rio. Dengan senang hati, Rio bangkit dari posisi duduknya di ranjang Ify. Dia berdiri tepat di depan perempuannya dengan kedua tangan yang kembali tenggelam di saku celananya.

Rio mengangguk angguk. “Tadi Angel ngajak ketemuan deh kayaknya. Aku pergi dulu ya Fy, semoga cepet sembuh.”

Dan tanpa perasaan Rio membalikkan tubuhnya berniat keluar dari kamar Ify. Dia menghitung mundur dari angka 3. Rio mulai menghitung dan benar saja, dia berhenti berjalan karena merasakan pelukan hangat yang ia yakini berasal dari Ify.

“Gak boleh kemana mana. Aku gak ngijinin kamu buat ketemuan sama Angel.”

            Rio membalikkan tubuhnya seraya terkekeh pelan, kemudian menarik perempuan itu ke dalam pelukannya.

“And then ??”

“Iya iya, aku minta maaf. Sifat aku kekanak kanakkan. Aku salah. Maafin aku.”

“Janji gak akan ngelakuin hal yang sama lagi ??”

            Perempuan itu hanya mengangguk anggukan kepalanya dalam dekapan Rio. Rio tersenyum senang. Seenggaknya dia bisa melupakan masalah orang tuanya sebentar. Tidak masalah jika ibunya berniat untuk meninggalkannya. Yang terpenting, perempuan di dalam dekapannya saat ini tidak akan melakukan hal yang sama.


***********

Please, Comment and Like this story :))



Reaksi: