Text Select - Hello Kitty

Forever Love 'Versi RIFY' - part 10 (Repost)

Sabtu, 14 Desember 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 06.21
Selamat malam semuanyaaaaa :))
bertemu lagi bersama saya :D cewe paling kece sejagat raya, ceilaaaahhh -_-
saya mau meneruskan cerbung'nya kak Anna guys, karena saya kan baiknya gak ketulungan jadi saya bantu kalian supaya gak KEPO terlalu lama :D
bentar lagi mau END loh guys :D satu part lagi mungkin, jadi pantengin terus yaw ;)
okeh deh langsung aja deh yah ^^
Happy reading all :*



Sudah sebulan lamanya ify mengalami koma, belum ada tanda-tanda bahwa dia akan membuka matanya. Membuat laki-laki itu semakin tersiksa. Bahkan Rio selama sebulan itu tidak pernah menginggalkan ify sedikit pun. Seluruh urusan kantor serta perusahaanya dia serahkan semua kepada Gabriel, sahabatnya. Yang sekarang dipikirkannya adalah menunggu Ify siuman dan membuka matanya. Sementara Rafli, dia terpaksa meninggalkannya di rumah Mamanya.

Terkadang anaknya itu datang bersama mamanya. Menengok dirinya juga Ify. Rio harus menahan air matanya setiap kali Rafli menanyakan padanya kapan Ify akan bangun. Rio sengaja berbohong bahwa ify sedang tertidur karena sakit. Laki-laki itu tidak bisa menjelaskan bagaimana keadaan ify sebenarnya pada Rafli. Anaknya terlalu kecil untuk mengerti keadaan yang sebenarnya. Penampilan Rio yang kusut serta lingakaran hitam di bawah kelopak matanya, menjelaskan bahwa laki-laki itu terlihat lelah dan kurang tidur. Tubuhnya juga terlihat kurus. Tatapan matanya seakan hampa, seolah tidak ada jiwa di dalam raganya. Karena Rio merasa, jiwanya tertidur bersama Ify yang terbaring lemah di rumah sakit.

Pagi ini dia harus menemui dokter yang merawat ify. Ada hal penting yang harus disampaikan oleh dokter tersebut. Membuat Rio semakin ketakutan serta gelisah. Setiap langkah yang dia ambil, semakin bertambah pula ketakutan dalam dirinya. Rio merasa dirinya seperti akan di hukum mati. Bahkan lebih parah dari itu. Wajahnya yang pucat, serta keringat dingin yang keluar, memperlihatkan dengan jelas bagaimana keadaan laki-laki itu sekarang. Rio sangat terpuruk dan hancur. Setiap malam dia bahkan tidak bisa tidur karena memikirkan keadaan Ify yang belm menunjukkan tanda-tanda perempuan itu akan membuka matanya. Dengan ragu Rio mengetuk pintu ruangan dimana dokter Daud (?) berada.

“Tok..tok..tok..”

“Masuk!” perintah suara dari dalam ruangan. Perlahan Rio memutar knob pintu tersebut, laki-laki itu masuk ke dalam ruangan disambut dengan senyuman hangat dokter Daud. Dokter tampan dan masih muda itu juga (maap ya bikin fitnah(?)) terlihat lelah. Seakan memiliki beban yang berat seperti yang Rio pikul saat ini.

“Silahkan duduk Pak Rio,” Dokter Daud mempersilahkan Rio duduk.

“Terimakasih, dok,” sahut Rio lalu duduk tepat di hadapan Dokter Daud.

“Pak Rio pasti sudah tau maksud saya memanggil anda ke ruangan saya ini, “ ucap Dokter Daud menatap wajah kusut Rio. Laki-laki itu mengangguk,”Iya, Dok. Semuanya menyangkut tentang keadaan ify, kan?”

Dokter Daud mengangguk , dia diam sejenak, menyusun kata untuk menyampaikan berita buruk yang sebenarnya tidak ingin dia sampaikan. Saat terberat dalam hidupnya selama menjadi dokter adalah ketika dirinya harus menyampaikan berita duka. Sebenarnya bila disuruh memilih, dia tidak ingin menyampaikan berita buruk tersebut. Apalagi melihat penampilan Rio yang seperti mayat hidup. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalam matanya. Hanya ketakutan serta kegelisahan dalam setiap gerakannya.

“Mengenai keadaan ibu Ify, pihak rumah sakit sudah angkat tangan. Semuanya sudah kami lakukan untuk menyelamatkan nyawa ibu Ify. Namun anda bisa lihat sendiri, sampai sekarang ibu Ify belum juga membuka matanya. Koma yang dialami ibu Ify mempunyai dampak yang membahayakan dirinya. Kami hanya bisa berusaha, pak. Tapi semuanya Tuhan juga yang menentukan, jadi...dengan sangat berat hati saya sampaikan, bila dalam seminggu ini Ibu Ify tidak siuman, maka...Kita semuanya hanya bisa pasrah...kemungkinan terburuk yang harus kita terima...” ucap Dokter Daud dengan berat hati.

Mendengar itu, Rio seakan bagai disambar petir. Tubuhnya membeku, menatap kosong dokter Daud. Dugaanya ternyata tidak meleset. Ada sesuatu yang tidak beres mengenai keadaan Ify yang belum siuman sampai sekarang. Dan semuanya terjawab sudah. Cobaan apalagi yang harus dijalaninya kali ini. Lima tahun dipisahkan dengan kekasihnya sudah sangat menyiksa dirinya. Lupa ingatan yang dideritanya dulu juga telah menyakiti perempuan yang sangat disayanginya. Dan sekarang dirinya harus mendengar berita buruk mengenai Ify. Berita yang menyatakan bahwa keadaan ify sudah tidak bisa tertolong, dan hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan jiwa kekasihnya. Tangan Rio berpegang erat pada pinggiran kursi, dirinya seolah tidak mempunyai tenaga lagi. Tubuhnya serasa lemah, seakan tulang dalam dirinya menghilang begitu saja.

Tidak !!! dia tidak sanggup! Dia tidak siap kehilangan ify untuk kedua kalinya. Dan dirinya pasti tidak akan mampu menerimanya. Mata Rio memerah menahan sakit yang mulai menyerang dadanya. Nafasnya terasa sesak, seolah disekitarnya tak terdapat udara sama sekali. Kenapa? Kenapa setelah ingatanya pulih dan dia menemukan kembali Ify, perempuan itu malah akan meninggalkannya kembali. Rio tidak sanggup membayangkan dirinya tanpa kekasihnya, tanpa Ify. Apalagi sekarang mereka berdua telah diberikan Rafli, malaikat kecil yang selalu memberikan kebahagiaan padanya, juga pada ify. Nggak! Kamu nggak boleh meninggalkan aku, ify. Kamu harus tetap hidup, untukku juga untuk anak kita. Ucap Rio dalam hati.

“Pak Rio!” panggil Dokter Daud menyentakkan Rio kembali ke alam nyata. Laki-laki itu menatap dokter Daud dengan sorot mata penuh kesedihan. Membuat dokter Daud tak tega melihatnya.

“Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan ibu Ify, pak. Dan semoga keajaiban itu diberikan juga pada ibu Ify,” Dokter Daud berusaha memberikan semangat untuk Rio. Laki-laki itu mengangguk lemah. Lalu bangkit dari duduknya,”Terimakasih, dok. Kalau tidak ada yang ingin dokter sampaikan saya permisi,” sahut Rio lemah.

Dokter Rio mengangguk , tersenyum simpul,”Iya, pak. Silahkan,” ujar Dokter Daud. Rio mengangguk sekilas, melangkah gontai menuju pintu.

Dokter Daud menghela nafas pelan setelah tubuh Rio menghilang di balik pintu. Kenapa setiap dia menyampaikan berita buruk, bebanya malah semakin bertambah. Dirinya tidak bisa membayangkan bila dia berada di posisi Rio. Pasti sama terpuruknya. Laki-laki itu meraih bingkai kecil di atas mejanya lalu tersenyum simpul. Foto seorang perempuan cantik yang menggendong seorang bayi laki-laki dengan senyum kebahagian terpancar jelas di wajahnya. Tidak ! dia tidak berani membayangkan bila dia mengalami hal itu. Dan takkan pernah.





*****

Rio melangkah gontai menuju ruang ICU dimana ify dirawat, namun wajahnya memucat saat menemukan ruang itu kosong. Tidak ada sosok orang yang dikasihnya berbaring di sana. Tubuhnya menegang. Ketakutan mulai menyerangnya, dia hanya meninggalkan perempuan itu sebentar. Tapi kenapa dia menghilang dari kamarnya. Segala piIfy buruk mulai menghampirinya. Tidak ! tidak mungkinkan ify meninggalkannya begitu saja? Rio segera berlari menelusuri koridor menuju ruangan dokter Daud, namun saat di tengah jalan dia berpapasan dengan Gabriel yang wajahnya terlihat sangat pucat. Kembali rasa ketakutan itu menyerangnya lagi.

“Lo dari mana aja, Yo? Gue telpon ke Hp lo tapi nggak aktif?” tanya Gabriel dengan nafas terengah-engah. Sepertinya laki-laki itu habis berlari jauh.

“Hp gue mati. Gue lupa ngecharge, ada apa?” tanya Rio panik. Nafasnya juga ikut terengah-engah sehabis berlari tadi.

Gabriel berusaha mengambil nafasnya sebelum berbicara,”ify, ify lagi kritis, dia ada di ruang operasi sekarang,” ucap Gabriel yang seketika membuat wajah Rio memucat. Tanpa pikir panjang, Rio langsung berlari menuju ruang UGD yang terletak paling ujung rumah sakit. Bahkan laki-laki itu tak mengiraukan makian orang yang tak sengaja ditabraknya tadi. Yang ada di dalam piIfynya saat ini adalah ify. Hanya perempua itu.

Aku mohon Tuhan, aku mohon jangan pisahkan kami lagi.

Langkahnya terhenti saat sudah berada di depan ruang operasi. Rupanya di sana sudah ada mamanya, Rafli, Sivia juga Bik Imah. Perlahan Rio melangkah mendekati mamanya yang sedang memeluk Rafli. Wajah wanita itu terlihat pucat serta berlinang air mata. Rio tau mamanya sangat menyayangi Ify. Sama seperti dirinya.

“Ma? Ify kenapa?” tanya Rio serak, berusaha mengontrol emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun. Dia mulai takut. Sangat takut. Apalagi ucapan dokter Daud yang kembali melintas di piIfynya saat ini. Membuat tubuhnya terasa amat lemas. Ketakutan. Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.

“Ify sedang kritis, Yo. Saat mama menjenguknya tadi, tiba-tiba saja detak jantungnya berhenti, dan sekarang dokter sedang berupaya menyelamatkan Ify,” sahut Manda dengan suara bergetar, isak tangis itu kembali terdengar dari bibirnya.

Rio terdiam.

Tubuhnya membeku.

Pandangannya kosong.

Kata –kata Mamanya yang mengatakan detak jantung ify berhenti selalu terngiang di telinganya, seperti kaset yang diputar berulang kali. Laki-laki itu terhuyung menabrak tembok yang ada di belakangnya. Seketika semua kinerja tubunya melumpuh. Ketakutan itu kembali menyerangnya. Dadanya sakit. Nafasnya sesak. Bayangan mimpi-mimpi buruknya kembali datang menerjangnya. Bayangan tubuh ify yang terbungkus kain putih mulai menghampirinya. Tidak !! Itu tidak mungkin. Ify akan selamat. Perempuan itu kuat. Ify adalah perempuan yang kuat.



Tuhan! Aku mohon jangan hukum aku seperti ini. Jangan pisahkan lagi aku dengannya.

Rio langsung berdiri tegak saat melihat pintu ruang operasi terbuka. Seorang suster keluar diikuti seorang dokter di belakangnya. Wajah dokter itu menunjukkan kesedihan. Membuat ketakutan itu kembali menyerangnya.

“Bagaimana keadaan ify, dok?” tanya Rio bergetar menahan emosi.

Dokter itu menghela nafas sebentar, lalu menggeleng lemah, “Maaf, pak. Ibu Ify tidak dapat di selamatkan. Beliau telah meninggalkan kita semua,” jawab dokter tersebut lirih,”Saya turut berduka-“

“NGGAK!!!! ITU NGGAK MUNGKIN! ANDA BOHONG!!” teriak Rio tiba-tiba membuat semuanya terkesiap. Gabriel yang melihatnya langsung menghampiri sahabatnya itu. Sementara Manda dan Sivia kembali menangis mendengarnya. Ify telah meninggalkan mereka semua selamanya. Dan tak akan pernah kembali. Kenyataan itu membuat sebuah luka di hati mereka berdua.

“Yo, tenang. Relakan Ify...” ucap Gabriel memegang bahu laki-laki itu, namun segera ditepisnya. Mata Gabriel merah menahan tangis. Dia juga merasa kehilangan, sama seperti Rio.

“Nggak! Ify nggak mungkin ninggalin gue! Nggak mungkin!” teriak Rio semakin lantang.

Tak lama kemudian dua orang perawat laki-laki keluar dari ruang UGD dengan mendorong sebuah bangkar dengan tubuh ify yang terbujur kaku di atasnya. Rio langsung mengampirinya, menahan perawat tersebut untuk membawanya.

“FY! IFY !! BANGUN FY! BUKA MATA KAMU!!!” Teriak Rio mengguncang tubuh kaku Ify. Tubuh cantik itu terasa amat dingin. Tanda bahwa sudah tidak ada jiwa di dalamnya. Wajahnya pucat seputih kapas. Bibirnya pun berwarna biru. Mata indahnya kini terpejam. Takkan pernah terbuka lagi. Mata indah itu sekarang terpejam selamanya.

“Fy! Jangan tinggalin aku! Aku mohon sama kamu,” Rio terisak memeluk tubuh Ify. Dia tidak membayangkan bahwa semua ketakutannya menjadi nyata. Rasa sakit itu seakan membunuh jiwanya. Menorehkan luka di hatinya yang akan terus menganga, entah sampai kapan. Tangisan pilunya bahkan membuat orang disekitarnya yang melihat ikut menitikan air mata. Merasakan kepedihan dan kesakitan yang laki-laki itu rasakan.

“Fy, Bangun! Jangan hukum aku kayak gini, jangan tinggalin aku dan Rafli.” Air mata Rio semakin mengalir deras. Apalagi dia teringat akan malaikat kecilnya yang masih membutuhkan sosok seorang ibu. Dan yang pantas mengisi posisi itu adalah Ify. Kekasih yang sangat dia cintai.

“Beri aku kesempatan, Fy. Beri aku kesempatan kedua untuk menjaga kamu dan Rafli,” Tubuh Rio meluruh di sisi bangkar, seakan sudah tidak kuat lagi menopang berat tubuhnya. Laki-laki itu menunduk kedua tangannya kembali terkepal. “Aku mohon...”

Bugh!

Manda tersentak kaget saat Rio meninju lantai rumah sakit yang keras. Darah segar langsung mengalir di buku buku tangannya.

“Rio!! Apa yang kamu lakukan?” Manda menghampiri anaknya, berusaha menahan tangan Rio agar tidak kembali meninju lantai. Dia sudah tidak kuat melihat Rio yang melukai dirinya sendiri.

“BIAR , MA! BIAR IFY SADAR! BIAR IFY TAU! DIA SUDAH BERHASIL MENGHUKUM AKU!! ” teriak Rio histeris. Semakin membuat orang yang melihat terisak.

“Kenapa, Ma? Kenapa Ify tega menghukum aku seperti ini, Ma? Kenapa?” ucap Rio lirih. Tubuhnya bergetar hebat.

“Ayah!”

Sebuah suara menyentakkan Rio kembali ke alam nyata. Dia mendongak, melihat malaikat kecilnya berjalan menghampirinya. Wajahnya penuh dengan air mata. Rafli menangis menatap dirinya.

“Bunda kenapa, Yah?” tanya Rafli dengan suara isakan yang semakin membuat hati Rio hancur berkeping-keping. Dia lupa akan kehadiran buah hatinya. Melihatnya histeris memeluk tubuh Ify yang sudah terbujur kaku. Pasti Rafli terkejut melihatnya.

Rio langsung merengkuh tubuh mungil itu, memeluknya dengan erat.”Bunda nggak pelgi ninggalin kita kan, Yah?” tanya Rafli terisak. Memeluk tubuh Rafli erat.

Rio tak mampu berkata-kata, dia hanya membalas dengan gelengan pelan.

“Bunda nggak boleh pelgi , Yah. Bunda udah janji sama Lapi, kata bunda...ka...ta Bunda, Lapi mau diajak ke...ta-taman belmain sama ayah juga,” dengan sesenggukan Rafli memberitahukan janji Ify dulu padanya. Semakin membuat hati Rio sakit, bagai ditusuk dengan beribu-ribu jarum. Bagai luka yang disiram air garam.

Tiba-tiba saja Rafli melepaskan pelukannya, menghampiri bangkar yang masih berada di samping mereka bertiga.

“Nda!, bangun, Nda!” tangan kecil Rafli menepuk pelan tangan Ify yang masih bisa dia capai. “Bunda jangan tidul telus, bunda udah janji sama Lapi mau ke taman belmain,” Rafli masih menepuk-nepuk pelan lengan Ify.

“Maaf, Pak, Bu. Kami harus membawa Ibu Ify segera ,” ucap salah satu perawat. Rio segera menghampiri Rafli lalu menggendongnya.

“Bunda! Bunda mau dibawa kemana, yah?” Rafli menatap kepergian perawat itu yang mendorong tubuh Ify. Tangisnya yang sempat terhenti kembali pecah.

“Ayah! bunda dibawa pelgi, yah!” teriak Rafli meronta-ronta dalam gendongan Rio. Sementara Rio berusaha kembali menahan tangisnya. Semuanya sudah berakhir, Ify telah meninggalkan dia dan Rafli. Selamanya.

“Bunda! Bunda jangan pelgii!! BUNDAAA!!!!”



*****

Pemakaman umum itu mulai terlihat sepi, para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman tersebut. Jasad ify langsung dimakamkan tadi pagi setelah sampai di rumah duka. Rafli langsung jatuh sakit mengetahui bahwa ibunya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Untuk umur empat tahun, anak kecil itu ternyata sudah mengerti akan arti kematian. Dan semua itu membuat Rio semakin terpukul.

Rio bersimpuh di samping makam Ify, sejak setengah jam yang lalu laki-laki itu belum juga meninggalkan makam kekasihnya. Dia masih belum bisa menerima semuanya ini. Dan masih belum sanggup.

gabriel memandang Rio dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari pemakaman. Sementara Sivia masih terisak melihat Rio yang terlihat sangat hancur dan kehilangan. Seperti dirinya yang kehilangan seorang sahabat terbaik selama hidupnya. Mereka berdua sengaja membiarkan Rio untuk sendiri. Membiarkan laki-laki itu mengungkapkan perasaanya yang terluka untuk terakhir kalinya.

“Kenapa, Fy? Kenapa kamu tega ninggalin aku seperti ini?” Rio meremas tanah merah di hadapannya yang basah karena rintik hujan yang sejak pagi mengiringi pemakaman ify. Bahkan laki-laki itu tidak menghiraukan tubuhnya yang basah kuyup. Baju hitamnya sudah basah oleh air hujan.

“Kenapa...” rintih Rio lirih. Air matanya kembali mengalir, menyatu dengan tetesan air hujan. Tiba-tiba saja Rio merasakan seseorang menyentuh bahunya. Laki-laki itu menoleh, tubuhnya menegang saat melihat siapa yang menyentuhnya. Ify tersenyum manis di samping Rio. Perempuan itu terlihat sangat cantik dengan gaun putihnya. Wajahnya tidak pucat seperti yang terakhir Rio lihat. Wajah itu malah terlihat begitu cantik dengan binar-binar kebahagiaan. Seolah tidak ada lagi beban dan rasa sakit serta kesedihan di dalam mata cantik itu. Namun anehnya tubuh ify tidak basah sama sekali, ada cahaya putih yang melindungi tubuh perempuan itu.

“I...Fy!” Rio langsung memeluk tubuh perempuan itu. Mendekapnya dengan erat. Menumpahkan kerinduan yang selama ini dia pendam.

“Jangan menangis...” ucap Ify lembut, mengusap punggung Rio dengan lembut.

“Jangan tinggalin aku, Fy! Aku mohon!” ucap Rio terisak masih memeluk Ify dengan lembut. Perempuan itu terdiam, namun tangannya masih terus mengelus punggung Rio dengan sayang.

“Kembali sama aku, jangan hukum aku seperti ini , Fy. Sudah cukup kamu menjauh dariku selama lima tahun...” Tubuh Rio bergetar hebat. Kembali isak tangisnya keluar, bercampur dengan hujan yang kian menderas. Sesekali suara petir yang menggelegar terdengar. Namun tak dipedulikannya.

“Maaf, Yo. Tapi aku nggak bisa, aku nggak bisa bareng kamu lagi,” sahut Ify lirih.

“Nggak, pasti kamu bisa, Fy. Kita bisa bareng lagi kayak dulu, please...” mohon Rio pilu.

Ify menggeleng pelan, perlahan dia melepaskan pelukannya, menatap mata kekasihnya yang penuh kesedihan.”Maafin aku...” Ucap Ify lirih, tangan terjulur menyentuh pipi Rio yang mulai terasa dingin. Tubuh laki-laki itu mulai mengigil kedinginan. Namun tak dipedulikannya sama sekali.

Rio menggengam tangan Ify yang menyentuh wajahnya, menatap wajah perempuan itu lekat.”Fy, kembali sama aku. Aku nggak bisa hidup tanpa kamu,” mohon Rio lagi.

Ify menggeleng lemah,”Kita sudah beda dunia, Yo. Kita sudah nggak mungkin bersama lagi.”

“Kenapa, Fy? Kenapa kamu lakukan ini sama aku? Kenapa?” tanya Rio pilu. Rasa sesak itu datang kembali karena kenyataan yang menyentakkan dirinya ke alam nyata. Ify yang ada di depannya bukanlah Ify yang dulu, bukan Ify miliknya yang dulu.

“Semua sudah takdir, Yo. Aku nggak bisa melawan takdir. Begitu juga dengan kamu.”

Tiba-tiba Ify melepaskan genggaman Rio, membuat laki-laki itu terkesiap,”Fy, kamu mau kemana?” Rio langsung bangkit mendekati Ify yang perlahan menjauh darinya.

“Maaf, Yo. Aku harus pergi, titip anak kita yah, jaga Rafli dengan baik, yah“ Ucap Ify tersenyum lembut, langkahnya semakin menjauhi Rio.

“Fy! Tunggu , Fy?! Kamu mau kemana?” teriak Rio histeris.

“Aku harus pergi, selamat tinggal Rio. I love you,” tubuh Ify semakin menjauh darinya. Dan pelan-pelan bayangan itu menghilang dari hadapan Rio.

“Fy, tunggu, Fy! Jangan pergi, Fy! Aku mohon! IFYYYYYYY!!!!!”

Reaksi: