Text Select - Hello Kitty

Forever Love 'Versi RIFY' - Part 9 (Repost)

Sabtu, 07 Desember 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 08.03
Malem semuanyaaa :)) Maaf banget baru munculin cerita ini sekarang ^^
Gue lagi sibuk semesteran nih guys, jadi baru bisa REPOST sekarang ..
Gimana Part 8'nya kemarin ??? Keren kan ??? Kak Anna emang the best author deh pokoknya :D
Okeh deh guys, langsung aja ..
HAPPY READING ALL !!!


“Kamu mau tau siapa gadis itu?” Ify menatap kedua manik mata Rio. Mata coklat itu menatapnya bingung.”Maksud kamu?”

“Aku tau siapa gadis yang selalu hadir dalam mimpi dan piIfy kamu, Yo.”

“Siapa?”

“Dia...”

“Bunda!!” Panggil Rafli yang berdiri di depan pintu kamar Rio, mengalihkan perhatian keduanya. Anak kecil itu terlihat masih mengantuk, sesekali mengucek matanya, “Lapi takut bubu sendilian,” ucapnya lirih. Ify memang memindahkan Rafli ke kamar sebelah agar Rio tidak merasa terganggu. Namun Ify lupa bahwa Rafli tidak terbiasa tidur sendiri di kamar yang bukan miliknya.

“Sini jagoan!” tiba-tiba saja Rio memanggil Rafli untuk mendekat ke tempat tidur. Rafli memandang ragu Rio, dia melirik Ify seakan meminta izin. Anggukan kecil yang Ify berikan membuat anak itu tersenyum lalu berlari mendekati Rio yang masih duduk di ranjangnya.

“Upss, sini sayang,” Rio mengangkat tubuh mungil Rafli, mendudukannya di sisi kanannya yang kosong.

“Sekarang Rafli tidur sama Om ya, jagoan. Oke?” Rio tersenyum lembut mengelus rambut Rafli yang memandangnya dengan wajah berseri-seri.

“Benelan, Om?! Lapi boleh tidul sama Om Lio?” tanyanya tak percaya.

Rio mengangguk,”Iya, sekarang Rafli bubu yah,” laki-laki itu membantu Rafli membaringkan tubuhnya di ranjang.

“Yo, tapi kamu butuh...”

“Nggak apa-apa, Fy. Aku seneng melakukannya, Rafli sudah aku anggap seperti anakku sendiri, jadi biarkan dia tidur bareng kita,” sahutnya kalem.

Mata Ify terbelalak, Kita? Maksudnya Rio dirinya juga harus tidur di sini? Bersama dengan dirinya? Nggak! Ify tak ingin kejadian tadi terulang kembali. Apalagi ada Rafli disampingnya. Lebih baik dirinya yang mengalah tidur di sofa.

“Nggak, aku tidur di sofa aja,” sahutnya cepat hendak berdiri, namun tangan besar Rio segera mencengkramnya.

“Please, aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu, Fy. Mana mungkin aku gangguin kamu sementara ada Rafli di dekat kita, atau kamu memang mau...” Rio menggantung ucapannya dengan sengaja, lalu mengerling nakal pada Ify, membuat perempuan itu mendengus kesal.

“Nda, jangan tidul di sofa, bunda tidul di sini aja sama Lapi dan Om Lio, yah Nda..Pelisss,” mohon rafli tiba-tiba yang langsung membuat Ify terperangah. What ? bagaimana bisa anaknya melakukan hal itu. Ify langsung melirik Rio tajam, menyaksikan wajah tampan laki-laki itu tersenyum penuh kemenangan. Sepertinya Ify harus ekstra sabar menghadapi Rio dan Rafli, tidak duplikat Rio. Anaknya sekarang mulai menampakan sifat ayahnya. Yah buah jatuh tak jauh dari pohonya.

Dengan terpaksa Ify mengangguk, apalagi sekarang sudah sangat larut. Dia tidak ingin berdebat lagi. Saat Ify hendak naik ke tempat tidur, dia baru menyadari dirinya masih menggunakan gaun, membuatnya susah untuk bergerak. Rio yang menyadari hal itu segera turun dari tempat tidur, membuka lemari bajunya, mengambil sehelai kemeja coklat mudanya serta celana panjang, kemudian memberikannya pada Ify.

“Mending kamu ganti baju dulu, pasti nggak nyaman tidur dengan gaun,” ucap Rio kemudian memilih berbaring di samping Rafli. Ify menerima baju itu lalu masuk ke dalam kamar mandi.

“cklek”

Ify menutup pintu kamar mandi. Mulai melepas gaun sutranya dan mengganti dengan kemeja milik Rio. Kemeja itu terasa besar di tubuh mungilnya, Ify kemudian memakai celana panjang laki-laki itu, namun ternyata kebesaran, membuatnya susah bergerak. Dengan kesal perempuan itu melepaskan celana Rio, untung saja dirinya memakai celana street, sehingga kemeja Rio yang hampir mencapai selutut itu tidak terlihat terlalu pendek. Akhirnya Ify memilih tidak menggunakan celana laki-laki itu. Toh penampilannya juga tidak terlalu vulgar. Setelah membersihkan wajahnya, perempuan itu keluar dari kamar mandi.

Namun, tiba-tiba saja pemandangan dihadapannya membuat perempuan itu menitikan air mata.Air mata bahagia. Pemandangan Rio yang memeluk Rafli penuh rasa sayang, seperti seorang ayah yang memberikan ketentraman dan perlindungan pada anaknya, membuat Ify bahagia. Sangat sangat bahagia. Akhirnya keinginan Rafli terpenuhi. Masih segar diingatannya bahwa keinginan Rafli adalah tidur dengan ayahnya saat Rafli demam dulu. Sebuah permintaan sederhana namun membuat sesak dada Ify.Bahkan perempuan itu sampai menangis terisak tak bisa memenuhi permintaan anaknya itu. Tapi tidak untuk saat ini, Ify akan memulihkan ingatan Rio secara perlahan, dia harus melakukannya. Demi Rafli, Rio dan juga dirinya. Karena sekarang tak akan ada lagi yang menghalangi dirinya untuk bersatu dengan laki-laki yang sangat dicintainya itu.

Perempuan itu tersenyum lembut, lalu menyeka sisa air matanya dengan lengan kemeja Rio, dia melangkah pelan mendekati tempat tidur, perlahan naik ke ranjang tersebut dan membaringkan dirinya di sisi kanan Rafli yang kosong. Dia memiringkan tubuhnya, menatap wajah Rio yang sudah tertidur pulas. Wajah itu terlihat sangat damai, membuat hati Ify hangat. Di dekatnya tubuhnya dengan tubuh Rafli, lalu memeluk tubuh mungil itu. Seperti Rio yang memeluk tubuh mungil Rafli. Kali ini Ify bisa tertidur dengan nyenyak. Bermimpi indah bersama kedua laki-laki yang sangat dicintainya. Walau harus menunggu selama lima tahun untuk bisa kembali kembali pada Rio. Dirinya rela, sangat sangat rela. Karena semua pengorbananya terbayar sudah dengan kebahagiaan yang berlipat.



Oceans apart day after day and I slowly go insane

I hear your voice on the line but it doesn’t stop the pain

If I see you next to never how can we say forever



* Wherever you go whatever you do I will be right here waiting for you

Whatever it takes or how my heart breaks I will be right here waiting for you

I took for granted, all the times that I though would last somehow

I hear the laughter, I taste the tears but I can’t get near you now

Oh, can’t you see it baby you’ve got me goin’ crazy



I wonder how we can survive this romance

But in the end if I’m with you I’ll take the chance

Oh, can’t you see it baby you’ve got me goin’ crazy

(Richard Marx – Right Here Waiting)



*****

Perempuan itu menatap pemandangan luar apartemennya. Wajahnya yang dingin menyiratkan kebencian yang sangat mendalam. Senyum sinis di wajah cantiknya membuat dirinnya semakin terlihat kejam. Rasa sakit hatinya sudah tidak bisa ditolerir lagi, dan seseorang harus membayarnya dengan setimpal. Dan dia tau siapa orang itu.

“Ini semua berkas yang anda inginkan, Boss,” seorang laki-laki berbaju serba hitam meletakkan sebuah amplop coklat di meja kopi yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Perlahan perempuan itu mendekati meja, mengambil amplop tersebut lalu membuka isinya.

“Bagus, atur semuanya sesuai perintah saya, dan jangan sampai gagal,” perintahnya dingin. Laki-laki berbaju hitam itu mengangguk mengerti, kemudian berbalik dan menghilang di balik pintu.

“Now we will see, dear. Who will win? “ desisinya menyeringai.





*****

Ify melirik jam tangannya dengan gusar, sudah setengah jam yang lalu dirinya menunggu taksi, namun belum ada yang lewat sama sekali. Ify jadi menyesal sendiri menolak tawaran Rio untuk menjemputnya. Dan sekarang pasti laki-laki itu sangat marah. Mereka berdua berjanji akan bertemu di taman kota, Rio rupanya masih penasaran dengan gadis yang ada di dalam mimpinya itu. Dan dia ingin mendengar jawaban Ify yang sempat tertunda semalam. Laki-laki itu baru teringat saat sudah berada di kantornya. Dan akhirnya keduanya berjanji akan bertemu di taman kota tersebut. Tempat bersejarah dimana keduanya pertama kali bertemu.

Ify sengaja memilih bertemu di sana karena berharap proses pemulihan ingatan Rio bisa berjalan dengan baik apabila laki-laki itu berada di tempat kenangan mereka. Karena sudah terlalu lama menunggu, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk naik ojek yang ada di depan jalan kantor tempatnya bekerja. Yang berarti dirinya harus menyeberang terlebih dahulu. Saat lampu merah menyala, segera perempuan itu melangkahkan kakinya, menyeberangi jalan aspal agar bisa sampai di pangkalan ojek itu.

Namun semua terjadi begitu cepat, bahkan perempuan itu tidak sempat menoleh saat sesuatu yang keras menghantam tubuhnya dan terpental jauh. Pekikan dan jeritan orang –orang di sekitarnya yang melihat dirinya terpental jauh masih bisa dia dengar. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, bahkan dirinya bisa melihat samar samar darah segar mengalir di seluruh tubuhnya.Terakhir yang Ify ingat adalah wajah Rio dan Rafli yang sedang tersenyum, sebelum semuanya menjadi terasa gelap.





*****

Langit siang itu terlihat mendung, bahkan angin dingin mulai berhembus menerpa tubuh Rio. Sudah setengah jam dirinya menunggu Ify di sini. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan perempuan itu. Padahal dirinya sudah tidak sabar untuk mendengar penjelasan Ify tentang gadis yang selalu datang di setiap mimpi dan di saat –saat rasa sakit menyerang kepalanya tiba-tiba. Apakah perempuan itu adalah Ify? bagaimana bisa? Dia dan Ify baru bertemu pertama kali saat perempuan itu melamar di perusahaannya.

Walau sampai sekarang Rio masih sedikit bingung kenapa Ify bisa tau nama kecilnya. Seharusnya hanya keluarga dan sahabat-sahabatnya lah yang memanggil dirinya dengan sebutan Rio. Namun tidak dengan Ify yang bahkan tampak terkejut saat pertemuan pertama mereka. Ify juga sempat menghindari Rio, walau akhirnya perempuan itu akhirnya luluh juga oleh cintanya. Dan semua itu masih menjadi rahasia yang sebenarnya selalu bersarang di kepalanya. Namun secepat mungkin Rio selalu membuang perasaan itu. Dia tidak ingin membuat pemiIfy aneh yang akan menghancurkan kebahagiaanya saat itu.

Tapi entah kenapa, Rio yakin bahwa suara gadis yang ada dalam mimpinya adalah suara Ify. Tiba-tiba handphonenya berbunyi, melantunkan lagu call your name-nya daughtry.

08033xxx Calling

Rio mengernyitkan dahi saat melihat nomer tak dikenal yang menelponya. Dia pikir Ify yang menelponya. Laki-laki itu segera menerima panggilan tersebut.

“Hallo?” sapa Rio tenang.

“Den! Gawat den, gawat...” tiba-tiba saja terdengar suara panik di seberang sana yang diyakininya adalah suara Bik Imah.

Wajah Rio berubah pucat seketika, entah kenapa dia langsung merasakan sesuatu hal yang buruk sedang terjadi pada Ify. Namun segera ditepisnya piIfy anehnya itu. Dia tidak ingin negarif thinking sebelum semuanya jelas. Mungkin saja Bik Imah ingin memberitahu bahwa Rafli sedang sakit atau hal-hal yang lainnya yang tidak terlalu mengkhawatirkan.

“Tenang, Bik! Jangan panik, Bibi jelasin semuanya pelan-pelan yah?!” bujuk Rio berusaha menenangkan wanita paruh baya itu. Dia sudah tau watak Bik Imah yang memang sedikit paranoid dan gampang gugup.

“Den..Non Ify Den! Non Ify...” isakan serta rasa panik mulai terdengar dari seberang. Semakin membuat wajah Rio memucat. Apa yang terjadi dengan Ify?

“I...iya, bik. Pelan-pelan yah, Ify kenapa bik? Dia kenapa?”

“Non Ify kecelakaan, den! Dia sekarang berada di rumah sakit....”

Seketika tubuh Rio menegang. Handphone di tangannya terlepas begitu saja dan jatuh berantakan. Entah mengapa mendengar berita buruk itu seolah membuat dunianya menjadi runtuh. Laki-laki itu segera berlari menuju mobilnya yang dia parkir tak jauh dari tempatnya duduk. Rio masuk ke dalam mobil dan langsung mengendarai mobilnya dengan gila-gilaan. Caci maki dari para pengendara lain tak dihiraukannya, bahkan semua peraturan lampu-lalu lintas tak digubrisnya sama sekali. Yang ada di dalam piIfynya sekarang adalah bertemu dengan Ify, memastikan bahwa perempuan itu baik-baik saja. Dan semua yang dia dengar baru saja adalah hanya kebohongan semata atau hanya kesalahpahaman saja.

Rio berlari sekuat mungkin menuju ruang ICU saat dia sudah sampai di rumah sakit Pelita Harapan. Bahkan hampir saja dia menabrak pasien yang melintas andai saja dirinya tidak secepat kilat menghindar. Sampai di depan pintu ruang ICU, langkahnya perlahan terhenti. Pintu ruangan itu masih tertutup.

“Om Lio !!” tiba-tiba saja seorang makhluk kecil menabrak kakinya, Rio menunduk dan langsung merengkuh tubuh mungil itu dalam dekapannya. Kenapa Rafli bisa ada di sini? Dengan siapa dia datang kemari? Rio mengedarkan pandangannya mengitari sekelilingnya, dan berhenti pada satu titik. Mama? Kenapa mama bisa ada di sini?

“Rio...” wajah Manda terlihat sangat pucat. Bahkan sisa-sisa air mata di wajahnya masih terlihat jelas. Wajah tampan Rio terlihat sangat bingung melihat mamanya berada di sini bersama Rafli.

“Ma? Mama ngapain di sini? Kenapa mama bisa ada di sini?” tanya Rio bingung.

“Mama...mama...maafkan mama Rio...” wanita itu menutup mulutnya menahan suara isak tangis yang mulai terdengar dari bibirnya. Rafli segera meminta turun pada Rio, lalu menghampiri Manda.

“Oma! Oma jangan nangis..” bujuk Rafli menarik gaun panjang yang dikenakan Manda, wajah Rafli bahkan terlihat seperti ingin menangis melihat mamanya yang menangis, membuat Rio semakin terlihat sangat bingung. Sekarang Rafli memanggil mamanya dengan Oma? Sebenarnya apa yang terjadi?

“Ma? Ada apa sebenarnya ini? Ify? gimana keadaan Ify ,Ma?” Rio memegang kedua bahu Manda. Meminta penjelasan dari mamanya.

“Ify di dalam , sayang! Kita harus menunggu di sini..sampai operasinya selesai.” Ucap Manda di sela-sela tangisnya.

Rio melepaskan kedua tangannya dari bahu Manda, mengacak rambutnya dengan frustasi. Bagaimana? bagaimana semua ini bisa terjadi?

“Bagaimana Ify sampai kecelakaan, Ma? Dan kenapa mama bisa ada di sini? Mama kenal Ify kan? Jawab, Ma!” bentak Rio frustasi. Apa lagi sekarang yang harus dirinya hadapi? Ada hubungan apa mamanya dengan Ify?

“Om Lio...” panggil Rafli ketakutan karena melihat Rio membentak mamanya. Membuat Rio sedikit bersalah karena tak menghiraukan kehadiran anak kecil itu. Rio segera menghampiri Rafli , kembali memeluknya.

“Duduk dulu, Sayang! mama akan ceritakan semuanya...” bujuk Manda menarik tangan Rio agar duduk di kursi dekat ruang ICU. Laki-laki itu diam seribu bahasa, tatapannya tajam menuntut agar sang mama segera menceritakan semuanya dengan jelas dan detail.

“Sebenarnya kamu dan Ify dulu...” kemudian mengalirlah cerita tentang masa lalu Rio. Saat keduanya pertama kali bertemu, dan bagaimana keduanya saling jatuh cinta. Namun semua itu harus berakhir saat papa Rio mengetahui hubungan Ify dengannya, memaksa agar Rio menjauhi Ify yang berasal dari keluarga yang miskin. Tak sepadan dengan keluarga Haling yang merupakan orang terpandang. Sampai insiden Ify yang memberitahu bahwa dirinnya mengandung anak Rio, sampai kecelakaan itu terjadi. Merenggut semua memori Rio tentang Ify juga kebahagiaan keduanya.

“Akhhh” tiba-tiba saja rasa sakit itu datang kembali. Rio memegang kepalanya merasakan kepalanya seperti ditusuk-tusuk beribu-ribu jarum. Kembali bayang-bayang yang silih berganti seperti slide show menghampirinya. Namun semua masih sama seperti sebelumnya, ingatan-ingatan samar yang tak terlalu jelas.

“Yo! Kamu kenapa sayang?” wajah panik Manda terlihat jelas, melihat kesakitan yang dirasakan Rio membuat hatinya sangat sakit. Kenapa dulu suaminya sangat tega memisahkan keduanya seperti ini. Apalagi sekarang kondisi menantunya yang sedang dalam keadaan kritis.

“Shhh...kepala Rio ...sakkitt Mah,” Rio meringis menahan rasa sakit itu. Bahkan rasa sakit itu begitu menyiksanya karena sakitnya berkali-kali lipat dibandingkan rasa sakit yang sering muncul akhir – akhir ini. Kepalanya seolah seperti dipalu oleh ribuan palu berukuran besar.

“Sayang, tahan sebentar yah. Mama panggilin dokter!” ucap Manda lalu hendak beranjak pergi, namun baru saja dua langkah dia berjalan. Tubuh Rio langsung ambruk di lantai rumah sakit. Pingsan.

“RIOOO!!!”

>>>>>>>


Sore itu seperti biasa Rio yang sedang bermain basket di lapangan taman kota terlihat tampan dengan seragam basketnya. Sudah menjadi kebiasaan laki-laki itu bermain basket di sana setiap minggu pagi. Tristan, sahabat Rio yang juga satu kampus dengan laki-laki itu sedang duduk di pinggir lapangan sambil menatap lurus kedepan. Membuat Rio penasaran apa yang sedang sahabatnya itu perhatikan. Bahkan panggilannya pun tak digubris.

“Lo lagi ngeliatin apaan sih? Sampe tuh muka mupeng gitu?” penasaran dia langsung mengikuti arah pandang Tristan. Dahinya mengerut karena yang dia lihat hanyalah pedagang gula-gula kapas. Masa iya sahabatnya itu suka sama pedagang gula-gula kapas yang sudah tua, bahkan berjenis kelamin laki-laki pula.

“Hei! Jangan bilang lo suka sama pedagang gula-gula itu? Karena gue yakin lo pasti nggak akan tertarik sama tuh kapas manis!” sungut Rio sambil menggeleng kepala. Apa ini efek dari sahabatnya yang baru saja broken heart dengan seniornya di kampus kemarin pagi?

“Sialan Lo! Gue masih stright kali! Mata lo aja yang nggak merhatiin pandangan gue, yang seharusnya lo liat tuh bukan pedagangnya, tapi yang beli,” cibir Tristan tak terima dia dibilang Gay oleh Rio. Sudah jelas-jelas dia lelaki tulen, malah dikira gay. Kalau tidak kenapa dia kemarin bisa berpacaran dengan kembang kampusnya, yah walaupun sekarang sudah putus. Tapi tetap saja dia berarti laki-laki yang normal.

Rio mengangkat bahu tak peduli, dia lebih baik melanjutkan bermain basket daripada melihat keanehan sahabatnya yang sedang patah hati. Dalam hati Rio bertekat akan segera mencarikan Tristan pacar baru sebelum sahabatnya itu benar-benar menjadi seorang gay. Bagaimanapun caranya, atau kalau perlu dia menyewa mak combalng sekalian untuk mencarikan Tristan pacar. Laki-laki itu mendrible bolanya dengan santai, dia bermaksud ingin melakukan three point sekalian berlatih memperlancar gerakan three pointnya. Setelah mengambil ancang-ancang, Rio langsung melemparkan bola orange itu ke dalam ring, namun sayangnya gagal, bola itu menghantam pinggiran besi ring dan terlempar jauh entah kemana.

“Augghhh” sebuah pekikan keras mengalihkan perhatian Rio. Laki-laki segera menoleh ke samping dan mendapati seorang gadis sedang berjongkok memegangi kepalanya.

“Eh Bego! Kalo latihan tuh liat-liat, kena orang tuh! “ Umpat Tristan yang langsung menghampiri gadis itu.

“Lo nggak apa-apa , kan?” tanya Tristan lembut ikut borjonkok di samping gadis tersebut.

“Sakit tau!” jawab gadis itu sedikit kesal. Rio yang melihat gadis itu masih menunduk dan kedua tangan mungilnya mengelus-elus kepalanya yang terkena bola basketnya itu lalu menghampirinya.

“Maaf yah gue nggak sengaja,beneran. permen lo nanti gue ganti juga deh,” kata Rio menyesal, dia sempat melirik ke samping gadis itu dan melihat permen kapas gadis itu terjatuh.

“Permen? Gula-gula kapas maksud kamu?” tanya gadis itu bingung lalu mendongakkan wajahnya lalu menatap Rio. Tangannya masih tetap mengelus-elus kepalanya yang tersa sakit.

Rio langsung ternganga ketika melihat wajah gadis itu yang menurutnya sangat cantik. Seolah-olah semua bagian tubuhnya itu tercipta khusus hanya untuknya. Bahkan dalam keadaan kesakitan saja masih tetap terlihat cantik. Rambutnya yang lurus sengaja dia kuncir, walau hanya mengenakan baju olah raga, tapi sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.

Rio hanya mengangguk karena masih terpesona dengan wajah cantik dihadapannya. Bahkan dirinya tak memerhatikan Tristan yang juga ikut terpana oleh kecantikan gadis itu.

Gadis itu tersenyum geli, lalu menggeleng pelan,”Nggak perlu, aku masih bisa beli lagi,” sahutnya kalem.

Saat Rio ingin bertanya nama gadis itu namun sebuah panggilan dari arah lain menahannya.

“Fy!!!” salah satu sahabat gadis itu memanggil dari pinggir lapangan bola Voli yang tak jauh dari lapangan basket tempat gadis itu berdiri.

Ify menoleh lalu menjawab iya dengan suara yang tak kalah kuatnya. Dia menoleh sebentar kearah Rio.

“Lain kali hati-hati kalo main basket. Untung kepala aku nggak bocor,” katanya cuek lalu memutar tubuhnya untuk menghampiri sahabatnya itu.

“Tunggu! Nama Kamu siapa?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Rio tanpa lelaki itu sadari. Menahan langkah sang gadis, dia memutar tubuhnya menghadap kembali kearah Rio. Mata gadis itu menyipit seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin dia sedang bertarung dengan hati kecilnya apakah dia akan menjawab pertanyaan Rio atau tidak. Membuat Rio merasa sangat resah, entah kenapa dia bisa sampai seperti itu. Padahal Rio adalah salah satu play boy di kampusnya. Namun sekarang dia dibuat resah oleh seorang gadis yang baru saja dia temui. Sungguh tidak bisa dipercaya.

“Ify.. nama aku Ify,” sahut gadis itu tersenyum kemudian memutar tubuhnya dan berlari menghampiri sahabat-sahabatnya.

“Ify...” ucap Rio lirih, sedetik kemudian senyum manis tersungging dari bibirnya. Sebuah senyum penuh makna yang hanya dia dan dirinya yang tau apa maksud dari senyuman tersebut.







“Happy birthday!” ucap Ify tersenyum bahagia, kedua tangan mungilnya memegang kotak berisi black forest yang dia buat sendiri di kostanya pagi tadi. Malam itu, dia sengaja membuat kejutan untuk kekasihnya tersebut dengan datang langsung ke apartemen mewah Rio.

Rio tersenyum bahagia melihat kedatangan Ify, lalu mengecup pipi Ify lembut.”Makasih sayang,” kemudian menyuruh Ify duduk di sampingnya. Gadis itu memutar tubuhnya agar bisa berhadapan dengan kekasih tercinta yang sudah dia kenal sejak enam bulan yang lalu.

“Make a wish dulu ,” perintah Ify saat melihat Rio hendak meniup lilin kecil di atas kue tersebut.

“Hehehe sorry lupa cantik,” sahutnya terkekeh geli. Kemudian setelah mengucapkan permohonannya pada Tuhan, dia segera meniup lilin tersebut.

“the last a gift for you,” Ify meletakkan kue tersebut di meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak mungil dari dalam tasnya. Memberikan kotak tersebut itu pada Rio.

“Buat aku?” tanya Rio tak percaya , atau lebih terdengar terkejut. Bukannya dia tidak pernah diberi kado, namun entah kenapa kado yang Ify berikan jauh lebih sangat berharga untuknya. Walaupun kado itu murah, namun Rio tak peduli. Dia sudah sangat senang dengan kejutan yang Ify buat untuknya.

Ify tertawa geli melihat reaksi Rio,”Iya, tapi itu Cuma kado murah, jadi jangan marah yah,” sahutnya kalem.

Rio menarik hidung Ify gemas , dia sedikit kesal mendengar kekasihnya bicara seperti itu. Membuat wajah Ify cemberut.

“Sakit tau!” sungutnya kesal.

“Abisnya kamu kenapa bilangnya gitu? Kamu kan udah janji sama aku untuk nggak menyinggung soal materi, aku nggak suka.” Tukasnya cepat.

“Iya...maaf.”

“Yaudah kamu diem aja, aku mau buka kadonya dulu,” perintah Rio sedikit galak, pelan-pelan dia membuka kotak kecil berhiaskan pita itu. Wajahnya berubah cerah saat melihat isi dalam kotak tersebut. Sebuah jam tangan sederhana namun terlihat sangat maskulin. Jam itu adalah jam yang sempat Rio inginkan, namun karena limited edition, sehingga dia tidak bisa memilikinya. Walau Rio tau jam yang diberikan Ify bukanlah jam yang asli, namun baginya itu tak menjadi masalah. Ketulusan gadis itu yang membuatnya semakin mencintainya. Apalagi membayangkan kekasihnya menghabiskan uang sakunya demi membeli kado untuknya membuatnya menjadi terharu.

“Makasih sayang, aku suka banget kadonya,” Rio langsung menarik Ify ke dalam dekapannya. Meletakkan dagunya di puncak kepala Ify mengecup rambutnya. Harum tubuh Ify membanya dalam kenyamanan.

“Sama-sama.. maaf yah sayang itu hanya imita...” belum sempat Ify melanjutkan ucapannya. Bibirnya sudah lebih dulu dibungkam oleh bibir kekasihnya. Membuat Ify terkesiap dengan serangan dadakan itu. Kebiasaan Rio yang membuat Ify menjadi kesal dibuatnya.

“Sekali lagi kamu bilang kayak gitu, jangan menyesal kalo kamu langsung aku bawa ke kamar,” ancam Rio yang langsung mendapat pelototan dari Ify. Namun melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangar itu membuat nyali Ify menyusut. Dia tau bahwa Rio tak main-main dengan ucapannya barusan. Membuat wajah putih Ify merona. Dia tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi bila laki-laki di hadapannya ini melaksanakan ancaman tersebut.

“Maaf...” katanya menyesal.

“Aku akan maafin kamu asal...”

“Asal apa?”

Rio memasang senyum licik, menunjuk bibirnya.”Cium aku.”

“Apa? Nggak mau!” tolak Ify cepat , dia tidak terbiasa mencium Rio dibibir. Paling berani hanya di pipi saja. Gadis itu terlalu malu untuk melakukan hal itu. Berbeda dengan Rio yang terkadang tak melihat sikon bila mencium Ify. Bahkan di depan sahabatnya sendiri pun Rio tetap cuek.

“Yakin? Okay, now let me take control...” ucap Rio kemudian sebelum Ify menolaknya, dia sudah lebih dulu menarik lengan gadis itu lalu mencium bibir tipis Ify. Melumat bibir Ify yang merupakan candu untuknya. Rio tidak akan pernah merasa puas kalau belum mencium bibir itu. Membuat Ify terkadang merasa kesal dengan sikap mesum Rio. Dibelainya dengan lembut bibir Ify, seakan menggoda agar bibir itu mau membukakan ruang untuknya. Saat ruang itu sudah terbuka, lidah Rio langsung menyeruak ke dalam mencari lidah gadisnya untuk saling mengecup. Rio mengakhiri ciumannya saat dirasakannya nafas Ify yang hampir habis.

“Thanks, Honey... i love you,” ucap Rio lembut mencium kening Ify dengan rasa sayang. Ify memejamkan matanya merasakan kelembutan ciuman di dahinya. Betapa beruntungnya dirinya mendapat seorang kekasih yang menyayanginya dengan segenap jiwa. Bahkan status sosial yang berbeda di antara keduanya tak dihiraukannya.

“I love you too,” bisik Ify merebahkan kepalanya di dada bidang Rio. Merasakan kelembutan dekapan kekasih tercintanya.





“Yo... kamu lagi dimana?” tanya Ify saat Rio menelponya. Suara Ify yang serak menandakan gadis itu habis menangis. Membuat Rio di seberang sana menjadi khawatir.

“Aku masih di kampus sayang, kenapa? Kamu lagi sakit yah? Suara kamu serak?” terdengar jelas nada khawatir di seberang.

“Bisa kamu mampir ke kostan aku sebentar? Aku...aku mau bicara,” pinta Ify dengan suara bergetar menahan isak tangisnya.

“Iya, sabar yah sayang. sebentar lagi aku sampai ke sana,” sahut suara di seberang lalu sambungan terputus.

Ify terduduk lemas di lantai. Akhirnya tangis yang sempat di tahannya pecah. Dia takut. Bahkan sangat takut. Dilihatnya sebuah benda kecil yang ada di tangannya itu. Alat tes kehamilan yang dia beli diam-diam di sebuah apotik yang lumayan jauh dari kostnya. Dua buah garis merah terlihat jelas di sana. Menandakan dirinya positif hamil. Dia tidak mengira bahwa kejadian di apartemen Rio sebulan yang lalu membawa masalah baginya. Dia baru saja lulus sekolah, bahkan minggu depan gadis itu akan mengikuti ujian masuk PTN di kotanya. Namun hanya dengan dua garis merah itu, semuanya berubah . gadis itu belum siap menjadi seorang ibu. Apa reaksi kedua orang tuanya bila mengetahui anaknya hamil di luar nikah. Penyesalan itu mulai datang. Andai saja Rio tidak mabuk dan memaksanya, pasti semuanya tak akan menjadi seperti ini. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Segala penyesalan itu semua percuma. Karena tidak bisa mengembalikan keadaan seperti semula.

Air mata Ify semakin menetes deras, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak mungkin mengugurkan kandungannya. Dia tidak akan tega membunuh darah dagingnya sendiri. Tapi yang membuat Ify takut, Rio tidak akan mau tanggung jawab bila laki-laki itu mengetahui bahwa dirinya hamil anaknya. Membuat Ify sangat takut. Dunianya seakan runtuh seketika.

“Tok..tok...Fy! buka , ini aku” panggil Rio dari luar . gadis itu terkesiap segera bangkit dari duduknya bergegas membuka pintu.

“Kamu kenapa?” tanya Rio khawatir memegang wajah Ify yang pucat dan berlinang air mata.

“Aku... aku...” Ify kembali terisak tak bisa melanjutkan kata-katanya. Entah kenapa semua kalimat yang sudah dia susun sejak tadi menguap begitu saja di kepalanya. Hilang tak berbekas.

Rio segera membawa Ify ke dalam sebelumnya dia menutup pintu dahulu, membawa gadis itu untuk duduk di sofa kostan Ify.

Melihat kondisi Ify yang sangat kacau, wajahnya pucat dan matanya bengkak seperti habis menangis lama. Rio segera mengambilkan segelas air minum untuk kekasihnya itu. Dia harus membuat Ify tenang terlebih dahulu sebelum bertanya penyebab gadis itu terlihat kacau seperti ini.

“Minum dulu yah, sayang.” bujuk Rio menyerahkan segelas air tersebut pada Ify, semula Ify menolak. Namun karena Rio terus memaksanya, akhirnya dia melaksanakan perintah Rio dengan meminum air tersebut.

“Sekarang kamu ceritain sama aku apa yang terjadi?” pinta Rio lembut mengelus rambut Ify dengan sayang.

Ify menunduk, menggigit pinggir bibirnya menahan tangisnya agar tak kembali keluar. Seperti ada sesuatu yang besar di dalam tenggorokannya yang menghambat suaranya. Dan lagi-lagi air mata itu keluar tanpa bisa dicegahnya. Rio yang melihat keadaan Ify semakin khawatir. Membuatnya tak sabar ingin mengetahui apa yang terjadi sebenarnya pada Ify.

Kedua tangannya terjulur memegang wajah Ify, memaksa agar gadis itu mau menatapnya.”Please, Fy... tell me what happened?” bujuk Rio lembut membuat Ify semakin merasa sakit dan sesak di dadanya. Dengan tangan gemetar Ify memberikan test pack tersebut kepada Rio. Ragu –ragu Rio menerima benda kecil tersebut, namun masih bingung apa maksud Ify memberikan benda tersebut.

“Aku...” Ify menatap Rio sedih,”Aku...aku hamil, Yo!” lanjutnya dan tangisnya lagi-lagi kembali pecah.

Rio membeku dan benda kecil itu langsung terjatuh dari tangannya. Dia bagaikan terkena petir di siang hari. Bahkan andai saja dia mempunyai penyakit jantung mungkin saja dia sudah mati saat itu juga.

“Aku...aku harus gimana, Yo?” tanya Ify terisak. Hanya Rio harapan satu-satunya. Gadis itu berharap kekasihnya akan bertanggung jawab dan menikahi dirinya. Namun melihat reaksi Rio yang terkejut dan tak merespon apa-apa membuat Ify semakin dirasuki ketakutan yang sangat besar.

“Fy...”

Rio terkesiap lalu menatap Ify yang sedang ikut menatapnya dengan wajah yang bingung dan sedih. Semua gara-gara minuman sialan itu! Andai saja Rio menuruti perintah Ify, pasti semuanya takkan terjadi. Jujur saja dia belum siap menjadi seorang ayah. Bahkan dalam mimpi liarnya pun dia tidak berani memimpikannya. Apalagi dia masih kuliah dan belum bekerja. Namun sekarang Ify sedang hamil. Dan yang sedang Ify kandung adalah darah dagingnya sendiri. Dia tidak mungkin membunuh darah dagingnya sendiri. Rio juga bukan seorang pengecut. Dia laki-laki yang bertanggung jawab. Dan dia harus menikahi ify, apapun caranya.

Perlahan Rio mengulurkan tangannya meraih Ify ke dalam dekapannya. Mencium lembut rambut kekasihnya itu.”Aku bakal tanggung jawab sayang, kita akan menikah.” Ucap Rio tegas. Membuat Ify terisak bahagia mendengarnya. Sungguh beruntung dia memiliki kekasih seperti Rio.

“Tapi, Yo...papa kamu gimana?” tanya Ify dengan nada ketakutan. Apalagi hubungan Rio dan Ify ditentang keras oleh ayah Rio. Lelaki itu bahkan tidak merespon saat Ify pertama kali diajak Rio datang ke rumah kedua orang tuanya. Tatapan dingin serta merendahkan terlihat jelas di wajah ayah Rio. Berbanding terbalik dengan ibu Rio yang lembut dan baik hati, namun yang sangat disayangkan wanita itu takut sekali dengan suaminya. Sehingga dia tidak berani membela Rio dan Ify.

Rio semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Ify. Dia sekarang tak peduli lagi dengan sikap papanya. Yang terpenting adalah anaknya harus lahir dengan seorang ayah di sampingnya. Dia tidak bisa membayangkan bila dia tidak ada disamping Ify saat gadis itu melahirkan anaknya. Membayangkannya saja Rio tidak berani. Walau sekalipun dia diusir dari rumah atau tidak diangap lagi oleh keluarga haling dia tidak peduli. Dia masih bisa mencari kerja sekaligus kuliah. Karena sedari kecil Rio memang laki-laki yang mandiri dan tidak manja.

“Sssstt sayang, jangan pikirin itu, apapun yang terjadi aku akan tetap menikahi kamu, ngerti?” sahut Rio lembut kembali mendaratkan ciuman kali ini di dahi Ify. Ify mengangguk mengerti. Ify tersenyum lega.

“Apapun yang terjadi aku akan selalu ada di samping kamu sampai maut memisahkan kita,” Rio mengangkat wajah Ify agar menatap matanya. Jari –jarinya menghapus sisa air mata di wajah cantik Ify. Gadis itu menatap Rio dengan wajah penuh kelegaan. Seolah –olah beban berat dipundakknya baru saja terangkat.

“I’m trully” Rio menunduk mencium dahi Ify dengan lembut,”Madly” lalu turun ke hidungnya,”deeply,” berpindah ke pipi Ify,”and desperately in love with you,” terkahir Rio mencium bibir Ify dengan lembut. Menggodanya untuk membalas ciuman tersebut. Dan entah kenapa kali ini adalah ciuaman terindah yang pernah Ify rasakan dalam hidupnya. Sebuah ciuman tanpa nafsu, hanya ada kasih sayang dan kelembutan didalamnya. Membuat keduanya semakin terhanyut dalam ciuman lembut itu.









Rumah itu tampak begitu menakutkan bagi Ify, untuk kedua kalinya dia kembali ke rumah mewah ini. Namun kali ini dalam kondisi yang berbeda. Ketakutannya berlipat-lipat kali daripada yang dulu. Rio mengenggam erat tangan Ify yang dingin, bermaksud memberikan dorongan pada gadis itu. Hari ini kedua orang tua Rio sedang berada di rumah, dan hari ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahu keduanya.

“Yo...aku takut!” bisik Ify, memegang erat lengan Rio yang duduk di sampingnya.

Mereka berdua sedang duduk di ruang tengah, menunggu kedatangan kedua orang tua Rio .

“tenang aja, sayang. semuanya akan baik-baik saja,” Rio menenangkan.

“Tapi...” belum selesai Ify berbicara sebuah suara langkah kaki yang menggema di rumah besar itu menghentikannya ucapannya. Dan kembali ketakutan itu menghampirinya saat kedua orang tua Rio mendekati mereka berdua. Kedua orang tua Rio lalu duduk di sofa tepat di hadapan keduanya. Tatapan dingin papanya seakan membuat nyali Ify menciut. Membuat gadis itu menunduk, tak berani melihat keduanya.

“Ada apa kamu datang kemari?”tanya Zeth Haling , ayah Rio. Wajahnya terlihat sangat tidak suka dengan keberadaan Ify.

“Aku mau bicara sama papa dan mama ,” jawab Rio tegas.

Alis Zeth Haling naik sebelah,menatap tajam anaknya,”Mau bicara soal apa?” tanyanya datar.

“Rio mau menikahi Ify, Pa, Ma” jawab Rio jelas. Menatap kedua mata orang tuanya yang terbelalak kaget.

“Apa kamu bilang? Menikah?” teriak Zeth murka langsung berdiri dari duduknya. Wajahnya menyiratkan kemarahan yang luar biasa. Seakan-akan ingin menelan keduanya hidup-hidup. Kedua tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Manda, Mama Rio langsung ikut berdiri, berusaha menenangkan amarah suaminya tersebut.“Pah, sabar ...” bujuk Manda, mama Rio memegang lengan suaminya yang sudah terkepal. Takut kalau-kalau suaminya langsung memukul Rio.

Zeth langsung menepis tangan Manda,”Bagaimana bisa , Ma? Rio masih kuliah, dan dia belum bisa mencari uang sama sekali!” pekik Zeth membuat Ify tersentak kaget. Air mata gadis itu kembali mengalir perlahan. Hal ini lah yang paling dirinya takutkan. Papa Rio akan sangat marah dan menentang pernikahan mereka berdua. Dan sekarang benar-benar terjadi.

“Tapi kan bisa kita bicarakan baik-baik, Pah. Dengan kepala dingin, tidak dengan emosi,” bujuk Manda berusaha kembali meredam amarah Zeth. Walau sebenarnya terkadang semua itu sia-sia. Karena Zeth lah yang akan mengambil alih kendalinya. Melihat suaminya yang kembali duduk, Manda langsung bernafas lega. Setidaknya laki-laki itu kali ini mau mendengarkannya.

“Sayang, kamu bisa jelasin ke mama dan papa kenapa kamu mau menikahi Ify secepat ini? Ify baru lulus sekolah, dan kamu juga masih kuliah sayang,” tanya Manda lembut dan berhati-hati. Membuat Rio merasa sedikit bersalah karena membuat kedua orang tuanya kecewa. Namun semua sudah tejadi dan tak bisa kembali lagi.

“Ify...hamil , ma! Dia hamil anak Rio,” ucap Rio lirih

“PLAAKKKK” sebuah tamparan kuat bersarang di pipi kanan Rio, bahkan sudut bibirnya sampai terluka dan mengeluarkan darah.

“PAPA!!”

“RIOO!!”

“Dasar anak tak tahu diri! Kamu membuat malu nama keluarga!” maki Zeth penuh amarah. Bahkan dia hendak memukul Rio lagi, kalau saja Manda tidak menahannya.

“Pa! Sabar Pa sabar!” bujuk Manda berusaha menengakan Zeth.

“Rio memang salah, Pa. Rio sudah membuat nama besar keluarga Haling tercemar, tapi Rio harus menikahi Ify.” ucap Rio tegas. Membuat Zeth semakin ingin menghajarnya, namun pandangannya langsung tertuju pada gadis yang duduk di samping Rio. Gadis itu menangis terisak pelan. Menundukkan wajah karena tak berani menatap wajah kedua orang tua Rio.

“Dasar perempuan sialan! Gadis murahan! Kamu sengaja menjebak anak saya, kan? JAWABB!!!” bentak Zeth yang semakin membuat isak tangis Ify semakin menjadi. Rio langsung memeluk tubuh Ify, membisikkan kata-kata lembut agar gadis itu tak menghiraukan caci maki ayahnya. Bahkan sekarang Rio berani menatap mata papanya, dia tidak terima dengan ucapan-ucapan yang terlontar dari mulut papanya.

“Cukup, Pa! Jangan menghina Ify lagi, kalau papa tidak mau menerima Ify. Rio masih bisa terima, dan mulai sekarang Rio anggap saja anak papa yang bernama Rio sudah mati, mulai detik ini Rio keluar dari keluarga Haling,” ucap Rio menahan amarah. Kemudian dia segera mengajak Ify untuk keluar dari rumah tersebut. Bahkan teriakan dan tangisan Manda tidak bisa menghentikan kepergian Rio.

“Dasar anak durhaka!!! Tidak tau diri!!!” samar – samar Rio dan Ify masih bisa mendengar suara Zeth yang memaki-maki Rio. Namun Rio tak menggubrisnya. Dia tetap berjalan keluar menuju pintu gerbang dengan memeluk bahu Ify posesif. Takut kekasihnya itu pingsan seperti tadi pagi. Apalagi wajah Ify yang sangat pucat seperti mayat.

“Yo... lebih baik kita kembali dan memohon sama papa kamu, itu lebih baik kan? Pasti beliau akan mengerti,” bujuk Ify pelan menatap wajah Rio yang menatap lurus jalan di depannya. Rahangnya terlihat mengeras menahan amarah.

“Nggak Ify! aku nggak mau papa mencaci maki kamu lagi, aku nggak terima. Karena dalam masalah ini akulah tersangkanya, bukan kamu.” Jelas Rio keras kepala. Dia malah semakin mempercepat langhkanya agar bisa cepat sampai di pintu gerbang . Bahkan laki-laki itu memaki pelan karena jarak gerbang dan rumahnya ternyata lumayan jauh bila ditempuh dengan berjalan kaki.

“Kita , Yo. Kita tersangkanya, bukan kamu,” sanggah Ify lirih, mengingat bahwa dia juga ikut andil dalam masalah ini. Andai saja malam itu dia bisa menahan Rio, pasti semua tidak akan menjadi seperti ini.

“Cukup! Lebih baik kita nggak usah ngebahas masalah ini dulu. Sekarang yang penting kita harus cari tempat tinggal baru buat kita, tapi untuk sementara ini, kita akan tinggal di kostan kamu,” ucap Rio tegas.





Malam itu Ify tidak bisa tidur sama sekali, dia masih memikirkan bagaimana nasib Rio, lelaki yang sangat dia cintai. Ify tidak bisa membayangkan Rio bekerja dan tidak bisa melanjutkan kuliahnya lagi demi dirinya dan calon anaknya itu. Suara gemerisik tubuhnya yang selalu berganti posisi, membuat Rio yang memerhatikan Ify dari sofa dekat tempat tidur Ify mengernyitkan dahi. Laki-laki itu langsung memutuskan mendekati kekasihnya itu. Dia memilih duduk di pinggir tempat tidur Ify yang berukuran kecil itu.

“Kamu kenapa , Sayang? sudah malam, lebih baik kamu tidur. Kasian anak kita, kalau kamu kurang tidur, atau kamu pengen sesuatu? Aku masih sanggup beliin kok walau aku sekarang jatuh misk...awww!! “

“Syukurin! “ cibir Ify yang berhasil mencubit perut Rio karena becandaan Rio yang membuat Ify tak suka.

“Iya...iya Maaf deh. Sekarang kamu tidur yah, besok aku mau cari kerja dulu, jadi kamu di rumah aja, ngerti ?” ucap Rio lalu menundukkan kepalanya, mencium dahi Ify penuh rasa sayang, lalu ciuman itu turun ke perut Ify yang masih rata. Memberikan kehangatan dalam hati gadis itu. Belum pernah dia merasakan dicintai sedalam ini, seperti yang Rio lakukan untuknya. Bahkan Ify rela menukar nyawanya sendiri demi kebahagiaan Rio. Kebahagiaan kekasih yang sangat dicintainya lebih dari nyawanya sendiri.

“Iya...iyaa...” gerutu Ify cemberut, bibirnya mengerucut membuat Rio tersenyum geli melihat tingkah Ify yang kekanak-kanakan itu.

“Kamu mau kemana?” Ify langsung menangkap lengan Rio saat laki-laki itu hendak berdiri, menjauh darinya.

“Mau tidur , sayang. Aku mau tidur di sofa,”

“Jangan!” tolak Ify yang langsung mendapat tatapan bingung dari Rio. Kalau dia tidak boleh tidur di sofa lalu dia tidur dimana?

“Kamu tidur di sini aja yah? Please, temenin aku” mohon Ify tiba-tiba yang membuat lipatan di dahi Rio semakin bertambah. Bahkan suara Ify terdengar manja, beda dengan Ify yang biasnya. Apakah Ify sedang ngidam? Tanya Rio dalam hati.

“Oke, tapi kamu memang nggak kesempitan tidurnya?”

Ify menggeleng sambil tersenyum, dia menggeser tubuhnya memberikan ruang untuk Rio tidur. Rio tersenyum hangat lalu naik ke atas tempat tidur itu. Merebahkan tubuhnya di samping Ify.

“Sini!” Rio menarik Ify agar mendekat padanya. Gadis itu menurut, meletakkan kepalanya di lengan besar milik Rio. Bahkan Ify memeluk tubuh Rio, membuat Rio kembali tersenyum melihatnya. Ternyata bayi yang ada dalam kandungan Ify ingin dekat-dekat dengan ayahnya, pikir Rio bahagia.

“Yaudah sekarang pejamin mata kamu, dan jangan melawan” perintah Rio pura-pura galak. Mencium kening Ify penuh dengan rasa sayang. Tangan Rio mengelus-elus punggung mungil Ify, membuat gadis itu merasa sangat nyaman dan mengantuk.

“Iya, bawel!” bisik Ify , dan hanya dalam hitungan detik dengkuran halus gadis itu mulai terdengar.

“Good nite, honey,” bisik Rio, kemudian memejamkan matanya yang memang sudah terasa sangat berat. Keduanya tertidur dengan penuh kebahagiaan.





Siang itu Rio pulang ke kostan Ify dengan wajah bahagia, dia ingin menyampaikan kabar baik yang dia bawa. Laki-laki itu akhirnya berhasil mendapat pekerjaan sebagai marketing di toko spart part kendaraan roda empat milik salah satu sahabatnya, untung saja Rio memiliki sahabat yang masih peduli padanya. Jadi laki-laki itu masih bisa kuliah sambil bekerja. Masih dengan senyum merekah di bibirnya Rio memasuki pelataran kostan Ify. Tangan laki-laki itu membawa plastik berisi petisan yang sempat Ify pesan tadi pagi sebelum dia berangkat untuk menemui sahabatnya itu.

“Fy! Ify! Aku pulang, sayang!” panggil Rio saat laki-laki itu masuk ke dalam rumah. Namun tak ada jawaban sama sekali. Apa Ify sedang tidur? Pkirnya. Segera laki-laki itu masuk ke dalam kamar, namun Ify juga tidak ada di dalam kamar.

“Fy! Kamu dimana?” panggil Rio sekali lagi membuka pintu kamar mandi, namun kosong. Tiba-tiba rasa khawatir mulai merasuki piIfy Rio. Ify tidak ada dimana-mana, laki-laki itu lalu membuka lemari Ify, memastikkan apakah dugaannya benar.

Rio terduduk lemas di tempat tidur. Wajahnya berubah menjadi pucat. Beberapa pakaian Ify sudah tidak ada di lemari. Koper besar yang ada di sudut ruangan juga sudah lenyap. Tas coklat yang sering Ify gunakan pun sudah raib.

Ify pergi dari rumah ini. Tapi kenapa? Kenapa gadis itu malah pergi meninggalkannya.

Rio langsung berlari keluar rumah, siapa tau Ify masih berada di sekitar kostannya. Namun , beberapa kali Rio mencari, gadis itu tak dia temukan juga. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

Saat Rio melihat seseorang yang sedang menelpon, barulah dia ingat dia belum menghubungi Ify. Siapa tau gadis itu hanya pergi ke rumah orang tuanya. Laki-laki itu langsung menelpon Ify, butuh waktu sedikit lama sampai telpon Rio diangkat.

“Hallo?!” Suara Ify terdengar gemetar, seperti sedang menahan tangis.

“Ify kamu dimana? Aku nyariin kamu! Bilang sama aku sekarang kamu dimana?” tanya Rio dengan nada khawatir. Kenapa Ify tidak memberitahunya kalau dia ingin pergi. Bahkan sampai membawa pakaian segala.

“Yo...kamu nggak usah nyariin aku lagi. Hubungan kita sampai di sini aja,”

Rio mengernyitkan dahi bingung, tidak mengerti maksud ucapan Ify, kenapa dia berbicara seperti itu.”Maksud kamu apa, sayang? Aku nggak ngerti!”

Ada jeda sejenak sampai Ify berbicara,”Mulai saat ini...kita...putus...”

Tubuh Rio menegang mendengar ucapan Ify. Bagaimana bisa dia berbicara seperti, padahal ify sedang mengandung anaknya. Tidak pasti ada yang tidak beres,”APA??? PUTUSS? Kamu jangan main-main Ify! Aku nggak suka!” teriak Rio kesal. Dia tidak suka dengan ucapan yang keluar dari mulut kekasihnya itu. Bahkan dia tidak pernah membayangkan dia akan putus dengan Ify.

“Aku nggak main-main, dari awal aku...aku Cuma mengincar harta kamu,” balas Ify , kali ini suarnya seperti sedang menahan tangis. Membuat Rio semakin curiga. Rio sangat tau Ify seperti apa. Dia bukanlah gadis matre seperti gadis-gadis lainnya.

“Apa? Kamu bohongkan, Fy? Aku tau kamu bukan perempuan seperti itu,aku tau kamu,Fy. kita bicarakan masalah ini baik-baik yah, sayang” bujuk Rio lembut. Berusaha membuat luluh hati gadis itu. Mungkin saja Rio telah melakukan kesalahan tanpa sepengetahuannya, sehingga membuat Ify yang memang sedang sensitif karena sedang mengandung akhir-akhir ini menjadi marah.

“Aku nggak bohong. Dari awal aku deketin kamu, aku hanya mengincar harta kamu. Mulai sekarang jangan cari aku lagi. Selamat tinggal.”

Dan sambungan itu terputus, membuat wajah Rio pucat pasi

“Halo! Fy! Ify!” teriak Rio frustasi. Dia semakin yakin ada yang tidak beres dengan semua ini. Rio kembali menghubungi nomer Ify, namun hp itu sudah tidak aktif.

Papa.

Hanya satu kata itu lah kunci dari semua permasalahannya dengan Ify. Pasti papanya lah dalang dari semua ini. Apa yang dia perbuat sehingga Ify pergi meninggalkannya. Papanya pasti mengancam Ify Apalagi dia sedang mengandung anaknya. Darah daging Rio. Dia tidak ingin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada kedua orang yang sangat dia cintai. Untuk itu dia harus memastikan terlebih dahulu, dia harus menemui papanya. Menanyakan keberadaan Ify saat ini. Dan kalau sampai tejadi sesuatu dengan Ify dan anaknya, papanya harus membayar semuanya.

Laki-laki itu segera masuk ke dalam mobil yang sempat dia pinjam dari sahabatnya itu. Sebenarnya dia tadi berencana mengajak Ify ke dokter untuk mengecek kandungannya. Tanpa gila-gilaan, bahkan spidometer mobilnya sampai mencapai hampir 180km/jam. Amarah yang merasuki dirinya membuatnya tidak bisa berpikir dingin. Peraturan rambu-rambu lalu lintas pun tak digubrisnya. Caci maki dari pengendara lain juga tak dia hiraukan. Tanpa Rio sadari sebuah kendaraan beroda empat yang berlawanan arah dengannya melaju sama kencangnya seperti mobilnya. Rio yang terkejut melihatnya beusaha menghindarinya, namun sayang. Gerakannya kurang cepat, Sehingga tabrakan keras itu pun tak bisa dihindari lagi.

“TIDAKKK!!”

*******

“Sayang, bangun sayang. Ini mama!” Manda menepuk-nepuk pelan pipi Rio yang masih terpejam. Laki-laki itu terbangun dan langsung terduduk. Keringat dingin mengalir di pelipisnya, nafasnya terengah-engah, naik turun tak teratur.

“Kamu kenapa, sayang?” Manda menatap wajah Rio khawatir. Apalagi wajah Rio yang terlihat pucat. Laki-laki tiu pingsan selama kurang lebih empat jam, membuat Manda menjadi khawatir dibuatnya. Dan ketika Rio terbangun anaknya itu malah menjerit ketakutan. Terbangun dengan nafas terengah-engah dengan wajah pucat.

“Ma...Rio... Rio sudah ingat semuanya , Mah! Rafli, Rafli adalah anak Rio kan, Mah? Iya kan? ” ucap Rio menatap Manda dengan tatapan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Tatapan antara kebahagian, kesedihan dan kekecewaan serta rasa sakit itu menjadi satu.

Manda mengangguk, air matanya kembali mengalir. Dadanya terasa sakit melihat kesedihan yang terpancar di mata anaknya.”Iya, sayang. Rafli adalah anak kamu,” Manda melirik Manda yang tertidur di sofa kamar rawat Rio.

Rio seketika loncat dari tempat tidur rumah sakit mendekati Rafli yang terlelap dengan tenang. Bahkan laki-laki itu tak menghiraukan selang infus yang terlepas karena gerakan spontannya itu.

Dia tersenyum penuh rasa bahagia, anaknya, darah dagingnya masih hidup. Bahkan tumbuh menjadi anak yang tampan dan sehat. Perlahan tangan Rio yang gemetar menyentuh dahi Rafli, kemudian turun ke hidung mungilnya, lalu ke pipi chubby anak itu. Jadi selama ini dia sudah hidup bersama dengan perempuan yang dia cintai juga dengan anaknya.

“Om Lio?” Rafli membuka matanya yang masih terlihat mengantuk, mungkin gerakan tangannya telah membuat Rafli terbangun.

Rio tersenyum bahagia lalu merengkuh tubuh mungil itu dalam pelukkannya,”Sttt...mulai sekarang Rafli jangan panggil Om Rio lagi yah, panggil Om dengan sebutan Ayah,” ucap Rio bergetar menahan emosi yang sudah lama dia pendam. Lima tahun dia lalui tanpa melihat perkembangan buah hatinya sendiri.

“Ayah? Kenapa?” tanya Rafli polos.

“Karena Om Rio adalah ayah kamu, “ sahut Rio mencium kening Rafli penuh rasa sayang.

Rafli menatap Rio dengan bingung, namun sedetik kemudian senyum Rafli terlihat, “Hole!!! Lapi sekarang punya Ayah!” tangan mungil Rafli langsung memeluk leher Rio penuh rasa sayang. Anak itu terlihat begitu sangat bahagia. Rio kembali tersenyum melihat Rafli yang begitu bahagia mengetahui bahwa dirinya ayah anak itu. Dia melepaskan pelukkannya, kembali menatap wajah Rio yang pucat serta mata yang merah.

“Ayah kenapa menangis?” tanya Rafli sedih saat melihat sudut mata Rio yang sedikit basah. Tangan mungil Rafli terulur dan jari-jari mungilnya mulai menghapus sisa air mata tersebut. Sebuah air mata kebahagiaan. Untuk kedua kalinya Rio menangis karena orang yang dicintainya.

Rio tersenyum mengecup tangan mungil Rafli,”Ayah menangis karena bahagia, sayang. Karena Ayah telah menemukan kedua permata Ayah yang telah lama hilang,” ucap Rio lembut. Manda yang melihat kejadian tersebut ikut menangis. Dia merasa sangat bahagia karena ingatan Rio telah kembali, dan sebentar lagi keluarganya akan menjadi utuh kembali.

“Pelmata? Pelmata itu apa Ayah?” tanya Rafli polos membuat Rio terkekeh geli mendengarnya.

“Benda yang sangat berharga dan tak ternilai harganya, sayang. Suatu saat Rafli akan tau maksud dari ucapan Ayah ini.” Rio kembali memeluk buah hatinya penuh sayang. Begitu juga dengan Rafli yang memeluk leher Rio dengan erat, seakan tak ingin dipisahkan lagi.





******



Perlahan Rio memasuki ruang ICU itu, mendekati tubuh lemah Ify yang terbaring tak berdaya di tempat tidur. Mulut ify yang ditutup masker oksigen, serta sekujur tubuhnya yang dipasang kabel-kabel yang menghubungkannya dengan monitor pendeteksi jantung begitu menyakiti hatinya. Sekarang perempuan yang sangat dicintainya melebihi dirinya sendiri terbaring tak berdaya. Rio duduk di kursi di samping ranjang Ify.

“Aku datang , Sayang.” bisik Rio menahan gejolak di dalam dadanya. Tangannya meraih tangan kiri Ify yang bebas tanpa adanya kabel-kabel yang dipasang.

Laki-laki itu memerhatikan wajah Ify yang sangat pucat, seolah-olah di dalam tubuh Ify tak terdapat darah sama sekali.

“Maafin aku, Fy... maafin aku,”ucap Rio lirih, “Maafin aku karena telah membuat kamu menderita selama lima tahun ini, “ Rio diam sejenak, mencium punggung tangan Ify penuh rasa sayang.”Untuk itu, aku mohon...buka mata kamu, beri aku kesempatan kedua untuk menebus semuanya,” pinta Rio dengan serak, air mata laki-laki itu mulai mengalir di pipinya. Kenapa di saat ingatannya kembali, dia harus membayarnya dengan melihat perempuan yang sangat disayanginya terluka seperti ini. Membuat hatinya terasa amat sakit.

“Beri...beri aku kesempatan untuk menebusnya, Fy...please” tangis yang sudah dia tahan sejak tadi itu akhirnya pecah. Bahkan tubuh Rio sampai bergetar karena tangisnya. Bahkan Sivia dan juga Manda yang melihatnya ikut menangis mendengar tangisan laki-laki itu yang begitu menyakitkan.

“Demi aku , fy dan demi anak kita, please buka mata kamu. Aku janji, saat kamu bangun nanti aku nggak akan pernah ninggalin kamu untuk kedua kalinya ...untuk itu...buka mata kamu,” mohon Rio terisak pilu.



And I will take you in my arms

And hold you right where you belong

‘Til the day my life is through

This I promise you

This I promise you



I’ve loved you forever

In lifetimes before

And I promise you never

Will you hurt anymore



I give you my word

I give you my heart

This is a battle we’ve won

And with this vow

Forever has now begun

Just close your eyes





Each lovin’ day

And know this feeling won’t go away

‘Til the day my life is through

This I promise you

This I promise you



( This I Promise You –N’sync)


TBC teman teman :))
Semoga tambah menyukai yaaaa :*
Jangan lupa buat ninggalin jejak kalian kalau mau cerita ini lanjut :)
Reaksi: