Text Select - Hello Kitty

Benci Jadi Cinta - Part 11 (YOSHILL)

Kamis, 17 April 2014 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 01.47
SALUT MES AMIS :)) Ada yang nungguin cerbung ini gak ???
gue berharap masih ada yang nungguin :D

sorry banget buat keterlamban post cerbungnya yah guys, gue lagi diribetin sama semua hal yang ada dalam hidup gue soalnya -_-
jadi maklumin aja yah ..

yaudah deh langsung aja .. yang masih tertarik .. silahkan dibaca !!!
HAPPY READING ALL :))

LINK SEBELUMNYA => http://indahnuramalia6.blogspot.com/2013/12/link-benci-jadi-cinta-yoshill.html

BENCI JADI CINTA
PART 11



Matahari telah menampakkan dirinya di langit yang paling tinggi membuat semua orang yang berada di luar gedung SMA Tunas Bangsa mengeluh kepanasan. Sedangkan yang berada di dalam gedung sedang berusaha mencari bahan pendingin apa saja yang bisa meredakan rasa panas yang menjalar di tubuh mereka.

            Seperti halnya dengan pemuda tampan ini. Baju merah berlengan pendeknya masih melekat di tubuh jangkungnya. Pelajaran olahraganya kali ini benar benar menguras tenaganya. Selain lelah karena terus terusan mengurus keperluan OSIS yang semakin mendekati acara prom night di Tunas Bangsa, pemuda hitam manis ini juga harus mengurusi tugasnya yang tertinggal karena jarang masuk kelas.

            Rio – pemuda ini duduk di bawah pohon dekat dengan lapangan outdoor. Hanya tempat inilah yang bisa melindungi tubuhnya dari panas matahari. Tangannya sibuk menyeka keringatnya yang mengucur di dahi, kakinya ia selonjorkan dan tubuhnya ia sandarkan ke tubuh pohon serta matanya berusaha untuk dipejamkan.

            Shilla berjalan keluar gedung. Dia mendapat amanah dari sang wali kelas untuk memberikan sebuah surat – entah berisi apa untuk disampaikan ke guru olahraga di sekolahnya. Lagian yang ia tahu, jam ini sedang waktunya kelas XII IPA 2 yang berolahraga. Tandanya pangeran hatinya berada disana. Mengingat hal itu, dia jadi tersenyum sendiri.

            Shilla melihat pemuda itu sedang rebahan dengan menyangga sebuah pohon besar. Gadis itu langsung berlari menghampiri guru olahraganya yang berada di tengah lapangan dan langsung memberi surat yang telah di titipkan kepadanya. Setelah guru olahraga itu menerima, Shilla langsung berlari menghampiri Rio.

            Gadis itu hanya berdiri seraya memandang wajah sang kakak kelasnya dengan seksama. Wajah kelelahan. Dia tahu, jika pemuda di hadapannya sedang mengalami masa masa sulit. Dimana dia harus menanggung beban sebagai ketua osis dan juga harus mengejar materi yang sudah ia tinggalkan untuk osis.

“Ehem.”

            Rio mengernyit heran. Deheman lembut itu terasa sangat jelas di telingannya. Seperti suara Shilla. Tapi dia menggeleng gelengkan kepalanya dan kembali tenggelam di dalam istirahat sesaatnya.

“Kak Rio.” Panggil Shilla dengan suara yang lumayan keras. Pemuda itu kali ini benar benar membuka matanya dengan sempurna dan langsung terbelalak begitu menyadari ada makhluk yang tak asing baginya di hadapannya sekarang.

“Shilla.”

“Lebay banget deh kak ekspresinya.”

“Lebay apanya, orang loe bener bener ngagetin gue. Lagian, cewe itu manggil cowo yang lembut dikit kan bisa. Gak harus teriak teriak begitu Shill.” Ujar Rio seraya menggeser duduknya dan mengisyaratkan Shilla untuk duduk di sampingnya. Gadis itu hanya mengangguk dan langsung duduk di sebelah pemuda itu.

“Lagi ngapain kak disini ??? Bukannya kakak lagi pelajaran olahraga ???” Tanya Shilla. Rio hanya diam seraya kembali memejamkan matanya.

“Gue capek. Jadinya mau istirahat bentar. Mending loe sekarang kembali ke kelas Shill.” Ucap Rio pelan. Tubuhnya benar benar merasa lelah sekarang. Entah kenapa rasa lelah itu ia rasakan itu sekarang.

            Shilla memandang wajah kakak seniornya itu dengan pandangan iba. Kasihan juga melihat Rio kecapekan seperti ini. dia harus membantunya. Tapi bagaimana caranya ?? Shilla saja tidak pernah mengikuti organisasi sejenis osis. Ini punya niat membantu Rio di osis. Bisa hancur semua pekerjaan pemuda ini. Yang ada, bukannya pekerjaan beres, malah pekerjaan semakin hancur karena tangan Shilla -_-

“Emangnya pekerjaan osis masih banyak yah kak ???”

Rio kembali membuka matanya saat suara lembut gadis itu kembali terdengar, “Banyak sih enggak Shill, Cuma gak tahu kenapa badan gue gak enak banget rasanya. Kecapekan aja mungkin.”

“Kakak istirahatnya gak teratur sih. Dan pola makannya juga gak teratur. Jadi, kesehatan kakak menurun deh.” Rio hanya mengangguk angguk tanda membenarkan gadis itu.

            Saat ia ingin membuka suara. Sudah lebih dulu di sela oleh seseorang yang memanggil namanya dengan berteriak. Dua pasang mata itu secara bersamaan melihat seseorang yang merusak kebersamaan mereka berdua yang ‘jarang’ terjalin akhir akhir ini karena adanya orang ketiga diantara mereka.

“Safa.” Gumam Rio setelah seseorang yang memanggil namanya tadi berhenti di hadapannya.

“Rio, gue cariin kemana mana ternyata loe disini. Loe di panggil tuh sama Pak Duta.” Ucap gadis itu seraya melirik kearah Shilla dengan nada sinis. Sedangkan Shilla hanya mengalihkan pandangannya kearah lain karena tidak suka dengan tatapan kakak kelasnya ini.

“Bentar lagi gue cabut Fa, loe duluan kesana aja.” Jawab Rio lembut, gadis itu mengangguk dan langsung kembali ke lapangan setelah sebelumnya memberi peringatan kepada Shilla lewat tatapan sinisnya.

“Nakutin banget sih matanya.” Gumam Shilla seraya memandang Safa.

“Kenapa Shill ???”

“Gak kak. Enggak kenapa napa.”

“Oh, yaudah. Gue ke ruangan pak Duta dulu yah. loe juga balik ke kelas gih. Jangan bolos. Awas aja kalau gue denger loe bolos.” Ucap Rio seraya mengacak acak rambut gadis itu seraya berdiri dari duduknya dan langsung berlari kearah lapangan setelah sebelumnya terkekeh karena melihat wajah merona Shilla.

“Sepertinya gue bener bener harus mengakhiri permaninan gue sama kak Alvin sekarang juga. Gue harus berterima kasih sama kak Debo dan mulai focus ke kak Rio. Yah harus.” Gumam Shilla seraya tersenyum senang. Sentuhan tangannya di rambutnya benar benar membuat perasaannya berbunga bunga.

Hanya Sentuhan di rambutnya. Dan itu tidak berlaku bagi siapapun. Hanya Rio. Hanya pemuda itu yang bisa membuat perasaannya seperti ini. Dan hanya sentuhannya yang bisa membuatnya merasa dicintai dengan tulus. Walaupun dia belum membuktikannya secara langsung, tapi dia percaya, kalau pemuda itu juga mencintainya.

**************
            Alvin sedang berjalan santai di koridor. Setelah seharian ini mengalami kesialan yang bertubi tubi, akhirnya pemuda tampan ini berhasil melarikan diri dari pekerjaannya sebagai ‘orang penting’. Seharian ini dia benar benar seperti menggendong beban yang sangat berat. Membuatnya ingin menghilang dari bumi yang sedang ia pijak sekarang juga.

“Kak Alvin.”

            Pemuda tampan yang mempunyai nama ‘Alvin’ langsung berhenti berjalan. Dan langsung menemukan seorang gadis yang sangat dikenalnya. Alvin hanya diam seraya mengangkat alisnya tinggi tinggi begitu melihat cengiran gadis itu.

“Loe kenapa ??? Kesambet ??” Tanya Alvin bingung dengan kelakuan gebetan sahabatnya ini – Ashilla.

“Apaan sih loe kak. Orang gue lagi bahagia dibilang kesambet.” Sungut Shilla.

“Ya emangnya kenapa ??” Tanya Alvin lagi.

“Gue mau batalin perjanjian kita. Gue gak mau nerusin lagi pokoknya.”

“Perjanjian apa ?? Emang gue terlibat janji apa sama loe.”

“Tentang kak Debo. Gak usah berpura pura bodoh kak Alvin. Pokoknya gue mau udahin. Gue gak mau berpura pura lagi.” Ucap Shilla dengan tegas.

Alvin hanya tersenyum penuh arti. dia tahu alasan gadis ini ingin menyudahi permainan ini. Tapi dia juga ingin mengerjai Shilla. “Emangnya kenapa ??? Loe mau ke prom sendiri ?? Gak punya pasangan ??”

“Pasangan ?? Ada dong. Makanya gue mau batalin permainan ini. Lagian gak ada gunanya lagi sekarang.” Ucap Shilla disertai dengan senyuman manisnya.

“Pasangan loe siapa Shill ?? Rio ?? Gak mungkin. Rio kan janji mau pasangan sama Safa. Terus loe sama siapa ???” Shilla langsung membelalakan matanya. Safa ?? Kakak kelasnya yang juga sekelas dengan pangeran hatinya ?? Yang benar saja.

“Bercanda loe gak lucu kak.”

“Yaudah kalau gak percaya. Yang penting, gue udah bilang yang sejujurnya.” Ucap Alvin seraya kembali berjalan meninggalkan Shilla yang masih cengo.

“Kak Alvin. Seriusan dong. Jangan bikin gue galau lagi.” Rengek Shilla seraya mengejar kekasih sahabatnya itu yang super menyebalkan.

“Yang bikin loe galau siapa ?? Rio kan ?? Tuh, loe tanya aja sama orangnya langsung.” Ucap Alvin seraya menunjuk satu objek yang sedang berjalan mendekat kearah mereka. “RIO. SINI BRO.” Teriak Alvin yang membuat Shilla secara refleks mencubit lengan pemuda itu.

“Aw, loe gila. Sakit bodoh.” Ringis Alvin.

“Kenapa Vin ??” Tanya Rio setelah sampai di depan Alvin dan Shilla.

“Nih, Shilla mau nanyain soal promnight. Loe kan pernah bilang sama gue kalau udah pasangan sama Safa buat ke prom. Sekarang loe bilang lagi deh ke Shilla. Dia gak percaya sama gue bro.” Cerocos Alvin seraya mengedipkan matanya kearah Rio saat Shilla tidak melihat kearahnya. Membuat Rio mengerti bahwa ini hanya permainan pemuda itu. Dasar Alvin, anak orang masih dikerjain aja.

“Beneran Shill ?? Emangnya buat apa loe nanyain soal pasangan gue ???” Tanya Rio.

“Eh Ah .. Bu .. bukan itu kak. Ma .. maksud gue tuh ..”

            Alvin tidak tahan untuk tidak tertawa. Pemuda itu tertawa sekeras kerasnya membuat Shilla melotot tajam. Pemuda itu malah semakin tertawa semakin keras. Sebelum terkena amukan gadis itu, pemuda itu terlebih dahulu mengaburkan diri setelah sebelumnya mengucapkan kata ‘gue duluan’ ke sahabatnya.

“Kenapa Shill ??? Omongan loe gak jelas deh. Bicara aja Shill. Toh gue gak akan makan loe kan.”

Shilla hanya terkekeh mendengar ucapan pemuda tampan di hadapannya. Sedangkan tangan Rio terulur menyentuh puncak kepala gadis itu dan mengacak acaknya pelan.

“Maaf yah, tadi ucapan Alvin gak bener kok. Gue belum punya pasangan buat ke prom. Loe pasti udah kan ?? Sama cowo loe ??”

“Hah.”

Rio hanya tersenyum mendengar jawaban gadis itu. “Yaudah yah, gue tinggal dulu. kerjaan gue masih banyak di osis. Bye Cantik.”

            Tanpa mendengar jawaban gadis itu. Rio melangkah untuk menjauh. Gak enak juga bahas musuh dalam hal percintaannya itu di saat dia lelah. Mungkin emang sebaiknya dia menerima kehadiran Debo sebagai kekasih Shilla. Toh percuma juga dia berusaha untuk mendapatkan gadis itu tapi hati Shilla sudah bersama Debo. Lebih baik dia merelakan tapi membuat Shilla bahagia. Yah itu emang yang sebaiknya Rio lakukan sekarang.

****************
             
Cinta itu membingungkan. Terkadang kita tidak tahu jika cinta itu sedang hadir. Memang benar teori yang menyatakan jika cinta itu hadir dengan sendirinya. Bahkan tanpa kita sadari. Seperti yang terjadi pada kisah cinta Shilla. Disaat semua sahabat sahabatnya sedang bahagia menceritakan perjalanan cinta mereka. Shilla justru harus menelan pahit perjalanan cintanya.

            Seperti sekarang ini. Shilla sedang berada di rumah sahabatnya, Ify. Beserta kedua sahabatnya yang lain, mereka berempat sekarang berada di kamar Ify yang dominan berwarna biru muda. Gadis itu memang menyukai warna biru muda. Menurut penjelasan dari Ify sendiri, dia pencinta warna biru muda. Warna yang membawa ketenangan untuk dirinya. Yah, mungkin warna kesukaan juga berpengaruh untuk kehidupan gadis itu.

“Shill. Bengong aja. Kenapa ??” Tanya Sivia seraya memakan kue donat di piring yang sudah disediakan oleh sang empu rumah.

“Gak. Gue lagi meratapi kisah cinta gue aja. Nasib gue buruk banget yah kayaknya.”

“Bahasa loe apa banget deh.” Sindir Via pelan membuat Shilla terkekeh.

“Yah gue Cuma lagi mikir aja, gimana bikin kak Rio gak berfikiran kalau gue bukan pacarnya kak Debo.”
“Loe gimana sih, tinggal bilang ke kak Rio kan.”

“Loe enak tinggal bilang kaya gitu. Gue ngelakuinnya yang susah.”

            Sivia mengetuk ngetukkan tangannya di dagu. Sok berfikir. Matanya lurus memandangi pintu kamar Ify. Beberapa saat kemudian, Ify masuk ke dalam dengan membawa nampan berisi banyak makanan. Agni mengekor di belakangnya dengan membawa banyak snack makanan. Gadis itu langsung melempar satu snack ke sahabatnya satu persatu.

“Kok gue dapet keripik kentang sih ???” Sungut Via sebal.

“Heh, itu enak tahu. loe cobain aja. Gue jamin, loe minta tambah ntar.” Jawab Agni dengan nada santai. Kemudian Agni langsung merebahkan tubuhnya di samping Via membuat sahabatnya kaget dan snack yang dipegangnya langsung mengarah kearah wajah cantiknya. Agni, Shilla dan Ify langsung tertawa bersamaan.

“Muka loe kocak Vi. Hahaha.”

“Snack itu buat dimakan, bukan buat dijadiin make up Vi. Hahaha.”

“Eh udah udah. Kasihan nih sahabat gue yang malang ini.” Ucap Shilla yang langsung mendapat jitakkan dari Via. Gadis itu kembali terkekeh melihat muka sebal Via.

“Rese loe semua. Gak gue bantuin ulangan, baru tahu rasa loe pada.” Sungut Via seraya membersihkan wajahnya menggunakan tissue yang diberikan Ify.

“Maaf Via. Kita kan Cuma bercanda.” Ucap Ify yang masih menahan tawanya.

“Ag. Kenapa gue dapet Chitato ?? Loe kan tahu gue gak suka sama snack ini.” Tanya Shilla bingung.
“Loe suka sama kak Rio kan ???” Tanya Agni dengan santainya.

“Heh, apa hubungannya ?? Gue Tanya loe malah balik nanya, gak nyambung.”

“Kak Rio suka pake ‘banget’ sama snack ini. kalau loe gak suka berarti loe gak jodoh sama dia.” Terang Agni. Shilla langsung melemparkan bantal yang dipegangnya kearah sahabatnya itu. dan tepat. Wajah Agni menjadi sasarannya membuat ketiga sahabatnya tertawa lagi.

“Rasain tuh. Gantian.” Ejek Via.

“Lagian loe kalau ngomong yang bener dong Ag. Masa loe doain Shilla sama kak Rio gak jodoh ?? Ntar Shilla langsung punya niat bunuh diri lagi.” Sindir Ify membuat Shilla melotot kearahnya, gadis itu hanya terkekeh membalas pelototan Shilla.

“Ag, loe dapet informasi darimana kalau kak Rio suka banget sama snack ini ???”

“Loe gimana sih Shill. Hampir setiap jam istirahat, kak Rio suka banget pesen ini. bahkan kalau sehari dia gak makan Chitato, bisa gila tuh anak.”

“Masa ???” Sahut Ify, Shilla dan Sivia secara bersamaan seraya tertawa. Agni hanya manyun mendengar ledekan sahabatnya.

“Serah deh. Fy, gue ngikut tidur bentar yak. Mata gue udah gak bisa di ajak bekerja sama nih. Gue tidur dulu yah guys.” Ucap Agni seraya menarik selimut menutupi tubuhnya dan merebut bental guling dari tangan Sivia.

“Dasar kebo.” Ledek Ify. Mereka langsung tertawa bersamaan lagi.

            Persahabatan itu simple. Sederhana. Dan gak pernah mementingkan hal lain yang membuat mereka gak happy. Walaupun keadaan hati mereka sedang tidak baik, tapi mereka akan berusaha sebaik mungkin terlihat baik di depan sahabatnya yang lain. Karena persahabatan itu membuat bahagia. Dan tidak ada kata ‘galau’ dalam persahabatan.

**************
             
Shilla sekarang sedang berada di depan rumah Rio yang mewah. Sudah hampir setengah jam dia berdiri di depan pintu. Memutuskan untuk masuk atau tidak. Karena gadis ini ingin sekali menjelaskan yang sebenarnya kepada pemuda itu. tapi yang ia lakukan malah membuatnya seperti orang bodoh.

            Beberapa kali penjaga rumah Rio menegurnya untuk segera menekan bel rumah pemuda itu. Tapi hanya di tanggapi Shilla dengan senyuman manis plus tipis. Saat dia memutuskan untuk menekan bell, pintu lebih dulu dibuka dari dalam. Membuat gadis cantik itu mundur beberapa langkah karena kaget.

“Shilla.” Ucap seseorang yang baru saja membuka pintu. Mama Rio.

“Tante. Maaf tan, tadi Shilla mau nekan bell tapi tante udah buka pintu. Hehehe.” Lagi – lagi gadis cantik ini melakukan sesuatu yang konyol. Entah apa yang ada di benak mama Rio sekarang melihat kelakuannya.

“Gak apa – apa kok Shill. Mau ketemu Rio yah ?? Ada tuh di kamar. Masuk aja. Tante mau ke kantor om dulu.”

“Tante mau pergi ?? Terus Shilla disini sendirian tante ??” Tanya Shilla bingung.

“Gak sendiri, ada kedua anak tante yang ganteng – ganteng tuh di dalam. Kamu bisa ngobrol sama mereka.”
“Yaudah deh tan. Tante hati – hati yah.”

            Mama Rio hanya membalasnya dengan senyuman manis. kemudian mengelus rambut Shilla yang halus dan panjang. Kemudian berjalan keluar rumah menuju ke tempat mobilnya yang berjejer di depan rumah.

“Oya Shill.” Ucap Mama Rio tiba tiba seraya menghadap kearah Shilla yang sepertinya juga terkejut sambil membalikan tubuhnya.

“Iya tante.”

“Tante dengar, kamu udah punya pacar ??” Shilla hanya diam dan tersenyum tipis. “Tante kira kamu lagi single Shill. Tahunya udah punya pacar. Itu si Rio galau banget kayaknya saat kamu udah punya pacar Shill. Anak tante suka kayaknya sama kamu.”

“Gak kok tante. Kak Rio aja yang ngarang cerita. Shilla gak punya pacar kok.”

“Tante bercanda. Tante udah dijelasin sama Alvin kok kalau kamu sama pacar kamu itu Cuma bersandiwara. Tante juga tahu kamu suka sama anak tante shill.”

            Merah. Pias banget wajah Shilla sekarang. Kakak seniornya yang satu itu memang benar benar menyebalkan. Bagaimana bisa dia membocorkan semua rahasianya termasuk rasa sukanya pada Rio. Awas aja nanti. Shilla akan memberikan perhitungan pada kekasih sahabatnya itu yang memang menyebalkan.

“Tante sengaja ngerahasiain ini semua sama Rio. Maksudnya biar kamu aja yang ngejelasin nanti. Yaudah tante berangkat dulu. Satu yang harus ingat Shilla. Tante setuju banget kalau kamu sama anak tante menjalin hubungan.”

            Setelah mengucapkan beberapa kalimat, mama Rio benar benar meninggalkan Shilla yang hanya mematung sambil tersenyum senyum sendiri. Entah mengapa perasaannya bahagia sekali sekarang. Dengan riang, dia memasuki rumah pemuda itu yang nampak mewah.

“Kak Shilla.”

Shilla tersenyum saat melihat adik pemuda itu sedang duduk di depan ruang TV. Dengan gerakan cepat, Shilla langsung duduk di sebelah pemuda kecil itu.

“Mau ketemu kak Rio yah.” Goda Ray usil.

“Iyalah, masa mau ketemu sama loe.”

“Mendingan sama gue kali kak. Kak Rio itu gak ada apa – apanya kalau dibandingin sama gue. Kalah jauh dia sama gue.”

BUK.

            Sebuah bantal sofa melayang tepat mengenai wajah innocent milik pemuda kecil itu. siapa lagi kalau bukan Rio yang melempar. Dengan santainya dia duduk di sofa yang berlainan dari Ray dan Shilla yang duduk dalam satu sofa.

“Adik durhaka.”

“Itu fakta. Fakta berbicara bahwa semua yang gue omongin tadi itu benar adanya.”

“Udah masuk gih sana.” Suruh Rio seenaknya.

“Siapa elo nyuruh nyuruh gue. Gue punya tamu nih. Harusnya loe yang masuk.”

“Gak bercanda Ray. Loe masuk atau gue gak akan pernah minjemin motor lagi ke loe.”

“Iya iya. Bisanya ngancem. Gak asyik loe kak.” Sungut Ray seraya berjalan kearah kamar yang berada di lantai 2. Tapi Ray tiba tiba berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap ke dua orang yang masih diam di ruang TV.

“Kak Shilla. Hati hati sama kakak gue.”

“RAY.” Bentak Rio, Ray tertawa dengan kerasnya seraya berlari menaiki tangga rumahnya sebelum di mutilasi oleh kakaknya itu.

            Shilla juga ikut tertawa. Melihat kebahagiaan yang terjadi di rumah ini. Dia tidak pernah merasa asing jika sudah bertemu dengan semua yang berhubungan dengan pemuda ini. Keluarganya, sahabat – sahabatnya dan juga orang terdekatnya. Seakan akan, orang – orang yang dekat dengan pemuda ini juga dekat dengannya.

“Ada hal penting yang mau di omongin Shill ??” Tanya Rio tiba – tiba dengan serius.

“Iya kak masalah hati.”

“Hati ???” Tanya Rio bingung.

“Iya. Maksudnya tuh gini, aku mau ngomongin masalah kak Debo. Sebenernya kak Debo itu bukan pacar Shilla kak. Kiat pacaran Cuma bersandiwara.”

            Rio menatap Shilla yang sebelumnya menatap kearah TV dengan pandangan bingung. Shilla yang mengerti arti tatapan itu segera melanjutkan.

“Jadi ini semua yang ngerencanain itu kak Alvin. kak Alvin itu sengaja mau ngelakuin ini karena mau nyari bukti kalau kakak suka atau gak sama Shilla. Jadi gitu deh.”

“Jadi Alvin dalangnya ??”

“Gak sepenuhnya salah kak Alvin juga kak. Ini juga salah Shilla yang udah nyetujuin sandiwara yang dibuat kak Alvin.”

“Jelas lah loe salah. Tapi Alvin lebih salah. Mana ada pake cara kaya gitu buat bikin orang cemburu.” Kesal Rio.

“Lagian kak Rio sih. Shilla kan udah sering nunjukkin kalau shilla suka sama kakak. Tapi kak Rio gak pernah. Jadi, kak Alvin bantuin Shilla deh.”

            Rio berdiri kemudian berjalan ke arah Shilla. Dengan santainya dia duduk di samping Shilla dengan tatapannya yang tidak bisa beralih dari mata gadis itu yang sedang memandangnya dengan ketakutan.

“Shill. Tanpa gue kasih tahu pun, harusnya loe itu tahu kalau gue suka sama loe.”

“Beneran ??” Tanya shilla memastikan dengan menatap pemuda itu dengan mata berbinar bahagia. Rio sampai terkekeh dibuatnya.

“Sebegitu cintanya ya loe sama gue ??” Goda Rio membuat Shilla memukul lengannya dengan cukup keras membuat Rio tertawa.

“Apaan sih.”

“Tapi Shill, kayaknya yang gue lihat tuh cowo beneran suka sama loe.” Ucap Rio dengan nada serius plus dengan kecemburuan yang merajalela dalam hatinya.

“Kakak cemburu ??” Goda shilla balik.

“Gak usah ditanyain. Gue frustasi banget saat ngelihat loe sama tuh cowo bareng bareng terus.”

            Shilla hanya terkekeh ringan kemudian merebahkan kepalanya pada dada bidang pemuda itu. Entah apa yang membuatnya nekad. Tapi shilla ingin sekali melakukan ini. Jika sudah bersender seperti ini rasanya sangat nyaman sekali.

            Rio juga membiarkan saja dengan apa yang dilakukan gadis cantik ini. Rindu itu sudah memenuhi hatinya, ingin sekali pemuda ini lampiaskan. Dan sekarang dia bisa melampiaskannya dengan memeluk gadis cantik ini dengan eratnya.

“Gue kangen sama loe.”

“Shilla juga kangen sama kakak. Kangen banget.” Shilla tersenyum. “Oya kak, kakak beneran gak pasangan sama Safa ke prom nanti kan ???”

“Dia senior loe. Sopan sedikit.” Ucap Rio seraya menjitak kepala gadis ini yang masih berada di pelukannya.
“Ngapain sopan sama orang yang udah gak sopan sama gue.”

“Tapi loe tetep harus hormat sama dia. Panggil ‘kak’. Ngerti cantik ??”

“Iya iya. Jawab pertanyaan Shilla dong kak.”

“Enggak. Kan kemarin gue udah jawab Shill. Lagian gue kan ketua Osis’nya. Ngapain juga bawa pasangan.”

“Ish, terus shilla sama siapa ??” Tanya Shilla dengan nada marah seraya melepaskan pelukannya dan menatap pemuda yang berada di hadapannya.

“Gak jadi pasangan sama tuh cowo ?? Sekarang berharap banget yah pasangan sama gue ??” Goda Rio lagi. Gadis itu manyun dan Rio tertawa.

“Kalau loe mau sih ayo aja.”

“Ajakkan apaan tuh. Gak romantis banget.” Sungut Shilla.

“Ya terus gimana ?? Yang penting kan sekarang udah gak ada yang gangguin lagi. Pokoknya loe harus mengakhiri sandiwara loe itu sama tuh cowo. Ngerti ??”

“Iya iya.”

“Gitu dong.”

            Rio kembali menarik tubuh gadis cantik itu ke dalam pelukannya. Memeluk gadis itu dengan eratnya. Shilla juga membalas pelukan pemuda itu dengan senyuman manisnya. Rio merasa sangat bahagia sekarang. Entah mengapa mendengar pengakuan dari Shilla tadi membuat hatinya berbunga bunga.

            Sama seperti Shilla. Dia juga sudah merasa nyaman sekarang. Karena sudah jujur kepada pemuda itu. Shilla mencintai Rio. Itu memang benar. Bahkan sangat benar. Dan shilla tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk merebut pemuda ini termasuk gadis sinis itu – Safa.

You don’t have to say a word. You don’t even have to speak.
Because, I know. That you loved me. Without you say to me.

*************

Sekali lagi sorry yah guys, buat keterlambatan post ini cerbung :))
selain karena gue lagi kelas 12, gue juga lagi sibuk ngurusin little problem -_-
maklum masih anak sekolahan, jadi maklum aja yah ^^

gimana sama ceritanya guys ??

masih ada yang tertarikah ??
masih ada yang mau baca kah ??
masih ada yang nungguin kah ???

buat loe semua yang udah membaca cerita ini, mohon responya yah ^^
tolong tunjukkin wujud kalian di blog gue .. jangan sekedar baca terus langsung CLOSE.
itu salah besar guys.

yang bener, loe ke bagian bawah dulu dan komentar disana ..
pokoknya gak komentar gak lanjut :D #maksa

gue butuh saran kalian banget nih guys, mohon pengertiannya yah semua ^^
terima kasih sudah berkunjung ke blog gue :)) 
Reaksi: