Text Select - Hello Kitty

Love in Danger - Chapter 4 (RIFY)

Kamis, 26 Juni 2014 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 03.53
salut mes amis :*
mianhae mianhae buat keterlambatan saya yang udah keterlaluan :D
makasih yaw, buat kalian semua yang udah nungguin cerita ini ;)

WARNING !!!
hanya boleh di baca oleh kalangan 17 ke atas !!!



PART 4

            Mario terus menerus menundukkan wajahnya dalam diam. Dia berusaha untuk terus menyibukkan diri dengan ponselnya – yang sebenarnya lebih menghindari tatapan mengintimidasi dari lelaki paruh baya yang ada di hadapannya sekarang – karena kejadian beberapa menit yang lalu.

            Mario terus merutuki dirinya sendiri yang melupakan dimana dia sekarang berada. Harusnya kedatangan sahabatnya – Alvin – bisa membuatnya lebih berhati – hati dalam bertindak. Karena kedatangan sahabatnya itu juga merupakan sebuah peringatan bahwa apa yang mereka lakukan di kantor adalah salah.

“Saya berada di sini sekarang sebagai orang yang kamu anggap sebagai Ayah, Mario. Bukan sebagai bawahan kamu.”

            Mario memberanikan diri untuk menatap lelaki paruh baya di hadapannya yang baru disadari oleh Mario terlihat semakin menua – hanya karena di lihat dari garis wajahnya yang terlihat semakin bertambah umur – membuat Mario sangat amat merasa bersalah.

            Mario ingat sekali dengan kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dimana dia kembali kepergok oleh seseorang sedang berbuat mesum di dalam kantor.

FLASHBACK !!!

Ceklek !!!

            Mata Mario melebar mendengar suara pintu yang dibuka oleh seseorang. Dia langsung memeluk Alyssa dengan lebih erat untuk menutupi bagian depan tubuh wanita itu yang terbuka.

“Siapa ??” Tanya Mario penuh dengan kegugupan.

            Alyssa juga sama gugupnya melihat seseorang paruh baya yang sedang berdiri disana menatap kearahnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Alyssa. Dia malu. Sungguh. Sudah dua kali dia kepergok sedang berbuat ‘mesum’ bersama dengan direkturnya ini. Entah dia harus bagaimana lagi jika harus berhadapan dengan seorang paruh baya yang masih berdiri mematung di pintu itu.

“Siapa Alyssa ??” Tanya Mario sekali lagi dengan tidak sabaran.

“Pak Adit.” Jawab Alyssa dengan lirih.

“APA.”

            Mario mengatur nafasnya agar terlihat biasa saja. Dia benar benar mengunci tubuh Alyssa agar Pak Adit – yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya – tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi dengan mereka berdua.

“15 menit Mario. Saya tunggu di ruangan saya.”

            Suara itu membuat Mario meremang. Tapi suara pintu juga membuat dia menghela nafas lega karena sudah berhasil menghindar dari rasa gugup yang berlebihan. Dia melonggarkan pelukannya saat dirasanya pintu sudah tertutup kembali menghilangkan bayangan seseorang yang membuat Mario seperti sedang dihakimi oleh banyaknya orang berbadan besar. Halusinasinya terkadang suka berlebihan membuatnya terkekeh sendiri.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang ??” Tanya Alyssa panik. Dia langsung mengambil kemeja Mario yang kebetulan berada di atas mejanya dan berada di dekatnya untuk menutupi bagian depan tubuhnya yang setengah naked.

            Mario menatap Alyssa dengan bingung. Sedetik kemudian dia menghela nafas kesal dan membuang pandangannya kearah lain.

“Ya gue harus siap disidang sama Ayah gue.”

“Ayah ??”

Mario mengangguk anggukan kepalanya. “Pak Adit itu ayah kedua gue. Gue jauh lebih sayang sama beliau daripada sama bokap kandung gue sendiri.”

            Mario menatap Alyssa yang masih memasang wajah bingung. Beberapa saat kemudian, dia langsung mengambil paksa kemejanya yang dipegang oleh wanita di hadapannya dengan sangat erat.

“Mario. Lepasin tangan loe.” Teriak Alyssa berusaha menahan kemeja pria itu yang ia gunakan untuk menutupi tubuh depannya.

“Ini punya gue Alyssa, gak punya waktu lagi. Gue Cuma butuh waktu 15 menit.”

            Mario akhirnya menyerah saat wanita ini tetap kekeh untuk mempertahankan kemejanya di depan tubuhnya. Sedetik kemudian, pria itu menyeringai dengan senyuman menyebalkan yang pernah Alyssa lihat. Mario berjalan memutar meja dan mengambil pakaian atas wanita itu yang sempat ia lempar tadi.

“Nih.” Mario menyerahkan pakaian itu di depan Alyssa. Wanita itu dengan cepat mengambilnya dan dengan cepat pula Mario menghindarkannya membuat Alyssa berteriak kesal kepadanya.

“Jauhkan kemejanya, dan gue akan mengembalikan ini sama loe.”

“Enggak. Gue tahu apa yang ada di otak loe Pak Direktur yang sangat menyebalkan. Sekarang kembaliin pakaian gue dan balik kanan.”

“Yaudah. Berarti loe lebih memilih buat melanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi. Fix, gue jauh lebih suka sama option ini.”

“Mario.” Geram Alyssa. Ingin sekali dia menginjak injak pria di hadapannya ini kalau saja dia tidak ingat Mario adalah bos’nya. Bos gila yang pernah ditemuinya.

“Yaudah. Gue udah kasih loe option. Tinggal pilih, terus selesai deh masalahnya.”

            Alyssa masih memandang sebal kearah pria di hadapannya ini. Kemudian menghela nafas kasar. Dengan gerakan lamban dia menjauhkan kemejanya. Mario menyeringai lagi dan dengan cepat pria ini mengambil kemejanya dan menjauhkan dari jangkauan Alyssa.

“Mario, kembaliin pakaian gueee.” Teriak Alyssa super keras. Mario langsung mengecup bibirnya supaya wanita itu berhenti berteriak. Dan benar saja, Alyssa terdiam membuat Mario lebih leluasa untuk memegang kendali.

“Diem kan jauh lebih baik.” Mario mengambil baju Alyssa kemudian memakaikannya kearah wanita itu. Alyssa hanya diam seraya menuruti kemauan pria itu. Supaya masalah selesai dan dia bisa terbebas dari bos’nya ini.

            Terakhir, Mario memakaikan blazer wanita itu. Setelah selesai dia kembali mengecup bibir Alyssa dengan penuh kasih sayang. Dan dia merapikan rambut Alyssa yang berantakan karena ulahnya.

“Mau bantuin gue pakai kemejanya ??” Tawar Mario. Alyssa langsung menggelengkan kepalanya dengan penuh ketegasan.

“Berarti loe menginginkan gue lebih lama disini.” Ucap Mario santai.

“Ck, dasar pemaksa. Menyebalkan.” Sungut Alyssa dan mengambil kemeja pria itu secara paksa dan mendekatkan tubuhnya kearah Mario.

            Alyssa menelan salivanya dengan susah payah saat melihat garis tubuh pria itu yang membuatnya terpesona. Hasil abs yang sangat luar biasa. Ingin sekali Alyssa menyentuhnya, tapi akhirnya dia bisa menahan diri dan segera memakaikan kemejanya ke tubuh pria itu dengan cepat.

“Thanks dear.” Bisik Mario mesra tepat di depan mulut wanita itu. Membuat nafas hangat pria itu mengalir di seluruh tubuhnya membuat wajahnya memerah menahan malu. Dan dia hanya bisa memejamkan matanya saat Mario mengecup sudut bibirnya dengan cukup lama.

“Tunggu disini. Tunggu sampai Alvin datang dan membawakan syal buat loe. Gue gak mau pekerja kantor membicarakan loe yang enggak enggak. Mengerti Nona Alyssa.”

“Iya.” Jawab Alyssa setengah kesal. Mario tersenyum seraya mengacak acak rambut Alyssa dengan penuh cinta, kemudian pria itu melangkahkan kakinya keluar ruangan.

FLASHBACK END !!!

“Aku benar – benar minta maaf Ayah. Silahkan ayah meluapkan kekesalan Ayah sama Mario. Tapi jangan bawa – bawa Alyssa. Karena ini murni kesalahanku.”

“Apa yang kamu pikirkan sampai berbuat hal seperti itu Mario. Ini kantor. Kamu harus bisa membedakan mana perbuatan yang layak dan tidak layak kamu lakukan di dalam kantor. Kamu harus ingat, kedudukan kamu disini itu sebagai apa.”

            Mario hanya menganggukkan kepalanya tanpa berusaha menyela atau membantah. Karena itu murni kesalahannya. Dia hanya menunggu kalimat – kalimat pria di hadapannya yang sepertinya akan berlanjut lebih panjang dari kalimat yang pernah ia dengar sebelumnya.

“Apa hubunganmu dengan sekretaris baru itu ??”

“Tidak ada hubungan apa – apa.” Jawab Mario santai.

“Tidak ada ?? Bahkan kamu melakukan hal itu dengan perempuan itu Mario. Apa itu bisa disebut hanya sebagai teman biasa ?? Atau sekedar atasan dan bawahan ??”

“Sungguh Ayah. Tidak ada hubungan special diantara kami.”

“Yaa, Ayah percaya. Dan Ayah sangat yakin kalau baru kali ini kamu melakukan hal itu dengan seorang wanita. Apa kamu mencintai dia Mario ??”

“Tidak tahu Ayah. Aku belum merasakan perasaan apapun saat bersama Alyssa.”

“Tidak mungkin seseorang melakukan perbuatan seperti itu secara sadar kalau tidak mempunyai perasaan apapun Mario. Ada setitik perasaan di dalam diri kamu untuk wanita itu. Ayah sangat yakin dengan ini. Tapi kamu harus berhati – hati, jangan perasaan yang mengendalikanmu, tapi kamu yang harus mengendalikannya.”

************

            Alyssa duduk di dalam ruangan yang sudah beberapa minggu ini ia tempati dengan perasaan gelisah. Dia terus memukul dahinya dan menggumamkan kata bodoh terus menerus. Kakinya juga ia hentakkan hentakkan menyebabkan bunyi nyaring karena high heels yang ia kenakkan menyentuh lantai.

“Bodoh Alyssa. Loe bodoh.”

            Alyssa menghela nafas pasrah dan menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangannya yang berada di atas meja besar ruangannya. Dia terus merutuki tingkah bodohnya tadi dengan boss’nya itu.

“Ini semua salah loe. Pokoknya salah loe.” Teriak Alyssa. Tapi suaranya terendam oleh mejanya, jadi tidak terlalu nyaring.

“Siapa yang loe maksud Alyssa ??”

            Suara itu. Alyssa melebarkan kedua matanya. Orang bodoh mana yang tidak ingat dengan suara seseorang yang sudah mengganggunya berkali – kali. Alyssa masih sibuk menenggelamkan wajahnya. Tidak ingin merespon apapun yang akan dikatakan oleh orang ini.

“Oh. Jadi loe ingin gue berbuat ‘sesuatu’ dulu yang lebih ekstrim, baru loe akan menatap gue. Baiklah kalau memang itu yang ...”

“Marioooo.” Teriak Alyssa yang langsung memotong kalimat boss’nya ini. Alyssa mengangkat wajahnya dan menatap tajam kearah pria itu.

            Mario hanya terkekeh melihat raut wajah Alyssa. Pria ini berjalan mendekat kearah wanita itu dan langsung setengah duduk di meja besar satu satunya yang berada di ruangan Alyssa. Kemudian Mario mencondongkan tubuhnya mendekat kearah wanita itu membuat Alyssa memundurkan kursinya.

“Apa ??” Tanya Alyssa berusaha terlihat berani. Tetapi sesungguhnya, hatinya sudah ingin meloncat keluar karena bertatapan kembali dengan direkturnya ini yang mempunyai wajah melebihi kata tampan.

            Mario hanya tersenyum. Tangannya terangkat dan mengelus pipi kiri wanita itu menggunakan tangan kananya. Tangan kirinya sudah berada di lengan kanan Alyssa dan mengelusnya dari atas ke bawah dan begitu seterusnya dengan menggoda membuat Alyssa merinding sendiri.

“Mario. Gue gak mau ada orang yang memergoki kita seperti tadi. So please, stop it.”

            Mario menganggukkan kepalanya. Alyssa hampir saja bernafas lega kalau pria di hadapannya ini tidak berbuat sesuatu yang membuatnya melebarkan mata.

            Mario hanya tersenyum di sela – sela ciumannya. Dia memang sengaja berbuat seperti ini – menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu. Sedetik kemudian Mario menarik wanita itu untuk berdiri kemudian menekan pinggangnya agar menempel sempurna pada tubuhnya. Kemudian Mario memperdalam ciumannya.

            Mario terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Berusaha untuk merasakan semua rasa manis di bibir Alyssa. Lidahnya sudah bermain dengan lidah wanita itu. Dan tangan Mario sudah tidak berada di pinggang Alyssa lagi, tapi menelusuri semua bagian tubuh wanita itu.

            Mario membuka syal yang menutupi leher Alyssa dan membuangnya sejauh mungkin. Kemudian ciuman pria ini turun menuju ke lehernya. Alyssa terus mendesah menikmati perlakuan laki – laki ini. Alyssa terus saja mengangkat kepalanya karena tidak tahan dengan semua ini memudahkan Mario menjelajah lehernya lebih panas.

            Rambut laki – laki itu sudah sangat berantakan karena remasan tangan Alyssa disana. Tapi Mario tidak perduli, itu justru menambah semangatnya. Tangannya terus saja bermain di tubuh wanita itu membuat Alyssa merasa panas.

Tidak. Alyssa tidak kuat menahan semuanya.

            Alyssa terus saja mendesah sekencang mungkin dan mengerang perlahan. Tubuhnya terus menggeliat kesana kemari karena tidak kuat dengan sentuhan Mario pada tubuhnya.

“Mariooo.” Desah Alyssa sekuatnya. Tubuhnya mengejang karena pelepasannya. Alyssa langsung lemas dan langsung ditahan oleh Mario dengan cara memeluknya. Mungkin jika di tahan, wanita ini sudah ambruk ke lantai.

“Bagaimana Alyssa ??” Tanya Mario dengan senyuman evilnya. Alyssa hanya diam seraya mengatur nafasnya yang memburu dengan kedua matanya yang terpejam.

“Lagi ??” Goda Mario membuat Alyssa langsung mencubit lengannya dengan keras. Bukannya kesakitan, Mario malah tertawa lepas.

“Gue benci sama loe.” Teriak Alyssa dan melepaskan tangan Mario di tubuhnya. Dan dengan pelan, dia masuk ke dalam kamar mandi dengan menutup pintunya keras – keras. Dan Alyssa masih bisa mendengar suara tawa Mario.

            Alyssa menatap bayangan dirinya di cermin besar yang berada di kamar mandi di dalam ruangannya dengan tatapan geramnya. Lihatlah, semua pakaiannya sudah berantakan karena ulah pak Direkturnya itu. perlahan Alyssa membenarkannya kembali.

            Alyssa melihat bibirnya yang membengkak karena ulah Mario yang mencium bibirnya dengan membabi buta. Juga rambutnya yang sudah acak – acakkan. Dan yang jauh lebih parah adalah lehernya. Disana terdapat banyak kiss mark.

“Dasar Mario brengsek.”

“Alyssa buka pintunya. Ada orang di luar yang akan masuk ke dalam ruangan loe. Buruan Alyssa.”

            Alyssa membelalakan matanya setelah memastikan bahwa ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Dengan cepat, dia membuka pintu kamar mandi dan Mario langsung menerobos masuk ke dalam.

“Lama.” Ucap Rio menggerutu. “Udah sana buka pintunya, gue mau sembunyi disini dulu sampai orang itu keluar dari ruangan loe.”

“Loe masih sehat kan ?? Lihat nih keadaan gue. Loe pikir gue mau mempermalukan diri gue sendiri dengan bertemu dengan orang itu ??”

“Lalu ?? Loe mau berbuat apa emang ??” Tanya Mario santai.

“Ck, kita berdua sembunyi disini.”

“Masuk.” Teriak Alyssa tiba – tiba.

“Alyssa. Apa yang loe lakukan.” Desis Mario tajam.

“Loe diem atau semuanya akan terbongkar Mario.” Balas Alyssa tajam.

“Bu Alyssa sedang dimana ?? Ini saya Pak Rama.”

            Mario terus merutuki tingkah Alyssa yang menyebalkan. Bagaimana bisa mereka sedang berdua di kamar mandi sedangkan di luar sana ada seseorang ?? Ck, jika situasinya tidak seperti ini, pasti dia akan menjadikan Alyssa sebagai makan siangnya sampai wanita ini tidak bisa berjalan dengan benar.

“Oh Pak Rama. Maaf pak. Saya sakit perut sekarang, jadi tidak bisa bertemu bapak. Ada apa pak emangnya ??” Tanya alyssa dengan suara yang biasa.

            Karena sebal, Mario memeluk Alyssa dari belakang. Dia menyandarkan dagunya di bahu kanan Alyssa. Dan tangannya sudah bergerak gerak di tubuh Alyssa.

“Apa yang loe lakukan Mario. Lepas.” Ucap Alyssa dengan nada suara yang pelan.

“Hanya ingin memberikan laporan Bu. Ini laporannya sudah jadi, tinggal tanda tangan pak Mario saja setelah itu semuanya selesai.” Ucap Pak Rama.

            Rio terkekeh dan tangannya lebih bersemangat bermain di tubuh Alyssa. Dan dengan jailnya dia meniup niupkan di sekitar leher dan telinga wanita ini membuat Alyssa kegelian dengan menggeliatkan tubuhnya pelan.

“Mario berhenti. Gue mau jawab pernyataan pak Rama.” Ucap Alyssa pelan disertai dengan suara desahannya yang membuat Mario terangsang lagi.

“Iya pak. Taruh saja di meja saya.” Jawab Alyssa dengan suara tercekat. Kemudian kembali mendesah dengan suara pelan agar tidak terdengar dari luar.

“Baik Bu. Jangan lupa untuk minta tandatangan pak Mario.”

“Iya pak.”

“Yasudah saya permisi dulu.”

            Setelah mendengar suara pintu yang tertutup Alyssa dengan sisa kekuatan yang ia punya mencoba memberontak.

“Mario. Please. Gue capek.”

            Mario masih tidak mau berhenti, dia terus saja menggerakkan tangannya di tubuh Alyssa. Sedangkan perempuan itu hanya bisa menggeliatkan tubuhnya karena entah mengapa, tubuhnya tidak menolak kelakuan Mario kepadanya. Bahkan sekarang ia sudah amat terangsang dan ingin melakukan ‘lebih’ bersama direkturnya ini.

Mario tersenyum evil saat mendengar namanya selalu disebut perempuan ini dalam desahannya. Dia jadi tambah bersemangat ingin melakukan lebih kepada Alyssa.

“Mario. Stop. Banyak hal yang harus gue lakukan.” Ucap Alyssa dengan susah payah karena sepertinya pria ini tidak akan mau berhenti.

“Tapi ada satu syarat.” Ujar Mario membuat Alyssa dengan cepat mengangguk.

“Nanti malam loe harus bermalam di apartement gue. Dan loe ngebolehin gue buat melakukan apapun sama loe. Deal ??”

“Loe gila Mario.” Desis Alyssa yang perasaan kesalnya sudah sampai di ubun – ubun.
“Deal or not. Gue gak butuh jawaban apapun dari loe selain itu.”

“Okey okey. Deal.”

            Mario tersenyum penuh kemenangan dan langsung melepaskan pelukannya. Dia membiarkan Alyssa berjalan menjauh darinya setelah sebelumnya mendorong dadanya lumayan keras karena – mungkin – wanita itu masih kesal kepadanya.

“Lagi – lagi loe membuat pakaian gue menjadi sangat berantakan.”

“Besok gue akan siapin banyak pakaian cadangan buat loe. Jadi, kalau kita udah selesai ‘mandi keringat’ loe bisa ganti pakaian loe.”

            Perkataan santai dari seorang Mario lagi – lagi membuat Alyssa menatapnya dengan tatapan membunuhnya. Alyssa tidak memperdulikan perkataan Mario dan dengan cepat dia keluar dari kamar mandi. Alyssa menurunkan kemejanya yang entah sejak kapan di angkat keatas oleh Mario. Dan memakai blazer’nya kembali karena baru saja dilepas oleh Mario.

Mario tersenyum bahagia kemudian ikut keluar.

            Mario berjalan melewati Alyssa begitu saja. Dia berjalan kearah pintu ruangan Alyssa yang beberapa langkah lagi mungkin pria ini akan sampai disana.

“Mario tunggu.”

            Mario berhenti dan membalikkan tubuhnya dengan tenang. Kedua tangannya tenggelam di saku celananya membuatnya bertambah beribu kali lipat lebih tampan dan keren. Apalagi rambut acak – acakkannya setelah ‘aktivitas’ yang baru saja mereka lakukan.

“Apa ?? Masih kangen sama gue ??”

Alyssa melebarkan matanya. Dia hanya mencibir pelan. Kemudian menyodorkan map merah yang baru saja diantar oleh pak Rama. “Tandatangan. Setelah itu loe bisa keluar dari ruangan gue.”

            Mario mendekat dengan senyum evilnya. Tapi Alyssa hanya diam karena dia tahu pasti Mario mendekat kearahnya hanya karena tandatangan itu. Jadi, Alyssa tidak menurunkan kedua tangannya dan masih menyodorkan map itu.

Tapi Alyssa merinding saat Mario mencampakkan map itu dan membuanganya keatas mejanya. Pria itu justru makin mendekat kearahnya.

Mario menurunkan tubuhnya sehingga sekarang wajahnya sejajar dengan Alyssa.

Alyssa hanya menahan nafas karena merasakan nafas hangat pria itu menerpa wajahnya membuat wajahnya terasa panas.

“Datang sendiri ke ruangan gue. Biar kita punya waktu lebih banyak untuk berduaan. Okeh nona Alyssa.” Ucap Mario dan dengan sengaja meniupkan nafasnya kearah wanita itu membuat Alyssa memejamkan kedua matanya.

“Tap, Hmmmpppt.”

            Alyssa hanya terdiam saat tiba – tiba laki – laki itu mencium bibirnya kembali. Tidak bisa menolak. Jelas. Karena Alyssa tidak bisa untuk menutup matanya karena pemandangan di hadapannya sekarang jauh lebih mempesona.

Lihatlah. Mario memejamkan kedua matanya. Pria itu bahkan jauh lebih manis jika seperti ini. Dan Alyssa merasa jantungnya berdebar 10 kali lipat lebih cepat.

            Entah apa yang terjadi pada diri Alyssa, wanita itu justru memejamkan kedua matanya dan kedua lengannya ia lingkarkan pada leher pria itu. Alyssa membalas lumatan Mario dengan lebih bernafsu.

Mario membuka matanya dan mengernyit bingung dengan perubahan Alyssa.

Bahkan sekarang Mario berhenti untuk memimpin jalan ciuman mereka. Dia hanya terdiam. Dan semuanya Alyssa yang mengambil alih ciuman itu.

Lihatlah. Betapa nafsunya Alyssa dalam menciumnya. Batin Mario seraya tersenyum evil di dalam sela – sela ciuman mereka. Mario kembali menutup matanya.

            Tangan Alyssa tanpa sadar bergerak untuk menyentuh jas Mario, membuka dan melemparnya dengan asal entah itu kemana. Dan dia membuka kancing kancing kemeja yang sedang dikenakkan oleh Mario dengan semangat. Setelah merasa semuanya sudah selesai, Alyssa berniat untuk meloloskan kemeja itu dari tubuh Mario, tapi tangannya tertahan oleh genggaman tangan seseorang.

Mario melepaskan ciumannya dengan sengaja karena merasa nafasnya sudah akan habis. Dia langsung mengatur nafasnya yang tidak beraturan.

Sedangkan Alyssa menegang. Apa yang baru saja gue lakukan ?? Batinya dengan berteriak frustasi. Alyssa menunduk malu.

“Alyssa. Sumpah ... Gue seneng banget sama kelakuan loe tadi. Tapi gak harus membuang semua pakaian gue di dalam ruangan loe kan ??” Tanya Mario dengan senyum simpulnya yang menawan seraya masih mengatur nafasnya.

Alyssa terus saja menunduk malu. Dia menurunkan tangannya yang sebelumnya berada dalam genggaman Mario pada kemejanya yang – mungkin – akan dilepaskan oleh Alyssa saat dia tidak sadar diri tadi.

“Loe bahkan jauh lebih bernafsu daripada gue tadi.” Goda Mario membuat kedua pipi Alyssa merona merah karena malu.

“Gue pengin banget ngelakuin itu sama loe sekarang Lys, tapi sayangnya gue ada rapat beberapa menit lagi. Jadi ...” Mario mendekatkan mulutnya pada telinga Alyssa. “Kita lanjutkan permainan ini nanti malam di apartement gue.” Lanjutnya dan lagi – lagi sengaja meniupkan nafasnya disana membuat Alyssa menggeliat geli.

            Mario tertawa pelan kemudian berjalan untuk mengambil jasnya yang ternyata di buang Alyssa di belakang meja kerja wanita itu. Cukup jauh mengingat mereka berdiri beberapa langkah dari pintu ruangan Alyssa.

Mario kembali mengancingkan kembali kemejanya dan memakai kembali jasnya.

Kemudian mendekat kearah Alyssa kembali.

“Persiapkan stamina loe buat nanti malam. Karena gue akan membuat kita akan lebih banyak mengeluarkan keringat.” Bisik Mario mesra dan setelah itu kembali mencium bibir Alyssa kemudian melepaskannya dan mengacak – acak rambut wanita itu.

“Gue udah menyuruh orang untuk membawakan pakaian kerja buat loe. Sebentar lagi dia datang. Gue pergi dulu Alyssa.” Bisik Mario seraya mengusap usap bibir Alyssa yang membengkak dan amat sangat basah karena ciuman panas mereka tadi.

            Alyssa hanya mengangguk karena sudah terlanjur malu dengan apa yang baru saja ia lakukan. Kemudian Alyssa melihat Mario yang berjalan kearah pintu dan pria itu menghilang disana.

“Bodoh. Loe bodoh Alyssa. Bodoh.” Alyssa terus saja merutuki dirinya sendiri.

Tapi sejak tadi jantungnya selalu berdebar lebih kencang dan lebih cepat. Bahkan sejak tadi, dia merasa nyaman bersama pria evil itu.

Oh, ada apa dengan perasaannya ??

Alyssa buang jauh jauh perasaan loe. Ini salah. Semua ini salah.

Tapi Alyssa tidak bisa menolak karena hati yang meminta.

Apa sebenarnya yang ia rasakan ??


***********

Fix, part 4 selesai :D 
buat semuanya jangan pada demo terus yes, gue ngerasa bersalah kalau kalian demo terus pada minta lanjut -,-
Okeh, gimana ?? Udah puaskah ?? Atau belum ??
silahkan jawab di kolom komentar di bawah ini ...
DON'T BE A SILENT READERS kata MARIO :p
semakin kalian berulah, semakin lama lanjutannya :D
tahu maksudnya berulah kan ?? Hanya sekedar bacam terus pencet tombol close -_-
nyesek gak sih ? Okeh bye :*
Reaksi: