Kamis, 26 Juni 2014

Twoshot - My Love is My Life (1/2)

Hay semuanyaaa :D lama tidak berjumpa, haha.
Kalian harus tahu, kalau aku itu lagi memperjuangkan masa depan #bahasanyaaa :D
tapi nyata loh guys.
ck, gak usah curhat lah. aku cuma mau bilang kalau ini cerbung CAGNI :))
gak tahu kenapa gue lagi kepikiran sama pasangan KEDUA favorit gue setelah RIFY :D
langsung aja guys. HAPPY READING :*



Cakka Nuraga. Seorang laki - laki yang sangat tampan dan juga berbakat yang mempunyai kelebihan hampir mendekati sempurna. Laki - laki itu sedang memainkan bola basketnya di dalam sebuah lapangan indoor yang berada di sekolahnya. Siapapun yang melihatnya, pasti tidak akan bisa mengalihkan tatapan mereka dari laki - laki ini. Cakka, tidak bisa dilewatklan begitu saja.

Tapi sayangnya, tidak banyak orang yang menontonya. Dia hanya berdua. Bersama dengan seorang perempuan yang sedang duduk di bangku penonton dengan raut wajah penuh kebosanan dan kelelahan. Seharusnya, bukan seperti itu, raut wajah seseorang jika sudah melihat seorang Cakka bermain basket. Tapi sepertinya itu sebuah pengecualian untuk seorang perempuan yang satu ini.

Agni Tanasya Rani.

          Nama itu yang membuat seorang Cakka lebih bersemangat bermain basket pada siang hari ini. Sesekali laki - laki itu melirik ke bangku penonton dimana perempuan itu benar – benar tidak berniat untuk menontonya. Hanya diam seraya memainkan ponselnya dengan wajah bosan.

Cakka berhenti dan menoleh kearah perempuan yang berada dalam satu ruangan bersamanya dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari bibir seksinya.

Laki - laki itu tersenyum, menambah nilai plus dari siapapun yang akan melihatnya. Dan sekali lagi, tidak ada yang melihatnya tersenyum begitu manis seperti ini, termasuk gadis yang masih memainkan benda hebat itu dalam genggaman tangan mungilnya dengan malas.

“Apa sebegitu membosankan, menontonku dalam bermain basket, Agni ??”

          Perempuan itu mencibir pelan. Jarak yang cukup jauh membuat Cakka tidak bisa mendengar baik apa yang diucapkan oleh perempuan itu. Dia mendekat dan duduk tepat di sebelah Agni dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku penonton seraya mengatur nafasnya.

          Agni menoleh. Seharusnya dia terpesona melihat wajah laki – laki itu yang bahkan jika selesai bermain basket, tingkat ketampananya tidak berkurang sama sekali, justru berkali kali lipat lebih dan lebih dari biasanya. Tapi Agni hanya diam seraya menatap malas laki – laki itu.

          Wajahnya putih, dengan mata indahnya yang membuat siapapun terhipnotis tidak bisa mengalihkan pandangannya dari laki – laki ini. Alisnya tebal, hidungnya mancung, dan bibirnya tipis dengan warna merah membuatnya semakin seksi. Dengan rambut acak – acakkan dengan butiran keringat yang selalu saja meluncur dari wajahnya membuatnya semakin seksi. Ini Cakka Nuraga. Idola semua wanita hampir di seluruh dunia.

Tapi Agni tidak menunjukkan wajah terpesonanya sama sekali.

Aneh. Tapi membuat Cakka justru hanya menatap dengan pandangan lain kearahnya. Pandangan yang memiliki arti tersendiri yanga hanya seorang Cakka yang tahu.

“Ada apa dengan wajahku ?? Apa aku terlihat tampan ??” Tanya Cakka dengan nada menggoda membuat perempuan itu lagi – lagi mencibir.
“Tampan ?? Hanya orang bodoh yang menyebut dirimu tampan.”

Cakka terkekeh pelan. Dia kembali melanjutkan untuk menggoda perempuan itu. “Kau salah. Yang benar itu, hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat ketampananku.”

“Jadi kau menuduhku bodoh.” Ucap Agni dengan pandangan menusuk kearah laki – laki itu. Tatapan tajamnya justru membuat perempuan ini semakin manis.

“Aku tidak bilang begitu.”

“Apa ini balasan untuk orang yang sudah bersedia menemanimu dalam bermain basket selama berjam jam tanpa melakukan apapun. Kau pikir aku tidak bosan.”

          Laki – laki itu tersenyum. Dia sangat suka jika perempuan ini sudah mengeluh dengan nada marah dan ekspresi yang justru membuat gemas seorang Cakka. Dia mengacak acak rambut perempuan itu dengan penuh rasa sayang.

“Aku juga tidak pernah bosan mengikuti kemauanmu kemanapun. Pergi ke salon, ke mall, bahkan menonton bioskop yang didalamnya hanya terdapat sepasang kekasih yang terus menerus membuat keadaan menjadi sangat memiriskan. Hanya bertengkar tidak jelas dan ujung ujungnya membuat sang perempuan menangis histeris karena kata putus yang terlontar dari bibir laki – lakinya. Itu jauh lebih buruk daripada menonton aksi bermain basketku.
“Itu menurutmu. Tidak menurutku.”

          Agni menatap ke depan dengan kedua tangannya yang menyangga tubuhnya di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Dia tahu, jika sedari tadi, seseorang yang berada di sampingnya terus menerus menatap kearahnya. Entah dengan ekspresi seperti apa.

          Cakka menaikkan alisnya dengan senyum yang tidak pernah pudar dari bibir tipis dan seksinya itu. Dia menatap perempuan di hadapannya sekarang karena posisi dia yang tepat menghadap ke perempuan itu.

          Dilihat dari samping seperti ini, perempuan itu masih terlihat cantik. Dengan rambut panjangnya yang sekarang sedang diikat ekor kuda. Menyisahklan beberapa helai rambutnya di sisi kanan dan kiri wajah gadis itu. Matanya sangat cantik, alisnya berbentuk dan dahinya tertutup oleh rambut kecil yang disebut poni. Hidungnya mancung, bibirnya tipis dan bersinar karena lips yang ia gunakan. Dan Cakka sangat menyukai apa yang perempuan itu miliki.

Siapa yang tahu jika Cakka menyukai perempuan ini.

Perempuan yang sudah menjadi sahabatnya sejak mereka berada di bangku sekolah dasar. Dan perasaan Cakka yang entah muncul sejak kapan.

Ya, Cakka menyukai sahabatnya sendiri. Tanpa ada satu orangpun yang tahu tentang perasaan laki – laki itu terhadap Agni. Termasuk perempuan itu sendiri.

“Sudah hampir malam. Ayo pulang.” Ajak Cakka seraya menyodorkan tangan kananya di hadapan perempuan itu.

          Agni menatap tangan itu. Tangan yang sudah berkali kali membantunya jika dia sedang ‘terjatuh’ ataupun sedang ada masalah apapun. Tangan yang selalu menopanganya saat tubuhnya tidak kuat menahan segalanya. Tangan yang selalu menghapus air matanya dan tangan yang selalu memeluknya.

Tanpa membutuhkan waktu lama. Agni meraih tangan itu dan menggenggamnya erat.

“Aku masih butuh hadiah atas jasaku hari ini. Dan aku akan menagihnya. Karena aku tahu, kau tidak mungkin memberikannya sekarang.” Ucap Agni setelah berdiri berhadapan dengan laki – laki itu.

“Kau tahu ?? Memang apa alasanya ??”

“Aku sudah bertahun tahun menjadi sahabatmu. Kau baru saja bermain basket tanpa istirahat selama berjam jam. Bagaimana mungkin aku merengek kepadamu disaat tubuhmu itu begitu kelelahan.”

“Kau memang sahabatku yang pengertian. Aku mencintamu.” Ujar Cakka dengan nada penuh keseriusan. Tidak ada nada bercanda dalam kalimatnya tadi.

“Aku juga.” Balas Agni seraya tertawa.

Cakka hanya tersenyum perih. Perkataannya kembali dijadikan lelucon oleh Agni.

Dan selamanya, perempuan itu akan menganggap kata – kata cintanya sebuah lelucon. Cakka hanya tersenyum perih dengan nasib percintaannya yang tidak pernah berujung menuju sebuah kebahagiaan. Entah kapan ini semua akan berakhir. Tapi laki – laki ini akan terus menunggunya hingga kebahagiaan itu dapat ia raih dengan kemampuannya sendiri.

**********

          Cakka sekarang sedang berada di rumah Agni. Lebih tepatnya berada di dalam kamar perempuan itu. Hanya berbaring seraya melihat apa yang dilakukan sahabat yang dicintainya itu dalam diam. Tanpa berkomentar sedikitpun.

          Laki – laki ini sangat tahu apa yang dilakukan oleh Agni. Perempuan itu sedang memilih pakaian untuk dipakaiannya pada acara dinner hari ini. Jika bersama Cakka, pasti laki – laki itu sudah tersenyum bahagia melihat jika perempuan itu berdandan untuknya. Tapi nyatanya tidak, perempuan itu berdandan untuk laki – laki lain.

“Bagaimana dengan yang ini ??”

          Cakka menatap sebuah long dress yang baru saja ditunjukkan oleh perempuan itu kepadanya. Tidak buruk. Sungguh. Tapi jika perempuan itu memakainya hanya untuk ditunjukkan khusus untuknya. Tapi, lain dengan kali ini.

“Sangat buruk. Kau tidak pantas memakai gaun panjang seperti itu.” Ungkapnya dengan tidak berperasaan. Agni hanya memasang wajah tidak sukanya.

“Sedari tadi, kau selalu berkomentar seperti itu. Kau sengaja ?? Atau kau memang tidak suka aku tampil cantik seperti perempuan pada umumnya ??”

Aku tidak suka karena kau akan tampil cantik untuk laki – laki lain. Kau tahu. Batin laki – laki itu berteriak. Tapi hanya disimpan di dalam hatinya, Cakka belum mempunyai keberanian untuk mengatakannya.

“Daripada kau mengurusi kehidupanku, sebaiknya kau mengurusi hidupmu sendiri. Sampai sekarang, kau selalu saja menolak semua perempuan yang menyatakan cinta padamu dengan tulus. Kau ini sebenarnya bodoh atau apa ?? Semua laki – laki bahkan ingin sekali berada di posisimu. Bisa dekat dengan perempuan – perempuan cantik seperti itu. Tapi kau justru menolak semua sikap baik mereka.”

          Cakka berpura pura memainkan gadget milik perempuan itu. Tapi dia bisa mendengarkan apa yang perempuan itu ucapkan. Seharusnya Agni tahu, jika dia menolak semua perempuan – perempuan yang memang selalu menunjukkan rasa suka pada dirinya karena perempuan ini. Karena Cakka mencintai Agni.

          Tapi sepertinya perempuan itu mempunyai perasaan tidak peka. Bahkan sekarang dia tidak segan – segan menunjukkan bahwa dia terlihat sangat gembira akan berkencan dengan laki – laki lain – yang berstatus sebagai kekasihnya sendiri –di depan matanya.

          Kekasih ?? Mengingat hal itu membuat Cakka merasakan kesakitan yang luar biasa hebatnya di bagian dadanya. Agni sudah memiliki kekasih. Kenyataan itu membuat Cakka frustasi akhir – akhir ini.

“Kau tidak mendengarkanku.” Teriak Agni dengan kesal. Perempuan ini paling tidak suka jika ada seseorang yang tidak mendengarkan perkataannya.
“Aku mendengarkanmu Agni.” Jawab Cakka dengan malas.

“Lalu ?? Mengapa sampai saat ini kau tidak memiliki kekasih ?? Kau bisa memiliki kekasih dengan mudah mengingat banyaknya perempuan yang sudah menyatakan cintanya padamu.” Ungkapnya tanpa menoleh kearah Cakka.

“Aku belum menemukan yang tepat.”

“Seperti apa perempuan yang kau mau ?? Semua perempuan yang mendekatimu hampir mencapai nilai sempurna. Kau memang bodoh jika sudah menyangkut hati.”

          Cakka membalas dengan cibiran pelannya. Agni pasti tidak akan mendengarnya karena perempuan itu sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaiannya dengan long dress yang baru saja ditunjukkan kearahnya.

          Laki – laki itu mengusap wajahnya kasar. Dia kembali berbaring telentang di atas tempat tidur perempuan itu. Tempat tidur yang sudah berkali kali ia tempati dari saat ia masih kecil bahkan sampai sekarang.

          Orang tua Agni selalu percaya kepadanya bahwa Cakka tidak akan berbuat macam – macam terhadap putri tunggal mereka. Karena Cakka memang selalu keluar masuk rumah Agni tanpa merasa tidak enak hati. Bahkan orang tua Agni menyayangi Cakka seperti anak sendiri. Begitupun dengan keluarganya yang menganggap Agni seperti bagian dari keluarga mereka.

          Cakka ingat sekali saat Agni datang kerumahnya saat dia sedang bermain basket di belakang rumahnya sendiri. Perempuan itu datang dengan wajah ceria dan senyum lebarnya membuat Cakka yakin jika ada sesuatu yang baru saja terjadi.

          Cakka ikut tersenyum waktu itu, senyuman perempuan itu menular begitu cepat kearahnya. Saat itu laki – laki ini sangat yakin, jika apa yang akan disampaikan oleh Agni adalah berita bahagia yang jika ia mendengarnya, dia juga akan bahagia. Tapi kalimat perempuan itu benar – benar membuatnya terdiam menegang.

“Kau tahu, hari ini Rava menyatakan cintanya padaku. Kau ingat dengan laki – laki yang pernah bertanding denganmu saat perlombaan basket antar sekolah itu kan ?? Rava Alviano. Dan laki – laki ini ternyata mencintaiku Kka. Dan cintaku terbalas. Aku juga mencintai dia saat baru pertama kali bertemu.”

          Saat itu dunia Cakka merasa hitam dan tidak berwarna. Dia merasa baru saja dijatuhkan ke dalam jurang panas yang sangat dalam. Membuat organ tubuhnya mengalami ketegangan yang sangat luar biasa. Dia menangis di dalam hatinya. Tapi dia berusaha menunjukkan wajah cerianya kepada sahabat perempuannya yang paling ia sayangi dan juga paling ia cintai.

Dan dengan sikap tenangnya, dia berusaha menjawab.

“Aku turut bahagia mendengar ceritamu. Sekarang sudah ada laki – laki yang akan menjagamu jika aku tidak berada disisimu. Itu membuatku lega sekaligus bahagia.”

Dan Cakka mengeluarkan senyum palsunya. Dia berpura pura bahagia melihat sahabatnya yang sedang bahagia. Apakah dia bahagia melihat perempuan yang sangat dicintainya bahagia bersama laki – laki lain ?? Jelas saja jawabannya tidak. Tapi dia berusaha menguatkan hatinya agar senyuman sahabatnya itu tidak pernah pudar. Setidaknya untuk hari itu sampai sekarang.

“Kau melamun lagi.”

          Suara itu membuat laki – laki ini kembali ke alam sadarnya. Dia menggeleng gelengkan kepalanya berusaha melupakan moment paling menyakitkan yang sempat muncul dalam ingatanya. Cakka berusaha fokus terhadap sahabatnya. Dan Cakka membelalakan matanya begitu melihat penampilan perempuan itu.

          Rambut sebatas dada Agni tergerai dengan begitu indah, ditambah dengan long dress berwarna putih yang dikenakannya plus high heels yang menyelimuti kedua kaki indahnya yang warnanya senada dengan dress yang ia kenakan. Sungguh, penampilan Agni sangat amat cantik hari ini. Dia seperti seorang bidadari.

Sampai Cakka lupa mengerjapkan matanya saat itu.

“Berhenti melihatku seperti itu Cakka. Kau seperti orang yang akan memburu mangsanya saat melihatku. Bagaimana dengan penampilanku ??” Tanya Agni seraya memutar tubuhnya dengan begitu mempesona. Bahkan laki – laki sampai lupa bagaimana caranya berkedip.

“Cakka.”

          Laki – laki ini kembali menggeleng gelengkan kepalanya. Dia kembali masuk ke dalam dunia khayalannya lagi. Ini sudah keberapa kalinya laki – laki ini melamunkan orang yang sama hari ini.

“Kau sangat cantik Agni.”

“Tentu saja aku harus tampil cantik. Malam ini Rava mengajakku dinner serta berkencan. Jadi aku harus memberikan penampilan terbaik malam ini.”

          Seperti ada bom yang meledak di dalam diri laki – laki ini membuat Cakka tersadar bahwa sahabat perempuannya ini akan berkencan dengan Rava. Musuh abadinya dalam dunia basket. Entah mengapa, kenyataan itu membuatnya nyaris berteriak karena tidak tahan dengan rasa sakit di hatinya.
Sampai kapan aku harus mengalami kejadian seperti ini ?? Batinya berteriak.

“Aku pergi dulu Cakka. Doakan semoga kencanku hari ini berjalan lancar. Okey.” Agni menghampiri Cakka yang masih terduduk terdiam di atas kasurnya. Dia memeluk Cakka dan mencium pipi sahabatnya itu. Kemudian berlalu pergi.

Agni pergi meninggalkannya – lagi. Dan hanya untuk mengejar laki – laki lain yang bahkan baru dikenalnya beberapa minggu ini.

          Cakka menekan dadanya yang terasa amat sangat mmenyakitkan. Dia bangkit dan berjalan pelan kearah jendela kamar Agni kemudian melihat kearah bawah. Dia menemukan Agni dan Rava yang sedang berpelukan di bawah sana. Dengan senyuman manis dan juga tatapan penuh cinta.

Cakka menundukkan wajahnya dalam dalam. Laki – laki ini mengepalkan kedua tangan dengan seerat mungkin karena tidak bisa mencegah semuanya.

“Mengapa hanya aku yang merasakan perasaan ini Tuhan. Mengapa Engkau tidak membiarkan perempuan itu mempunyai perasaan yang sama denganku ??”

************

          Cakka berjalan di koridor sekolahnya dengan wajah dingin seperti biasa. Tangan kananya memegang lengan tas punggungnya yang hanya tersampirkan asal di bahu kananya. Laki – laki itu sendiri sekarang. Karena tadi pagi perasaan yang sangat menyakitkan kembali hadir dalam organ tubuhnya yang paling intim.

“Cakka, aku tidak bisa berangkat bersamamu hari ini. Rava mengajakku berangkat bersama. Kau tenang saja, dia pasti mengantarku dengan selamat sampai sekolah. Kau hati – hati di jalan yah. Aku mencintaimu sahabatku.”

          Beberapa kalimat itu lagi – lagi menampar Cakka dengan cukup keras. Agni menghubunginya hanya untuk menyampaikan beberapa kalimat menyakitkan itu. Tanpa memberikan waktu untuk dirinya menjawab ucapannya.

Apakah sebahagia itu perasaan Agni saat berada di dekat Rava ?? Apakah Agni lebih bisa tertawa lepas hanya jika bersama Rava ??

          Pertanyaan – pertanyaan itu lagi – lagi membuat laki – laki ini menekan dada dengan gerakan cukup kuat. Berusaha meredam perasaan menyakitkan yang langsung menyentuh organ vitalnya.

“Kak Cakka.”

          Cakka memejamkan matanya dengan erat. Berusaha menahan emosi saat dia mendengar namanya disebut oleh seorang gadis – jika didengar dari suaranya yang lembut. Rahangnya mengeras dan laki – laki ini memutuskan untuk berbalik.

“Ada apa ??” Tanyanya hampir membentak. Membuat perempuan di hadapannya mundur beberapa langkah karena ketakutan. Perempuan itu hanya menundukkan wajahnya, terlalu takut jika menatap wajah Cakka yang sangat menakutkan saat ini.

“Itu kak, Mmm, Itu ...”

Cakka menunjukkan wajah tidak sukanya melihat perempuan ini. “Kau pasti sengaja mencari perhatianku. Jangan menggangguku, jika kau masih ingin selamat saat ini.”

          Suara itu benar – benar membuat seluruh tubuh perempuan ini menggigil karena ketakutan. Dia meremas tangannya sendiri dan menggigit gigit bibir bawah dan atasnya secara bergantian karena terlalu takut dengan Cakka.

“Tidak kak. Aku tidak bermaksud mengganggumu. Hanya ingin menyampaikan sesuatu dari Pembina basket.”

“Apa ??” Tanya Cakka dengan tidak sabaran. Perempuan ini terlalu bertele – tele membuatnya geram sendiri. Kalau saja, di hadapannya bukan seorang perempuan pasti sudah habis di tangan Cakka sekarang.

“Kak Cakka harus menemuinya sekarang. Ada yang ingin beliau sampaikan kepada kak Cakka. Hanya itu yang ingin kusampaikan. Aku pergi.” Ujar perempuan itu seraya membalikkan tubuhnya bersiap pergi.

Tapi Cakka menahannya dengan mencengkram erat lengan perempuan itu yang pastinya akan menyakitinya.

“Ada apa kak ??” Tanyanya dengan takut.

          Cakka mengamati wajah perempuan itu. Manis dan terlihat lugu dan polos. Kulitnya putih bersih dan wajahnya cantik tanpa ada cacat sedikitpun dengan hidung mancung dan bibir tipisnya yang membuatnya semakin cantik. Wajahnya tanpa polesan make up dan kaca mata besarnya menutupi mata coklat perempuan itu.

Cantiknya alami. Tanpa harus menggunakan benda benda untuk berhias.

“Kau harus ikut denganku. Jika apa yang kau ucapkan adalah sebuah kebohongan. Aku tidak akan segan – segan untuk menghabisimu sekarang.”

          Perempuan itu menegang. Cakka bisa merasakan itu. Tapi dia tidak perduli. Karena suasana hatinya sedang sangat buruk sekarang. Dan dia butuh pelampiasan. Dia hanya ingin bermain – main sebentar. Karena sudah banyak yang menggunakan cara ini untuk menarik perhatiannya.

“Namamu siapa ?? Dan berada di kelas mana ??”

Perempuan itu masih belum menatap Cakka. Terlalu takut.

“Shany Valleria kak. Aku duduk di kelas X IA 1.” Jawabnya dengan takut – takut.

          Cakka mengangguk anggukkan kepalanya. Dia baru menyadari jika sedari tadi perempuan ini memanggilnya dengan embel – embel ‘kak’ di depan namanya. Ternyata dia berada dua tahun di bawah Cakka karena laki – laki ini duduk di kelas XII IA 4.

          Cakka berjalan dengan memegang lengan perempuan itu, ah bukan memegang tapi mencengkram lebih tepatnya. Dan menimbulkan pertanyaan besar bagi seluruh warga SHS – Star High School. Pangerannya yang paling tampan sedang berjalan berdampingan dengan seorang perempuan selain sahabatnya – Agni.

Penggosip akan mulai bekerja hari ini. Dan Cakka lah yang menjadi tokoh utamanya.

“Kau tunggu disini. Kau tidak bisa melarikan diri karena aku sudah tahu siapa dirimu. Mengerti Shany.” Ucap Cakka penuh penekanan membuat perempuan itu mengangguk dengan kuat berusaha untuk meyakinkan Cakka.

Cakka menepuk kepala perempuan itu dengan pelan. “Bagus.”

          Perempuan itu menghela nafas lega karena diberi kesempatan untuk bernafas dengan teratur kembali sekarang. Walau untuk sementara, tapi itu merupakan sebuah anugerah yang harus disyukuri perempuan ini.

Perempuan ini berharap jika kakak seniornya itu akan lebih lama di dalam sana. Kalau bisa sampai bel berbunyi. Jadi dia mempunyai alasan untuk melarikan diri.

“Kau ada hubungan apa dengan Cakka.”

          Pertanyaan itu membuat Shany menoleh dengan cepat. Dan dia kembali menegang melihat Agni – yang ia tahu merupakan sahabat baik kakak seniornya yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya – berdiri tidak jauh darinya.

“Kak Agni. Aku ... aku hanya .. hanya ..”

          Agni menatap heran perempuan di hadapannya yang sekarang sedang gemetar melihat kedatangannya. Keringat dingin mulai muncul dari dahinya dan juga tangannya yang sedang ia remas di depan tubuhnya. Apa sebegitu berbahayakah dirinya sampai reaksi perempuan ini sebegitu berlebihan ??

“Aku hanya ingin mendengar jawabanmu secara jelas.” Ucap Agni tegas.

“Aku tidak ada hubungan apa – apa dengan kak Cakka. Aku berani bersumpah.”

“Lalu mengapa Cakka bisa menggenggam tangamu dan berjalan berdampingan dengamu ?? Kau sedang tidak mencoba untuk membohongiku kan ??”

“Tidak kak, tidak. Aku tidak membohongiku. Aku berkata yang sebenarnya.”

          Entah mengapa ada perasaan kesal saat tadi dia melihat adegan dimana Cakka menggenggam perempuan ini di hadapan semua orang. Karena biasanya tangannya lah yang laki – laki itu genggam. Seharusnya dia senang melihat Cakka bisa berjalan dengan seorang perempuan. Bukankah ini yang ia mau ??

          Tapi hatinya menolak saat melihat adegan tadi. Dia tidak suka. Dia tidak rela Cakka menggenggam tangan perempuan lain. Dan dia tidak tahu karena alasan apa dia tidak menyukai adegan itu.

“Agni ??”

          Agni tersadar dari lamunanya saat namanya disebutkan oleh seseorang yang sangat ia kenal selama bertahun tahun. Agni tersenyum begitu manis melihat laki – laki itu. Tapi Cakka hanya tersenyum sekilas dan kembali menatap perempuan lain selain Agni yang berada disana. Membuat Agni merasakan sakit luar biasa.

“Kita harus berbicara.” Ucap Cakka dengan tegas kearah Shany. Shany hanya diam karena tidak tahu harus berbuat apa melihat tatapan menyeramkan milik Cakka.

“Kka, kau sudah sarapan ?? Kebetulan aku tadi membuat ...”

“Agni. Maafkan aku. Tapi aku benar – benar harus pergi dengan perempuan ini. Aku sudah sarapan pagi tadi. Aku pergi.” Ucap Cakka memotong ucapan Agni tadi dengan sangat terburu buru kemudian menarik tangan perempuan lain dan pergi meninggalkan Agni.

Cakka pergi meninggalkan Agni sendiri. Dan itu baru terjadi sekarang. Baru kali ini selama bertahun tahun mereka hidup bersama – sama sebagai seorang sahabat.

Dan Agni hancur mengetahui kenyataan jika Cakka memilih menarik tangan perempuan berkacamata tebal itu daripada menarik tangannya.

          Agni kembali merasakan sakit yang luar biasa di bagian dadanya. Entah itu karena dia tidak rela ada perempuan lain yang berada di sisi Cakka atau tidak rela bahwa Cakka lebih memilih menggenggam tangan perempuan itu dari pada tangannya.

          Perempuan ini benar – benar tidak tahu mengapa perasaan seperti ini menyerang hatinya. Dia tidak suka ada perempuan lain yang berada di samping Cakka – sahabatnya. Dia sudah tidak ingin melihat Cakka bersama seorang perempuan seperti permintaannya yang selalu menyuruh laki – laki itu memiliki kekasih.

Dia mencabut ucapannya yang selalu menyuruh laki – laki itu untuk memiliki seseorang yang selalu berada di sisinya. Dia tidak suka.

Bolehkah ia egois sekarang ?? Dia hanya ingin Cakka berada di sisinya. Hanya dia seorang yang selalu ada bersama Cakka. Dia tidak ingin Cakka bersama seorang perempuan selain dirinya. Bisakah ia egois sekarang ??

Agni menangis tanpa sadar. Dan baru kali ini ia menangis karena Cakka. Sahabatnya yang selalu ada untuknya. Selalu ada di saat dia sedang ‘terjatuh’. Selalu ada di saat dia membutuhkan pertolongan untuk kembali ‘bangkit’ dari keterpurukan.

Agni membutuhkan Cakka sekarang. Tidak hanya sekarang, tapi untuk besok, lusa, minggu depan, bulan depan, tahun depan bahkan untuk selamanya.

***********

gak butuh apa - apa. hanya ingin bilang.
DON'T BE A SILENT READERS :))
hanya meminta kalian untuk meninggalkan jejak ;)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar yang positive tentang postingan yang saya buat :)
terima kasih sudah berkunjung ke blog saya teman :*