Text Select - Hello Kitty

Benci Jadi Cinta - Part 14 ( YOSHILL )

Minggu, 12 Oktober 2014 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 10.32
Happy reading guys :))



PART 14


            Shilla sekarang sedang berdiri di depan rumah minimalis milik Rio yang sangat mewah dan megah. Sudah sejak tadi, dia menunggu si pemilik rumah tapi tidak ada satupun yang membukanya. Gadis ini mendengus kasar. Dia paling tidak suka menunggu. Dan itu juga merupakan satu – satunya sesuatu yang ia benci.

            Gadis itu perlahan mengambil handphone’nya dan berusaha untuk menghubungi pemilik rumah. Pikiran pertama langsung tertuju pada tuan muda Haling. Dan dia mendengus kasar seraya menatap handphone’nya marah.

“Ck, kemana sih nih orang. Nyebelin banget. Awas aja loe kalau ketemu. Gue ceburin ke laut sekalian.” Gumam Shilla kesal. Dia terus mengumpat umpat Rio seraya kembali menelepon seseorang.

“Hallo.”

            Gadis ini tersenyum begitu suara di seberang sana terdengar. Seenggaknya semua orang gak bikin dia BT di pagi hari yang sangat cerah ini kan ??

“Ray. Thanks banget loe udah ngangkat telepon gue.”

“Ini kak Shilla ??”

“Iya ini gue. Sekarang gue lagi di depan rumah loe Ray. Pada kemana sih. Kok sepi banget nih rumah. Sama sekali gak ada yang bukain pintu.” Cerocos Shilla karena sebal sedari tadi hanya berdiri di depan pintu.

“Santai kak ngomongnya. Gue lagi sama orang tua gue di rumah nenek sama kakek gue. Mumpung libur jadi gue liburan deh disini.”

“Kakak loe ??” Tanya Shilla heran.

“Oh kak Rio. Dia lagi disibukkin sama acara puncaknya OSIS katanya. Dan yang gue tahu, selama gue sama orang tua gue disini, kak Rio nginep di rumah kak Alvin.”

“Pembantu loe ?? Sopir ?? Penjaga rumah ??” Tanya Shilla beruntun.

“Mereka di liburin. Yah, masa gue liburan mereka gak liburan kak. Mereka kan juga punya keluarga yang mesti di urusin.”

“Ck, sok dramatis banget sih loe.” Ucap Shilla kesal.

“Bukannya loe yang sok dramatis kak. Loe nyari kak Rio sampe nunggu di depan rumah bermenit menit dan telepon gue sama yang lainnya kayak gak punya kerjaan.”

“Ck, sok tahu. Ya udah, gue tutup teleponya. Thanks buat infonya.”

“Sama sama kakak ipar. Haha. Bye.”

“RAY.” Teriak Shilla gemas. Tapi sayangnya telepon udah di tutup. Jadi Shilla hanya bisa mengumpat handphone’nya.

            Shilla kembali melirik ke kanan dan kiri, siapa tahu aja tuan muda Haling itu yang sudah membuatnya menunggu berada disana. Tapi ternyata nihil. Shilla berbalik dan memutuskan untuk menyusul ke rumah Alvin.

            Entah mengapa, semenjak kejadian lamaran Rio yang entah serius atau tidak, dia tidak pernah bertemu dengannya lagi. Dan pemuda itu juga tidak pernah menghubunginya lagi. Membuat Shilla bingung. Pasalnya, teleponya juga sama sekali tidak ada yang tidak di acuhkan oleh pemuda itu. Semuanya diacuhkan.

            Shilla tahu, kemarin dia salah karena sudah membuat pemuda itu berpikiran yang tidak – tidak tentangnya. Dan bisa saja pemuda itu berpikir bahwa dirinya menolak lamaran pemuda itu karena pertanyaannya yang memusingkan.

            Sudah dua hari Shilla merasa bersalah dan juga rindu. Bukan dia menolak. Dia juga mencintai pemuda itu dari dasar hatinya yang paling dalam. Tapi Shilla hanya butuh waktu untuk menjawab pertanyaan pemuda itu. Tapi sepertinya pemuda itu salah menerima sikapnya. Membuat Shilla amat sangat merasa bersalah.

            Dan hari ini, dia memutuskan untuk bertemu dengan Rio. Dan dia harus bertemu dengan pemuda itu untuk menjelaskan semuanya. Supaya tidak ada kesalahpahaman diantara mereka kembali. Shilla tidak bisa jauh dari pemuda itu. Karena dia menyayangi Rio, bahkan mencintai pemuda tampan itu.

************

            Rio duduk diam di sebuah bangku yang ada di lapangan outdoor sekolahnya dengan tatapan kosong yang mengarah ke depan. Lengan kaos birunya yang terlipat membuat pemuda ini tampak semakin keren. Wajahnya penuh keringat dan tangannya sibuk meremas remas kaleng minumanya dengan emosi.

            Ingatanya kembali ke kejadian beberapa hari yang lalu. Dia benar – benar tidak menyangka, aksi lamarannya – yang sudah susah payah dia tunjukkan ke gadis itu – hanya di anggap lelucon oleh Shilla. Bahkan setelah gadis itu menolaknya, dia masih bisa berpelukan dengan pemuda lain yang sudah jelas menyukainya.

            Rio menghembuskan nafasnya kasar kemudian melempar kaleng minumanya ke tempat sampah yang tidak jauh darinya dengan gamang. Kemudian merebahkan tubuhnya di bangku itu. kedua tangannya menyangga kepalanya, dan lagi lagi tatapannya hanya menatap lurus tanpa ekspresi.
“Emang yah, kalo orang lagi patah hati tuh bisa bikin akal gila.”

            Rio tidak perduli dengan perkataan sahabatnya – Cakka. Dia hanya ingin menenangkan diri untuk mengusir keresahan hatinya. Tidak ada satu orang pun yang bisa mengerti perasaannya sekarang.

“Yo, loe jangan kaya gini terus dong, loe pikir kalo loe diem kaya gini, Shilla bakalan ada di depan loe apa.”

“Gue lagi gak mikirin dia.” Sangkalnya penuh emosi.

“Gak mikirin ?? Bocah TK aja tau loe lagi mikirin cewe itu. Di jidat loe ada nama Shilla tertulis gede tuh.” Ucap Cakka seraya duduk di sebelah kiri Rio yang masih tiduran tanpa pergerakan apapun.

“Loe gak tau perasaan gue.”

“Dari awal gue tau bro, loe terlalu memaksakan kehendak loe mungkin. Kalo Shilla jodoh loe, dia akan kembali. Kalo bukan yaudah, Shilla bukan takdir loe.”

            Rio bangun dari tidurannya kemudian menatap Cakka tajam. Dia sedang tidak ingin ribut dengan sahabatnya karena masalah yang sama setiap harinya, tapi sepertinya siapapun sedang minat sekali menganggunya disaat dia ingin sendiri.

“Itu semua bukan urusan loe.” Ucap Rio. Dan tanpa berperasaan, dia langsung pergi tanpa pamit kepada sahabatnya itu.

            Cakka hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya. Dia tersenyum menyadari bahwa takdirnya sudah menjadi miliknya. Tidak seperti Rio yang suka berputar seperti dipermainkan.

            Tapi setelah ini dia harus melakukan sesuatu untuk menolong sahabatnya. Dia tidak mungkin membiarkan Rio terus menerus seperti ini hanya karena seorang gadis. Padahal dulu, sahabatnya itu tidak suka membahas masalah ini.

            Cakka menatap ponselnya yang mengalunkan lagu favoritnya – favorite girl milik justin bieber dengan mengangkat alisnya tinggi. Nama Alvin muncul di layar membuatnya bingung.

“Halo bro.”

“ ....”

“Barusan dia pergi. Tapi gue gak tau kemana. Bro, loe suruh Shilla tunggu di situ bentar. Habis ini gue ke rumah loe, ada yang mau gue omongin sama tuh cewe.”

“....”

“Ok, gue cabut sekarang.” Cakka memutuskan panggilanya begitu saja tanpa memberikan Alvin kesempatan untuk membalas ucapannya.

“Mungkin ini bukan sesuatu yang berlebihan untuk bisa membantu loe bro, tapi gue Cuma pengin loe bangkit dari keterpurukan loe. Bukan Rio namanya kalo selalu kaya gini Cuma gara – gara seorang Shilla.”

**********

            Shilla duduk diam seraya memperhatikan Alvin yang sedang asyik dengan gadgetnya seraya tertawa tawa. Gadis itu beberapa kali mendengus kesal karena merasa di anak tirikan.

“Sampai kapan loe senyum senyum begitu. Gue kesini buat ketemu kak Rio, bukan buat liat loe yang seperti orang gila kak Alvin.” Sungut Shilla.

“Makanya, kalau hati udah memilih, jangan melirik hati yang lain. Jadi nyesel sendiri kan sekarang.” Sindir Alvin tanpa menatap Shilla.

“Gue gak ngerti maksud loe.”

“Sebentar lagi temen gue dateng, jadi mendingan loe diem. Paham.”

            Shilla lagi lagi hanya mencibir tanpa suara, bagaimana bisa Sivia memilih berpacaran dengan seorang cowo seperti Alvin. Yang nyebelin abis plus gak punya ekspresi. Mendingan dia yang milih Rio. Seenggaknya cowo itu manis banget kalau lagi sama Shilla.

“Nah ini nih cewe yang udah membuat sahabat gue menggalau terus akhir akhir ini.”

            Shilla mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Diliatnya Cakka yang sedang berjalan kearahnya. Shilla mengernyitkan keningnya bingung, dia kan minta Rio yang dateng, kenapa jadi cowo narsis ini sih yang dateng.

“Mana kak Rio ??”

            Cakka tidak menjawabnya, dia malah duduk di sebelah Alvin seraya menyenderkan kepalanya di kepala sofa.

“Kak Cakka.”

“Gue dateng kesini mau ngasih pertanyaan buat loe. Jawab dengan jujur. Apa loe suka sama Rio ??”
Shilla mengangguk dengan malas. Sahabat Rio ini benar – benar selalu membuatnya emosi. Pertanyaan apa itu ?? Sudah jelas – jelas dia tahu yang sebenarnya.

“Loe cinta sama dia ??”

“Kak Cakka please. Pertanyaan macam apa itu. Jelas jelas gue suka sama kak Rio bahkan udah mencapai tahap cinta. Buat apa loe tanyain lagi.”

“Sekarang gue tanya sama loe. Misalkan Rio berduaan sama cewe, loe bakalan marah ?? Apa yang akan loe lakuin sama cewe itu ??”

“Jelas aja gue marah. Bisa aja gue membuat tuh cewe menyingkir lebih dulu sebelum dapet gertakan dari gue.”

“Terus, kalau Rio sampai marahin loe dan lebih memilih buat ngebelain cewe itu, apa yang akan loe lakuin ??”

“To the point kak Cakka.” Jawab Shilla emosi. Lama – lama dia jadi kesel sendiri.

“Loe udah membuat sahabat gue menderita berkali – kali. Loe gak pernah ngertiin perasaan dia Shill. Loe pikir, dengan loe berdekatan terus sama Debo, Rio gak masalah ?? Loe pikir Rio bakalan terima alasan loe yang selalu mengatakan kalau loe sama Debo hanya acting ?? Sandiwara ??” Ucap Cakka tanpa ekspresi.

“Gue juga ngerasain hal yang sama. Dulu gue emang membantu loe buat bisa nyadarin perasaan Rio sama loe dengan membawa nama Debo. Tapi sekarang, Rio udah tahu Shill kalau kalian bersandiwara. Tapi kenapa loe tetep deket sama Debo bahkan di depan mata kepala Rio sendiri.” Lanjut Alvin emosi.

“Kalau loe emang gak serius sama Rio, mendingan kalian gak usah hidup bareng. Mending kalian tetep menjadi aku kamu. Dan jangan pernah maksain hubungan kalian menjadi kita. Gue juga gak setuju sama hubungan kalian kalau loe terus menyakiti Rio.” Ucap Cakka santai.

“Gue gak nyangka, pikiran kalian sedangkal itu. Buat apa juga gue deket deket sama kak Debo dengan perasaan, sementara perasaan gue aja semuanya buat kak Rio. Kalian pikir perasaan gue sedangkal itu apa. Gue itu udah cinta sama dia sebelum dia menyadari perasaannya ke gue kak. Apa loe pikir, itu sebuah permainan ??”

“Sekarang kasih tahu gue, dimana kak Rio ??”

“Apa loe bisa jamin, kalau gue kasih tahu dimana Rio, loe gak bakalan ngelakuin hal yang merugikan sahabat gue itu ??” Tanya Alvin.

“Iya gue janji.”

            Alvin memandang Cakka, pemuda itu menganggukkan kepalanya membuat Alvin menganggukan kepalanya juga. Kemudian Alvin menjelaskan dimana keberadaan Rio. Shilla langsung berpamitan dan berlari keluar dari rumah Alvin. Dia harus cepat cepat bertemu dengan pemuda itu jika hubungannya dengan pemuda itu ingin baik – baik saja.

**********

            Shilla masuk ke dalam sebuah club malam dengan perasaan was – was. Dia tidak pernah masuk ke tempat beginian. Baru sekarang, dan itu semua demi laki – laki yang sangat ia cintai sedang berada di dalam sana menurut informasi yang ia dapat dari kedua sahabat pemuda itu.

            Shilla berkali – kali menolak permintaan cowo tidak bermoral di dalam sana dengan tegas. Dia bukan wanita malam, jadi Shilla merasa direndahkan disini. Dia berlari dan langsung menuju ke sebuah bar kecil yang ada di sana. Tampak di depan matanya, semua bartender sedang sibuk mengurusi semua pelangganya. Shilla dengan sabar menunggu salah satu dari mereka menyelesaikan pekerjaannya.

“Mau pesan apa nona ??”

            Shilla mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Diliatnya seorang pemuda yang ia yakini bartender disana dari pakaiannya.

“Enggak, gue disini Cuma mau nanya, loe tahu dimana Mario ??”

“Mario ?? Siapa dia ??”

“Kalau Rio, loe tahu ?? Cowo yang suka dateng kesini sama sahabatnya. Ada Cakka, Alvin juga Gabriel. Loe tahu ??”

“Ooh, loe nyariin bos toh. Dia ada di atas. Loe naik tangga aja habis itu belok kanan.”

            Shilla menganggukkan kepalanya. Setelah mengucapkan terima kasih, dia langsung berlari kearah tangga dan mengikuti perintah bartender itu untuk belok kanan setelah sampai di lantai atas.

            Shilla mengedarkan pandangannya dan matanya membelalak melihat seseorang yang ia yakini adalah pemuda yang ia cari sedang berduaan dengan dua cewe di samping kiri dan kananya.

            Shilla mengepalkan tangannya dengan emosi. Wajahnya memerah karena menahan emosi yang begitu menggebu – gebu. Jelas saja dia emosi, lihatlah. Pemuda yang ia cintai habis – habisan malah sedang berduaan dengan dua cewe yang Shilla akui sangat cantik dan juga sexy.

            Dengan perasaan marah, Shilla menghampiri mereka dan langsung menarik tangan kedua cewe itu untuk berjauhan dengan pemuda itu – Rio.

“Ini apa – apaan sih.”

“Loe berdua dengerin gue, cowo yang kalian peluk itu adalah pacar gue. Gue berhak marah karena kalian seenaknya aja peluk peluk cowo orang.” Bentak Shilla emosi.

“Rio aja gak marah, loe yang marah.”

“Sekarang kalian pergi dari sini, atau gue panggilin satpam plus gue aduin loe berdua ke bos kalian supaya kalian dipecat, mau ??” Ancam Shilla seraya menatap tajam kedua cewe itu.

            Shilla menatap pakaian dua gadis di hadapannya. Semua cowo sama aja, lihat cewe sexy aja matanya langsung berbinar. Nyebelin. Sungutnya dalam hati.

            Gimana Shilla gak marah, kedua gadis di hadapannya sekarang seperti tidak memakai baju. Hanya memakai tanktop ketat dan hotpants yang amat sangat pendek. Ck, Rio benar – benar minta di beri pelajaran.

“Cabut Fa, ada cewe gila nyasar disini.” Ucap salah satu dari mereka seraya tersenyum sinis kearah Shilla. Kemudian kedua gadis itu pergi menjauh.

            Shilla tidak memperdulikan kedua gadis itu lagi, dia beralih menatap pemuda yang sedang tidak sadarkan diri di hadapannya sekarang. Mata Shilla tidak sengaja menangkap banyak minuman beralkohol di meja kecil disana. Shilla baru tahu, kalau hal ini yang dilakukan pemuda itu jika sedang ada masalah.

“Loe buat gue kecewa kak. Loe bisa curhat sama sahabat – sahabat loe kalau loe lagi punya masalah, kenapa mesti kesini sih.”

            Shilla menggenggam tangan kanan Rio dengan erat. Pemuda itu masih menutup matanya. Tangan kanan Shilla digunakan untuk mengelus pipi pemuda itu.

“Gue gak pernah rela loe disentuh sama cewe – cewe itu. Dan gue jamin, ini yang terakhir kali loe dateng kesini.”

“Loe tahu kak, gue cinta banget sama loe. Sama sekali gak pernah ada niat buat gue beralih dari loe. Masalah kak Debo ?? Gue gak pernah suka sama dia. Gue sukanya Cuma sama loe. Kenapa loe gak peka banget sih.”

“Untung aja tadi gue masih bisa sabar. Kalau enggak, cewe – cewe tadi bisa hancur di tangan gue. Loe nyebelin. Loe mau aja disentuh sama cewe murahan seperti mereka. Loe gak mikirin perasaan gue.”

“Janji sama gue kak, kalau ini adalah yang terakhir kali loe dateng kesini. Karena gue janji, gue bakalan ada di saat loe punya masalah.”

            Shilla terus menerus berbicara berharap Rio bisa mendengarnya walaupun pemuda itu sedang tidak membuka matanya. Dan berakhir dengan gadis itu menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Rio.

“I love you kak Rio.”

***********

            Rio mengerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan retina matanya menerima cahaya yang ada di ruangan tersebut. Setelah berhasil terbuka semua, dia menatap sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. Rio menatap alas yang ia gunakan untuk tidur tadi, sebuah kasur.

            Pemuda ini menggeleng gelengkan kepalanya yang terasa pusing. Dia baru sadar sekarang, tadi malam Rio sudah meminum minuman alkohol berkadar tinggi itu sebagai pelampiasan dari semua masalahnya dengan Shilla. Tapi mengapa sekarang ia berada di sini ?? Siapa yang membawanya ??

“Pagi kak Rio.”

            Rio yang mendengar suara sapaan penuh ceria itu segera mencari sumbernya. Dan mata Rio melebar sempurna melihat seorang gadis yang sangat ia kenali sedang berdiri di ambang pintu lengkap dengan seragam sekolahnya.

“Kok loe disini ??” Tanya Rio bingung.

            Shilla mendengus. Dia tidak memperdulikan pernyataan Mario, Shilla justru mendekat kearah pemuda itu dan melemparkan sepasang baju yang sama dengannya ke atas kasur.

“Pakai, Shilla tunggu kak Rio dimeja makan. 10 menit itu udah maksimal loh. Awas aja kalau sampai lebih.” Cerocos Shilla kemudian berbalik lagi menuju ke pintu kemudian menghilang dibaliknya.

            Rio hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat kelakuan Shilla yang seperti anak kecil. Tunggu, mengapa Shilla berada di sini ?? Ini rumah siapa ?? Rumah Shilla ?? Tapi ...

“Itu urusan nanti Rio. Sekarang loe harus pergi ke sekolah dulu.”

            Dengan gerakan cepat, Rio berlari ke sebuah ruangan yang ia yakini adalah kamar mandi. Mendinginkan seluruh tubuhnya sepertinya akan membuatnya menjadi lebih baik. Setidaknya, Shilla sekarang sedang berada di sampingnya. Sebentar lagi, dia akan meluruskan semuanya. Ya, semuanya. Termasuk perasaannya.

***********

“Ini yang siapin loe semua Shill ??” Tanya Rio tidak percaya melihat banyak makanan yang ada di atas meja makan.

            Pemuda ini baru sampai di meja makan dan langsung mendapati sesuatu yang mengejutkan. Rio sudah menggunakan seragam sekolahnya lengkap. Dan setelah dia sampai di meja makan, dia mendapati Shilla yang sedang duduk di sana dengan bertopang dagu seraya memperhatikannya.

“Emang ada orang selain kita disini ??” Jawab Shilla santai.

            Rio berjalan mendekat kemudian mengangkat tangannya dan dengan sadisnya dia mendorong kening gadis itu dengan jari telunjuknya.

“Kak Rio.” Teriak Shilla seraya merapikan poninya yang berantakan karena ulah tangan jail pemuda yang sudah duduk di hadapannya sekarang.

“Loe gak masukkin racun ke dalam sini kan ??”

“Banyak. Sekali makan langsung tinggal bayangannya.” Jawab Shilla kesal.

“Berdoa aja supaya gue tetep sehat. Karena gue gak perduli. Yang penting gue laper sekarang.” Jawab Rio sekenanya kemudian mengambil makanan makanan yang sudah tersedia di atas meja makan. Sayang kan kalau tidak di makan.

            Shilla hanya mendengus sebal. Dia jadi tidak berselera lagi sekarang. pemuda ini benar – benar selalu merusak suasana. Shilla kan sudah membuatkan sarapan pagi ini dengan menu yang lebih dari kata luar biasa. Bisa – bisanya pemuda itu menghancurkan ini semua dengan seenaknya.
“Loe gak makan ??” Tanya Rio yang melihat Shilla tidak menyentuh makanan sama sekali.

“Gak mood.”

“Bagus deh. Berarti semua makanan ini buat gue.” Jawab Rio santai, kemudian pemuda itu asyik lagi melanjutkannya sarapannya.

            Shilla benar – benar telah mencapai tingkat kemarahannya yang paling tinggi. Dia mengambil sendok yang berada di atas piringnya kemudian tanpa perasaan melemparkan kearah Rio. Dan bingo, tepat sasaran. Mengenai kepala pemuda itu yang mengharuskannya berhenti menyuap makanan itu ke mulutnya.

“Loe ngajakkin gue perang ??” Ucap Rio marah.

“Iya. Kenapa ? Gak suka ?? Loe nyebelin banget tahu gak. Mana ada orang senyebelin loe.” Teriak Shilla karena emosi.

            Rio memundurkan kursinya kemudian berjalan mendekat kearah Shilla. Gadis itu menjadi takut melihat ekspresi pemuda itu yang sepertinya benar – benar marah. Tapi tidak semudah itu, Shilla malah menunjukkan wajah menantangnya kearah Rio. Rio tersenyum sinis kemudian menundukkan wajahnya hingga wajah dia hanya berada beberapa centi di depan wajah Shilla.

“Yakin sama ekspresi yang loe tunjukkan ini ??”

            Shilla menelan salivanya yang entah mengapa menjadi sangat sulit masuk ke tenggorokannya. Wajah Rio yang hanya berjarak amat sangat dekat dengan wajahnya membuat wajahnya memanas. Shilla hanya bisa meremas rok seragam sekolahnya dengan kencang untuk melampiaskan kegugupannya sekarang.

“Jawab nona Ashilla.” Goda Rio. Tangan pemuda itu sudah bertengger di pipi kiri gadis itu. Shilla masih belum bisa mengeluarkan suara normalnya.

“Kak, ki ... kita u  ... udah terlambat kak.”

“Terus ??”

            Shilla memutar otaknya agar bisa terbebas sekarang. Jika seperti ini terus, dia akan mati ditempat karena kerja jantungnya jauh lebih cepat dari biasanya. Oh, someone, help me please. Teriak Shilla dalam hati.

            Rio mengutuk seseorang yang mengganggu kegiatannya dengan Shilla sekarang. Getaran di saku celananya amat sangat menganggunya. Dengan sangat terpaksa dia menjauh dari Shilla kemudian melihat siapa yang menghubunginnya. Sedangkan Shilla sudah bersorak sorak kesenangan di dalam hatinya. Dia senang. Tentu saja.

“Ada apaan ??” Tanya Rio malas. Orang yang ternyata menghubunginnya ternyata sahabatnya sendiri, Gabriel.

“Lama banget sih loe. Di sekolah kita udah ramai banget karena kehadiran beberapa anak SMA Mahakarya. Loe tahu maksud gue kan ?? Debo dan gengnya lagi ada disini.”

            Ucapan penuh keburu buruan dari seorang Gabriel membuat kening Rio berkerut. Tidak biasanya seorang Gabriel terlihat panik seperti ini. Debo dan gengnya datang ke sekolahnya ?? Terus apa masalahnya ??

“Apa yang bikin loe ribut sih Yel ??”

“Bukan gue yang ribut. Tapi Debo dan gengnya. Gue gak ngerti mereka tujuannya apa. Tapi yang jelas mereka bikin keributan disini. Yo, loe problem solving kita sekarang. Jadi mending loe dateng ke sekolah secepatnya. Atau kita semua akan berakhir di ruang kepala sekolah.”

************



Please, tinggalkan jejak kalian :))
Reaksi: