Text Select - Hello Kitty

Love in Danger - Chapter 6 ( RIFY )

Minggu, 12 Oktober 2014 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 09.27


Disaat aku sudah bisa menerima, kamu memutuskan untuk meninggalkanku.

Apa sebenarnya rencanamu ??

Apa yang kau inginkan ??

Aku bukan seseorang yang bisa menebak perasaan seseorang.

Tapi yang harus kamu tahu, aku tidak bisa bersamamu.

Karena aku bukan seseorang yang selama ini kamu kenal.

***********

            Mario menatap tajam seseorang yang sedang berdiri dengan angkuhnya di depan pintu ruangannya. Dia ingin sekali memaki orang itu jika saja dia tidak ingat siapa yang berdiri disana. Beberapa saat kemudian, Mata Mario terfokus pada sebuah map yang berada diatas mejanya. Dia hanya bisa menatap nanar map itu.

“Tanda tangan Mario, setelah itu semuanya beres.”

            Mario mengalihkan pandangannya lagi kearah perempuan yang baru saja mengeluarkan suaranya setelah menit sebelumnya mereka hanya bisa saling pandang dengan tatapan yang mengandung banyak arti di dalamnya. Tatapan Mario sulit dijelaskan. Karena banyak sekali maknanya sampai sampai dia harus mengendalikannya jika tidak ingin menimbulkan hal yang tidak tidak.

“Apa yang loe inginkan Alyssa ??”

“Gue hanya menginginkan tanda tangan loe diatas kertas itu.”

            Mario menggeram. Sekali lagi dia menatap kertas yang berada di dalam map itu. Terlihat jelas bahwa kertas itu berisi surat pengunduran diri dari perusahaannya.

Bagaimana bisa wanita itu memilih mengundurkan diri dari perusahaannya ?? Dia baru bekerja baru tiga bulan dan dia menginginkan pergi ?? Mario tidak bisa berpikir jernih lagi sekarang.

            Pria itu mendekat kearah Alyssa yang masih berdiri dengan angkuhnya di dekat pintu ruangannya. Terlihat jelas dari tangannya yang dilipat di depan dada dan wajahnya yang terangkat dan menyunggingkan senyum datarnya yang justru terlihat mengerikan untuk dilihat.

            Mario berdiri di depan Alyssa. Wanita itu masih mempertahankan posisi sebelumnya walaupun sekarang wajah Mario sudah ditundukkan hingga mensejajari wajahnya sendiri.

“Apa yang loe inginkan ?? Coba loe jujur sama gue.”

            Kalian salah jika menganggap bahwa Alyssa sudah bisa mengontrol dirinya jika berhadapan sedekat ini dengan Mario. Nyatanya sekarang dia berusaha untuk tidak salah tingkah ataupun menjaga agar wajahnya tidak merona. Dia bersusah payah untuk mempertahankan tingkah angkuhnya yang sedari tadi ia tunjukkan kepada Mario.

“Gue ingin mendengar langsung dari mulut loe Alyssa. Sekarang.” Perintah Mario dan dengan sengaja meniupkan nafasnya tepat di depan wajah Alyssa membuat wanita itu memejamkan matanya sebentar kemudian membukanya lagi.

            Alyssa mendengus kemudian mengalihkan pandangannya kearah lain.

“Gue ingin mengundurkan diri dari sini.”

“Coba tatap gue sekarang.”

“Udahlah, apa yang loe Mario. Gue Cuma minta tanda tangan loe. Loe boleh gak ngasih gaji gue selama sebulan ini. Tapi tolong tanda tangan diatas kertas itu.”

“Iyalah loe gak butuh gaji loe. Loe udah dapet uang satu koper.” Ucap Mario dengan nada sinis dan tajamnya.

            Tiba – tiba saja emosinya menjadi naik mengingat bahwa Alyssa pernah menemani om – om yang bisa dibilang lebih mirip menjadi ayahnya daripada menjadi ‘patner kerja’. Mario hanya marah. Dan itu bukan berarti cemburu.

            Sedangkan Alyssa langsung melebarkan kedua matanya seraya menatap Mario. Dilihatnya pria itu sudah kembali ke posisi semula dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya dan wajahnya yang menyiratkan emosi di dalamnya serta tatapannya yang mengarah kearah lain.

“Darimana loe tahu ??”

“Apa yang gak gue tahu Alyssa.” Jawab Mario tegas. “Sekarang gue tanya, uang sebanyak itu buat apaan ??”

“Atas hak apa loe tanya. Memangnya loe suami gue apa.”

“kalau memang dengan cara menjadi suami loe gue bisa tahu apa aja tentang loe. Gue bersedia.” Ucap Mario sungguh – sungguh. Tapi Alyssa hanya tertawa.

“Bercanda loe.”

“Gue serius.”

“Uang itu buat apaan itu bukan urusan loe.”

            Mario mengepalkan kedua tangannya yang masih berada di dalam saku celananya. Entah mengapa, dia ingin sekali meluapkan emosinya kepada apapun itu agar emosinya bisa mereda. Tapi dia menahan diri karena didepannya adalah seorang perempuan. Jangan sampe loe lepas kontrol Mario. Batinya mengingatkan.

“Fine, sekarang gue tanya, dengan alasan apa loe mau mengundurkan diri ??”

“Gue mau kembali ke perusahaan Damanik.”

            Mata Mario melebar mendengar jawaban Alyssa. Damanik ?? perusahaan yang menjadi musuh besarnya selama ini. Apa – apaan.

Mario benar – benar tidak bisa menahan emosinya sekarang. Dia menarik Alyssa dan menyudutkan tubuhnya pada dinding lumayan keras membuat Alyssa terpekik pelan. Tapi Mario tidak perduli, dia menatap Alyssa dengan mata yang menyala karena menyimpan emosinya sedari tadi.

“Coba ulangi jawaban loe barusan.” Ucap Mario penuh penekanan di setiap katanya.

“Loe bener – bener gak punya hati.” Jawab Alyssa dengan nada sinisnya.

“Apa loe bilang ??” Mario mengeraskan rahangnya kembali. Emosinya benar – benar sudah mencapai puncaknya.

“Loe tahu siapa Damanik itu ?? Loe tahu ?? Dia itu musuh perusahaan gue. Seluruh perusahaan yang gue incer untuk gue ajak bekerja sama selalu mempertimbangkan lagi antara perusahaan gue dan perusahaan dia. Dan sekarang, loe dengan seenaknya keluar masuk dari dua perusahaan yang sudah bermusuhan sejak lama itu. Apa yang ada di otak loe Alyssa ??”

Alyssa hanya meringis pelan karena cengkraman tangan Mario pada lengan kirinya membuat tangannya memanas. “Mario sakit. Lepasin.”

“Enggak sebelum loe mencabut semua perkataan loe.”

“Gue gak bisa Mario. Gue mohon lepaskan gue dari perusahaan loe. Loe bisa mencari sekretaris yang jauh lebih hebat dari gue Mario.”

“Gue Cuma butuh alasan yang jelas Alyssa.” Tanpa sadar Mario membentak Alyssa dengan suara yang benar – benar keras.

            Entah mengapa hati Alyssa sakit mendengar bentakkan Mario yang keras. Seumur hidupnya, dia tidak pernah dibentak sedemikian keras seperti ini. Dan baru kali ini. Oleh orang yang membuatnya nyaman jika berada di sisinya.

            Kalian tahu apa rasanya ?? Sakit. Sakit sekali hingga membuat mata Alyssa yang terpejam mengeluarkan butiran bening membentuk anak sungai di pipi putihnya.

            Mario tersentak saat menyadari air mata Alyssa turun dari kedua mata wanita itu yang terpejam. Dia melonggarkan cengkramannya dan perlahan melepaskan tangan Alyssa.

“Alyssa, gue minta maaf. Gue benar benar minta maaf. Gue gak bisa mengendalikan emosi gue Alyssa. Gue minta maaf.” Racau Mario karena merasa bersalah.

            Tangan Mario terangkat mengusap kedua mata wanita itu hingga terbuka sempurna dan menatap kearahnya. Perlahan Mario menghilangkan air mata yang ada di wajah wanita itu dengan jarinya.

“Maaf.” Bisik Mario tepat di depan wajah wanita itu.

“Gue mohon tanda tangan.”

“Loe bisa memohon Alyssa, gue juga bisa. Sekarang gue yang memohon sama loe, tetap tinggal disini. Bersama gue, di perusahaan ini. Gue mohon.”

“Kalaupun gue bisa, gue udah melakukan itu Mario. Nyatanya gue harus melakukan itu karena ada sesuatu yang gue lakukan untuk hidup gue.” Tanpa sadar Alyssa berteriak dengan suara seraknya karena menahan tangisannya. Air matanya kembali turun dari kedua matanya.

“Loe bisa cerita sama gue Alyssa.”

“Enggak. Belum saatnya loe tahu Mario. Gue mohon, tanda tangan.”

“Fine. Gue akan menuruti apa yang loe mau. Kalau itu yang loe mau, gue akan melakukannya. Loe bener, gue bukan siapa siapa loe.” Ucap Mario kemudian membalikkan tubuhnya bersiap untuk kembali ke meja kerjanya.

            Tapi ada seseorang yang memegang lengannya. Membalikkan tubuh Mario dan ... mario hanya bisa terdiam setelah merasakan ada sesuatu yang kenyal yang berada di bibirnya. Itu bibir Alyssa. Kalian harus tahu, Alyssa menciumnya dengan menggebu. Kedua tangannya diletakkan tepat di belakang kepala Mario, bahkan sudah meremas rambut pria itu untuk menyalurkan perasaannya.

            Mario tidak juga bergerak, dia hanya diam. Dan tangan kanan Alyssa turun dari rambutnya menuju ke depan dadanya. Mengusapnya perlahan membuat Mario memejamkan matanya karena tidak kuat menerima rangsangan sebegitu hebatnya dari tangan halus Alyssa.

            Dengan tidak sabar, Mario membawa tubuh Alyssa ke sofa yang berada di sana. Membaringkan Alyssa dan dengan cepat dia berada di atas tubuh Alyssa dengan bibir yang masih bersahutan. Kali ini Mario yang memimpin. Dan suara yang berada di dalam kantor Mario yang tadinya hening sudah mulai terusik akan suara mereka akibat dari perbuatan yang sedang mereka jalankan sekarang.

            Tangan Alyssa sudah mulai membuka satu persatu kancing kemeja Mario dengan gerakan yang benar – benar menggoda iman pria itu. Setelah terlepas semua, dia melemparnya entah kemana. Sedangkan Mario yang sadar akan hal itu hanya tersenyum kecil di sela ciumannya yang menggebu.

            Alyssa mendorong wajah Mario saat dirasanya nafasnya mulai melemah. Dan untung saja Mario mau menurut. Itu memberi kesempatan Alyssa untuk mengambil nafas sebanyak banyaknya. Mario menatap Mario.

            Tanpa sadar tangannya terangkat dan berniat untuk membelai wajah Mario. Dari mulai dahi, turun ke alisnya yang tebal, mata indahnya yang setelah disentuh Alyssa terpejam menikmati, turun ke hidung mancungnya, dan terakhir bibirnya yang basah akibat perbuatan yang baru saja mereka lakukan.

            Kemudian terakhir menangkup kedua pipi pria itu dan menatapnya dengan tatapan penuh kagum. Alyssa kagum dengan Mario. Tentu saja. Bayangkan saja, diumur Mario yang masih 24 tahun ini, dia sudah bisa menjadi CEO yang benar – benar hebat. Penuh wibawa dan mampu menandingi perusahaan perusahaan besar di Indonesia ataupun di luar Indonesia.

            Sesuatu yang menempel sebentar di bibirnya membuat dia kembali dari dunia khayalannya. Dia menatap Mario yang kini sudah tersenyum begitu manis di depan wajahnya. Bahkan mereka tidak punya jarak sepertinya, karena Mario menempelkan dahinya pada dahi Alyssa.

“Mau bicara sesuatu ?? Katakan.”

“Enggak, gue Cuma mau bilang kalau gue di perusahaan Damanik hanya sementara. Dan ada saatnya loe tahu nanti. Disaat itu, gue akan menceritakan semuanya yang mungkin membuat loe merasakan perasaan yang bermacam macam sama gue. Dan mungkin aja, loe akan menjauh dari gue.”

            Mario mengernyitkan keningnya bingung. Dia menjauhkan wajahnya dan membalikkan tubuhnya menjadi di bawah kemudian mengangkat Alyssa hingga berada di atasnya. Tangannya dengan nakal mengusap usap pinggang wanita itu membuat Alyssa bergerak gerak di atas tubuhnya karena geli.

“Gue gak ngerti.”

“Gue bilang gue akan memberi tahu kalau saatnya tiba nanti.”

“Loe mau coba main teka teki sama gue Alyssa. Hmm.”

“Enggak Mario. Lepaskan tangan gak sopan loe itu.”

“Gak sopan ?? Masa ?? Siapa yang tadi mencium lebih dulu, Hmm.”

“Gue refleks karena gue gak mau loe marah sama gue.”

“Gue memang marah sama loe dan loe harus membayarnya.” Dengan secepat kilat Mario kembali menempelkan bibirnya di bibir Alyssa. Kali ini lebih dikuasai oleh nafsu. Permainan Mario begitu menggebu membuat Alyssa berusaha menyeimbangi permainan lidah Mario yang berada di dalam mulutnya.

            Desahan penuh desahan mengiringi perbuatan mereka. Tangan Mario berusaha untuk menurunkan blazer Alyssa dan setelah terlepas, dia segera membuanganya sejauh mungkin. Dan Mario lagi – lagi memutar posisinya menjadi diatas – lagi.

“Mario. Gue gak bisa bernafas.” Ucap Alyssa seraya memukul dada pria itu pelan. Wanita itu masih menormalkan nafasnya kembali.

            Mario hanya tersenyum kemudian memindahkan ciumannya ke leher Alyssa. Refleks, kepala Alyssa langsung keatas begitu menerima siksaan sedemikian rupa oleh Mario. Tidak bisa dijelaskan oleh Alyssa bagaimana perasaannya saat ini.

            Kemeja putih Alyssa sudah terlepas semua kancingnya. Jadi Mario bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya. Membuat gairahnya entah mengapa langsung menanjak naik. Dia dengan bersemangat mengecup leher Alyssa berkali kali membuat tanda kepemilikan disana yang pastinya akan berubah warna yang kontras dengan warna kulit Alyssa yang putih bersih.

            Setelah beberapa lama, akhirnya Mario menghentikan aksinya dan menatap wajah Alyssa yang entah mengapa jauh lebih sexy karena peluh yang ada di wajahnya, dan wajahnya yang merona merah serta bibirnya yang benar – benar basah menggodanya kembali untuk mengecupnya.

Tapi tidak untuk sekarang Mario.

“Gue minta maaf karena gak bisa menuntaskan apa yang udah kita lakuin barusan.”

            Alyssa hanya mendengus sebal. Seorang Mario yang dingin baru saja berbicara dengan nada manja dan di imut imutkan. Benar benar bukan seorang CEO.

“Gue ada meeting Alyssa. Dan gue harus menghadirinya karena ini menyangkut kerja sama dengan investor terbesar dari perusahaan lain.”

“Loe pikir gue sedemikian sedihnya apa melihat loe menghentikan aksi gila loe ini.”

            Mario terkekeh kemudian mengusap wajah Alyssa dengan lembut. Dia menghapus keringat yang berada di wajah wanita itu dengan tangannya. Kemudian dia bangkit dan berjalan kearah kemejanya di lempar oleh Alyssa.

“Lain kali kalau mau buang pakaian itu yang deket aja sayang.”

Alyssa menatap sinis. “Loe pikir loe enggak ?? Lihat tuh blazer gue.”

“Haha. Cukup menghibur sebelum gue dihadapakan sama kertas – kertas yang sangat membosankan itu.”

            Mario berjalan ke belakang mejanya dan merapikan berkas yang akan dia bawa untuk rapat hari ini. Alyssa menatap Mario dengan menggigit bibirnya pelan.

“Mario.”

“Iya.” Jawab Mario tanpa menatap kearah Alyssa.

“Loe mau menanda tangani surat itu kan ??” Tanyanya pelan. Mario langsung menatap Alyssa dengan menyipitkan kedua matanya. Alyssa buru buru menjawab lagi.

“Buat sementara. Gue janji, setelah urusan gue selesai, gue akan kembali ke perusahaan loe lagi. Gue janji.”

“Apa yang bisa gue pegang dari kata – kata loe barusan ??”

“Mario, gue udah mengijinkan loe mengambil harta berharga gue satu – satunya. Gue udah mengijinkan loe untuk menyentuh gue, dan gue juga udah merelakan loe buat melakukan apapun sama gue. Masih butuh bukti ??”

Mario berjalan kearah Alyssa dengan membawa tas nya yang ia jinjing di tangan kananya. “Gue setuju. Dan setelah urusan loe selesai, loe harus kembali lagi kesini. Tanpa alasan apapun. Mengerti.”

Alyssa menganggukkan kepalanya pelan.

“Dan saat itu, loe harus menceritakan semuanya sama gue. Tanpa terkecuali.”

“Iya, gue janji sama loe.”

“Okey, gue pergi dulu Alyssa.” Ucap Mario kemudian mencium dahi wanita itu dengan lembut kemudian mencium bibirnya dan melumatnya pelan.

            Mario tersenyum dan melangkah keluar ruangan. Lihatlah, bahkan ruangannya sudah bisa berbagi dengan Alyssa. Wanita yang baru dikenalnya selama beberapa bulan ini. Dia sudah percaya Alyssa, tentu saja. Jika tidak mana mungkin dia mengijinkan wanita itu untuk berada di ruangannya tanpa ia didalamnya.

            Alyssa duduk di atas sofa, menatap kepergian Mario dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian dia menundukkan wajahnya dalam. Berulang ulang mengucapkan kata yang sama seperti dulu. Maaf.

************

            Mario berjalan dengan perlahan menuju ke sebuah ruangan yang sudah tidak asing lagi baginya. Dia ingin bertemu dengan sahabatnya. Lagian sudah lama juga dia tidak berkunjung ke kantor sahabatnya ini. Sedangkan sahabatnya sendiri sudah sering memunculkan batang hidungnya di perusahaannya.

            Mario berhenti di depan pintu ruang sahabatnya itu. Dia melirik ke samping dan mengernyit heran, biasanya sekretaris kesayangan sahabatnya – yang kata Alvin cantik dan sexy – ada disana menyambut siapapun yang ingin bertemu dengan bos’nya itu. Tapi sekarang ... ... nihil.

            Mario menggelengkan kepalanya dan mengangkat bahu tidak perduli. Dia langsung membuka pintunya begitu saja. Dan matanya langsung membelalak begitu melihat adegan yang benar – benar tidak pantas dilakukan oleh seorang pemimpin perusahaan.

Alvin sedang bersama dengan sekretarisnya.

            Kalian bisa menebak apa yang mereka lakukan. Bagaimana bisa seorang sekretaris duduk di atas meja dan diapit oleh tubuh pemimpinnya. Mario, loe juga harus mengingatnya, bahwa loe pernah melakukan hal itu dengan Alyssa yang saat itu menjadi sekretaris loe Mario.

            Alvin asyik mencium sekretaris yang menurutnya sexy itu. Tangannya sudah kemana mana. Mario sekali lagi menggelengkan kepalanya prihatin. Sahabatnya memang playboy, tingkat atas lagi. Ckck, kapan sih Alvin tahan jika tidak menyentuh seorang wanita ?? Jawaban Mario tidak pernah. Itu kenyataannya.

“Selamat siang Bapak Alvin William.” Ucap Mario dengan nada sinis.

            Dia bisa melihat bahwa di depan sana, Alvin ribet sendiri. Dia menurunkan sekretarisnya itu dan menyuruhnya untuk memperbaiki tatanan tubuhnya. Mereka masih balik badan dan masih sibuk dengan urusannya sendiri.

Alvin sibuk memperbaiki pakaiannya yang sudah sangat amat berantakan. Begitupun dengan wanita itu, dia juga masih membenarkan penampilannya.

Mario hanya bisa tersenyum simpul.

            Karena apa ?? Karena dia dulu juga pernah di ganggu sahabatnya ini saat dia sedang berduaan dengan Alyssa. Sekarang – saatnya pembalasan. Tanpa sadar, Mario terkekeh sendiri dengan pembalasan.

“Nona, sebaiknya cuci muka anda terlebih dahulu. Bibir anda sangat basah dan leher anda sudah menimbulkan banyak tanda disana.” Sindir Mario seraya tersenyum geli.

            Alvin memukul bahu sahabatnya itu dengan kencang saat sekretarisnya sudah keluar dari ruangannya setelah sebelumnya pipinya merona merah saat mendapat sindiran dari seorang Mario Raditya.

“Salah loe sendiri gak kunci pintu. Untung yang masuk gue, kalau yang masuk orang lain, tamat riwayat loe.”

“Kedatangan loe benar – benar mengganggu Mario.” Desis Alvin penuh kemarahan. Aktivitasnya tertunda gara – gara kemunculan sahabatnya yang tidak tahu diri ini.

Mario tertawa pelan. “Buang sifat loe yang playboy itu, sekretaris sendiri di makan juga. Bikin malu gue aja loe.”

“Loe gak ada kaca dirumah ?? Alyssa gimana kabarnya ??” Sindir Alvin sinis.

“Seenggaknya gue Cuma menyentuh dia, gak seperti loe. Semuanya loe ambil. Gak inget umur loe ?? Kurangi lah Vin, cari cinta sejati loe.”

“Bro, loe tahu gue banget. Gue mencari cinta sejati ya dengan cara seperti ini. Saat gue berhubungan sama dia gue merasa nyaman, tandanya gue memang cocok sama dia.” Ucap Alvin seraya mengambil dua minuman dingin dan yang satunya ia lempar kearah sahabatnya yang sudah duduk di atas sofa ruanganya.

“Terserah loe deh.” Jawab Rio sekenanya, kemudian membaringkan tubuhnya di atas sofa itu. tubuhnya benar – benar lelahh.

“Kenapa loe ?? Kabur dari rumah ??”

“Kabur ?? Kalaupun itu bisa gue lakuin, udah gue lakuin dari dulu. Bokap gue punya banyak mata bro. Inget ??”

“Kenapa sih loe gak pernah akur sama bokap loe bro. Kasihan dia, dia Cuma punya loe sekarang.” Ujar Alvin seraya duduk di depan Mario.

“Kalau dia sayang sama gue, dia gak akan pernah bikin gue tertekan.”

            Alvin menghembuskan nafasnya kesal. Susah sekali membujuk sahabatnya itu untuk bisa lebih menghormati ayahnya sendiri.

            Sebenarnya Alvin sangat tahu mengapa sahabatnya sangat di kekang oleh ayahnya sendiri. Karena Pak Bara – ayahnya Mario, itu ingin anaknya menjadi anak yang akan berguna untuk semua orang kelak. Dan itu sudah Alvin tahu saat dia berbicara langsung dengan Pak Bara saat dia masih duduk di bangku SMA.

Dan Mario tidak tahu kalau Ayahnya menyimpan sebuah rahasia besar.

            Alvin sudah tahu, tapi dia tidak bisa memberitahu Mario karena permintaan Pak Bara sendiri. Alvin ingat sekali dengan perkataan Pak Bara yang membuatnya merasa kasihan dengan pria paruh baya itu.

“Saya yakin, Mario mencintai saya. Dan dia akan mengerti keadaan saya nanti. Walaupun bukan sekarang, tapi saya akan menunggu saat Mario tahu semua tentang keadaan saya. Saya ingin dia mengerti keadaan saya karena dia mencintai dan menyayangi saya sebagai ayah kandungnya.”

“Alvin.”

            Alvin tersadar dan menggelengkan kepalanya pelan. Dia menatap Mario yang masih berbaring di atas sofa dan sedang menatapnya penuh selidik.

“Apa yang loe pikirin ??”

“Enggak, gimana keadaan Alyssa ??” Tanya Alvin berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Dia sekarang berhenti dari perusahaan gue.”

“Kenapa ?? Gara – gara loe sentuh ??” Sindir Alvin lagi.

“Ck, dia malah ketagihan sama sentuhan gue. Entahlah karena apa, dia bilang dia punya pekerjaan yang berhubungan dengan Damanik itu.”

“Jadi dia balik lagi ke perusahaan Damanik ??” Tanya Alvin.

Mario mengangguk dengan lesu.

“Loe pernah terpikir gak sih bro, ada yang aneh sama tuh cewe. Mulai dari cerita loe yang bilang kalau loe pernah ketemu sama orang tua dia tapi dia bilang orang tuanya meninggal, dia bekerja di club malam tapi punya kost yang jelek abis, terus dia datang ke perusahaan loe minta pekerjaan dan belum ada satu tahun udah pindah lagi.” Ucap Alvin panjang lebar.

“Pertanyaan gue. Uanganya dia kemanain ?? Loe liat pakaian dia dong, gak ada mewah mewahnya. Terus apapun yang dia punya serba sederhana. Gue jadi curiga.”

“Curiga apa loe ?? Gak usah mikir yang enggak enggak. Mungkin dia punya alasan sendiri akan hal itu.” Jawab Mario dengan santai.

“Dan sampai sekarang loe belum tahu alasan dia apa kan ??”

“Karena gue percaya sama dia.”

“Percaya ?? Cissh, gombalan basi. Apa yang bisa loe percaya dari dia ?? Hah ??”

“Vin, loe jangan coba – coba buat gue marah sekarang. Gue lagi bener – bener emosi. Loe diem bisa gak ??” Jawab Mario dengan nada keras.

“Gue Cuma mau bantuin loe. Karena gue udah menganggap loe sebagai kakak gue sendiri. Tapi loe malah kaya gini. Terserah. Gue gak akan pernah ikut campur lagi semua urusan loe.”

            Mario hanya menatap sahabatnya itu dengan perasaan yang tidak bisa ia artikan sendiri. Mario mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupannya ?? Mengapa semuanya membuat dirinya menjadi rumit ?? Dari ayahnya, Alyssa, dan sekarang sahabatnya juga ikut – ikutan.

Mario mencintai ayahnya ?? Tentu saja.

            Disaat seperti ini, dia merindukan pelukan hangat seorang ibu. Dia merindukan dimana dia , ayahnya dan ibunya berkumpul bersama dan bercanda bersama. Tapi semuanya berubah saat ibunya meninggalkannya sendiri. Ayahnya selalu mengekangnya untuk menjadi ini atau itu.

Ibu, Mario merindukanmu. Sungguh.

Mario memejamkan matanya perlahan. Dia berniat tidur sebentar di ruangan Alvin. Detik selanjutnya, Mario sudah terlelap di alam bawah sadarnya.

Semoga saat gue bangun, semuanya berubah menjadi lebih baik.

************

Udah panjang kan ??
Butuh perjuangan tuh buat nulis segini banyaknya.,
Kalian cukup membalasnya dengan cara meninggalkan jejak.
Komentar please, kasih saran buat gue biar ceritanya makin bagus.
Dan kalau kalian masih menghargai saya, jangan maksa buat lanjut. 

Sekian dan terima kasih :))
Reaksi: