Text Select - Hello Kitty

Twoshoot - Bad Girl in Love ( RIFY ) - Chapter 2

Minggu, 01 Februari 2015 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 03.31
Hai hai, gue balik lagi dengan lanjutan cerita gaje ini :D
Gue minta maaf kalau endingnya gak sesuai sama permintaan kalian yaaa :*
HAPPY READING GUYS !!!


Chapter sebelumnya !!!

Rio menatap perempuan itu sebentar kemudian melempar bungkusan itu ke tempat sampah yang tidak jauh darinya. Rio langsung menarik perempuan itu ke dalam pelukannya setelahnya.

            Pemuda itu bisa mendengar suara tangisan Ify yang jauh lebih keras dari sebelumnya. Dia hanya mengusap usap punggung perempuan itu dengan penuh sayang dan membiarkan Ify menumpahkan semuanya dalam pelukannya.

“IFY.”

            Teriakan itu membuat Rio langsung mengalihkan pandangannya kearah sumber suara. Dan matanya membelalak begitu melihat Ayah Ify berdiri di depan pintu rumahnya. Dan dia bisa merasakan pelukan Ify yang semakin mengerat di tubuhnya.

Chapter 2 !!!

            Ify hanya diam mendengar ucapan ayahnya yang sangat menyakitkan. Tangannya di genggam erat oleh pemuda yang sedari tadi juga ikut diam mendengarkan ucapan ucapan pedas dari mulut ayahnya. Rio mengeratkan genggamannya dan tangan lainnya mengusap punggung perempuan itu untuk memberikan kekuatan.

“Ayah gak ngerti lagi harus mendidik kamu seperti apa Ify. Kamu udah keterlaluan. Kelakuan buruk kamu benar – benar merusak nama baik Ayah. Kamu tahu, ayah adalah salah satu donatur di sekolah kamu. Dan kamu menghancurkan nama baik ayah disana Ify.” Bentak Ayah Ify.

            Ify hanya memejamkan matanya kuat – kuat. Rio melirik Ify sebentar dan memberanikan diri untuk menghadapi ayah Ify yang sepertinya dalam emosi paling tinggi.

“Maaf om sebelumnya. Tetapi, kelakuan Ify sepenuhnya bukan salah Ify om. Dia Cuma melampiaskan semuanya dengan kelakuannya selama ini.”

“Siapa kamu berani membalas perkataan saya.”

“Saya Mario om.”

“Oh, jadi kamu yang namanya Mario. Salah satu orang yang membuat anak saya menjadi seperti ini, jadi kamu yang menyebabkan anak saya rusak seperti ini.” Teriak Ayah Ify murka. Rio hanya memejamkan matanya erat mendengar teriakan Ayah Ify yang mungkin saja terdengar sampe ke depan rumah.

“Ayah gak berhak menyalahkan Rio. Ini semua salah Ayah sama Bunda. Ify jadi seperti ini karena kalian.” Balas Ify dengan berteriak.

“Kamu jadi kurang ajar sama Ayah Fy sekarang.” Ucap Ayah Ify penuh emosi.

            Ify hanya mundur ketakutan melihat Ayah Ify yang berjalan mendekat. Ify menutup matanya saat tangan ayahnya melayang di udara bersiap menamparnya.

“Om.”

            Ify membuka matanya dan melihat Rio yang mencegah tangan Ayahnya. Ify bisa merasakan ada kilatan marah pada mata Ayahnya saat menatap Rio.

“Om keterlaluan. Bukan seperti ini caranya mendidik anak om menjadi lebih baik.”

Ayah Ify menyentak tangan Rio dengan kasar sampe membuat pemuda itu terhuyung. “Satpam.” Teriaknya penuh amarah.

            Beberapa saat kemudian muncul seorang pria paruh baya dari luar rumah.

“Tarik dia keluar rumah. Dan jangan pernah biarkan dia masuk kapanpun.”

“Rio.” Ify berusaha untuk menarik tangan Rio. Tetapi dengan cepat, Ayahnya mencekram bahu Ify menjauh dari Rio. Ify menahan sakit dengan cengkraman ayahnya di bahunya.

“Aku akan selalu lindungin kamu Fy.” Teriak Rio yang sudah diseret oleh satpam rumahnya. Ify hanya menangis melihat pemuda yang sangat dicintainya diperlakukan tidak pantas oleh Ayahnya sendiri.

“Ayah jahat.”

“Seharusnya ayah mendidik kamu lebih keras lagi. Seharusnya ayah gak manjain kamu sampe kamu melakukan perbuatan seperti ini. Nama kamu udah tercantum di kantor kepolisian berkali kali Fy. Kamu membuat Ayah malu.” Bentak Ayahnya.

“Ini semua salah Ayah. Kenapa ayah gak membunuh Ify aja biar Ify gak membuat ayah malu. Kenapa ayah gak buang Ify aja biar ayah gak usah berurusan dengan siapapun lagi yang menyangkut Ify.”

“Ayah cape’ Fy. Ayah mau istirahat.”

            Ify hanya diam dalam tangisnya saat melihat ayahnya menuju ke kamarnya. Dia langsung terduduk di sofa rumahnya dengan kedua tangannya yang menangkup wajah cantiknya. Kapan semua ini berakhir ??

**********

            Ify terduduk di taman sekolahnya. Syal berwarna biru melingkari lehernya. Dan jaket berwarna birunya melekat di tubuhnya dibalik seragam sekolahnya. Pandangannya hanya lurus ke depan dengan tatapan kosong.

            Rio yang saat itu sedang membawa setumpuk buku sebagai buku panduan untuk olimpiade yang dibimbingnya segera berhenti berjalan saat melihat Ify.

“Ger. Gue minta tolong dong.”

“Ada apaan bro ??” Tanya Gerry – teman seangkatannya di Cilencia.

“Gue nitip buku ini. Loe kasih ke Bu Laura di ruangannya.”

“Oke bro.”

“Thanks.”

            Setelah mendapat anggukan dari temannya itu, Rio berjalan mendekati Ify. Perempuan itu hanya menatap kosong ke arah depan. Rio duduk di sebelah Ify, tetapi perempuan itu tetap diam dalam posisinya.

“Pemandanganya lebih keren yah daripada gue.” Sindir Rio seraya tersenyum melihat pergerakan dari perempuan itu.

            Ify hanya tersenyum melihat kehadiran Rio di sebelahnya. Kemudian menatap ke depan lagi. Rio memberanikan diri untuk menggenggam tangan Ify.

“Sejak kapan rambut loe digerai kayak gini.”

Ify tersenyum lagi seraya menatap Rio. “Jelek yah.”

“Enggak kok, makin cantik.” Rio tersenyum melihat Ify yang tersenyum malu – malu.

“Maafin sikap ayah kemarin ya Yo.” Ify menundukkan wajahnya. Rio hanya menganggukkan kepalanya kemudian menarik perempuan itu ke dalam dekapannya.

“Janji mau berubah ??”

            Rio bisa merasakan gelengan Ify di bahunya. Perempuan itu memeluknya erat. Dan Rio bisa merasakan bahunya basah. Dan dia bisa menebak jika perempuan itu tengah menangis sekarang.

“Fy, kelakuan kamu itu salah. Bukan kaya gini caranya biar orang tua kamu sadar. Cara kamu salah.”

“Aku udah gak perduli lagi sama Ayah Bunda Yo. Aku gak perduli lagi sama mereka.”

            Rio menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin membahas ini lagi. Percuma jika ia membahasnya, Ify tidak akan mau menerima sarannya. Lebih baik ia membiarkan Ify menenangkan pikirannya sendiri dulu.

“Aku yakin Fy, suatu saat nanti. Kamu akan menemukan kebahagiaan kamu.”

            Ify mengeratkan pelukannya. Wajahnya ia benamkan ke bahu pemuda itu. rio hanya bisa memberikan ketenangan dengan mengusap usap punggung perempuan itu agar tetap tenang. Ify bersyukur Rio masih memperdulikannya. Walaupun dia sudah berlaku semena mena pada pemuda itu, tetapi Rio tetap mau berada di sisinya.

**********

“Van.”

            Rio memanggil salah seorang temannya yang sedang berjalan menuju perpus dengan setumpuk buku di tangan pemuda itu. Seseorang yang dipanggil ‘Van’ itu memberhentikan jalannya dan menatap Rio dengan alis terangkat.

“Elo Yo, ada apaan ??”

“Kok diruang guru rame banget. Ada apa ??”

“Ooh itu, biasa lah, biang kerok lagi di hakimi sama Bu Ira. Loe denger kan kalau mereka kemarin baru ketangkep lagi ?? Kali ini masalahnya berat banget bro, sampe bawa obat – obatan juga.”

“Terus ??”

“Terus gimana ?? Ya gatau lah, loe kalau mau liat full’nya ngintip aja disana. Paling juga di D.O semuanya. Gue duluan ya bro, berat banget ini bukunya.”

Rio meringis melihat setumpukkan buku di tangan temannya itu kemudian mengangguk. “Thanks buat informasinya bro.”

“Sipp.”

            Rio berjalan mendekat kearah kerumunan itu. Dia bisa mendengar teriakan bu Ira di dalam sana walaupun samar samar. Ajaib aja suaranya bu Ira sampe bisa terdengar sampe ke depan ruangannya. Rio mengintip dari balik jendela kaca yang tidak tertutup korden jendela. Rio bisa melihat ada Ify disana. Hanya ada 3 perempuan dan 5 laki – laki di dalam sana. Dan Ify salah satunya.

            Rio menghela nafas. Pasti setelah ini Ify di hukum lagi dengan Ayahnya. Semoga saja hukuman bu Ira kali ini tidak sampai DO, kalau sampe hal itu terjadi entah bagaimana nasib Ify nanti.

            Rio menunggu di tempat duduk koridor sekolahnya yang tidak jauh dari ruangan kepala sekolahnya itu. Dia harus mengetahui hukuman apa yang diberikan bu Ira. Mudah mudahan saja hanya skors. Tidak sampai dikeluarkan.

            Pemuda itu langsung bangkit begitu melihat Ify keluar dari ruangan itu dan berjalan berlawanan arah dengan teman – temannya. Dia bisa melihat kesedihan dari mata gadis itu. Rio langsung berlari mengejar Ify dan berdiri di hadapan perempuan itu. Rio menarik Ify dan membawanya ke taman sekolahnya.

“Apa hukumannya Fy ??”

            Ify menatap Rio sebentar kemudian menggelengkan kepalanya. Dia memberikan amplop yang diberikan Bu Ira tadi. Rio hanya menerimanya. Setelah menatap Ify, dia membukanya.

“Gak mungkin.”

“Nyatanya begitu Yo. Aku dikeluarkan.”

            Rio menatap Ify dengan tatapan yang .. entahlah. Antara kasihan, kecewa dan marah. Kelakuan Ify memang sudah keterlaluan, tetapi harusnya bu Ira tidak mengeluarkannya seenaknya.

“Fy, aku harus ngomong sama Bu Ira.”

“Yo, percuma. Aku yang salah. Aku memang pantas dapet hukuman itu.”

“Kamu jujur sama aku. Kamu gak pake obat obatan itu kan ?? Kamu gak ngerokok kan ??” Tanya Rio memaksa.

“Aku enggak pake obat – obatan itu. Tapi aku memang merokok Yo.”

            Rio meremas rambutnya frustasi. Dia benar – benar tidak bisa membuat Ify menjadi perempuan baik baik. Dia malah membuatnya berantakan. Harusnya dia selalu ada di sebelah Ify. Mungkin ini semua tidak akan terjadi.

“Aku minta maaf sama kamu atas semua kesalahan yang udah aku perbuat. Terima kasih juga kamu selalu ada buat aku. Terima kasih buat semuanya. Aku pergi.”

            Rio hanya menatap punggung Ify dan tidak berniat mengejarnya. Mungkin Ify butuh sendiri dulu, nanti dia akan kembali mengejar perempuan itu setelah keadaan Ify membaik. Ya, Rio akan terus mengejar perempuan itu. karena hatinya sudah memilih Ify. Dan selalu hanya Ify yang menempati hatinya sampai kapanpun.

*********

            Rio berdiri di depan pintu rumah Ify. Dia sudah bertekad untuk merubah semua kehidupan perempuan itu. Dia juga sudah siap untuk menerima apapun yang akan dilakukan Ayah Ify melihat kedatangannya. Dengan ragu, Rio memencet bel rumahnya, tetapi tangannya mengambang di udara. Dia memejamkan matanya mendengar suara teriakan dari dalam rumah disertai suara lemparan barang.

            Dengan cepat, Rio memencet bel rumah itu. Dan dia mendengar suara langkah kaki mendekat. Dan Rio hanya tersenyum paksa merasakan aura tidak enak saat Ayah Ify membukakan pintu untuknya dengan raut wajah marah.

“Siang om.”

“Mau apa kamu kesini.” Bentak Ayah Ify.

“Mau bertemu Ify sebentar om. Ify ada di dalam kan ??”

“Kamu jangan membodohi saya anak muda. Kamu menyembunyikan anak saya kan ?? Maksud kamu apa datang kesini sok polos pake nyari Ify segala. Jelas jelas dia ada sama kamu.” Ucap Ayah Ify dengan sinis.

Rio hanya mengernyit bingung.

“Om, Ify tidak bersama saya. Justru saya kesini mau bertemu Ify om. Memangnya Ify pamitnya kemana om ??”

“Kamu benar – benar nyari masalah sama saya. Pergi kamu.”

“Om. Rio bener – bener harus bicara sama Ify.”

“Pergi.” Bentak Ayah Ify lagi.

“Tapi Om ...”

            Sesaat kemudian, terdengar suara bruno mars ‘just the way you are’ mengalun di handphone Rio. Nada khusus yang di setting hanya untuk Ify. Dengan cepat Rio mengangkatnya.

“Halo Fy. Kamu dimana ??” Ucap Rio langsung saat menerima panggilannya.

            Setelah itu Rio mematung. Hanya mendengarkan suara di seberang sana mengucapkan beberapa kalimat yang membuat Rio terpaku. Kemudian dia menurunkan handphone’nya dari telingannya dengan lemas.

“Kenapa ?? Apa yang terjadi dengan anak saya ??”

Rio tersadar dan menatap Ayah Ify dengan wajah terlukanya. “Ify kecelakaan Om. Dia sekarang lagi dirawat di rumah sakit Kasih Bunda. Mobilnya masuk jurang om.”

“Apa ??”

**********

            Ayah dan Bunda Ify berlarian untuk sampai di depan UGD. Mereka benar – benar cemas dengan keadaan anak semata wayangnya itu. Mereka tidak menyangka hal ini bisa terjadi dengan satu satunya anak mereka. Rio menyusul di belakangnya. Pemuda itu bisa melihat wajah panik di wajah kedua orang tua Ify.

“Om sama tante tenang, berdoa aja yang terbaik buat Ify.”

            Rio tersenyum melihat tangan Ayah Ify yang menggenggam tangan Bunda Ify dengan erat. Sepertinya mereka tidak menyadarinya. Dibalik senyumnya Rio selalu berdoa agar Ify diberikan kesembuhan.

“Fy, loe harus sembuh. Loe harus liat kalau orang tua loe sangat sayang sama loe Fy. Mereka panik Fy. Please loe sembuh.”

            Sudah satu jam mereka menunggu, namun belum ada seseorang yang keluar dari ruang UGD dimana anak mereka sedang berada di dalam sana. Entah dengan keadaan seperti apa.

            Orang tua Ify bangkit begitu melihat salah satu dokter keluar dari ruangan itu. “Bagaimana keadaan anak saya dok ??”

Dokter itu menatap kedua orang tua Ify bergantian kemudian menghela nafasnya pelan. “Anak bapak dan Ibu baik baik saja, dia baru saja melewati masa kritisnya. Kepalanya terbentur dan tangannya patah, tapi kami sudah bisa mengatasinya. Tetapi kami tidak tahu dia akan membuka matanya kapan, berdoa saja supaya anak bapak dan ibu bisa sembuh dengan cepat.”

“Terima kasih dokter.”

“Sebentar lagi Ify akan kami pindahkan ke kamar pasien. Bapak dan Ibu bisa menunggunya.” Orang tua Ify mengangguk bersamaan. “Saya permisi dulu.”

            Di belakang orang tua Ify, Rio lagi lagi mengucap syukur. Selain karena Ify tidak apa – apa. Orang tua Ify di depan UGD masih dalam posisi yang sama. Berpelukan. Tidak ada yang membahagiakan melihat kedua orang tua Ify rukun kembali seperti ini. Ify pasti bahagia jika melihatnya.

*********

            Sudah hampir 1 minggu Ify dirawat dirumah sakit dalam keadaan mata tertutup. Ayah dan Ibu perempuan itu hanya bisa berdoa semoga Tuhan mengembalikan putri mereka ke dalam pelukan mereka kembali. Setiap hari, mereka selalu menjaga Ify tanpa kenal lelah. Berharap saat Ify membuka matanya, dia akan melihat orang tuanya ada disekitarnya.

“Om, tante. Sebaiknya kalian istirahat saja, biar Rio yang menggantikan menjaga Ify. Om dan tante butuh istirahat.”

“Tidak Rio. Tante masih mau disini.”

            Ayah Ify mendekat kemudian menepuk bahu Rio dan menyuruh Rio mengikutinya keluar ruangan. Rio hanya mengangguk kemudian mengikuti Ayah Ify keluar ruangan. Mereka duduk di kursi yang terdapat di koridor rumah sakit.

“Sebelumnya om mau minta maaf sama kamu Rio atas semua kesalahan yang udah om perbuat sama kamu.”

“Rio maafin kok om. Lagian om juga gak salah. Jadi om gak usah minta maaf.”

“Dan om berterima kasih sama kamu, om dengar dari pekerja di rumah om, kamu sebelumnya pacaran sama Ify. Kamu juga yang selalu menjaga Ify saat om sama tante jauh dari Ify. Om berterima kasih untuk itu.”

Rio menganggukkan kepalanya. “Om, sebenarnya Ify berubah karena om sama tante juga berubah.”

“Maksud kamu ??”

“Ify selalu mengharapkan perhatian om sama tante selama ini. Maka dari itu dia selalu tawuran dan berbuat seenaknya di sekolahan. Itu Cuma cara biar om sama tante nyadar kalau kalian masih punya Ify. Rio udah bilangin sama Ify kalau cara dia salah, tapi Ify gak mau denger om.”

“Iya om tahu. Om bener – bener nyesel Yo. Om mau minta maaf sama Ify. Dan berbaikan sama anak om lagi. Om mau Ify om yang dulu kembali Yo.”

“Om tenang aja. Ify pasti sembuh. Dan setelah Ify sembuh. Rio yakin, Ify akan menerima kehadiran om dan tante lagi.”

“Om percaya itu.”

Rio menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. “Om, om percaya kan kalau Ify gak make obat terlarang itu ??”

“Om percaya. Senakal nakalnya Ify. Dia gak berani berbuat itu.”

            Rio menganggukkan kepalanya seraya bernafas lega. Rio sudah berhasil membuat orang tua Ify menyadari kesalahan mereka. Rio tinggal harus menunggu perempuan itu untuk membuka matanya dan melihat perubahan di sekelilingnya.

“Rio, om sama tante pulang dulu. Kabarin om secepatnya kalau Ify bangun.”

“Pasti om. Hati hati di jalan om.”

            Rio masuk ke dalam ruangan Ify dan duduk di samping kiri perempuan itu. Rio menggenggam tangan Ify erat dan mengecupnya dengan penuh sayang.

“Fy, kamu harus buka mata kamu Fy. Kamu tahu, Ayah sama Bunda kamu udah baikkan. Mereka butuh kamu Fy. Kamu harus bangun.”

“Fy, aku cinta banget sama kamu. Aku sayang sama kamu Fy. Kamu harus bangun dan balas pernyataan cinta aku Fy.”

“Kamu tahu, aku bener bener gak bisa bahagia melihat kamu kaya gini. Aku gak bisa tanpa kamu Fy. Kamu harus bangun dan kita harus sama – sama lagi Fy.”

            Rio menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangannya yang menggenggam tangan Ify erat. Beberapa saat kemudian, Rio merasakan pergerakan dari tangan Ify. Dia langsung mengangkat kepalanya dan menatap Ify dengan tatapan terkejutnya. Dia langsung berlari untuk memanggil dokter.

            Rio tidak henti – hentinya untuk tersenyum di depan ruangan Ify. Tadi dia sudah menghubungi orang tua Ify. Dan mereka sekarang sedang dalam perjalanan. Betapa bahagianya mereka saat mendengar berita yang disampaikan oleh Rio. Rio tak henti – hentinya bersyukur atas kesembuhan Ify kali ini. Mungkin Tuhan hanya ingin membuat kedua orang tua Ify menyadari kesalahannya.

“Terima kasih Fy kamu udah mau bangun. Kamu pasti bahagia sekarang. Tuhan memberikan kamu kesempatan untuk merasakan kebahagiaan kamu yang sempet hilang.”

**********

            Rio sedang berada di taman rumah Ify. Perempuan itu sedang menyenderkan kepalanya pada bahu Rio. Mereka tak henti hentinya untuk tersenyum. Menyaksikan langit malam yang penuh dengan bintang.

            Mereka baru saja selesai makan malam. Dan sekarang mereka sedang menikmati waktu berdua di belakang rumah perempuan itu.

“Yo, makasih buat semuanya.”

Rio tersenyum dan mengusap rambut panjang Ify yang dibiarkan tergerai malam ini. “Sama – sama sayang. Itu tugas aku buat ngebahagiain kamu.”

“Aku bahagia akhirnya Ayah sama Bunda rukun lagi. Mereka udah kaya dulu lagi.”

“Aku ikut bahagia kalau kamu bahagia.”

“Ini juga karena kamu.”

            Rio menarik kepala Ify menjauh. Dan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Ify. “Aku juga terima kasih sama kamu, karena kamu masih mau sehat.”

Ify mengangguk dengan kedua pipi yang merona merah. Mungkin perempuan itu masih malu – malu saat dirasakan wajah mereka berdua begitu dekat. Bahkan nafas hangat Rio terasa di wajahnya membuat kedua pipinya semakin merona.

            Ify menutup matanya melihat Rio yang mendekatkan wajahnya. Dan dia merasakan sesuatu yang kenyal di bibirnya. Rio mencium bibirnya.

            Ify hanya bisa mengikuti permainan yang dibuat oleh pemuda itu. Ify bahagia karena bisa bersatu kembali dengan Rio setelah beberapa bulan kemarin mereka selalu terlibat dalam pertengkaran.

            Entah mengapa, perempuan itu menjadi optimis dalam menjalani kehidupannya sekarang. Ada orang – orang yang menyayanginya yang akan membantunya melengkapi kehidupannya. Ify sudah berjanji akan menjauh dari kegiatannya selama beberapa tahun terakhir. Tidak ada alasan untuknya tidak berhenti dari aktivitas menjijikan itu. Dia tidak akan menyia nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan yang telah memberikan kesempatan kedua untuknya hidup lebih lama.

“Ehem.”

            Ify membelalakan matanya dan mendorong Rio menjauh. Kedua pipinya memerah melihat Bundanya sedang berdiri di pintu perbatasan antara taman rumahnya dengan ruang tengah.

“Maafin Bunda sayang. Bunda tidak tahu kalau kalian sedang ...”

“Bunda.”

            Wanita paruh baya itu hanya tertawa. Kemudian menyuruh Ify dan Rio untuk ke ruang tamu karena ada beberapa hal yang akan dibicarakan oleh ayah Ify. Rio dan Ify hanya mengangguk mengiyakan.

“Ini semua gara – gara kamu.” Ucap Ify malu – malu.

“Kok gara – gara aku sih. Kamu juga menikmati tadi.” Rio langsung memperlihatkan gigi – giginya dengan tangan kananya yang mengangkat keatas menunjukkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk ‘V’ tanda perdamaian.

            Ify langsung meneriaki pemuda itu. Dan Rio langsung berlari masuk ke dalam rumah menghindari amukan Ify. Mereka tertawa bersamaan.

Lengkap sudah hidup Ify. Dan perempuan itu mulai membuka lembaran barunya untuk menulis perjalanan hidupnya yang penuh warna ini. Bersama dengan orang – orang yang dicintainya dan mencintainya.


***********

Alhamdulillah selesai juga cerita gaje ini :D
Gue butuh komentar kalian guys.
Sekali lagi gue minta maaf kalau endingnya gak sesuai sama yang kalian harapkan :)
Terima kasih buat kunjungannya ^^
Au revoir mes amis :*


Reaksi: