Text Select - Hello Kitty

Gue Kena Karma - Part 10 (RIFY)

Kamis, 19 September 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 07.10
selamat malam semuanya.
part kemarin kaya happy ending yah, padahal belum tau :D
gue cuma mau nyenengin loe semua aja di part kemarin, kan awal part juga udah nyesek tuh.
nah, sekarang gue mau nglanjutin cerbungnya.
tambah gaje deh pokoknya ..
langsung aja deh, HAPPY READING ALL :*
cekidot !!!

Siang ini kantin SMA STAR cukup ramai. Hampir semua kursi dipenuhi oleh seluruh siswa maupun siswi SMA STAR. Dan hal itu membuat gadis blasteran Amerika – Indonesia ini menjadi kebingungan. Di tengah kebingungannya, gadis ini mengedarkan pandangannya berusaha mencari tempat duduk yang masih tersisa. Dan dilihatnya ada satu kursi yang kosong yang terletak di deret terpojok di kantin ini.

Gadis ini melangkah ringan menuju ke meja terpojok itu, meja yang di huni oleh 3 orang gadis. Sedangkan gadis blasteran ini berusaha mengingat siapa mereka, seraya mengingat, gadis ini masih saja berjalan hingga mendekat kearah meja tersebut. Dan setelah sampai di depan meja terpojok itu, gadis ini langsung mengetahui bahwa ketiga gadis di hadapannya kini adalah siswi kelas XI IPS 1.

“Hai.” Ketiga gadis di hadapannya hanya memasang ekspresi bingung melihat kehadirannya. “ Mmm, sorry. Gue boleh duduk disini ?? semua kursi penuh soalnya. Tinggal ini yang masih tersisa.”
“Loe siapa ???”
“Gue anak baru di sekolah ini. Baru beberapa bulan gue disini. Loe masih inget ??? Gue masuk kelas XI IPA 1.”
“Oh, jadi loe anak baru itu. yang sempet jadi berita terlaris akhir akhir ini.” Ucap salah satu dari mereka dengan sinis.
“Sorry kalau gue mengganggu loe semua. Tapi gue Cuma pengin duduk disini.” Tanpa menunggu jawaban dari ketiga gadis di hadapannya, gadis blasteran ini langsung saja duduk di kursi yang masih tersisa di meja tersebut.
“Kita belum nyuruh loe duduk.” Bentak seorang gadis yang memakai kacamata minusnya.
“Iya gue tahu, tapi ini kursi bukan punya kalian kan ??? jadi buat apa loe semua ngelarang gue disini.” Jawabnya dengan santai seraya mengedarkan pandangannya kearah depan.
“Heh, loe berani sama kita.”
“Sialan.” Gumamnya pelan karena melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Pemandangan yang membuat hatinya menjadi panas. Tapi bentakan seseorang menyadarkan lamunanya.
“Apa loe bilang ???”
“Sorry sorry. Gue bukan bilang sialan ke elo semua kok, tapi ke Ify.”
“Ify ???”
“Iya, cewe yang lagi duduk berdua bareng Rio disana.” Ucap Zahra – gadis blasteran tadi seraya menunjuk kearah meja yang tak jauh dari mejanya. Dimana di meja itu ada Rio dan Ify serta ada Sivia dan Alvin yang sedang melakukan pendekatan.
“Loe benci sama Ify ???”
“He’emh, gue benci banget sama dia.”
“Gimana kalau loe kerja sama aja sama kita.”
“Maksudnya ???”
“Kita bertiga juga benci sama dia. sok kecakepan banget jadi orang. Berasa paling cantik aja tuh anak. Gabriel aja sampe kecantol sama dia. Bahkan sampe ngejar ngejar dia segala.” Desis salah satu gadis di antara mereka seraya menatap kea rah Ify yang sedang tertawa bersama Rio di meja seberang.
“Tuh cewe kayaknya mau main main sama kita. Dari dulu sampe sekarang selalu cari muka di depan cowo cowo. Cissh, cewe biasa aja kaya dia pantes banget buat di singkirin.”
“Dan sekarang tuh anak lagi nyari muka sama Rio. Padahal dari dulu dia benci banget sama Rio. Pake sok jaim nolak Rio lagi. Ujung ujungnya di gebet juga Rio’nya. gak tahu malu banget sih tuh cewe.”
“Gue yakin banget, pasti ada sesuatu nih yang bikin si Ify jadi suka sama Rio. Gak mungkin kan kalau dia bisa suka sama Rio, setelah apa yang dia lakuin ke Rio dulu.”
“Gue juga mikirnya gitu. kita mesti selidikin dulu nih apa mau Ify sama Rio. Dasar cewek gak tahu malu. Udah di kejar kejar Gabriel eh ujung ujungnya dia tolak. Kemarin kemarin benci sama Rio eh sekarang malah deketin dia. sebenernya mau tuh anak apa sih.”

Zahra – gadis blasteran tadi masih diam di tempatnya. Bahkan setelah makanan yang di pesannya datang pun dia masih diam, hanya membalas dengan ucapan terimakasih disertai dengan senyumnya kepada sang penjaga kantin yang mengantarnya tadi. Setelah itu dia menikmati pesanannya seraya mendengarkan apa yang di bicarakan oleh ketiga gadis yang masuk kategori cantik di hadapannya.

Gadis blasteran ini benar benar tidak percaya. Ify. Cewek yang masuk kategori the most wanted girl di sekolahnya ternyata mempunyai banyak musuh. Bahkan ketiga gadis di hadapannya ini sudah sangat membenci gadis itu. entah karena apa. Tapi dia juga merasa senang. Pangerannya yang Selama ini ia dambakan ternyata terjatuh juga di pesona gadis itu. Dan itu membuatnya benci. Benci kepada semua yang ada pada diri gadis itu.

Dia benar benar tidak terima, pangerannya yang selama ini ia impikan ternyata mempunyai perasaan kepada gadis itu, bahkan sampai 4 bulan lamanya. Dan selama itu pulalah pangerannya merasakan sakit hati karena selalu di campakkan oleh gadis itu. Dan sekarang, saat dirinya sudah benar benar mempunyai perasaan kepada pangerannya, gadis itu mendekatinya. Dan dengan gampangnya pangerannya menyambutnya dengan senang hati. Bahkan sampai melupakannya.

Hal itu membuatnya bertambah kesal dengan kelakuan Ify. Dia ingin sekali bisa membalas apa yang telah di lakukan oleh gadis itu kepadanya. Tentunya Zahra juga ingin sekali bisa mendapatkan hati pangerannya kembali. Gadis blasteran ini benar benar sudah amat sangat marah kepada gadis itu. dia benar benar ingin menghancurkan Ify. Tepukan pelan di bahunya membuatnya tersadar dari lamunannya.

“Loe kenapa diem aja ???”
“Ah, nggak papa kok. Kenapa ???”
“Kita belum sempet kenalan kan ??? Kita mau kok bantuin loe buat singkirin Ify. Berhubung kita bertiga juga udah sebel banget sama tuh anak. Gimana ??? Loe mau temenan sama kita ???”
“Boleh. Asal gue bisa rebut Rio lagi dari Ify.”
“Loe suka sama Rio ???”
“Dari pertama gue masuk ke sekolah ini gue emang udah suka sama Rio.”
“Ohh, jadi itu alesan loe benci sama cewek gak tahu malu itu yah.” Zahra hanya menganggukan kepalanya. “Okeh deh, no problem loe suka sama Rio. Yang penting gue gak suka sama dia.”
“Eh, gue juga suka tahu sama Rio.” Ucap gadis berkacamata.
“Loe suka sama Rio ???” Tanya Zahra kaget.
“Gak gak. Bohong banget, loe kan udah punya Riko Feb. Mau gue bilangin sama dia ???”
“Jangan dong Pris, loe jahat banget sama gue. Iya iya, gue bakal ngelupain Rio.”
“Nah gitu dong. Oya loe Zahra kan ???”
“Iya. Loe semua siapa ???”
“Gue Febby.” Jawab gadis berkacamata itu.
“Gue Prissil.”
“Gue Oik.”
“Gue tahu loe semua kok, loe semua anak XI IPS 1 kan ???”
“Yaps, dan kita bertiga itu musuh bebuyutan Ify. Dari awal masuk kita bertiga juga udah sebel sama dia. Loe mau kerja sama nggak sama kita.”
“Boleh. Kalau tujuan kita sama kenapa nggak. Gue juga sebel sama dia.” Mereka pun tersenyum kemenangan seraya melihat kearah Rio, Ify, Alvin dan Sivia yang sedang bercanda tawa. Ide jahat telah melintas di otak mereka semua. Dan itu akan membuat salah satu penghuni meja seberang mengalami masalah karena udah berurusan sama cewe cewe paling sadis di SMA STAR ini.

***************
Siang ini, cuaca di sekitar SMA STAR sedang panas panasnya. Maka dari itu, gadis berdagu tirus ini lebih memilih untuk duduk di koridor sekolah yang tempatnya tidak dapat terjangkau panas matahari. Ify – gadis berdagu tirus ini sedang menunggu Mario Stevano yang katanya lagi ada urusan sebentar dengan sahabatnya – Alvin, tapi sampai sekarang anak itu belum menampakkan batang hidungnya juga.

Berkali kali juga gadis cantik ini melirik kearah jam tangannya yang bergambar strawberry yang melekat di tangan mulusnya, dan berkali kali juga Ify melihat kearah handphone’nya berharap ada panggilan atau sms dari pemuda itu, tapi nyatanya, sedari tadi tidak ada satupun sms yang masuk atau panggilan yang masuk ke handphone’nya. Ify hanya menghela nafas dan menghembuskannya secara kasar karena sudah bosan menunggu pemuda yang sampai sekarang belum menunjukkan dirinya.

Sudah hampir 1 jam gadis cantik ini menunggu pemuda itu – Rio. Karena sudah merasa bosan, gadis cantik inipun menggapai handphone’nya dan menekan tombol 5 yang langsung menghubungkan dirinya dengan pemuda itu.

“Rio, angkat dong. Loe dimana sih.” Gumamnya sebal seraya mondar mandir di depan sofa yang ia duduki tadi. “Ck, kemana sih nih anak.” Kesalnya seraya melempar handphone’nya kearah sofa yang ia duduki tadi. Untung itu sofa, coba kalau kursi kayu seperti di kelasnya, pasti handphone itu sudah berkeping keping karena di banting oleh pemiliknya.

“Ehem.”

Suara deheman itu berhasil membuat gadis cantik ini mengubah posisinya menghadap sang empunya. Ternyata bukan orang yang di tunggunya sedari tadi, tapi orang yang paling dibencinya sampai saat ini gara gara kejadian beberapa minggu yang lalu. Dia adalah pemuda yang dulu pernah di cintainya tapi ternyata hanya kekaguman biasa dan yang sekarang sangat ingin dihindarinya, tapi sekarang malah menunjukkan batang hidungnya tepat di hadapannya.

“Ngapain loe disini.”
“Oh, jadi itu balesan loe setelah apa yang loe lakuin ke gue selama ini. Dan sekarang setelah loe ketemu sama gue loe malah bersikap seolah olah dulu loe sama gue itu gak ada apa apanya.”
“emang gak ada apa apanya kan.” Pemuda itu hanya tersenyum sinis seraya melangkah maju mendekati Ify.
“Denger yah nona Allyssa Saufika Umari. Loe gak akan pernah bisa lepas dari gue setelah apa yang loe lakuin ke gue dulu. Gue gak terima loe nolak gue.” Desis pemuda itu seraya memandang Ify dengan tatapan tajamnya.
“Denger juga yah Tuan Gabriel Stevent Damanik. Dulu itu gue gak pernah suka sama loe. Gue hanya kagum sama loe. tapi sekarang, gue bener bener benci sama loe.”
“Apa !! Benci. Loe bilang loe benci sama gue. Okeh gue terima. Tapi untuk urusan loe yang nolak gue dulu gue masih belum terima. Dan gue gak akan biarin loe bersenang senang di atas penderitaan gue sama cowo sok itu.”
“Yang loe maksud cowo sok itu siapa ???.”
“Siapa lagi kalau bukan Rio. Cowo yang dulu loe benci setengah mati. Tapi sekarang loe malah ngembaliin fakta. Loe fikir gue bakalan terima semua perlakuan loe ke gue. Gak. Gue gak terima. Seorang Gabriel Stevent itu gak pernah di tolak cewe. Kalau sampai itu terjadi, orang itu bakalan ngerasain akibatnya.”
“Gue gak takut.” Jawab Ify tegas seraya berusaha membuang rasa takutnya, sedangkan Gabriel hanya tersenyum mengejek mendengar jawaban gadis cantik di hadapannya.
“Gue bukan banci yang bisanya Cuma ngelawan cewe kaya loe. Gue gak akan pernah mengijinkan loe ataupun Rio bersenang senang atau sekedar tersenyum bahagia. Kalau gue gak bisa dapetin loe, cowo sok itu juga gak bisa. Dan loe harus denger satu hal, gue gak akan pernah ngalah sama yang namanya Mario Stevano. Gue itu jauh lebih hebat dari dia.”
“Oya ???” Ucap seseorang yang baru saja datang dan mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda yang ada di hadapannya. Reflek, Gabriel dan Ify mencari sumber suara, ternyata yang datang adalah pemuda yang sedari tadi dibicarakan oleh mereka berdua.
“Akhirnya loe dateng juga, gue fikir loe akan ninggalin cewe yang loe sayang ini.”
“Gue bukan pengecut kaya loe.” Gabriel yang mendengar kata pengecut langsung geram, dia menatap tajam cowo di hadapannya sekarang. Sedangkan Ify hanya mendengarkan perdebatan antara 2 pemuda tampan di hadapannya.
“Loe mau main main sama gue.”
“Sorry, gue gak ada waktu buat main main sama orang kaya loe.”
“Makin belagu aja loe.”
“Yang jelas, gue bukan orang yang kerjaannya mainin cewe sesuka hati kaya loe.”
“Denger yah MARIO. Gue gak akan pernah kalah sama loe dalam urusan cewe. Okeh, dulu gue gak pernah bisa ngalahin loe dalam bidang apapun. Tapi disini, di SMA STAR, gue itu lebih segala galanya dari loe.”
“Gue akuin itu, tapi tetep aja kemampuan loe itu gak ada apa apanya dari pada gue. Gue Cuma mau ngasih loe kesempatan supaya loe bisa ngerasain menang iel. Gue itu masih punya hati, gak kaya loe.”
“Bilang aja loe takut kalah. Selama ini loe emang gak pernah mau kan buat bertanding sama gue dalam segala bidang apapun. Kenapa. Apa alasan loe selama ini nolak buat bertanding sama gue karena loe takut kalah. PENGECUT.”
“Apa loe fikir, gue akan selalu merasa menang dari loe. Loe itu terlalu sombong iel, loe gak pernah mau kalah sama siapapun. Kaya loe ngeremehin gue dulu. Nyatanya, loe gak pernah bisa berhasil melawan gue kan.”
“Fine, gue akuin itu. tapi denger yah Mario. Loe itu sekarang gak ada apa apanya. Sama sekali gak ada kemampuan loe yang loe tunjukkin disini. gue yakin, kalau tebakan gue 100 % bener, loe takut kalah dari gue.”
“Gue gak ada waktu buat ngurusin itu. Terserah loe mau nebak kaya gimana. Yang jelas gue gak pernah ngerasa kalah dari loe. Gue Cuma bilang, kalau gue masih punya hati, gue gak akan pernah ngebiarin orang yang dulunya kalah tetep kalah sampai sekarang. Gue ngasih kesempatan sama orang yang dulunya selalu kalah supaya bisa ngerasain menang. Tapi ternyata loe itu orangnya gak tahu terima kasih.” Terang Rio sebelum berlalu meninggalkan koridor sekolah dengan menggandeng tangan Ify yang sedari tadi hanya diam mendengerkan perdebatan adu mulut antara dirinya dan musuh bebuyutannya.
“Brengsek.” Teriak Gabriel seraya memukul tembok yang ada di belakangnya dengan penuh emosi.
‘Loe lihat aja nanti, gue gak akan pernah ngebiarin loe menang dari gue. Gue bakal bikin perhitungan sama loe. Tunggu tanggal mainnya MARIO STEVANO.” Batin Gabriel seraya tersenyum licik seraya memandang kepergian musuh bebuyutannya.
“Sorry yah Fy. Gara gara gue loe jadi kena kejailan Gabriel.” Ucap Rio di tengah perjalanan mereka. Sedangkan Ify yang tadinya menunduk langsung mengalihkan pandangannya menatap pemuda tampan yang sekarang sedang menggenggam tangannya ini.
“Gapapa kok Yo. Tapi gue masih bingung sama ucapan loe berdua tadi. Emang loe sama Gabriel dulunya deket ???”
“Oh tentang itu, udah lah lupain aja, itu gak penting. Naik.” Suruhnya ketika dia sudah sampai di tempat motornya di parkir dan langsung menaikinya.
“Tapi …”
“Naik Ify. Atau gue tinggal sendiri disini.”
“Ish, tadi loe juga udah bikin gue nunggu. Gue bela belain buat nungguin loe sekarang loe seenaknya mau ninggalin gue.”
“Sorry sorry, tadi gue ada misi sama Alvin.”
“Dasar, sok pake misi misian segala lagi.”
“Beneran tahu.”
“Loe tahu gak, gue tadi nungguin loe hampir satu jam.”
“Iya, maaf cantik.”
“Gue bakalan maafin loe asal ada syaratnya.”
“Huh, syarat lagi.”
“Mau di maafin gak ??? Gak mau ??? Yaudah.”
“Iya iya. Apa syaratnya. Ice cream lagi ???” Ify langsung menganggukan kelapannya dengan semangat. Sedangkan Rio hanya tersenyum kecil menanggapinya seraya mengacak acak rambut Ify lembut. “Yaudah naik. Kita pergi ke kedai ice cream.”

Ify dengan sangat antusias menyetujui suruhan Rio untuk cepat cepat naik ke atas motornya. Rio hanya terkekeh melihat kelakuan gadis di belakangnya. Kalau urusan ice cream, gadis ini memang paling antusias. Apalagi cuaca yang sangat panas ini sangat mendukung sekali untuk mereka menikmati ice cream.

Sebelum menjalankan motornya Rio melepas jaketnya yang sedari tadi ia kenakan dan diserahkan ke ify untuk dipakainya. Tanpa banyak tolakan, Ify langsung menerimanya dan langsung memakainya karena cuaca memang sedang panas panasnya. Di belakang, dia hanya tersenyum seraya memeluk pinggang Rio pada saat motor pemuda tampan ini melaju membelah jalanan ibu kota.

***************
Rio dan Ify sekarang sedang berada di kedai ice cream. Seperti janji Rio tadi, dia akan mentraktir Ify untuk makan ice cream. Sedangkan gadis cantik yang sekarang sedang bersamanya dengan sangat antusias memesan ice cream’nya dan memakannya dengan semangat. Rio hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Ify.

“Kalau makan ice cream yang bener dong, jangan kaya anak kecil gitu.”
“Emangnya kenapa ???” Tanya Ify yang tidak mengerti maksud ucapan Rio.
“Tuh, wajah loe belepotan karena ice cream’nya.”
“Ya bersihin dong Rio.”
“Kok jadi gue yang bersihin.” Protes Rio.
“Ish. Biasanya kan kalau cowo cewe lagi makan ice cream terus cewenya belepotan karena ice cream itu di bersihin sama cowonya.”
“Nah, itu kalau buat orang yang lagi pacaran. Gue sama loe kan gak pacaran, makanya bersihin aja sendiri.”
“Ish, gak ada romantic romantisnya banget sih. Loe kan suka sama gue, jadi wajar dong kalau loe yang bersihin.”
“Ngarep banget sih gue yang bersihin. Loe beneran mau gue yang bersihin ???” Tanya Rio dan membuat Ify mengangguk. “Okeh, gue bersihin. Tapi ada syaratnya.”
“Syarat ??? Kok pake syarat syarat’an segala.”
“Loe juga tadi. Gantian dong.”
“Dasar gak mau kalah. Okeh, apa syaratnya.”
“Tembak gue dulu disini.” Ucapan Rio yang satu ini membuat Ify membelalakan matanya tidak percaya.
“Loe gila ??? Ada juga cowonya yang nembak cewe. Nah ini, loe malah nyuruh gue tembak loe duluan.”
“Ya kan lagi jamannya. Udah buruan.”
“OGAH. Mending gue bersihin sendiri aja.” Ucap Ify kesal seraya mengambil tissue yang ada di atas meja dan mencabutnya dengan kasar.
“Marah yah.”
“Menurut loe ???”
“Maaf deh, kan gue Cuma bercanda.”
“Bodo.”
“Yah Fy. Kok marah beneran sih. Maafin yah. Janji deh gak akan ngulangin lagi.” Bukannya memaafkan, Ify malah memalingkan wajahnya kearah lain. “Fy, pake syarat deh, gue janji bakal kabulin.”
“Bener ???” Rio mengangguk dengan cepat. Daripada harus dicuekin berminggu minggu mendingan berkorban deh. Batinya kesal. “Okeh, loe harus bantuin gue kalau ada tugas sekolah. Dan satu lagi, loe wajib ngajarin gue tentang mapel yang gak gue ngerti kalau gue mau ulangan. Deal.” Lanjut Ify seraya menjulurkan jari kelingkingnya kearah Rio.
“Oke deal.” Ucap Rio seraya menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ify. Kemudian mereka kembali menikmati ice cream’nya dengan senyuman yang masih terukir di bibir masing masing.

***************
Beberapa hari ini hubungan Rio dan Ify bertambah dekat. Dan itu membuat banyak pihak merasa senang dan ada juga yang merasa terganggu. Tapi sepertinya kedua insane ini tidak perduli dengan tanggapan orang lain. Terlebih Ify, dia sepertinya tidak akan pernah mengijinkan siapapun untuk merusak hubungan tanpa status’nya dengan Rio. Gadis cantik ini ternyata benar benar cinta mati kepada pemuda tampan itu.

Setiap hari Ify selalu membawa bekal untuk Rio. Karena dia yakin, pemuda itu tidak pernah sarapan pagi di rumah. Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali, dia tidak akan pernah membiarkan Rio terbaring lemas di rumah sakit lagi. Dan Rio dengan senang hati menerima bekal yang di bawakan oleh Ify. Mengingat itu, Ify jadi tersenyum geli sendiri, dulu, pemuda itu yang selalu membawakan bekal roti coklat untuknya. Tapi sekarang, dirinyalah yang membawakan bekal untuk pemuda itu.

Mereka berdua tidak tahu, jika ada beberapa orang yang tidak suka dengan kedekatan mereka. Ify juga tidak menyadari jika dirinya mempunyai banyak musuh di sekolahnya sendiri. Karena selama ini, tidak ada seorangpun yang berani melawannya atau berurusan dengannya. Apalagi dulu most wanted boy – Gabriel juga berpihak pada gadis ini. Tapi sekarang sepertinya Gabriel juga termasuk dalam salah satu musuh Ify di sekolahnya. Pemuda itu tidak terlalu membenci Ify, tapi dia amat sangat membenci pemuda yang sekarang sedang dekat dengan gadis cantik itu.

Sore ini, SMA STAR berlatih seperti biasanya. Siswi yang mengikuti cheers benar benar merasa gembira hari ini, karena sang guru killer yang biasanya mengawasi mereka dalam berlatih tidak hadir karena ada keperluan lain. Tentu saja mereka sangat gembira. Dan mereka bisa mendengarkan penjelasan sang pelatih dengan santai, tidak seperti biasanya yang selalu tegang dalam mendengarkan penjelasan sang pelatih.

Latihan cheers hari ini juga lumayan berkesan. Mereka mendapatkan penjelasan yang lebih banyak dari sang pelatih, mungkin efek karena tidak adanya guru killer yang mengawasi mereka latihan. Dan sore ini mereka mendapatkan banyak gerakan baru yang diajarkan oleh sang pelatih. Setelah jam latihan cheers habis, mereka semua langsung berhamburan keluar ruangan untuk mengganti baju. Tidak seperti keempat gadis ini, mereka masih betah berada di dalam ruangan untuk sekedar mengobrol satu sama lain.

“Fy, hubungan loe sama Rio gimana ??” Tanya Sivia seraya mengusap keringatnya yang keluar dari dahinya.
“Hubungan gue sama Rio makin baik kok.”
“Kapan resminya ???” Kali ini Shilla’lah yang bertanya. Gadis cantik itu sibuk dengan BB’nya tanpa menoleh kearah Ify dan teman temannya yang lain.
“Kebiasaan banget sih loe. gak bisa lepas dari BB apa.” Sungut Agni yang melihat tingkah sahabatnya yang satu itu.
“Hehehe. Gak bisa Ag. BB ini tuh kaya separuh hidup gue. Jadi kalau BB ini gak sama gue, gak tahu deh hidup gue kaya gimana.”
“Lebay banget sih loe.”
“Fakta Ify. Loe kaya baru temenan sama gue aja deh. lagian setiap orang kan punya benda kesayangan sendiri sendiri.”
“Gue gak punya.”
“Iya. Yang loe punya Cuma cowo kesayangan. Siapa lagi kalau bukan Rio.”
“Ish, bahasa loe gak enak banget sih Shill.” Ucap Agni seraya menahan tawanya membuat Ify manyun.
“Ya kan bener kata gue. Sivia punya diary yang selalu di bawa kemana kemana kan. Loe juga Ag, loe selalu bawa bola basket loe kemana mana. Nah, kalau Ify. Yang dia bawa kemana mana kan Cuma Rio. Masa iya Rio gue samain sama benda kesayangan. Dia kan orang, jadinya kan cowo kesayangan.”
“Gak gitu juga kali Shill. Masa iya gue ke kamar mandi Rio ngikut. Lagian loe aneh aneh aja. Rio gue bawa kemana mana. Loe fikir dia apaan.”

Ucapan Ify membuat ketiga sahabatnya tertawa terbahak bahak. Sedangkan yang jadi korban hanya mendengus kesal seraya menatap ketiga sahabatnya yang masih tertawa. Sivia langsung menghentikan tawanya karena deringan handphone’nya yang bergetar. Pertanda ada pesan singkat yang masuk.

“Guys, gue duluan yah. Alvin udah nunggguin gue di luar nih.”
“Ciyeee yang di jemput pacar.”
“Belum tahu.”
“Bentar lagi kan Vi. Loe bilangin tuh sama cowo loe. kalau jadian jangan lupa PJ’nya.”
“Doain aja yah Agni ku sayang. Gue juga gak sabar pengin banget jadian sama Alvin. Secara gue udah ngefans sama dia dari pertama masuk SMA ini, dan baru bisa deket sekarang.”
“Iya deh percaya. Yang lagi jatuh cinta.”
“Kaya loe gak aja Fy. Yaudah deh guys, gue duluan yah. See you.” Pamit Sivia dan langsung berlari kecil ke luar ruangan.
“Yaudah deh Fy. Gue juga balik dulu yah. Loe mau nungguin Rio disini ???” Ify langsung mengangguk kecil seraya meminum soft drink’nya.
“Kita tinggal gak papa ???”
“Gak papa guys, loe berdua duluan aja. Gue nunggunya disini aja deh yah.”
“Yaudah kalau gitu, gue sama Shilla pamit yah Fy. Hati hati loe disini.”
“Siap Ag, loe berdua juga hati hati.”
“Gue duluan yah honey. Bye.” Ucap Shilla seraya menarik tangan Agni keluar ruangan dengan tangan kirinya melambai kearah Ify.

Ify hanya memainkan handphone’nya secara asal. Pemuda itu baru bangun tidur rupanya. Beruntung tadi Ify masih sempat telefon Rio, kalau tidak, mungkin dia akan tiba di rumah malam hari. Jarak rumah Rio dengan sekolah itu lumayan jauh. Dan Rio baru bersiap siap untuk ke sini, tandanya dia masih harus menunggu Rio kurang lebih satu jam lagi.

Sebenernya tadi Ify sudah membujuk Rio supaya jangan menjemputnya, karena sepupunya masih tinggal di rumahnya dan dia bisa meminta bantuan kepada sepupunya – Cakka untuk menjemputnya. Tapi pemuda itu tetap pada pendiriannya untuk menjemputnya sendiri. Jadilah sekarang dia harus menunggu Rio disini sendirian. Ify hanya berharap pemuda itu sampai di sekolahnya lebih cepat dari dugaanya.

Karena mendengar bunyi sepatu yang berjalan mendekat, refkeks Ify melihat kearah sang pemilik sepatu yang sepertinya bukan hanya satu orang. Setelah pemilik sepatu itu sudah semakin dekat dan dengan jelas bayangannya dapat tertangkap oleh mata Ify, gadis cantik ini tahu siapa yang datang. Ify hanya menghembuskan nafasnya secara kasar melihat siapa yang datang sekarang. Prissil, Febby, Oik dan yang terakhir adalah Zahra.

“Mau ngapain loe semua kesini.” Ucap Ify dengan nada sinis.
“Lagi sendirian aja loe masih berani ngelawan.” Ucap Febby gak kalah sinisnya dengan Ify.
“Ck, gue gak akan pernah takut sama orang kaya loe. Ngerti.”
“Ify Ify. Loe nyadar diri kenapa sih. Loe itu jangan sok kecantikan yah. Jangan karena loe kapten cheers loe bisa seenaknya disini.” Bentak Zahra.
“Gue gak seenaknya.” Jawab Ify santai
“Sepertinya loe nantangin kita kita. Denger yah nona Allyssa. Loe itu lagi sendirian disini. jadi jangan sok berani. Loe fikir kita akan ngebiarin loe hidup normal setelah apa yang loe lakuin ke Pangeran gue.” Ucap Prissil.
“Gue gak habis pikir sama loe. Dulu, loe seenaknya sama Rio, tapi sekarang loe malah ngedeketin dia. Gue yakin banget, loe pasti punya rencana sendiri kan.” Bentak Zahra.
“Pengecut loe semua. Beraninya Cuma keroyokan. One by one dong.”
“Sepertinya kapten cheers tercinta ini nyari gara gara sama kita. Lakuin guys.” Ucap Prissil yang membuat ketiga sahabatnya langsung mengepung Ify. Febby dan Oik memegang kedua tangan Ify supaya gadis itu tidak bergerak sedangkan Zahra menarik rambut Ify ke belakang membuat Ify meringis kesakitan.
“Gimana nona Allyssa. Apa loe masih sanggup buat ngelawan kita. Loe denger yah, gue gak akan pernah ngebiarin loe bahagia sama siapapun setelah apa yang loe lakuin sama Gabriel.” Desis Prissil seraya menatap tajam Ify yang sedang meringis kesakitan.
“Loe semua pengecut tahu gak. Lepasin gue.” Teriak Ify yang membuat Zahra tambah menarik rambut Ify ke belakang.
“Loe mau minta bantuan sama siapa nona Allyssa. Disini gak ada siapapun. Jangan karena Rio yang udah loe kuasain lagi loe bisa seenaknya.” Bentak Zahra.
“Gue gak pernah merasa sok atau lebih menang dari kalian semua. Gue juga gak bermaksud buat nyakitin Gabriel. Dan asal kalian semua tahu, bukan gue yang nyakitin dia, tapi dia yang nyakitin gue. Loe semua gak tahu aja gimana kasarnya Gabriel sama gue.”

PLAAAAKKK

Dengan kasarnya, Prissil menampar Ify dengan lumayan keras membuat sudut bibirnya berdarah. Ketiga sahabatnya tersenyum penuh kemenangan melihat kejadian itu, sedangkan Ify hanya meringis kesakitan. Dia memang sudah tahu kalau akan begini akhirnya. Karena keempat gadis yang sedang mengepungnya sekarang dikenal dengan geng yang selalu berbuat kasar dan tidak mempunyai hati.

Kecuali Zahra, karena gadis itu baru beberapa bulan disini. Jadi semua orang masih tidak tahu sifat gadis itu yang sebenernya. Bahkan kaum adam pun masih banyak yang menyukainnya. Tapi entah kenapa sepertinya gadis itu tidak tertarik kepada semua kaum adam yang menyukainnya, dia hanya tertarik kepada seorang Mario Stevano. Dan mungkin karena hal itu, dia jadi masuk ke geng yang terkenal dengan kejahatannya dan perbuatan kasarnya ini. Lebih tepatnya Zahra menjadi seperti ini karena Allyssa Saufika Umari yang berhasil merebut hati sang pangerannya.

“Gabriel berbuat kasar sama loe karena loe emang pantes dikasarin. Kenapa ??? Loe gak terima dengan perlakuan kasar Gabriel sama loe. dan loe fikir semua kaum adam akan berbuat selembut lembutnya untuk menarik perhatian loe. loe itu banyak tingkah. Sok kecakepan. Loe fikir semua kaum adam akan bertekuk lutut sama loe.”
“Loe ngerti cewe murahan.” Desis Oik seraya menarik tangan Ify lebih keras lagi.
“Gue bukan cewe murahan.” Teriak Ify di tengah tengah kesakitannya. Tubuhnya lemas. Kepalannya pusing karena tarikan Zahra pada rambutnya yang bertambah keras. Dan kedua tangannya juga terasa sakit karena kedua gadis yang memegangnya sekaligus menyiksa tangannya. Serta bibirnya yang terasa sakit karena tamparan tadi.
“Loe itu cewe murahan, gak tahu malu. Cewe yang kerjaannya Cuma godain orang.” Ucap Febby.
“Cewe yang kerjaaannya Cuma cari perhatian cowo, tebar pesona dan sok segalannya di sekolah ini.”
“Lepasin gue.”
“Loe mau di lepasin ??? Apa loe fikir gue dengan mudahnya melepaskan loe yang udah berbuat di luar batas sama kaum adam disini. gue gak akan ngebiarin loe hidup kalau sampai Gabriel masih ngejar ngejar loe. Kalau sampai itu terjadi, gue gak akan segan segan buat …” Ucapan Prissil terputus karena merasakan getaran handphone. Dengan paksa, gadis ini mengambil handphone di saku baju Ify. Ternyata ada pesan singkat dari Rio.
“Guys cabut. Rio lagi kesini.”
“Tunggu bentar. Loe denger sekali lagi yah Ify. Gue gak akan segan segan buat hancurin apa yang udah loe punya sekarang kalau loe sampe nekad buat cerita sama Rio kalau kita berempat pelakunya. Ngerti.” Desis Zahra
“Jangan cerita cerita sama siapapun tentang kejadian ini. Kalau ada yang tahu kalau kita berempat pelakunya, gue akan hancurin orang orang yang loe sayang sekarang. Termasuk Rio dan ketiga sahabat loe. Guys cabut.” Ucap Oik dan segera berlari ke luar ruangan diikuti oleh ketiga sahabatnya.

Sedangkan Ify hanya menangis di dalam ruangan itu. Sedari tadi dia memang menahan air matanya supaya jangan keluar dan dilihat oleh keempat gadis gila tadi. Tapi sekarang setelah mereka pergi, Ify bisa menangis sepuasnya. Untung aja Rio cepat cepat datang. Walaupun datangnya kurang cepat tapi Ify masih bersyukur karena dia tidak disiksa lebih sadis lagi oleh mereka.

Pintu ruangan cheers terbuka, muncullah sosok yang ia tunggu sedari tadi. Tapi Ify masih belum menyadarinnya, dia masih menundukkan kepalannya dan terisak kecil karena tangisannya. Rio yang melihat itupun menjadi heran dan bingung. Kenapa gadis di hadapannya sekarang malah menundukkan wajahnya ketika ia datang, apa ia sudah terlalu lama untuk sampai ke sekolah dan gadis di hadapannya menjadi marah.

Tapi yang membuat Rio bertambah bingung adalah karena gadis di hadapannya menundukkan wajahnya dengan rambut yang menutupinnya seraya terisak. Apa dia benar benar sudah keterlaluan sampai membuat gadis ini sampai menangis seperti itu. Dengan ragu, Rio mengusap bahu Ify membuat Ify mendongakan kepalanya. Begitu melihat siapa yang datang, Ify langsung memeluk Rio dengan erat.

Rio benar benar tidak menyangka Ify akan memeluknya seerat ini. Sepertinya ada sesuatu yang membuat gadis ini begitu ketakutan sampai menangis seperti ini, tentunya bukan karena menunggu dirinya yang sudah amat sangat lama untuk sampai disekolahnya. Apalagi tadi Rio melihat sudut bibir Ify yang berdarah. Pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum ia datang. Dengan lembut Rio membalas pelukannya dan mengusap punggung Ify lembut berusaha menenangkan gadis cantik ini.

“Kenapa Fy ??? Apa yang terjadi sama loe sampe bibir loe berdarah kaya gini.” Tanya Rio cemas setelah pelukannya terlepas dan gadis di hadapannya sudah cukup tenang untuk diberi pertanyaan. Tapi ify malah menggelengkan kepalanya.
“Jangan bohong Fy, gak mungkin gak kenapa napa. Bibir loe tuh berdarah.”
“Gue gak papa Rio. Gue mau pulang.” Ucap Ify pelan.
“Tapi Fy …”
“Yo please. Gue mau pulang sekarang. Jangan Tanya lagi gue kenapa. Karena gue gak papa Rio.”
“Oke kita pulang.” Ucap Rio pasrah seraya memapah Ify menuju ke parkiran motornya.

Rio merutuk dalam hati. Kenapa dia tidak bisa menjaga gadis yang dicintainya ini, kenapa dia membiarkan gadisnya mengalami kejadian seperti ini. Ini semua salahnya. Kalau saja tadi dia tidak ketiduran pasti Ify tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Ini semua memang salahnya.

“Fy, pake jaket gue yah.” Ucap Rio setelah sampai di parkiran seraya melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Ify. Ify pun dengan pasrahnya memakai jaket Rio. Karena tubuhnya sekarang sedang lemas karena sakit di beberapa bagian tubuhnya masih kerasa sampai sekarang. Jadi, dia tidak bisa membalas ucapan Rio itu.

Setelah Ify menaiki motor Rio bagian belakang jok motornya. Rio langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Dia merasakan kalau tangan Ify memeluk erat pinggangnya. Kepala gadis itu juga menyender di punggungnya. Dan dia juga merasakan jika punggungnya basah, itu pasti air mata Ify. Gadis berdagu tirus itu menangis lagi. Rio tidak tahu apa yang membuat gadis yang di cintainya ini dalam keadaan seperti ini. Dia ingin tahu apa yang terjadi, tapi melihat Ify yang sepertinya belum mau bercerita, Rio mengurungkan niatnya. Dia hanya berharap semoga luka gadis ini tidak terlalu parah.

Gimana teman ??? Makin jelek kan ??? Emang.
Hari ini cukup satu part aja yah. tapi panjang kan ???
Sorry juga baru sempet post, hehehe :D
Jangan lupa LIKE dan SARAN'NYA yah guys :*
thanks for readers :*
Reaksi: