Text Select - Hello Kitty

Gue Kena Karma - Part 18

Kamis, 20 Februari 2014 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 20.01
Lanjut !!!
Langsung aja , happy reading for readers :*
I Hope You like this story.



Ify sedang menyusuri koridor sekolahnya. Sesekali matanya melirik kesana kemari untuk mencari seseorang. Pasalnya, dirinya sudah berkeliling di sekolahnya hanya untuk bertemu dengan orang itu, tapi sedari tadi tidak ada tanda tanda munculnya orang yang ingin dicarinya. Gadis cantik ini juga sudah berusaha untuk menanyakannya pada beberapa orang yang ia temui. Tidak perduli apa tanggapan mereka terhadapnya setelah dirinya selesai bertanya.

“Mana sih tuh orang. Mana gue telefon gak di angkat lagi.” Dumel Ify. Dia masih berjalan santai. “Alvin.”

Sedangkan sang pemilik nama yang merasa namanya di sebut langsung mencari asal suara itu. Gadis cantik yang berada di sampingnya juga ikut menoleh ke asal suara itu – Sivia. Setelah mengetahui siapa yang memanggilnya. Alvin dan Sivia langsung menghampiri orang itu yang ternyata adalah sahabatnya sendiri.

“Ngapain loe teriak teriak kaya gitu. Gak punya kerjaan ???”
“Ish, gue mau nanya sama loe berdua.”
“Emang kenapa Fy ???”
“Rio. Dari tadi gue nyariin dia tapi gak ketemu. Loe berdua tahu dia dimana gak ???”
“Tumben loe nyariin Rio. Biasanya juga Rio yang nyariin loe.”
“Itu dulu Alvin. Sekarang beda lagi.”
“Oh, jadi loe sekarang udah mulai jatuh cinta nih sama sobat gue. Hmm, ternyata karma masih berlaku yah. Gimana yah rasanya kena karma.”
“Gak usah nyindir deh. Bukannya bantuin gue nyari tahu Rio dimana, malah nyindir gak jelas kaya gitu.”
“Hehehe, Sorry deh Fy. Loe udah cari di lapangan indoor belum ???”
“Udah, gue udah nyari tahu di berbagai tempat. Tapi dia gak ada. Masa iya, gue harus ngumumin lewat speaker sekolah.”
“Ide bagus tuh. Gue yakin banget, loe sama Rio bakalan jadi berita super Hot setelah loe ngelakuin hal itu.”
“Please deh Via. Seneng banget loe lihat gue sengsara. Udah buruan Alvin, loe kasih tahu gue, dimana Rio sering kabur kalau jam kosong kaya gini.”
“Kalau gak ke lapangan indoor ya ke taman. Kadang juga ke kantin. Tapi ke perpus bisa jadi sih. Soalnya tuh anak suka numpang tidur disana. Loe udah …”
“Thanks banget Alvin. Gue duluan yah. Bye.” Ucap Ify memotong pembicaraan Alvin seraya berlari menjauh dari pasangan adam dan hawa itu. Sedangkan Alvin dan Sivia hanya diam seraya memandang punggung gadis itu yang semakin menghilang.
“Tuh anak kenapa sih. Aneh banget.”
“Tahu. Hebat juga si Rio bisa buat Ify gila kaya gitu.”
“Udah ah yuk. Aku laper. Katanya mau ke kantin.”
“Yaudah yuk.”

Alvin berjalan untuk menuju kearah kantin. Tangannya masih menggenggam tangan kekasihnya itu dengan lembut. Selama ini, hubungan kedua insane ini baik baik saja. Jika ada masalah pun hanya masalah kecil karena keegoisan dari keduanya yang tidak pernah hilang sampai sekarang. Tapi sifat dewasa Sivia dapat mengimbangi sifat Alvin yang terlalu cuek itu.

Cinta itu memang membuat semua kaum adam dan hawa yang merasakan akan menjadi buta. Buta dalam segala hal. Bahkan jika salah satu dari mereka berbuat kesalahan fatal pun pasti akan di anggap sebagai ketidaksengajaan. Dan dengan gampangnya dimaafkan oleh yang lain. Dan jika salah satu dari mereka sedang ada masalah, maka yang lainnya dengan fasih menjawab ‘When you need me, I promise I will be there for you and never leave you alone’. Terdengar berlebihan, tapi itulah kenyataannya yang terjadi pada pasangan pasangan lainnya.

Ify melangkah memasuki ruang perpustakaan. Saat mendengar jawaban Alvin tadi, dia yakin jika pemuda itu berada di sini. Karena di lapangan indoor, di taman, dan di kantin sudah ia datangi tapi pemuda itu tidak ada di sana. Bahkan dirinya seperti orang gila yang jika ada orang lewat, pasti dirinya akan bertanya tentang keberadaan pemuda itu.

Matanya menyusuri sudut ruangan yang ada di perpustakaan sekolahnya itu. berharap secepatnya menemukan dimana keberadaan pemuda itu. Dirinya hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan pemuda itu dan musuhnya semenjak SMP – Gabriel – kemarin sore. Bukan hanya itu. Entah mengapa, sedari pagi hingga sekarang – menjelang pulang sekolah dirinya tidak bertemu dengan pemuda itu malah membuatnya rindu.

Ify sekarang sedang berjalan di bagian belakang perpustakaan, setelah mengambil buku apa saja yang bisa menjadi pegangannya – modus supaya tidak di tegur oleh sang penjaga perpustakaan – dirinya melangkah mendekati seorang pemuda yang wajahnya berada di atas lipatan tangannya yang ia taruh di atas meja.

“Hmm, gue cariin kemana mana, tahunya loe disini.” Dumel Ify seraya duduk di sebelah pemuda itu yang ternyata orang yang dicarinya sedari tadi. Bukunya ia letakkan di atas meja perpustakaan dan matanya menatap pemuda itu yang ternyata sedang tertidur.
“Gue ngerasa bodoh banget tahu gak. Gimana bisa gue dulu lebih milih Gabriel daripada loe. Kenapa gue nyadarnya baru sekarang. Mungkin kalau dari awal gue sadar, kita bakalan bersama sampai sekarang Yo.” Gumam Ify. Tangannya terangkat untuk menyentuh rambut pemuda itu – Rio, dan mengusapnya dengan penuh kelembutan.

Rio yang merasa ada seseorang yang menyentuhnya segera menggerakkan anggota tubuhnya, setelah bergerak sedikit, matanya terbuka dengan sempurna setelah sebelumnya mengerjap terlebih dahulu untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dilihatnya gadis yang dicintainya sedang menatapnya dengan senyuman yang masih terpeta jelas di wajah cantiknya. Rio tidak merubah posisinya. Tetap seperti awal – kepalanya berada di atas lipatan kedua tangannya dan menatap Ify.

“Ngapain disini ???” Tanya Rio pelan.
“Harusnya gue yang Tanya, loe ngapain tidur disini ???”
“Cape’. Gak ada tempat yang lebih enak lagi buat tidur selain disini.” Jawab Rio dengan matanya yang terpejam.
“Emang tadi malem tidur jam berapa ???”
“Jam 2 pagi.”
“Kok bisa. Ngapain aja ??? Bukannya kata loe kemarin gak ada tugas buat hari ini ??”
“Iya gak ada tugas kelas, tapi tugas buat Pentas seni ada. Emangnya loe gak tahu kalau gue ketua panitia pentas seni – pensi - tahun ini ??? Waktu gue di panggil sama Pak Anton dulu itu buat bahas masalah pensi nanti.”
“Bukannya Ketua Osis’nya Gabriel ??? Kenapa jadi loe yang jadi ketuanya ???”
“Ify. Tahun sebelum sebelumnya juga gak ada istilah ketua osis jadi ketua panitia pensi sayang. Ketua osis sama ketua panitia itu tugasnya beda. Gue juga gak tahu, kenapa jadi gue yang di pilih sama Pak Anton buat jadi ketuanya. Kalau mau tau Tanya aja sama pak Anton langsung.”
“Terus tugasnya apaan sampe loe tidur jam 2 pagi.”
“Di suruh buat proposal. Gara gara keasyikan main PS sama kak Chelsea gue jadi lupa kalau gue punya tugas dari Pak Anton. Ya jadi gue lembur deh sampe jam segitu.”
“Ck, Gue heran deh sama kak Chelsea. Dia kan cewe, kok hobby banget gitu main PS. Lagian gue kan udah pernah bilang. Cek dulu sebelumnya. Jangan karena gak punya tugas kelas, loe gak buka buku sama sekali.”
“Iya iya. Lain kali gue akan Periksa dulu. Udah ah, loe jangan gangguin gue. Gue ngantuk mau tidur lagi.”
“Ish Rio. Loe tahu gak sih, gue udah keliling sekolah Cuma buat nyariin loe. Dan hampir semua anak satu sekolahan gue tanyain tentang keberadaan loe. Loe fikir ngelakuin hal itu gak cape apa.”

Rio yang mendengarkan kalimat Ify yang terakhir langsung menegakkan tubuhnya menjadi duduk. Dia menatap Ify lama. Tidak menyangka jika gadis yang sekarang berada di hadapannya benar benar sudah bisa mencintai dirinya. Bahkan Ify rela mempermalukan dirinya sendiri depan semua warga sekolah hanya karena dirinya. Rio langsung memeluk Ify erat. Seakan akan tidak pernah mengijinkan gadis di hadapannya pergi dari pelukannya.

Rio menenggelamkan wajahnya pada rambut harum Ify. Untung sekarang mereka sedang berada di belakang perpustakaan yang jarang di kunjungi oleh siswa siswi lain karena rak bagian belakang hanya berisi buku buku pelengkap. Ify membalas pelukan Rio. Entah mengapa hatinya menjadi hangat dan merasa nyaman saat pemuda itu memeluknya. Belum pernah merasa sebahagia ini dengan pemuda lainnya. Hanya Rio yang bisa memberikan kehangatan itu.

“Thanks Fy. Thanks buat semua yang udah loe lakuin buat gue.”
“Gue minta maaf. Baru menyadari perasaan ini. Gue juga berterima kasih sama loe karena selama ini loe udah menyayangi gue dan mencintai gue sepenuh hati. Loe udah mau menunggu gue membuka hati gue buat loe. Thanks Rio.”
“Don’t remember a mistake, but remember how hard I do to make a smile for you.” Ify hanya menganggukkan kepalanya dalam pelukan Rio. Dia benar benar bahagia sekarang. Dan hanya Rio yang bisa membuatnya sebahagia ini.
“I’m happy, when you are beside me. Don’t go away from me. I’m afraid to loosing you.”
“Promise.” Rio melepaskan pelukannya dan mengacak acak rambut Ify lembut. Senyum terpeta di wajah keduanya. Walaupun status mereka masih sebagai ‘teman’ tapi mereka yakin suatu saat nanti status itu akan terganti dengan status yang mereka inginkan sekarang.
“Kenapa Gabriel bisa melakukan hal itu ???”
“Pengakuan Gabriel selama ini yang di tempel di madding sekolah ???” Ify langsung mengangguk. “Gue sama dia udah baikan kemarin sore. Dan dia mengakui semua kesalahan dia. Bahkan dia juga udah minta maaf sama gue. Dan dia juga janji gak akan pernah gangguin gue dan loe lagi.”
“Kok bisa ???” Rio langsung menceritakan semua hal yang terjadi kemarin sore bersama Gabriel. Ify hanya mengangguk anggukan kepalanya dan kadang memasang wajah kaget.

“Mmm, loe masih suka sama Sylvia ???” Tanya Ify ragu.
“Pertanyaan macam apa itu.”
“Gue serius. Loe bilang waktu loe bersama Dea pun loe belum bisa ngelupain Sylvia. Apa sampai sekarang loe masih belum bisa ngelupain dia ???”
“Kalau gue belum bisa ngelupain Sylvia, gak mungkin gue ngejar loe dari beberapa bulan yang lalu Ify. Gue beneran udah gak inget lagi perasaan gue dulu sama Sylvia. Gue juga gak punya perasaan apa apa lagi sama Dea. Gue Cuma punya perasaan buat Allyssa Saufika Umari Apa lagi sekarang dia udah jatuh cinta sama gue. Buat apa gue masih mengingat masa lalu gue.”
“Beneran ???” Rio mengangguk dengan pasti. “Gue seneng dengernya. Akhirnya Gabriel mau mengakui kesalahannya. Dan loe juga mau nungguin gue. Sampai gue bener bener cinta sama loe sekarang.”
“Kalau gue gak mau nungguin loe, sia sia dong perasaan gue selama ini sama loe. Lagian seorang Mario Stevano itu gak akan pernah mau mundur gitu aja sebelum apa yang dia dapatkan terkabulkan.”
“Iya deh percaya.”
“Kelas yuk. Udah mau bel pulang juga.” Ucap Rio seraya melihat kearah jam tangannya yang terpasang manis di tangan kirinya. Ify langsung mengangguk. Mereka langsung beranjak keluar dari perpustakaan. Tentunya dengan tangan yang bertautan satu sama lain.

***************
Kisah cinta yang dialami oleh pasangan pasangan lain memang tidak selalu sama. Ada yang kisah cinta mereka berakhir sad ending dan ada juga yang berakhir bahagia. Memang semua pasangan akan menginginkan kisah cinta mereka berakhir happy ending. Tapi apakah akan semuanya berakhir seperti itu ??? Jodoh sudah ada yang mengatur. Jika orang yang selama ini menemani kita dalam suka dan duka bukanlah jodoh kita, kita harus menerimanya. Walaupun akan berakhir dengan sakit hati.

Dan jika orang yang sama sekali tidak kita harapkan malah akan mendampingi hidup kita selamanya, kita juga harus menerimanya dengan senang hati. Bukankah semua pasangan akan berakhir bahagia jika keduanya memiliki perasaan yang sama ??? Belajar mencintai seseorang yang sudah ditakdirkan menjadi pendamping hidup kita memang wajib dilakukan. Karena itulah Cinta. Cinta memang rumit, tapi ada kalanya kita akan mengalami kebahagiaan jika masanya telah datang.

Pagi ini, rintik tintik hujan menjadi pemandangan pertama gadis cantik yang baru saja terbangun dari mimpi indahnya. Cuacanya sangat mendung. Dan hal ini membuat gadis cantik ini – Ify menginginkan kembali ke dunia khayalannya bersama mimpi yang menemaninya. Tapi matanya terpaku menatap kalender yang berada di atas meja sebelah tempat tidurnya. Dengan gerakan cepat, Ify langsung mencari keberadaan handphone’nya.

“Oh God, gak ada satupun sms yang masuk ke handphone gue. Shit. Bahkan Rio juga gak inget hari ini ??? Fine. Gak ada yang care sama gue.” Dumel Ify seraya menarik kasar handuknya yang tergantung di rak sebelah kamar mandi dan masuk ke kamar mandi serta menutup pintunya dengan keras.

Setelah selesai. Ify langsung memakai baju kebanggaan sekolanya itu. Dengan gerakan cepat gadis ini langsung merapikannya dan memasang atribut seragamnya yang wajib untuk dipakai. Setelah menyisir rambut panjangnya yang ia biarkan tergerai, gadis ini langsung menyambar tasnya dan berlari ke lantai bawah. Jam sudah menunjukkan pukul 06.50. Jarak rumahnya dengan sekolahnya membutuhkan waktu 15 menit. Dan artinya dia terlambat.

“Non Ify kenapa baru turun non ??? Non udah terlambat loh.” Ucap bibi seraya menatap majikan mudanya itu yang sedang meminum susu buatanya dengan tergesa gesa.
“Aduh bibi, Ify kesiangan. Untung gerimisnya udah reda. Oya bi, Rio belum nyampe ???” Tanya Ify yang menyadari pemuda itu tidak ada di rumahnya.
“Den Rio belum dateng non. Mendingan non jangan nungguin den Rio deh. Non udah telat loh. Non berangkat naik mobil aja.”
“Kak Cakka mana bi ???”
“Den Cakka udah berangkat tadi pagi. Katanya mau ngurusin pendaftaran buat kuliahnya non.”
“Sepagi ini ??? Good. Yaudah deh bi, Ify berangkat. Dah bibi.” Ify langsung melesat menuju ke mobilnya dan segera masuk dan menjalankannya.

Di jalan pun Ify tak berhenti berhentinya mengumpat semua orang. Termasuk bibi’nya dan kedua orang tuanya. Sepertinya hari ini akan menjadi hari buruk untuknya jika pagi pagi begini saja semua orang sudah melupakannya dan membuatnya bad mood. Pemuda itu juga. Sudah tidak ke rumah untuk menjemputnya, tidak mengirim kabar bahkan tidak ingat dengan hari ini. Dan ini semua membuatnya kesal. Kesal pada semua orang yang melupakan hari ini.

“Shit. Awas aja loe semua kalau sampai di sekolah gak ada yang inget sama hari ulang tahun gue. Gue makan loe semua hidup hidup.” Desis Ify tajam. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa ketakutan.

Setelah memarkir mobilnya dengan rapi di halaman parkir sekolahnya, Ify langsung masuk dan menatap semua orang yang ia temui. Bahkan mereka tidak mengucapkan selamat untuknya ??? Oke Fine. Benar benar cari mati mereka semua. Tapi Ify sangat berharap jika sahabat sahabatnya dan pemuda itu masih mengingat hari ulang tahunya. Tapi sepertinya harapannya tidak terkabul. Karena setelah sampai di kelas, tidak ada kejutan istimewa untuknya. Tapi Ify beruntung, karena guru yang mengajar belum memasuki kelasnya, dan dia bebas dari hukuman atas keterlambatannya.

“Ify, loe tahu gak sih. Gue kemarin habis di kasih kejutan sama Alvin. Dia romantic banget Fy orangnya.” Ucap Sivia menggebu gebu membuat Ify tersenyum terpaksa.
“Loe gak tahu ini hari apa ???” Tanya Ify pelan berusaha menyadarkan ketiga sahabatnya yang sekarang sedang menatapnya.
“Hari … hari Sabtu kan yah.” Jawab Sivia polos, bukannya membuat Ify tersenyum manis, malah membuat gadis itu ingin menjitak kepala sahabatnya keras keras.
“Loe berdua juga gak inget ???”
“Bener kan kata Sivia. Ini hari Sabtu. Mmm, Oiya Fy gue baru inget.” Seru Agni tiba tiba dan membuat Ify berbinar binar menunggu kelanjutan ucapannya. “Nanti malem kak Cakka ngajakkin gue dinner di cafĂ©.” Lanjut Agni masih dengan senyuman manisnya.
“Emangnya hari yang loe maksud itu apa Fy ???” Tanya Shilla karena melihat sahabatnya murung mendengar jawaban Agni dan Sivia.
“Gak. Gak papa kok. Gak penting juga.”
“Oh gitu. Yaudah.”

Mereka semua kembali menyibukkan diri dengan aktivitas’nya masing masing. Sivia yang senyum senyum mengingat hari kemarin bersama dengan kekasihnya yang ternyata sangat romantis. Agni yang juga sedang senyum senyum membayangkan peristiwa menyenangkan yang akan terjadi padanya nanti malam seraya mencoret coret buku tulisnya dan Shilla yang sedang melamun dengan kedua tangan yang menopang dagunya, matanya menatap lurus kedepan. Dia sedang memikirkan cara bagaimana supaya bisa dekat dengan pangeran hatinya.

Sedangkan Ify ??? Jangan ditanya, gadis cantik ini sedang menatap ketiga sahabatnya dengan raut wajah kesal. Mereka benar benar melupakan tentang hari ini. Benar benar di luar fikirannya. Ia kira, pagi ini ia akan mendapatkan kejutan dari semua teman temannya, tapi nyatanya itu hanya khayalannya saja. Bahkan pemuda itu pun tidak kelihatan batang hidungnya sampai bel tanda masuk berbunyi nyaring. Ify hanya menghela nafas pasrah dan berusaha untuk focus mengikuti pelajaran.

SKIP !!!

Bel tanda istirahat kedua sudah berbunyi sedari tadi. Tapi Ify masih setia di tempat duduknya di kelasnya. Dia benar benar sedang kesal hari ini. Selain karena semua orang tidak ada yang mengingat hari special ini, pemuda itu juga tidak kelihatan dari pagi. Sudah ia tanyakan pada semua orang seperti yang pernah ia lakukan beberapa hari yang lalu, tapi lagi lagi tidak ada yang melihat pemuda itu.

Sebagian mereka mengatakan jika pemuda itu tidak masuk kelas hari ini karena mereka juga tidak melihat Rio sedari pagi. Tapi di kelasnya, tas sekolahnya dengan rapi terletak di atas meja pemuda itu. Itu tandanya pemuda itu berangkat ke sekolah kan ??? Tapi tidak ada yang tahu dimana pemuda itu.

“Woy, ngelamun aja loe.” Ify tersentak kaget karena jitakan pelan di kepalanya menganggu acara melamunya, Ify menatap orang itu dengan garang.
“Ampun ampun. Hehehe. Ya lagian loe ngelamun di kelas. Hati hati loe.”
“Alvin Jonathan Sindunata. Bisa gak sih loe gak ngagetin gue.” Ucap Ify penuh penekanan dan matanya menatap Alvin dengan murka.
“Peace. Bercanda doang. Kenapa sih loe hari ini. Dari pagi marah marah mulu. Kalo PMS jangan marah marah ke gue juga dong Fy, kan gue gak salah apa apa.”
“Dia tuh lagi bingung nyariin Rio. Lagian sahabat kamu yang satu itu kemana sih. Berangkat sekolah tapi dari tadi pagi gak kelihatan batang hidungnya.” Ucap Sivia.
“Oh, lagi nyariin Rio toh. Kangen loe ??? Tadi pagi dia dateng, terus dari jam istirahat pertama tadi sampai sekarang gak kembali ke kelas. Tahu deh kemana.”
“Loe udah coba hubungin handphone’nya belum Fy ???”
“Udah. Tapi handphone’nya gak aktif Vi.” Jawab Ify pelan.
“Loe udah coba ke lapangan indoor ?? Ke taman, kantin, ruang olahraga, ruang osis, perpustakaan, ruang guru, ruang serbaguna, ruang …”
“Udah Alvin, udah. Tapi dia gak ada. Gue juga udah Tanya sama semua orang tapi gak ada yang tahu.”
“Beberapa hari yang lalu loe juga ngalamin hal ini kan. Nanyain semua orang tahu tahu si Rio ada di perpus lagi tidur. Nah, kenapa gak loe coba lagi ???”
“Gue kan tadi udah bilang udah. Gue udah nyari kemana mana tapi gak ada. Loe berdua bukanya bantuin gue malah bikin gue makin sebel.” Ucap Ify dan melangkah keluar kelas untuk menuju ke taman. Tidak perduli beberapa teman temannya menatapnya dengan pandangan heran.
“Loe kemana sih Rio. Aktifin handphone loe bego. Gue butuh loe sekarang.” Teriak Ify setelah berada di taman belakang sekolahnya.
“kenapa semuanya gak inget sama hari ulang tahun gue ??? Sweet seventeen gue tapi malah gak ada yang inget ??? Good job. Loe semua rese tahu gak. Bahkan orang tua gue aja gak ngehubungin gue atau sekedar sms. Apa sebegitu gak berartinya gue buat loe semua ??? Arrrggghhhh.”

***************
Hari ini Ify tidak pulang ke rumahnya, pulang sekolah tadi, Shilla – sahabatnya meminta dirinya untuk ke rumahnya karena rumah Shilla sedang sepi. Dan katanya, gadis itu takut jika di pulang ke rumahnya sendirian. Jadilah sekarang Ify terkurung di dalam kamar Shilla sementara si empunya sedang mandi.

Tapi Ify tidak masalah, karena mood’nya juga sedang tidak enak hari ini, jadi dia fine fine aja di ajak Shilla ke rumahnya. Toh jika dia pulang ke rumahnya juga belum tentu kakak sepupunya itu ingat dengan hari ulang tahunya. Masalahnya sampai sekarang belum ada satupun sms yang masuk ke handphone’nya. Entah itu dari teman temannya, sahabatnya, kakak sepupunya, orang tuanya, dan juga dari pemuda yang memiliki hatinya itu. Tidak ada sama sekali, dan itu membuatnya semakin kesal.

“Heran gue, apa enaknya mandi malam malam gini yah. Tuh orang gila kali. Padahal kan tadi habis hujan. Pasti airnya dingin banget tuh. Dasar Shilla gila.” Gumam Ify seraya merebahkan tubuhnya di kasur king size milik Shilla.
“Gue denger bego.”
“Hehehe.” Ify menatap Shilla yang sekarang sedang mengobrak abrik isi lemarinya. “Ya lagian loe mandi malam malam gini. Kaya lagi mandi kembang tujuh rupa aja loe.”
“Enak aja. Udah sekarang giliran loe sono yang mandi.”
“What. Mandi jam segini ??? OGAH.”
“Oh, loe gak mau ??? Yaudah. Terserah loe sih. Tapi loe pake baju ini.” Ucap Shilla seraya melempar kotak yang lumayan besar kearah Ify dan tepat mengenai kepalanya.
“Shillaaaaa, loe rese banget tahu gak sih. Pantas aja cowo pujaan loe itu gak mau ngelirik loe. Cewe ganas yang gak punya sopan santun.”
“Whatever. Sekarang loe pake itu. Buruan.”
“Ogah. Nih buat loe aja.” Ucap Ify kesal seraya melempar kotak itu kembali kearah Shilla membuat gadis itu meringis kesakitan karena tepat mengenai kepalanya juga. Sedang Ify hanya tertawa karena bisa membalasnya.
“Ify. Cepetan loe pake gaun ini. Kalau loe gak mau. Jangan harap loe bisa ketemu sama Rio lagi.”
“Rio ??? Kok loe bawa bawa nama dia ???”
“Iya karena gaun ini dari dia. Tadi di paketin ke sini. Dan loe wajib make malam ini. Dia mau ngajakkin loe nge-date.”
“Nge-date ??? Loe serius ??? Gimana bisa dia ngajakkin gue kencan setelah seharian ini dia gak muncul di hadapan gue ???”
“Bisa aja. Dan loe wajib nurutin perintah gue kali ini. Buruan masuk kamar mandi dan ganti seragam sekolah loe itu dengan gaun ini kalau loe masih pengin ketemu sama Rio. Buruan Ify.” Ucap Shilla seraya mendorong dorong tubuh Ify memasuki kemar mandi.

Dengan langkah pelan dan bibir manyun akhirnya Ify masuk kamar mandi. Dia kesal dengan sahabatnya yang satu itu yang tidak ada lembut lembutnya. Tapi dia juga bahagia karena sebentar lagi dia akan kencan dengan pangeran hatinya itu. Biarlah semua orang lupa dengan hari ulang tahunnya. Yang penting dia akan berkencan dengan Rio malam minggu ini. Tidak ada hal yang lebih menyenangkan kecuali bisa melihat pemuda itu. Pemuda yang berhasil memiliki hatinya secara utuh. Mario Stevano Aditya Haling - pangeran hatinya.


LIKE and COMMENT'nya tetep dong guys,
jangan jadi pembaca gelap - mencurigakan kalau jadi pembaca gelap :D
gue juga butuh saran dan kritik dari kalian semua yang membaca cerbung ini.
Thanks for readers. tinggalin jejak kalian dulu, baru gue mau lanjut :p
Reaksi: