Text Select - Hello Kitty

That's All Cause of Love - Part 8

Jumat, 12 April 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 22.48

2 insan yang tidak mempunyai hubungan apa-apa sedang berada di dalam suatu ruangan tertutup dan tidak ada seorangpun disana selain mereka berdua. Wajarkah ??? Entahlah, mereka seperti tidak perduli dengan orang-orang di sekelilingnya. Terutama pria tampan ini, padahal dia sudah mempunyai kekasih yang sangat disayanginya itu, tetapi sepertinya pemuda ini tidak sadar jika gadisnya kecewa dengan sikap yang ia perbuat L.
“Yo, aku gak ngerti cara bikinya gimana. Tolongin dong.” Ucap gadis itu manja
“Gampang banget kok, tadi kan aku udah kasih tau caranya De, masa masih gak bisa.” Jawab Rio kepada gadis itu yang ternyata adalah Dea, anak baru SMA Bintang.
“Tapi aku masih gak ngerti, ajarin dong.” Ujar Dea dengan nada manja yang menjijikan seraya merangkul lengan pemuda di sampingnya.
“Yaudah (berusaha melepaskan rangkulan gadis disampingnya) sini aku bantuin.” Ucap Rio seraya mendekat ke arah gadis di sampingnya dan mulai membungkukan badanya supaya bisa melihat layar laptop di hadapannya.
            Gadis ini tersenyum penuh kemenangan. Seolah-olah dia menang melawan musuh yang paling dibencinya. Tasya bisa merasakan harum parfum Rio khas para pria itu. Dan dengan sengaja gadis ini pun mendekat ke arah pemuda di sampingnya itu. Dan dengan sengaja pula tubuh gadis ini mendekat ke arah lengan Rio.
            Rio dapat merasakan harum parfum gadis di sampingnya itu. Dan dia juga merasakan aneh dengan Dea. Sepertinya tubuh Rio sangat dekat dengan gadis di sampingnya ini. Tapi Rio tidak perduli dan masih tetap focus dengan laptop di hadapannya supaya cepat selesai pekerjaan mereka. Tiba-tiba dia merasakan kecupan di pipinya. Ternyata gadis di sampingnya yang melakukanya. Dan gadis ini masih menahannya beberapa saat. Hingga Rio sadar dari dunianya itu.
“Kamu apa-apa’an sih. Kenapa nyium aku coba. Apa maksudnya HAH.” Bentak Rio
“Tadi aku reflek Yo, maaf. Aku tidak bermaksud untuk menciummu. Tapi …”
“Tapi apa (membentak). Kau tahu, aku sudah punya kekasih. Tapi kau malah dengan gerakan spontan menciumku. Hey, kau tidak ingatt !!!” Hardik Rio masih  dengan nada membentak
“Tapi aku tidak sengaja. Kamu juga harus tau Yo, kalo aku ngelakuin itu karena reflek. Dan kejadian tadi itu terjadi karena ketidaksengajaan. Maafin aku Yo.” Terang Dea dengan sesenggukan dan terus menangis
“Maafin aku juga yah, tadi aku tidak bermaksud membentakmu.” Ucap Rio merasa bersalah
“Iyah kak tidak apa-apa. Aku juga minta maaf.” Gumam Dea
“Maaf yah.”
 “Iyah.” Ucap Tasya dengan senyuman miringnya dan menghapus air mata busuknya itu. Ternyata gadis ini tadi hanya berpura-pura. Sungguh keterlaluan.
èèèèèèèèèèèè
            Ternyata dibalik pintu tempat Rio dan Dea sedang bercengkrama itu ada seorang gadis yang sedari tadi melihat semua kejadian yang terjadi antara Rio dan Dea. Air mata yang sedari tadi di tahannya akhirnya meleleh membasahi wajah cantiknya setelah dia melihat pangeran hatinya di cium oleh gadis lain.
Sepertinya gadis yang mencium pangeran hatinya itu mengetahui jika dirinya sedang berada di balik pintu. Gadis ini tidak sanggup melihat lebih jauh lagi apa yang mereka lakukan, akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari tempatnya itu.
Gadis ini melangkah dengan wajah sembab dan sedari tadi tangannya menahan air matanya agar tidak keluar. Setelah itu dia mempercepat langkahnya dan pergi ke taman sekolah. Berharap semua yang terjadi barusan hanyalah mimpi semata.
SKIP !!!
            Bel pulang berbunyi menyebabkan sekolah yang megah ini dipenuhi siswa siswi yang berhamburan keluar sekolah. Tetapi tidak untuk kedua gadis yang masih setia duduk di tempatnya. Gadis yang pertama sibuk melamun dengan pandangan kosong dan sahabatnya dengan heran melihat gadis itu dengan kening berkerut. Sepetinya ada sesuatu yang menyebabkan sahabatnya itu melamun dengan pandangan kosong itu.
“Mmm Fy, gak pulang ???” Tanya gadis berwajah seperti orang korea ini
“Gak,nanti aja Vi, kamu pulang duluan ajah sana.” Jawab Ify seadanya.
“Gak. Aku mau pulang kalau kamu juga pulang.” Tegas Sivia keras kepala
“Yaudah dehh, yuk.” Ucap Ify seraya tersenyum tipis, karena jika gadis ini tidak menuruti kata sahabatnya itu, mereka tidak akan menemukan ujungnya.
“Nah gitu dong.”
            Mereka berdua melangkah keluar kelas kemudian menyusuri jalanan dan lorong sekolah yang megah itu. Kemudian mereka sampai di depan sekolah. Telihat seorang pria memakai helm fullace’nya sedang bertengger di atas motor ninja berwarna putihnya. Sepertinya mereka mengenali pemuda itu.
“Ehemm, udah di jemput tuhh, sana gih.” Suruh Ify
“Terus kamu gimana ???” Tanya Sivia
“Aku udah sms pak supir kok suruh jemput, kamu pulan duluan ajah sana, kasihan ka’ Alvin nungguin dari tadi.” Ucap Ify berbohong seraya tersenyum ramah
“Mmmm beneran gapapa ??? (Ify mengangguk) Hmmm, yaudah dehh, aku pulang duluan yahh. Hati hati.” Ucap Sivia seraya berlari menghampiri kekasihnya itu.
            Setelah memastikan Alvin dan Sivia pergi dan meninggalkan sekolah. Ify pun duduk di lantai depan sekolahnya seraya membenamkan wajahnya pada kedua lututnya. Seolah-olah dengan cara itu dia bisa melupakan masalahnya.
“Ka’ Rio bener-bener lupa sama aku. Dia pulang ajah gak pamit sama aku. Ya Tuhan. Apa yang harus aku lakukan ??? aku tidak kuat menahan semuanya.” Pasrah gadis itu dan dengan sadarnya air matanya turun membasahi wajah cantiknya itu.
            Tidak lama kemudian ponsel di saku seragamnya bergetar menandakan ada sebuah pesan masuk. Kemudian gadis ini mengeluarkan ponsel’nya dan membuka isi pesanya.
From : My Lovely
Hai sayang J. Kamu udah pulang belum ??? Atau masih di sekolah ???
Tak butuh waktu lama gadis itu menekan tombol reply untuk menjawabnya
To : My Lovely
Hmm, aku udah pulang kok. Udah di rumah. Kenapa ???
Gadis ini berbohong. Dia sudah terlanjur kecewa dengan kekasihnya itu. Beberapa menit kemudian ponselnya kembali bergetar
From : My Lovely
Syukur dehh. Makan yah sayang J. Setelah itu istirahat. Jangan lupa sama pesen aku tadi.
Gadis itu hanya tersenyum masam melihat perhatian yang ditunjukkan oleh kekasihnya itu. Entah kekasihnya itu dengan tulus mengatakan seperti itu atau hanya untuk hiburan semata. Karena gadis ini pu tidak tahu ekspresi dari pangeran hatinya itu. Tapi dia tetap bisa menghargai usaha kekasihnya itu, karena dengan seperti itu dia masih menganggap dirinya sebagai kekasihnya. Padahal gadis ini sempat merasa bahwa kekasihnya itu benar-benar melupakannya.
To : My Lovely
Iyah. Aku gak lupa kok J.
From : My Lovely
Jawabnya lama banget sih sayang. Habis ngapain ???
To : My Lovely
Gak ngapa-ngapain kok. Aku lagi kurang enak badan ajah.
From : My Lovely
Kamu sakit ??? Yaudah aku ke rumah kamu sekarang yah. Aku khawatir sama kamu.
To : My Lovely
Gak usah. Aku mau istirahat soalnya. Ngantuk banget … Hoooaaaammm.
From : My Lovely
Yaudah kalo gitu. tidur yang nyenyak yah sayang. Have a nice dream
            Pesan singkat yang di tujukan oleh kekasihnya itu untuk dirinya. Senyum masam masih merekah di bibirnya. Bukan senyum ramah seperti biasanya. Sesungguhnya gadis ini tidak tau apa yang menyebabkan pangeran hatinya dengan ikhlash menerima kecupan anak baru itu. Bahkan untuk sekedar marahpun tidak terlihat dari wajahnya. Ada apa ini ???
            Gadis ini melihat jam di tanganya. Matanya terbelalak ketika melihat jam di tanganya sudah menunjukkan pukul 15.30. padahal gadis ini keluar dari sekolahnya pukul 14.30. sudah satu jam rupanya dia berdiam diri di sekolahnya. Kemudian dia berdiri dari keadaan semula dan menghentikan taksi yang lewat. Setelah itu gadis ini pulang ke rumahnya.
èèèèèèèèèèèè
“Aku keterlaluan gak yah sama kejadian tadi. Ya Tuhan. Semoga saja Ify tidak tahu tentang kejadian saat aku bersama Dea tadi. Adduhhh bisa gawat ni kalo sampai dia tahu. Dia pasti bakal marah banget. Rio bego bego bego (mengacak acak rambutnya) kenapa kejadian seperti itu bisa terjadi sihh ???”
            Pria ini selalu dihantui rasa bersalah kepada gadisnya itu jika ia ingat akan kejadian yang menimpa Dea dan dirinya pada saat berada di dalam ruangan kosong itu seraya mengerjakan tugas gadis itu. Apa yang harus ia lakukan ??? Haruskah ia jujur ??? Atau malah menunggu gadisnya mengetahui semuanya sendiri ??? sepertinya itu yang terbaik, membiarkan gadisnya mengetahui tentang kejadian itu sendiri. Selama gadisnya tidak tahu mengapa ia harus cerita. Bukankah itu malah membuat masalah baru ??? Yah sepertinya memang begitu.
SKIP !!!
            Keesokan harinya seorang gadis telah menyisir rambutnya di depan cermin. Menatap wajahnya dan berbicara sendiri seperti orang bodoh yang hanya tahu bahwa orang yan ada di depan cermin itu orang lain yang bisa di ajak bicara dan memberi saran.
“Kau tidak cantik Ify, dibanding dengan ka’ Dea kau jauh lebih buruk, kau tidak pantas bersanding dengan orang terpenting di sekolah seperti ka’ Rio. Kau terlalu sederhana Ify. Mungkin ka’ Rio sudah bosan denganmu, makanya dia ngelakuin hal-hal kaya gitu.” Ucap orang yang berada di cermin kepada Ify.
            Setelah dia cukup puas dengan dandananya dia keluar kamar dan menuruni anak tangga satu per satu. Dan langkahnya terhenti ketika melihat seorang pria yang sedang duduk manis di sofa ruang tamunya.
“Ka’ Rio.” Pekik Ify
“Hai, udah selesaii ??? Berangkat yuk. Udah siang juga.” Ajak Rio
“Gak, mau apa kakak kesini ??? Aku sudah berjanji dengan pak sopir untuk mengantarku ke sekolah. Jadi lebih baik kakak berangkat duluan ajah sana.” Ucap Ify dingin
“Kamu kenapa sayang ??? Kok jawabnya ketus gitu. kamu marah sama aku yah ???”
“Aku tidak banyak waktu untuk berdebat dengan kakak. Lebih baik kakak berangkat atau aku yang akan berangkat duluan dengan pak sopir.”
“Yaudah aku berangkat dulu. Kamu jangan marah sama aku yah sayang. I love you baby.” Ucap Rio seraya keluar dari rumah Ify menuju ke letak motor ninjanya terparkir kemudian melesat jauh meninggalkan rumah megah itu.
            Gadis ini mendesah pelan melihat kekasihnya itu. Dia mulai berfikir bahwa kekasihnya benar-benar melupakannya. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka nanti. Gadis ini pun melangkah menuju ke mobilnya dan dia melihat sang sopir sudah stand by di kemudi mobil. Gadis ini pun masuk dan perlahan-lahan mobil melaju.
SKIP !!!
            Ninja merah memasuki halaman SMA Bintang. Dan dia langsung memarkirkan motor ninjanya di tempatnya. Setelah itu dia membuka helm Fullace’nya, memperlihatkan wajah tampanya. Jika pemuda ini masih single mungkin banyak yang memperebutnya. Beberapa saat kemudian ada seseorang yang menepuk pundaknya. Otomatis dia pun membalikan tubuhnya menghadap orang itu.
“Ngagetin aja kamu. Ngapain sihh. Pagi-pagi udah bikin orang jantungan.” Ketus Rio melihat siapa orang yang telah membuat jantungnya berdetak lebih kencang (?).
“Hehehe. Sorry brother. Aku gak ada maksud apa-apa kok. Oya kok gak bareng Ify ???” Tanya orang itu yang membuat Rio tersentak kaget.
“Itu dia Vin, gatau kenapa, akhir-akhir ini dia selalu menjauh dari aku. Diajak pergi bareng gak mau, di ajak berangkat bareng apa lagi. Gatau deh kenapa, kayaknya ada yang dia sembunyiin dari aku.”
“Selesaian baik-baik deh.  Saranku sihh kamu menjauh dari gadis gadis yang lain ajah.” Ucap Alvin
“Menjauh dari gadis-gadis lain ??? Apa maksudnya ???” Tanya Rio penasaran
“Aku sama kamu lebih pintar kamu Yo, Jadi aku yakin kamu ngerti maksud aku. Hemm, aku masuk dulu yah, mau ketemu sama ayang Sivia.” Ucap Alvin nyengir kuda seraya berlalu untuk menemui kekasihnya.
“Apa maksudnya menjauh dari gadis lain, emangnya aku deket sama siapa ??” Gumam Rio bingung
            Beberapa saat kemudian ada seseorang yang telah berdiri menggantikan posisi Alvin tadi di hadapan Rio. Sepertinya pemuda ini masih dalam dunia khayalnya sehingga dia tidak mengetahui ada orang di hadapannya.
“Hey Rio. Kenapa ngelamun ???” Tanya orang di hadapan Rio.
“Ah Eh … Dea ??? Ngapain kamu disini ???” Tanya Rio bingung
“Aku daritadi disini, kamunya aja yang gak lihat. Ke kelas bareng yuk (meraih lengan Rio).”
“Mmm, gak. Aku lagi nunggu …”
“Nunggu siapa ??? Ayolah Yo, aku pengin ke kelas bareng kamu.” Ucap Dea dengan nada manja
“Mmm, yaudah lakh. Yuk.” Jawab Rio seraya melangkah memasuki koridor sekolah.
“Nah gitu dong.” Ucap Tasya tersenyum kemenangan
            Di tengah jalan ada 2 orang gadis cantik yang sedang berdiri di depan madding. Sepertinya mereka selesai membaca kabar terbaru dari SMA Bintang. Gadis yang berwajah seperti orang korea menepuk pelan punggung sahabatnya karena melihat orang yang baru saja memasuki sekolah dengan berpegangan tangan lebih tepatnya merangkul lengan kekasih sahabatnya.
“Hay sayang …” Sapa Rio dengan polosnya kepada kekasihnya itu. Sepertinya dia tidak mengetahui apa yang terjadi kepada kekasihnya itu.
“Mmm Vi, aku pergi kekelas dulu yah. Sampai nanti.” Ucap Ify kepada sahabatnya itu.
“Fy, Ify tunggu aku (teriak dan memandang kekasih sahabatnya itu dengan wajah tidak bersahabat dan garang). Dasar gak punya perasaan.” Ucap Sivia ketus dan langsung berlari mengejar Ify.
“Vi, maksud kamu apa ??? Jelasin dulu dong.” Teriak Rio ingin mengejar kekasihnya itu tapi ada tangan lain yang mencegah lengannya agar tidak pergi.
“Ke kelas ajah yuk. Nanti aja kamu ngatasinya. Udah mau bel.” Ucap Dea.
“Yaudah.” Jawab Rio pasrah
èèèèèèèèèèèè
“Udahlah Fy, kenapa sih kamu masih tahan aja sama sikap ka’ Rio. Jelas-jelas dia tadi dengan polosnya bilang sayang sama kamu tapi nyatanya lengan dia dirangkul sama nenek lampir itu. Ngomong aja sama ka’ Rio Fy, kalo perlu kamu marah sama dia dan Tanya mau dia apa sebenernya. Aku gak bisa ngelihat kamu terus-terusan nangis kejer kaya gini CUMA gara-gara ketua osis yang seenaknya itu.” Bentak Sivia kepada sahabatnya itu.
Mereka berada di atap gedung lantai 3 di SMA Bintang. Sedangkan sahabatnya hanya duduk seraya memeluk lututnya itu dan terus menangis. Sedari tadi Cuma kegiatan itu yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Sehingga emosi gadis berambut panjang ini memuncak. Dia tidak terima kekasih sahabatnya itu menyakiti Ify.
“Udahlah Fy, berhenti menangis dan ngomong sama ka’ Rio tentang ini semua. Dari pertama, ka’ Dea tuh gangguin ka’ Rio mulu. Minta di ajarin bikin proposal lakh, minta di temenin kesini lakh, minta di anterin kesitu lakh, dan yang paling parah dia berani mencium pipi ka’ Rio. Dasar nenek lampir, dia gak sadar apa kalo ka’ Rio itu punya kamu.” Cerocos Sivia tidak terima. Sepertinya kebawelan gadis ini mulai kambuh.
“Tapi aku takut ka’ Rio mutusin aku Vi.” Gumam Ify lirih
“Yaudah lakh, biarin dia mutusin kamu daripada kamu terus terusan di bikin nangis kaya gini, kamu tuh cantik, banyak pria yang mau sama kamu. Lupain ka’ Rio kalo ka’ Rio maunya begitu. Yang penting sekarang kamu ngomong sama ka’ Rio apa maunya. Masalah hasil nanti aja. Yang penting kamu ngomong dulu sama ka’ Rio.” Cerewet Sivia lagi, lagi dan lagi (?).
“Pulang sekolah aku janji bakal meluruskan segalanya.” Tekad Ify
“Nah gitu dong, itu baru sahabatku.” Ucap Sivia seraya merangkul Ify.
“Hehehe. Makasih yah Vi, kamu baik banget sama aku. kamu juga selalu ngehibur aku.” Ucap Ify seraya menghapus air matannya yang masih ada di pipinya.
“Sama-sama cantik. Itu gunanya sahabat kan ??? Ke kelas yuk.” Ajak Sivia dan Ifypun mengangguk tanda ia setuju dengan ucapan sahabatnya.






Reaksi: