Text Select - Hello Kitty

Benci Jadi Cinta - Part 10 (Yoshill)

Senin, 11 Maret 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 05.33

Seorang gadis sedang menggigil kedinginan di sebuah halte yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah dirinya berhasil keluar dari gerbang sekolahnya dirinya langsung menuju ke sebuah halte untuk menunggu taksi ataupun angkutan umum yang melintas di jalan di hadapanya. Setelah dirinya melihat jam, ternyata dirinya baru sadar bahwa jam segini tidak mungkin ada taksi atau bus yang lewat. Dirinya sudah tidak bisa mengandalkan orang lain lagi.
            Sopir pribadi keluarganya sedang mengantar mamahnya menuju ke kantor beliau. Sedangkan seniornya dulu sedang ada acara di sekolahnya-Debo. Dan ayahnya tentu saja masih berada di kantor dan tidak mungkin dirinya meminta tolong pada ayahnya yang sedang sibuk dengan pekerjaanya. Adik tercintanya juga tidak mungkin untuk menjemput dirinya karena adiknya itu belum bisa mengendarai mobil sendiri. Dengan sabar gadis cantik itu menunggu seraya duduk di bangku yang telah tersedia.
            Beberapa saat kemudian. Gerimis berdatangan. Dan tak lama kemudian, hujan pun mengguyur bumi dengan hebatnya. Dirinya sudah tidak bisa melarikan diri dari tempat ini. Jika dirinya lebih memilih untuk kabur dari tempat itu, maka sudah di pastikan dirinya akan basah kuyup. Maka dari itu, dia lebih memilih berteduh di halte. Walaupun tubuhnya sudah menggigil kedinginan. Tapi itu adalah cara yang paling tepat seraya menunggu keajaiban yang datang kepadanya.
            Tiba-tiba, ada sebuah motor yang berhenti di hadapanya. Seseorang yang sangat ia kenali sedang memarikan motor ninjanya yang berwarna merah dan sang empunya langsung berlari ke arahnya. Dan dengan santai pemuda ninja merah itu langsung duduk di sampingnya, membuat dirinya menatap pemuda itu dengan tatapan heran.
“Ngapain loe ngelihatin gue sampe segitunya. Gue ganteng ??? Emang. Baru tahu loe.” Ucap pemuda yang sedang mengeringkan rambutnya dengan cara mengibas ngibaskan rambutnya membuat gadis cantik di sebelehnya terkena air yang ada di rambut pemuda itu.
“Kak Rio. Kena kan guenya. Ihhh, kalo mau ngeringin rambut jangan disini dong. Udah tahu ada orang.” Ucap Shilla kesal dan sebal.
“Yaelah, sewot banget neng. Santai aja dong. Ini juga gara-gara loe” Balas Rio santai.
“What !!! Salah gue ??? Emang yang nyebabin rambut loe basah gue apa.” Balas Shilla nyolot.
“Bukan itu. Maksud gue, temen-temen loe nyuruh gue nyusulin loe kesini. Makanya gue kesini.”
“Kalo loe kesini Cuma buat bikin gue sebel. Mendingan jangan kesini deh. Udah tahu hujan pake nekad segala. Katanya juga loe mau pergi, kok malah kesini sih. Loe kesini karena terpaksa ???” Tanya Shilla
“Gue beneran tulus kok pengin nyamperin loe. gak pengin aja di salahin sama semua orang kalau terjadi apa-apa sama loe.” Jawab Rio sekenanya.
“yaudah pergi sana. Gue jamin gak akan ada yang nyalahin loe kalau gue kenapa-napa. Udah sana pergi. Gue disini sendirian juga gak papa. Dari pada loe disini karena terpaksa.”
“Please deh Shill. Jangan mulai. Gue serius nih pengin nolongin loe. loe juga sampe kedinginan gituh. Muka loe pucet tuh gara-gara menggigil mulu dari tadi. Nih pake jaket gue. Gue jamin loe lebih anget dari yang tadi. Tenang ajah. di dalamnya gak basah kok. Cuma luarnya ajah.” Ucap Rio seraya melepas jaketnya dan memberikanya pada gadis di sampingnya.
“Emangnya loe gak kedinginan ???” Tanya Shilla menyakinkan.
“Gak kok. Gue udah biasa kali kena hujan. Oyah Shill. Kayaknya hujanya bakalan lama deh. Soalnya makin deres hujanya. Gimana kalau kita terobos ajah hujanya. Biar loe pulang gak kemaleman.”
“Gila loe kak. Ini tuh masih deres banget hujanya. Mana loe bawa motor lagi. Jalanya juga licin, ntar kalo ada apa-apa gimana. Ntar kalau ada mobil lewat gimana. Ntar kalo loe gak bisa ngimbangin motornya gimana. Kan bahaya kak. Lagian nunggu hujanya reda juga gak ada salahnya kan. Dari pada kita masuk rumah sakit dan ……..”
“Ssssttttt, pikiran loe kejauhan neng. Mikir tuh yang positif napa sih. Pikiran loe negative semua. Emangnya gue mau bunuh loe apah. Kalopun iya gak mungkin diri gue terlibat. Gila apa. Lagian gue juga udah biasa bawa motor, bukan orang yang baru latihan motor kan ???”
“Iya sih, tapi kan gak seharusnya nerobos hujan kaya gini kak. Hujanya juga masih deres banget kaya gini. Nunggu bentar juga gak masalah kan ??”
“Buat gue ituh gak masalah. Tapi buat loe itu masalah besar. Ntar kalo hujanya reda nanti malam gimana. Apa loe mau bertahan sampe malam juga disini ??? gak kan, makanya loe nurutin perkataan gue, gue jamin gak akan ada apa-apa. Asal kita berdoa.” Ucap Rio membuat Shilla berfikir.
“Iya deh, tapi bener yah. Hati-hati.”
“Siap Boss. Mending jaketnya loe kancing deh. Supaya baju loe gak basah.”
“Loe beneran gak papa kak ??? Kan kalau nerobos hujan bakalan dingin banget kak. Loe juga Cuma pake seragam. Mendingan jaketnya loe pake ajah nih.”
“Gak, loe pake ajah. gue gak papa. Kan tadi gue udah bilang. Gue udah biasa hujan-hujanan.”
“Yaudah deh terserah loe ajah.”
“Yaudah bentar yah gue ambil motornya.” Ucap Rio seraya menerobos hujan dan langsung menuju ke hadapan Shilla.
            Setelah dirinya berteriak memanggil Shilla untuk mendekat, dirinya langsung tancap gas meninggalkan halte itu. Tentunya dengan hujan-hujanan. Shilla sih masih mending ada jaket Rio yang melindungi tubuhnya, sedangkan Rio. Dia hujan-hujanan DEMI SHILLA. Ingat guys. Demi Shilla dia rela melakukan ini.
            Di tengah perjalanan yang cukup sepi, tiba-tiba motor Rio berhenti secara mendadak. Otomatis Shilla dan Rio langsung turun dari motor tentunya masih dengan hujan-hujananya.
“Kok berhenti sih kak ???” Tanya Shilla seraya mengusap wajahnya yang terkena air hujan.
“Gatau nih, yaudah mending loe berteduh dulu di bawah pohon itu.” Ucap Rio seraya menunjuk pohon rindang yang berada tak jauh dari tempatnya sekarang.
“Tapi kak, ntar loe gimana ???”
“Gue mau ngecek motor gue dulu. Loe tunggu disitu buruan. Ntar kalo kelamaan disini loe bisa sakit. Udah sana.” Usir Rio halus.
“Gak kak. Gue mau disini ajah. please dong kak, jangan nyuruh gue berteduh. Gue gak mungkin berteduh sementara kakak malah hujan-hujanan disini.”
“Shill, hujannya makin gede. Please dong Shill. Sekali ini ajah loe nurutin gue. Cepetan berteduh kalo loe masih anggep gue sebagai senior loe. buruan.”
“Iya deh kak, yaudah, gue kesana dulu yah.” Ucap Shilla seraya berlari kearah pohon rindang tersebut setelah mendapat anggukan dari seniornya itu.
“Nie motor kenapa sih. Gak join banget deh.” Ucapnya seraya berusaha menyalakan motornya. “Sial. Ternyata bensinya habis.” Rutuknya setelah melihat jumlah bensin yang tersisa. Ternyata panahnya sudah berada di tanda merah. Kemudian, dirinya langsung mengambil kunci dan berlari menuju kearah Shilla yang sedang menggigil kedinginan di bawah pohon.
“Shill, loe gak papa ???” Tanya Rio setelah melihat wajah pucat Shilla.
“Dingin banget kak.” Jawab Shilla seraya memeluk erat tubuhnya sendiri.
“Yaudah sekarang kita cari tempat yang pas buat berteduh yuk. Bensin motor gue habis. Dan pom bensin dari tempat ini jauh banget. jadi mendingan kita cari tempat buat berteduh dulu yuk.” Shilla mengangguk “Yaudah. Yuk.” Ajak Rio seraya menarik tangan Shilla menerobos hujan.
            Kemudian dua insan ini berlari menelusuri jalanan yang sangat sepi, selain jalanan ini jauh dari tempat penduduk, jalanan ini juga terdapat pohon-pohon besar di tepi jalan. Bagaimana mungkin mereka dapat menemukan tempat yang cocok untuk berteduh sementara jalanan sangat ekstrim seperti ini.
            Setelah berlari cukup jauh. Rio menghentikan larinya karena gadis yang ada di belakangnya tiba-tiba memperlemah genggamannya. Menyadari itu, pria hitam manis ini pun membalikan tubuhnya dan menghadap Shilla. Dilihatnya Shilla sedang memegangi kepalanya dengan wajah yang sangat pucat.
“Shill, loe kenapa ??? Please bertahan dulu, kita kesitu dulu yuk.” Ajak Rio seraya memapah Shilla menuju ke gubuk yang tak jauh dari tempatnya tadi.
            Setelah sampai, Rio langsung mendudukan Shilla di tempat yang ada di gubuk tersebut. lebih mirip seperti ranjang yang sudah sangat rapuh. Kemudian dirinya membuat bantal dengan menggunakan kardus yang juga sangat rapuh. Kemudian di atasnya ia taruh beberapa helai kain untuk menutupi kardus tersebut. dan dirinya langsung menyuruh sang gadis untuk tidur menggunakan bantal buatan dirinya.
“Aduh gimana nih. Mana hujannya makin deres lagi. Gue gak mungkin ngebiarin Shilla disini terus. Baju dia juga basah. Apalagi jaket gue. Gimana yah. Kenapa juga ponsel gue ketinggalan di sekolah tadi, pasti ponsel gue jatuh pas gue mau nyusulin Shilla, mana motor bensinya habis lagi. Apes banget gue. Semoga ada keajaiban.” Gumam Rio panik.
            Setelah beberapa saat berdiam diri di dalam gubuk. Akhirnya pemuda tampan ini berinisiatif untuk mencari tumpangan yang akan lewat di jalanan itu dengan menunggunya di pintu gubuk. Sedangkan sang gadis masih menggigil kedinginan serta meringkukan tubuhnya.
            Beberapa menit kemudian, ada sepasang lampu mobil yang melaju tak jauh dari tempatnya dan menuju kearah jalan di hadapannya. Reflek, pemuda inipun berlari menuju ke tengah jalan membuat sang pengendara mobil memperlambat laju mobilnya dan tepat berhenti di hadapan sang pemuda.
“Rio ???” Pekik sang pengendara mobil kaget.
“Debo, kebetulan banget loe disini. Mending loe sekarang turun dan bantuin gue buat bawa Shilla kerumah. Dia lagi menggigil di dalam gubuk itu, mending loe sekarang bawa dia kerumahnya deh. Kayaknya dia demam gitu gara-gara kena hujan terlalu lama. Sorry, gue ngebuat cewe loe sakit.” Terang Rio membuat Debo menganga kaget.
“Yo, dia itu bukan ….”
“Udah deh, bukan waktunya buat ngomong. Udah buruan loe ikut gue.” Ucap Rio seraya menarik tangan Debo membawanya ke dalam gubuk dimana Shilla berada.
“Shilla.” Pekik Debo kaget melihat keadaan Shilla yang sedang menggigil kedinginan dengan muka pucat pasi dan tiduran di ranjang yang sangat kumuh.
            Tanpa Berfikir panjang, Debo langsung melepaskan jaket yang dikenakanya dan memasangnya ke tubuh Shilla setelah dirinya melepaskan jaket Rio dan mengembalikanya ke sang empunya. Kemudian dirinya langsung membopong Shilla setelah mendapat persetujuan dari Rio. Sedangkan pemuda hitam manis itu masih terduduk di ranjang yang kumuh itu. Rio tidak ikut dengan mobil Debo karena motor dirinya masih berada di daerah sini, tidak mungkin jika dirinya meninggalkan motor itu.
“Maafin gue Shill, gue ngebuat loe sakit. Loe emang lebih pantes sama Debo, dia lebih bisa menjaga loe. semoga loe bahagia sama Debo. Gue sekarang percaya kalo loe bakalan aman sama Debo. Dan gue juga percaya kalo Debo bakalan ngasih yang terbaik buat loe dan akan selalu jagain loe.”
            Kemudian pria tampan ini menuju ke motornya setelah sebelumnya berlari menuju ke pom bensin dengan hujan hujanan dan masih menggunakan seragamnya yang sudah sangat basah. Kemudian, pria tampan ini melajukan motornya menuju kearah rumahnya.
SKIP !!!
            Sesampainya di rumah pemuda ini langsung menuju ke kamarnya karena tidak ada orang di rumahnya yang semegah istana itu. Yang ada hanya bibi, sopir peribadi keluarganya dan tentunya adik tersayangnya. Setelah sampai di kamar dirinya langsung bergegas ke kamar mandi.
            Setelah selesai, pemuda ini keluar dari kamar mandi dan langsung tiduran di ranjang. Dirinya sedang tidak enak badan setelah hujan-hujanan terlalu lama tadi. Ketika punggung tanganya menyentuh keningnya sendiri ternyata panas. Dirinya juga merasa pegal dan sangat lelah. Kemudian dirinya memutuskan untuk tidur.
SKIP !!!
            Malam harinya di keluarga haling. Tepatnya di ruang makan di kediaman haling. Tampak seorang pemuda yang sedang menyantap makananya di ruang makan sendirian. Setelah bibi menaruh makananya di meja. Pemuda itu bertanya kepada sang bibi.
“Bi, kak Rio belum pulang juga ???” Tanya sang pemuda yang duduk di ruang makan tadi.
“Udah den. Tadi bibi denger suara motornya. Mungkin sekarang lagi di kamar den.” Jawab sang bibi ramah.
“Pulang naik motor ??? Tadi kan hujan bi, kak Rio hujan-hujanan dong.”
“Iyah den, tadi bajunya basah sekali. Wajahnya juga kelihatan pucat. Kalo den Ray khawatir mending den Ray susulin den Rio di kamarnya ajah. bibi masih banyak kerjaan di dapur soalnya den. Jadi belum bisa menjenguk den Rio di kamarnya. Yaudah den, bibi permisi dulu ke dapur.” Terang sang bibi seraya menuju kearah dapur.
“Yaudah deh bi, Ray ke kamarnya kak Rio dulu yah.” Pamit Ray seraya melangkah menuju ke kamar sang kakak yang berada di lantai atas.
            Ray membuka pintunya dengan hati-hati. Karena dirinya tidak ingin kakaknya yang sedang sakit itu merasa terganggu dengan kedatangannya. Setelah berhasil masuk tanpa mengganggu kakaknya, Ray langsung duduk di kursi di bawah kamar tidur kakaknya. Dilihatnya wajah pucat Rio yang sedang terlelap dalam tidur indahnya.
“Panas.” Pekik Ray ketika punggung tangannnya menyentuh dahi sang kakak.
            Pemuda tampan yang tadi masih asyik terlelap dalam mimpi menggeliatkan badannya karena mendengar pekikan seseorang yang cukup keras membuat dirinya terganggu. Mau tak mau pemuda tampan itu membuka matanya melihat siapa orang yang sudah membuat dirinya bangun dari tidur nyenyaknya. Dilihatnya sang adik yang sedang duduk seraya menyunggingkan senyum manisnya.
“Ray, sejak kapan loe disini ???” Tanya pemuda tampan itu seraya mengumpulkan nyawanya yang tadi sempat hilang selepas bangun dari tidurnya.
“Barusan sih kak, sorry yah kak. Gue udah ganggu tidur loe. badan loe panas. Kenapa ???”
“Tadi gue hujan-hujanan cukup lama. Mungkin karena badan gue juga gak dilengkapi sama jaket makanya jadi gak kuat gini.” Jawab Rio seraya menyandarkan tubuhnya di senderan kasur.
“Ought. Emang jaket loe kemana ???” Tanya sang gadis kepo.
“Di pake Shilla. Tadi gue kan pulang bareng sama dia. terus motor gue mogok di tengah jalan. Yaudah, terpaksa gue hujan-hujanan deh. mama sama papa belum pulang kan Ray ???”
“Belum ko. Kenapa ??? Loe takut di marahin mama sama papa ??? Gue jamin, kalo sampe mereka tahu loe pasti dapet ceramah yang amat sangat panjang dari mama. dan gue jamin loe pasti bakalan dapet peringatan dari papa. Lagian loe udah pernah dapet ceramah dari mama supaya gak hujan-hujanan lagi tapi masih tetep nekad ajah sampe sekarang.” Cerocos Ray.
“Ckckck, loe kalo lagi ngomong gak ada bedanya sama mama yah Ray. Panjang banget. udah loe keluar sana, gue mau istirahat. Dingin banget nih.” Ucap Rio seraya mengusir adik semata wayangnya.
“Iyah iyah. Yaudah, loe istirahat. Gue keluar yah. Cepet sembuh loe.” Ucap Ray seraya keluar dari kamar sang kakak.
SKIP !!!
            Keesokan harinya. Seorang gadis sudah berdiri di gerbang SMA Tunas Bangsa. Sepertinya dirinya sedang menunggu seseorang. Padahal jam yang bertengger di tangan sang gadis masih menunjukkan pukul 06.20. jadi masih terlalu pagi jika dirinya sudah stand bye di sekolah dan bertengger di gerbang sekolah seperti menunggu seseorang yang sangat berarti buat dirinya.
            Pada saat dirinya masih asyik mengedarkan pandanganya ke penjuru sekolah. Dirinya di kagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya. Membuat sang gadis langsung melihat siapa orang yang sudah mengganggunya.
“Kak Cakka, Agni. Ngagetin.” Pekik sang gadis reflek.
“Sorry yah Ashilla Zahrantiara. Lagian loe ngapain berdiri di sini di pagi buta. Kaya orang ilang ajah.” Ucap sesosok cowok tomboy yang bernama Agni itu.
“Yeee, sembarangan ajah kalo ngomong. Gue lagi nungguin kak …………” Shilla dengan reflek menutup mulutnya menggunakan tanganya. (‘Hampir ajah. gengsi dong, kalo mereka tahu gue berdiri di sini dari tadi nungguin kak Rio. Huft.’ Batin Shilla.)
“Kak siapa hayooo. Nungguin kak Rio yah.” Tebak Agni seraya menahan tawa melihat wajah sahabatnya yang merona merah karena malu.
“Apaan sih. Gue lagi nungguin kak Gabriel tahu. mau ngomong penting.” Sangkal Shilla.
“juju rajah lah Shill. Lagian gue kesini mau ngasih tahu loe tentang keadaan Rio. Kalo loe emang gak berniat nyari dia yaudah. Gue gak jadi ngasih tahu.” Ucap Cakka memancing Shilla supaya jujur.
“Eh kak. Emang kenapa sama kak Rio ??? Dia baik-baik aja kan ???” Tanya Shilla khawatir.
“Hahaha. Ketahuan kan sekarang kalo loe emang lagi nungguin Rio. Mau tahu gak tentang Rio ???” Tanya Cakka memancing Shilla lagi.
“Mau dong kak. Gimana keadaan kak Rio ??? Cepetan dong kak kasih tahunya.” Ucap Shilla kesal.
“Iyah iyah. Segitunya perhatian loe ke Rio. Dia sakit Shilla. Gara-gara kemarin kehujanan lama banget. demam gituh.” Terang cakka dan langsung membuat Shilla terpekik kaget.
“Serius loe kak ???” Tanya Shilla dan membuat pasangan muda mudi di hadapannya mengangguk kompak.
“Iya serius Shilla. Ngapain gue sama kak Cakka bohongin loe.” Timpal Agni.
“Yaudah thanks yah.” Ucap Shilla seraya beranjak dari gerbang sekolah. Tetapi Agni dengan cepat menahan langkah Shilla yang ingin keluar dari gerbang sekolah.
“Mau kemana ???” Tanya Agni. “mau ke rumah kak Rio lah. gara-gara gue dia sakit kaya gitu.” Jawab Shilla. “Eh, bentar lagi mau ulangan Fisika. Loe lupa ??? Pulang sekolah ajah jenguk kak Rio’nya. Lagian loe kaya khawatir banget sih. Tenang ajah lagi. Kak Rio itu Cuma demam. Gak parah Shilla.” Cerocos Agni.
“Iya deh. yaudah kekelas yuk.” Ucap Shilla seraya menarik tangan Agni meninggalkan Cakka.
“Gila. Gue ditinggalin. Parah banget sih tuh cewe-cewe. Ninggalin gue sendirian disini. Ke kelas ajah deh. rese semuanya.” Gerutu Cakka seraya menuju ke kelasnya.
SKIP !!!
“Loe kenapa sih Shill ??? dari tadi ngelamun terus.” Tanya Ify yang melihat perubahan Shilla sahabatnya. Sekarang dirinya dan para sahabatnya sedang berada di kantin SMA Tunas bangsa.
“Lagi mikirin kak Rio tuh Fy. Galau dia gara-gara gak lihat kak Rio seharian ini.” Goda Agni seraya tertawa.
“Rese loe Ag, gue merasa bersalah ajah sama kak Rio. Gara-gara gue dia jadi sakit kan.”
“Merasa bersalah apa khawatir hayooo ??? Ngaku ajah gak mau. Dasar. Loe gak kangen gituh sama kak Rio Shill. Selama ini kan loe berdua selalu berantem plus jadi jauh gara-gara kehadiran kak Debo Shilla.
“ Ujar Sivia yang membuat lainnya mengangguk setuju.
“Gue juga pengin mengakhiri semuanya Vi. Tapi cowo loe tuh yang nyuruh gue buat kaya gini. Dan loe semua juga tahu kalau kak Alvin nyuruh gue mengakhiri semuanya kalo prom night udah selesai.”
“Iyah sih Shilla. Kalo loe gak kuat mending udahin ajah. gak usah dengerin kata-kata kak Alvin. Ntar kalo kak Rio nempel di cewek lain gimana ???” Ujar Ify.
“Iyah bener banget tuh. Lagian nih yah. Gue lihat-lihat kayaknya kak debo mulai ada feel gituh sama loe. jangan-jangan dia beneran suka lagi sama loe.” Tebak Sivia.
“Sembarangan ajah loe Vi. Gak mungkin lah kak Debo suka sama gue. Dia kan udah tahu, kalo gue sukanya sama kak Rio.”
“Bisa aja tahu Shill. Lagian selama ini kak Debo selalu perhatian sama loe. bahkan kalo gak ada kak Rio pun dia masih tetep perhatian sama loe. Apa itu gak membuktikan kalo kak Debo itu suka sama loe ???” Terang Ify
“Setuju banget sama loe Fy. Jangan-jangan bener lagi kalo kak Debo itu suka sama loe Shill. Kasihan kak Rio’nya dong. Loe jadi berpindah hati. Ckckck, nasib kak Rio kasihan banget yah.” Ujar Agni sok memelas membuat Ify dan Sivia tertawa terpingkal pingkal dan Shilla mengerucutkan bibirnya.
“Rese loe semua. Bukanya bantuin malah ngeledekin gue. Lagian gue gak suka sama kak debo. Gue juga udah nganggep kak debo sebagai kakak gue sendiri. Hati gue ituh Cuma buat kak Rio. Selamanya akan seperti itu guys.”
“Ciyuuusss, Miapa.” Ucap Agni, Ify dan Sivia secara kompak.
“Rese.” Gerutu Shilla dan langsung membuat ketiga sahabatnya tertawa terbahak bahak.
SKIP !!!
            Bel pulang berbunyi dengan nyaring. Seluruh siswa siswi SMA Tunas bangsa berhamburan keluar kelas. seorang gadis dengan langkah cepat keluar dari kelas dan menuju ke gerbang sekolah setelah sebelumnya telah berpamitan kepada para sahabatnya. Sang gadis langsung menghentikan taksi yang melintas di hadapanya. Dengan cepat taksinya langsung meluncur dengan mulus setelah sebelumnya sang gadis menyebutkan alamat yang akan dirinya kunjungi sekarang.
            Sekarang, sang gadis sudah berada di depan sebuah rumah yang amat megah dan mewah. Dengan ragu dirinya melangkah masuk ke pekarangan rumah mewah tersebut. seorang wanita paruh baya membukakan pintunya menghampiri sang gadis yang barusan telah memencet bel rumah tersebut.
“Maaf Bi, saya mengganggu.”
“Tidak apa-apa non. Non mau ketemu den Rio yah ???” Tanya sang bibi to the point.
“Iyah bi. Dia di rumah kan bi ???” Tanya sang gadis ramah.
“Ada non di dalem. Silahkan masuk non.”
“Terima kasih bi.” Sang gadis yang bernama Shilla langsung melangkah memasuki rumah mewah tersebut.
“Non kalau mau ke kamarnya den Rio langsung silahkan saja non. Bibi mau ke dapur dulu ambil minum. Kamarnya den Rio ada di sebelah sana non.” Ucap bibi seraya menunjuk sebuah kamar yang berada di tingkat atas.
“Iyah bi. Terima kasih yah. Saya pemit ke atas dulu.” Pamit Shilla seraya berjalan menuju ke lantai atas.
            Setelah sampai di sebuah kamar yang ditunjuk oleh sang bibi. Shilla langsung mendekat dan dirinya menemukan tulisan MARIO’S ROOM yang terpajang rapi di pintu tersebut. kemudian dirinya mengetuk pintu tersebut dan langsung mendengar teriakan MASUK dari dalam kamar. Dengan pasti dirinya membuka pintu tersebut.
            Sang pria yang berada di dalam kamar terpekik kaget melihat kedatangan seorang gadis yang tadi baru saja mengetuk pintu rumahnya. Bagaimana bisa dia berada di kamarnya sekarang ??? Mengapa dirinya merasa senang dengan kehadiran sang gadis ??? hanya dia dan Tuhan yang tahu jawabanya.
“Shilla. Ngapain loe disini.”
“Mmm, gue gue denger dari temen-temen kalo loe sakit, jadi gue kesini deh. loe sakit juga pasti gara-gara kehujanan kemarin kan sama gue.” Terang Shilla ragu.
“Mmm, gue udah gak papa kok. Loe gak usah ngerasa bersalah gituh deh. gue Cuma demam. Dan gak seharusnya juga loe kesini Cuma buat bilang maaf ke gue.”
“Tapi kalo kemarin loe gak teralalu lama kehujanan. Pasti sekarang loe gak sakit kaya gini. Maafin gue juga karena kemarin gue pulang sama kak Debo. Gue bener-bener gak ngerti kenapa tiba-tiba gue bisa ada di rumah dan ada kak debo di rumah gue.”
“Iya Shilla. Gak papa. Kemarin kebetulan Debo lewat depan tempat kita. Dan pas itu loe lagi pingsan dan badan loe panas banget. kebetulan dia bawa mobil. Jadi gue nyuruh dia buat nganterin loe pulang. Lagian kalo loe lagi sama Debo loe pasti selalu aman Shill. Gak kayak gue yang selalu bikin loe susah.”
“Kakak kok ngomongnya gituh sih. Gak kok. Justru gue mesti berterima kasih sama loe karena kemarin loe udah ngelindungin gue. Gue juga gak pernah merasa susah kok kalo lagi sama loe.”
“Please Shill. Gue pengin sendiri dulu. Loe mendingan pulang deh. ntar cowok loe nyariin lagi.”
“Kak, kak Debo tuh bukan cowok gue. Dia Cuma ……..”
“Cuma apa Shill ??? Atau jangan-jangan loe berdua udah tunangan ???” Tanya Rio dan membuat Shilla terpekik kaget.
“Tunangan ??? ya nggak lah kak. Gue gak pernah pacaran sama dia apalagi tunangan. Loe kalo ngomong yang bener dong.” Jawab Shilla emosi.
“Terserah Shill. Mau dia cowok loe kek, tunangan loe kek. suami loe kek. Itu urusan loe. dan bukan urusan gue. Jadi mendingan loe pergi dari kamar gue sekarang. Gue mau istirahat.”
“Tapi kak. Loe gak menghargai gue banget sih. Gue kan udah bela-belain kesini buat jengukin loe. loe malah kaya gini. Gak berterima kasih banget.”
“Makasih. Puas. Lagian gak ada yang nyuruh loe buat dateng ke rumah gue kan ??? jadi mendingan loe keluar dari kamar gue sekarang.”
“Loe jahat kak. Gue benci sama loe.” Ucap Shilla seraya berlari meninggalkan rumah Rio dengan berlinangan air mata. Air mata kesedihan tepatnya. Sedangkan ketua osis SMA Tunas Bangsa hanya menghela nafas panjang.
“Ini akhir kisah gue Shill. Kisah gue yang menyedihkan. Udah cukup sampe sini. Gue gak mau sakit hati lagi gara-gara cewe. Dan gue akan ngejauhin loe dan buat loe benci sama gue. Semoga loe bahagia sama Debo. Selamat yah Shill. Dan maafin gue atas semua kesalahan gue yang udah gue perbuat sama loe.” Gumam Rio menatap kepergian Shilla dengan rasa perih di hatinya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Loe jahat kak Rio. Kenapa loe ngerelain gue buat kak Debo. Kenapa kak. Kenapa juga loe berharap supaya gue jadian sama kak Debo. Bahkan loe berharap gue sama kak Debo menikah. Kenapa kak. Gue benci sama loe. loe gak ngerti perasaan gue kaya gimana waktu loe ngomong gituh. Sakit kak. Gue cinta sama loe. tapi kenapa loe gak pernah ngerti perasaan gue. Kenapa kak ???” Teriak Shilla di sebuah pantai yang tak jauh dari rumah dirinya.
            Air mata selalu menemani dirinya semenjak gadis cantik ini keluar dari rumah pangeranya. Dengan rasa sakit di hatinya gadis ini meluapkan semuanya di sebuah pantai yang menyejukkan di dekat rumahnya. Berharap semua masalah yang ada di dalam benaknya bisa keluar dengan mudah dan menghilang dari dalam benaknya.
            Benar. Semuanya terasa lebih ringan setelah dirinya berteriak di  pantai itu. Semuanya seperti terbawa angin yang berhembus di pantai tersebut. sekarang hatinya merasa lebih lega. Merasa semua masalahnya berkurang dengan cepat. Dan gadis ini langsung tersenyum. Walaupun masih tersirat kesedihan dan kekecewaan dalam hatinya tetapi gadis ini cukup beruntung karena masalahnya berkurang sekarang. Dirinya pun beranjak dari pantai tersebut menuju ke rumahnya.
SKIP !!!
            Keesokan harinya. Shilla berjalan dengan cerianya. Gadis cantik ini sudah bertekad tidak akan sedih lagi dan tidak akan menangis lagi karena sikap kakak seniornya yang sudah berlebihan kepada dirinya. Walaupun hatinya tetap memilih seniornya, tetap saja dirinya tidak ingin menangis setiap hari karena kelakuan ketua osis yang sudah mulai berubah itu.
            Dengan ceria dan senyum ramah dilontarkan kepada setiap siswa siswi yang ditemuinya, dirinya dengan pasti melangkah menuju ke kelasnya. Teman-temannya bingung melihat teman satu kelasnya itu, biasanya datang dengan muka masam semenjak bertemu dengan ketua osis sekolahnya. Tetapi sekarang mereka melihat teman sekelasnya itu sedang tersenyum dan menyapa mereka dengan ramah dan ceria, bahkan sangat ceria.
“Loe baik baik aja kan Shill ???” Tanya Daud teman sekelasnya.
“Baik dong. Bahkan sangat baik. Loe semua gimana ??? baik juga dong pastinya. Hari ini cerah banget yah.” Ucap Shilla dengan nada gembira dan senang seraya menuju ke bangkunya di sebelah sahabatnya yaitu gadis chubby yang bernama Sivia.
“Panas loe yah.” Ucap Sivia seraya memegang kening sahabatnya.
“Apaan sih, mulai sekarang gak ada kata galau lagi. Gue bakalan selalu happy sepanjang masa. Seperti apa kata loe Vi. Kita itu masih muda, dan masih panjang perjalanan kita, jadi kita harus menikmati hidup dengan sepenuh hati. Gak ada kata galau dan gak ada kata sakit hati. Semuanya harus selalu happy. Betul nggak ???” Cerocos Shilla yang membuat teman 1 sekelasnya menggeleng gelengkan kepalanya heran.
“Ckckck, anech loe.” Tanggap teman satu sekelasnya sedangkan Shilla nyengir gaje.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
            Bel istirahat berbunyi nyaring. Keempat gadis sudah stand by di bangku kantin paling pojok favoritnya. Mereka sedang menikmati makanan yang mereka pesan dalam suasana keheningan. Tiba-tiba sekelompok pria langsung duduk di sebelah gadis cantik itu. Mereka hanya bertiga.
“Kalian. Ngagetin.” Teriak Ify dengan nada lantang.
“Yaelah sayang. Biasa aja dong teriaknya. Gitu banget sama pacar sendiri. Pake teriak teriak lagi. Persis di kuping aku nih.” Gerutu Gabriel seraya mengusap usap telinganya.
“Ya lagian kamu ngagetin. Udah tahu aku lagi gak focus.” Jawab Ify manyun.
“Yeee malah berantem. Udah udah. Kita kesini itu mau MAKAN. Jadi diem aja deh. berisik.” Ucap Alvin dengan nada coolnya.
“Sok cool banget deh. mau makan ajah masih sempet-sempetnya.” Sindir Sivia yang duduk tepat di sebelah Alvin.
“Kenapa sih sayang. Aku kan kemarin udah minta maaf. Aku beneran lupa. Masih marah aja sih.”
“Lupa ??? Aku udah nunggu berjam-jam yah. Itu aku lakuin karena aku gak mau batalin rencana kita. Tapi ternyata kamu yang batalin semuanya. Kamu gak dateng dan buat aku nunggu.”
“Vi, maafin aku. aku tahu aku salah. Maaf Vi. Aku kemarin bener-bener lupa. Aku juga lagi sibuk buat ngurusin proposal pensi nanti. Kamu maklumin dong.”
“Ought. Jadi kamu lebih mentingin urusan pribadi kamu dan buat aku nunggu berjam-jam kedinginan di danau. Gituh. Kalo itu mau kamu, harusnya kamu gak usah bikin janji sama aku. janji kamu emang gak pernah di tepatin yah. Bagi kamu aku itu nomor 2, dan osis sama basket itu nomor 1. Makasih udah bikin aku nunggu kemarin.” Terang Sivia seraya beranjak dari duduknya keluar kantin.
“Via, tunggu. Kak, kita duluan.” Ucap Shilla, Ify dan Agni seraya menyusul Sivia.
“Loe mesti cerita sama kita bro.” Ucap Cakka setelah para gadis pergi.
“Gue nyesel guys udah lupain janji gue ke Sivia. Sebenernya kemarin gue janji bakalan ngasih surprise ke dia di danau tadi malam. Tapi gue lupa karena gue waktu sore juga sibuk banget bikin proposal. Sampe-sampe gue lupa makan dan mandi. Gue kemarin sore bener-bener nggak sadar kalau gue udah bikin janji sama Sivia. Dan gue ngelupain itu semua.” Gumam Alvin menerangkan tetapi masih dapat di dengar oleh sahabatnya.
“Jadi, loe sama sekali gak ngabarin Sivia waktu itu.” Tanggap Cakka.
“Iyalah bego. Udah tahu tadi Alvin bilang kalau dia lupa. Hadduhhh, Cak Cak. Rempong banget hidup loe.” Ucap Gabriel kesal.
“Yeee, namanya juga Tanya. Gak ada yang larang juga kan ???” Bela cakka.
“Udah udah, malah berantem. Loe berdua mesti bantuin gue supaya Sivia mau maafin gue.”
“Ckckck, urusan Rio ajah belum kelar loe udah nambah nambahin masalah baru Vin. Nanti kita bantuin deh biar loe bisa baikan. Iya nggak Cak ???” Ucap Gabriel.
“Yoi bro, gue kan sahabat yang baik hati dan tidak sombong.” Ucap Cakka narsis.
“PD gila loe.”
SKIP !!!
            Seorang pria tampak sedang membereskan map yang berserakan di atas meja ruanganya. Sepertinya sedari tadi pria tampan ini sibuk mengurusi urusan yang menjadi tanggung jawabnya sebagai ketua osis. Rencana yang telah direncanakan oleh dirinya dan pengurus lainnya mulai di depan mata. Sebentar lagi ulang tahun sekolah akan tiba dan anggota osis Cuma membutuhkan waktu beberapa bulan untuk membuat konsepnya dan mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibutuhkan.
“Bro, loe baik baik aja kan ???” Tanya seorang pria yang sedari tadi sedang membereskan kursi yang habis dibuat untuk melaksanakan rapat.
“Baik baik aja kok, emangnya kenapa ???” Tanya sang ketua osis kepada sahabatnya.
“Ya nggak, gue lihat loe kaya kelelahan gituh .. kalo capek istirahat aja Yo.”
“Ya Gabriel Stevent Damanik, thanks banget loe udah perhatian sama gue .. tapi gue lagi banyak kerjaan sekarang, kalo gue tinggal, nih kerjaan gak bakalan selesai.”
“Yaudah terserah loe. gue ikut bantuin yak biar cepet selesai.”
“Sippt, thanks bro.”
            Mereka sedang sibuk membereskan map dan menyusun map’nya sesuai perintah sang Pembina osis. Di sela-sela kegiatan mereka, mereka sempatkan untuk mengobrol masalah pribadi mereka yang akhir-akhir ini selalu mengusik kehidupan mereka masing-masing.
“Gue denger, kemarin si Shilla ke rumah loe yah. Udah ketemu belum sama dia ???” Tanya Gabriel tiba-tiba yang membuat sahabatnya menghentikan kegiatanya dan menatapnya.
“Gue ketemu sama dia.” Jawab Rio seraya melanjutkan kegiatanya.
“Terus gimana ??? Dia ngerasa khawatir gak sama loe ??? Akhir-akhir ini gue lihat si Shilla happy mulu Yo, loe berdua udah jadian yah ???”
“Jadian ??? Mana mungkin dia jadian sama gue. Si Debo mau dikemanain ??? Lagian tuh anak happy kaya gituh karena baru di kasih kejutan kali sama Debo.”
“Mana mungkin. Shilla kan Cuma ………..” (‘Hampir ajah gue keceplosan’ Batin Gabriel).
“Cuma apa … Cuma sayang sama Debo ??? Emang.”
“Ish, loe jangan salah paham dong Yo. Shilla itu gak sayang sama Debo. Dia Cuma suka sama loe.”
“Mana mungkin Yel. Jelas-jelas gue tahu kalo dia udah jadian sama Debo. Dia sendiri yang ngaku. Jadi bohong banget kalo loe ngomong kaya gituh.”
“Huft, terus masalah prom night nanti gimana ??? Loe udah dapet pasangannya belum.”
“Belum, gue masih gak mau ngurusin ituh. Lagian gue kan ketua osis’nya. Jadi gak papa dong kalo gue datengnya sendirian ??? Aturan ituh Cuma berlaku Cuma buat siswa TB kecuali anggota osis kan ??? Jadia fine-fine ajah kalo gue gak bawa pasangan nanti.” Terang Rio
“Heh, loe gak denger keputusan Pembina kemarin. Semua siswa maupun siswi wajib dateng sama pasangannya. Soalnya bakalan ada acara yang khusus buat pasangan muda-mudi. Juga bakalan ada pemilihan prince and princess buat tahun ini. Jadi buat loe, gue ataupun anggota osis lainnya wajib dateng sama pasangannya. Ngerti.” Terang Gabriel
“Yayaya. Tapi loe juga mesti inget Yel. Gue itu yang bikin acaranya, gue yang ngatur acaranya. Jadi gak mungkin dong gue sama pasangan gue terus ???”
“Heh, loe itu kerja Cuma sebelum ulang tahun sekolah terlaksanakan. Pada saat acara ulang tahun sekolah itu semuanya menjadi siswa dan siswi SMA Tunas Bangsa. Gak ada kedudukan disana. Ya mungkin buat organisasi kaya osis sama pramuka bakalan punya acara khusus nanti. Tapi tugas kita bener-bener free pada saat acara prom night nanti.”
“Serius loe ??? kata siapa acaranya kaya gituh ??? Yang gue denger kayaknya waktu itu pembina osis bilangnya kalo anggota osis pada saat hari H bakalan pada sibuk semua deh.” Tantang Rio gak mau kalah.
“Siapa yang bilang ??? Makanya, kalo lagi rapat itu di dengerin. Pikiran loe jangan ke Shilla mulu. Jadi gak ngerti kan acaranya apa ajah.” Ledek Gabriel.
“Kenapa jadi bawa-bawa Shilla lagi. Denger yah Tuan Gabriel yang terhormat. Gue itu selalu focus sama rapat osis kita setiap dilaksanain. Jangan asal deh kalo ngomong.”
“Denger juga yah Tuan Mario yang terhormat. Kalo loe emang dengerin dan ngikutin rapatnya dengan sungguh-sungguh, loe pasti ngerti semua isi rapatnya.”
“Gue ngerti kok.” Jawab Rio nge’sok.
“Oyah ??? Sekarang gue Tanya, siapa yang nanya sama gue tentang acara pemilihan prince and princess di acara ultah sekolah nanti. Dan siapa juga yang Tanya sama gue tentang tema yang akan ditampilkan buat acara ultah sekolah nanti. Terus siapa yang nanya sama gue tentang keputusan terkahir di rapat rapat yang udah dilaksanain. Hah.” Tantang Gabriel.
“Ya itu karena gue lagi gak focus aja. Bukan karena Shilla. Loe apaan deh yel. Kenapa sekarang malah gue yang dipojokkin sama loe.”
“Ya lagian loe. sama sahabat sendiri aja gak mau ngaku.”
“Ngaku apaan ???” Tanya Rio.
“Gak usah pura-pura bego deh Yo. Masalah loe sama Shilla lah.”
“Emang apa yang harus gue akuin ???” Tanya Rio sok gak ngerti.
“Ya perasaan loe lah, perasaan loe yang sebenarnya ke Shilla itu kaya gimana.” Jawab Gabriel singkat.
“Akh udah akh. Gue lagi males bahas tuh anak. Thanks loe udah mau bantuin gue.”
“Mengalihkan pembicaraan loe. emang bisa yah loe. yaudah, mau ke kantin bareng gak ???” Ajak Gabriel.
“Gak usah deh, gue mau ke lapangan indoor. Loe duluan ajah. kalo gue udah selesai gue pasti nyusul kok. Okeh bro, bye.” Ucap Rio seraya berlari keluar ruangan.
“Dasar. Gengsinya masih tinggi ajah. gue berharap loe cepet-cepet nyatain perasaan loe ke Shilla Yo. Sebelum Shilla bener-bener suka sama Debo.” Gumam Gabriel seraya berjalan menuju ke kentin.

gimana gimana ????
Keren gak ceritanya ??? ini belum ending guys :D
kalau keren like'nya donk, comment juga jangan lupa ..
silahkan post komentar di bawah ini guys ...
kalau mau di lanjutin tolong comment atau sekedar like.
nanti akan saya lanjutkan ceritanya .. thanks for All ;)
Reaksi: