Text Select - Hello Kitty

Benci Jadi Cinta - Part 3 (Yoshill)

Senin, 11 Maret 2013 - Diposkan oleh Indah Nur Amalia di 05.25

2 jam kemudian. Test yang dilakukan oleh murid baru ini telah selesai di kerjakan. Bu kepsek keluar ruangan diikuti oleh Bu Maya dan Pak Duta. Sedangkan gadis ini memilih untuk tetap di dalam seraya menelungkupkan wajahnya di meja.
“Akhirnya selesai juga test’nya. Capek banget gue. Mana belum ke isi lagi nie perut.” Keluh Shilla lirih
            Kemudian terdengar derap langkah memasuki ruang osis mendekati gadis yang sedang menelungkupkan wajahnya itu.
“Ngapain loe masih disini. Bukannya pulang.” Suruh Rio tajam.
“Maaf kak,” Mengambil tas dan berjalan keluar ruang osis dengan langkah gontai.
“Heh Tunggu (memegang lengan Shilla). Ya ampun, panas banget lengan loe. Heh kenapa loe. Loe sakit ???” Tanya Rio khawatir seraya memegang dahi Shilla.
“(menurunkan tangan Rio dari dahinya). Gapapa kok kak, Cuma kecapekan aja kali. Gue duluan kak.”
“Ekh tunggu, gue anterin loe pulang.” Tawar Rio lembut.
“Gak usah kak, gue bisa pulang naik taksi.”
“Loe gak lihat nie udah jam berapa ??? Mana ada taksi jam segini. Udah loe gue anterin pulang aja. Keadaan loe gak memungkinkan untuk pulang sendiri.”
“(memegang kepalanya) Gapapa kak, gue ….”
            Belum sempat gadis ini melanjutkan kata-katanya, dia sudah Ambruk atau pingsan. Dengan sigap Rio menangkap tubuh Shilla dengan raut wajah khawatir.
“Shil, Shilla bangun, adduhh gimana nie, bangun Shil.” Ucap Rio dengan nada khawatir seraya menepul pelan pipi Shilla. “Gue bawa ke UKS aja deh.” Ceplos Rio seraya menggendong Shilla menuju UKS.
            Pria tampan ini menggendong Shilla ke UKS. Perasaan bersalah langsung menyelimuti hati ketua osis ini. Entah kenapa dia merasa sangat khawatir dengan gadis ini. Setelah itu Rio membaringkan Shilla di ranjang yang ada di UKS.
Kemudian dirinya beranjak keluar UKS dan menuju ke kantin dengan berlari. Setelah berhasil membeli nasi goreng serta the hangat, pria ini kembali ke UKS dan meletakkan makanan dan minumanya di meja di samping ranjang.
Kemudian dirinya duduk di pinggir kasur seraya menggenggam tangan gadis itu lembut. Entah kenapa pria ini berani melakukannya. Terasa hangat tangan gadis ini. Beberapa saat kemudian tangan gadis ini bergerak dan matanya terbuka. Otomatis pria tampan ini bangun dan melepaskan genggamanya.
“Loe udah sadar.” Pekik Rio kaget seraya bangun dari pinggir tempat tidur.
“Iyah kak (berusaha bangun dan menyenderkan dirinya ke tembok belakang). Gue kenapa kak, ada di mana sekarang ???” Tanya Shilla bingung
“Loe ada di UKS, tadi loe pingsan jadi gue bawa loe kesini. Nie makan dulu, gue tahu loe pasti belum makan kan ???” Ucap Rio seraya memberikan nasi gorengnya kepada Shilla.
“Makasih, karena kakak udah nolongin gue. Tapi kalau kakak mau pulang juga gak papa kok.”
“Gak, gue mau disini sampai loe merasa baikan. Sejak kapan loe gak makan ???” Tanya Rio
“Baru tadi pagi kok.” Jawab Shilla singkat.
“Bohong banget loe. Udah jujur aja. Ini semua gara-gara gue kan ??? Sorry kalau gitu, gue tahu gue salah dengan ngebiarin loe belajar sendiri, gue minta maaf, gue sadar kalau gue salah.”
“Gak, kakak gak salah kok. Gue yang minta kakak buat gak ngajarin gue kan ???”
“Udah. Pokoknya gue yang salah, dan sekarang gue mau tanggung jawab. Sekarang loe makan.” Suruh Rio lembut seraya memberikan nasi gorengnya lagi.
“Gak akh kak, mual banget soalnya.”
“Justru karena loe belum makan makanya mual, udah nie gue suapin, pokoknya loe harus makan.”
“Gak usah kak, gue bisa sendiri (merebut nasi gorengnya dari tangan Rio).”
“Yaudah.” Ucap Rio seraya duduk di pinggir tempat tidur ngelihatin Shilla makan.
“Kak, jangan nglihatin gue mulu napa, risih tahu.”
“Eh, iya maaf.” Jawab Rio gugup.
            Beberapa menit kemudian. Shilla telah selesai makan dan menaruh piringnya di meja lagi. Dan Rio mengambilkan teh hangatnya untuk di minum Shilla.
“Makasih kak. Sekarang gue mau pulang.” Ujar Shilla lirih seraya turun dari ranjang.
“Gue anterin yah. Badan loe masih panas nie. Ntar kalo ada apa-apa sama loe gue tambah merasa bersalah.” Tawar Rio membantu Shilla berjalan.
“Iyah kak, makasih.”
            Rio terus membantu Shilla sampai ke parkiran mobilnya. Kebetulan hari ini Rio membawa mobil. Jadi gadis ini tidak merasa kedinginan di perjalanan nanti. Rio membuka pintu mobil samping dan membantu Shilla masuk ke dalam mobil. Setelah itu dirinya memutar mobil lewat depan mobilnya dan masuk ke dalam kursi kemudi.
“Loe make jaket gue yah, biar loe anget badanya (melepas jaketnya dan memakaikan jaketnya ke tubuh Shilla).”
“Makasih kak, tapi loe gapapa ???” Ucap Shilla memastikan seraya membetulkan jaket Rio.
“Gapapa, santai aja. Rumah loe di mana Shill ????” Tanya Rio seraya menjalankan mobilnya
“Di kompleks perumahan Bahari no.69 (ngarang.com).” Jawab Shilla singkat.
“Ok, loe tiduran aja. Nanti kalau udah sampe dirumah loe gue bangunin.”
“Iya kak, makasih.”
            Selama di perjalanan. Gadis ini memang tidur, terlihat dari raut wajahnya kalau gadis ini sangat kecapekan dan kelelahan. Perasaan bersalah lagi lagi menyelimuti hati pria tampan yang sedang konsen untuk menyetir mobilnya. Sesekali pria ini menyingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik gadis di sampingnya. “Gue minta maaf banget sama loe Shil, gue yang udah bikin loe kaya gini, sekali lagi gue minta maaf.” Ucap Rio lirih seraya menatap gadis cantik di sampingnya.
            Beberapa menit kemudian mobil Rio sudah memasuki kompleks perumahan Bahari dan dengan cepat pria ini menemukan rumah no.69. Setelah itu pria tampan ini menatap gadis di sampingnya sejenak kemudian dirinya turun dan memasuki rumah megah itu. Kemudian menekan bel rumah itu.
            Kemudian terlihat wanita paruh baya membukakan pintunya.
“Iya den, ada apa yah.”
“Maaf Bi sebelumnya. Orang tua Shilla ada di dalam bi ???” Tanya Rio sopan
“Oh, nyonya sama tuan lagi keluar Kota den sama adik non Shilla juga, rumah ini kosong den, Cuma ada non Shilla, tapi non Shilla’nya belum pulang.” Celoteh wanita paruh baya itu.
“Oh gitu. Mmm, Shilla lagi tidur di mobil saya Bi, tadi dia habis ngikutin test jadi baru pulang sekarang.”
“Oh gitu den, yaudah bawa ke kamarnya aja den, ada di atas (menunjuk kamar Shilla).”
“Iya bi, sebentar yah.” Ucap Rio seraya kembali menuju ke pintu samping mobilnya tempat Shilla tidur dan membukanya serta melepaskan sabuk pengaman yang di pakai Shilla setelah itu menggendong gadis ini memasuki rumahnya dan menuju ke kamarnya.
            Setelah sampai di kamarnya. Rio kembali membaringkan gadis ini dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuh gadis ini. Sementara Rio sudah berlari menuju kearah Bibi di dapur dan meminta kompresan untuk Shilla. Setelah selesai pria ini kembali ke kamar gadis cantik itu dan mengompresnya.
“Shil, gue minta maaf banget sama loe. Kalau gue gak egois waktu itu pasti loe gak akan kaya gini.” Gumam Rio seraya membetulkan kompresan Shilla.
            Selama beberapa jam Rio singgah di rumah gadis cantik ini. Tidak mungkin jika dia meninggalkan gadis ini yang dalam keadaan sakit di rumah sendirian. Sekarang jam di dinding sudah menunjukkan pukul 17.25, dan beberapa saat kemudian gadis cantik ini bangun dari tidurnya.
            Setelah berhasil mendudukan dirinya di kasur, gadis ini baru menyadari jika ada orang lain selain dirinya di dalam kamar. Terlihat pria ini sedang menelungkupkan wajahnya di pinggir tempat tidur sementara dirinya duduk di kursi samping ranjangnya.
“Makasih buat semuanya kak, gue baru tahu loe baik banget.” Gumam Shilla kemudian menaruh kain yang sedari tadi digunakan Rio untuk mengompres dirinya di meja samping. Setelah itu gadis ini turun dan keluar kamar.
            Belum sempat gadis ini melangkah keluar kamar, terdengar suara yang memberhentikan langkahnya. Itu suara Rio. Ternyata pria tampan ini sudah bangun dari tidurnya.
“Mau kemana loe ???” Tanya Rio heran
“Mau keluar kak, bosen banget di kamar mulu.” Jawab Shilla sekenanya dan melanjutkan langkahnya
“Gue ikut. (mengejar Shilla). Kenapa loe gak ngebangunin gue.”
“Hmmm, habis tidur loe pulas banget, jadi gue gak tega buat bangunin loe. Makasih yah kak.”
“For What ???” Tanya Rio heran.
“For all, loe udah ngebantuin gue dan nungguin gue sampe gue siuman serta udah ngasih makanan sama minuman serta nganterin gue pulang dan ngompres gue.” Terang Shilla senyum manis.
“Itu gak seberapa lagi, dibandingkan dengan kesalahan gue sama loe. gue masih ngerasa bersalah sama loe.” Kata Rio
“Loe gak salah apa-apa sama gue kok kak. Makasih buat semuanya.” Ucap Shilla seraya duduk di sofa diikuti Rio yang duduk disebelahnya.
            Kemudian mereka berdua bercanda dan tertawa bersama. Entah apa yang menyebabkan 2 insan ini menjadi dekat seperti sekarang, padahal dulunya mereka seperti kucing dan tikus yang tak pernah akur. Setelah jam dinding menunjukkan pukul 18.30 Rio memutuskan untuk kembali ke rumahnya.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Adduhh rumah Agni dimana sih. Daritadi gak ketemu-temu.” Sungut pria tampan ini seraya mengendarai motornya di sebuah kompleks perumahan.
“Tadi kata Ify, rumah Agni itu di kompleks perumahan Kasih Bunda no……… akh iya, no. 14. Berarti disana.” Ceplos pria ini dan mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.
            Akhirnya pria ini sampai di sebuah rumah megah dan mewah di kompleks perumahan. Setelah berhasil memarkirkan motornya pria ini masuk ke dalam dan menekan bel rumah itu.
“Permisi. Permisi.” Teriak pria ini sesekali menekan bel rumah itu.
“(membuka pintu). Iya, cari siapa yah.” Ucap wanita paruh baya tapi terlihat anggun.
“Maaf tante mengganggu. Saya Cakka teman Agni. Bisa bertemu dengan agni tante.” Pinta Cakka ramah.
“Oh Agni. Ada di dalam, mari masuk. Tante panggilkan Agni dulu di kamarnya yah.”
“Iya Tante terima kasih.” Jawab Cakka seraya duduk di sofa ruang tamu.
SKIP !!!
            Seorang gadis sedang menuruni tangga menggunakan baju yang sangat sederhana. Hanya memakai kaos merah dengan celana pendek selutut gadis ini menghampiri tamu yang mengaku sebagai teman Agni. Dengan langkah gontai dia berjalan. Jika mamahnya tidak memaksa untuk menemui tamu yang tidak di undang ini mungkin dia masih berada di dalam kamar dan tidak menemui tamunya itu.
“Ngapain sih loe kesini. Tahu dari mana lagi rumah gue.” Ucap Agni sewot.
“Santai aja dong non, niat gue kesini bukan mau nyari ribut sama loe. gue tahu rumah loe dari Ify sahabat loe.” Jawab Cakka berdiri menghampiri Agni
“Terus ngapain, udah deh gak usah basa basi gue ngantuk pengin tidur. Loe tahu, kehadiran loe itu sangat mengganggu gue.” Ketus Agni
“Iya sorry, gue kesini Cuma mau minta maaf atas kesalahan gue selama ini sama loe. maafin gue karena gue selalu bikin loe kesel bikin loe sakit hati dan bikin loe nangis karena perlakuan gue selama ini, gue sadar kok kalau gue udah kelewatan sama loe. maka dari itu gue mau minta maaf sama loe.” terang Cakka
“permintaan Maaf loe gak gue terima. Enak banget loe ngomong maaf, loe tahu kesalahan loe itu udah banyak  banget sama gue.” Ucap Agni seraya melipat tangannya di dadanya.
“Iya Agni, gue bakal nglakuin apa aja yang loe suruh deh. Asal loe mau maafin gue.” Pinta Cakka
“Sejak kapan loe ngemis ngemis minta maaf sama gue. Bukanya selama ini loe paling anti sama yang namanya minta maaf yah. Selama ini juga loe selalu ngajak gue ribut. Loe minta maaf sama Rival loe sendiri, gak masuk akal lagi.”
“Terserah loe deh mau ngomong apa sama gue. Yang jelas gue minta maaf sama loe. gue juga mau kalau setiap hari loe suruh buat ngebersihan semua rumah loe. atau nguras kolam renang yang ada di belakang rumah loe. gue juga mau kalau loe suruh gue buat mutusin semua cewe gue.”
“Itu mah masalah kecil buat loe. loe mutusin semua cewe loe sekarang, besoknya loe udah dapetin yang lebih banyak lagi kan ??? coba gue suruh loe loncat ke jurang atau minta loe buat berdiri di jalan raya yang rame banget, pasti loe gak mau kan ???”
“Ya jangan gitu juga dong. Itu mah mau bunuh gue namanya.” Sungut Cakka kesal dengan perkataan Agni tadi.
“Iya, dengan loe gak ada di dunia ini itu lebih baik. Daripada setiap hari ada cewe yang nangis kejer gara-gara loe putusin secara sepihak.”
“Ag, please. Loe jangan ngungkit masalah itu. Gue kesini Cuma mau minta maaf sama loe, bukan mau nyari ribut. Maafin gue ag.” Pinta Cakka dengan raut wajah memelas.
“Ok, gue bakal maafin loe asal ada 1 syarat yang harus loe lakuin.”
“Apa syaratnya ???” Tanya Cakka curiga.
“Besok pas loe berangkat sekolah. Gue mau loe berangkat sekolah pake angkutan umum dan simpan motor loe itu. Dan gue mau loe bawa poster yang intinya minta maaf sama gue. Itu loe lakuin setelah loe turun dari angkutan umum itu dan jadiin tuh poster kaya kalung loe. pake di leher dan jalan sampai kekelas gue. Apa loe sanggup ???” Terang Agni.
“Gue, gue …….”
“Loe gak sanggup kan ??? Jangan harap gue mau maafin loe sebelum loe nglakuin apa yang gue suruh tadi. Ngerti.” Ucap Agni seraya berjalan menuju ke kamarnya.
“Ok Ag (Agni menghentikan langkahnya tanpa menengok kearah Cakka) gue bakal nglakuin itu semua demi loe. gue bakal buktiin sama loe kalau gue bisa. Loe lihat aja besok. Ok, sekarang gue pamit pulang dulu. Sampaiin rasa terima kasih gue sama nyokap loe. permisi.” Pamit Cakka seraya menuju ke motornya dan pergi meninggalkan rumah Agni.
“(melepas kepergian Cakka dengan menatap Cakka). Gue yakin loe gak mungkin nglakuin apa yang gue suruh tadi kak, gue tahu loe kaya gimana.” Gumam Agni seraya kembali melanjutkan langkahnya.
SKIP !!!
            Keesokan harinya. Terlihat seorang pria yang menggulung sebuah kertas besar seraya keluar dari rumahnya dan berlari menuju ke jalan depan kompleks perumahanya. Pria ini terus berlari guna mencari angkutan umum yang akan ia tumpangi untuk bisa sampai di sekolahnya. Setelah sampai di sebuah halte depan kompleks perumahanya dia berhenti dan mencari angkutan umum itu.
            Beberapa menit kemudian terlihat angkutan umum berhenti di depan halte. Otomatis penunggu yang sedari tadi menunggu berebut menaiki Metromini itu. Begitu pula dengan pria tampan ini, dia segera menaiki metromini itu, ternyata semua kursi sudah penuh, mau gak mau pria ini harus berdiri dengan berpegangan tali yang ada di atasnya. Berdesak desakan mengakibatkan pria ini tidak tenang. Karena baru pertama kalinya pria tampan merasakan berdesak desakan dengan orang dan menggunakan metromini.
            Penderitaan pria ini belum berakhir. Karena metromini yang ia tumpangi mengalami kemacetan. Keringat bercucuran membasahi tubuh pria ini terutama bagian wajah. Selama beberapa menit kemudian metromini ini berhenti di sebuah terminal yang letaknya tidak jauh dari sekolah Cakka. Otomatis Cakka harus kembali berlari setelah memberikan beberapa lembar uang.
“Oya, posternya.” Ceplos Cakka seraya memakai poster untuk di kalungkan di lehernya. Kemudian Cakka kembali berjalan meuju ke kelas Agni.
            Selama di perjalanan, banyak pasang mata yang melihat dirinya dengan heran. Apakah yang mereka lihat memang benar personil dari D’Orions Atau bukan. Tapi pria ini tidak memperdulikan ucapan mereka dan mempercepat langkahnya untuk bisa sampai di kelas Agni.
            Setelah sampai pria ini segera menuju ke bangku Agni. Terlihat Agni yang sedang mengobrol dengan para sahabatnya itu. Dan teman-teman Agni langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap Cakka tajam, sedangkan Agni hanya menganga seraya menutupi mulutnya dengan tangannya.
“Kak Cakka.” Pekik Ify, Sivia dan Shilla.
“Sorry semuanya gue ganggu. Gue Cuma mau ketemu sama Agni.” Ucap Cakka santai.
“(melihat Cakka dari bawah ke atas). Dandanan loe berantakan banget kak.” Ucap Sivia heran
“(menarik tangan Cakka dan membawanya ke taman belakang sekolah). Loe habis ngapain sih. Dandanan loe jadi ancur banget gini. Baju keluar, rambut berantakan. Mana tuh celana kotor banget lagi.” Ucap Agni heran seraya melihat dandanan Cakka.
“Kan gue habis nurutin apa yang loe saranin. Gue naik metromini dan bikin poster ini serta di kalungkan ke leher gue kan ??? Sekarang gue udah nglakuin itu semua buat loe. sekarang loe mau kan maafin gue.”
“Kak, tapi ini tuh bisa merusak image loe kak. Leo gak lihat tatapan fans loe yang gak percaya sama dandanan loe sekarang. Seorang Cakka Kawekas Nuaraga yang setiap harinya selalu dandan menarik dan bersih juga wangi sekarang jadi kotor, bau dan sama sekali gak menarik.”
“Gue rela lakuin itu semua demi mendapatkan maaf dari loe.”
“Tapi gak usah kaya gini juga dong.”
“Sekarang gue Tanya sama loe, loe udah maafin gue kan ???” Tanya Cakka memastikan
“Iyah, gue udah maafin loe. udah sekarang ganti baju loe dan bersihin dandanan loe yang acak-acakkan kaya gini. Bisa di labrak gue sama fans anarkis loe. udah sana.” Suruh Agni gak nyante.
“Ok, Thanks yah Ag, gue ganti baju dulu.” Ucap Cakka seraya pergi meninggalkan Agni.
“Ag, dia gila sejak kapan sih ???” Tanya Gabriel yang muncul dari belakang Agni bersama dengan anggota D’Orions yang lain kecuali Cakka serta ada Shilla, Ify dan Sivia.
“Tahu, merusak Image dia banget. Seorang Cakka Kawekas Nuraga yang biasanya tampil menarik jadi dekil banget gitu.” Timpal Alvin seraya merangkul Sivia
“Sorry guys. Gue yang nyuruh kak Cakka kaya gitu. tapi gue beneran gak ada fikiran kalau kak Cakka bakal nglakuin hal memalukan kaya tadi. Beneran deh.” Ucap Agni merasa bersalah.
“Loe yang nyuruh ???” Tanya Rio kaget
“Iya kak, gue yang nyuruh. Yah habis dia kemarin ke rumah gue. Terus minta maaf sama gue. Gue kira maaf dia untuk main-main doang. Yaudah gue kasih syarat aja.” Jawab Agni lirih
“Gila Ag, keren banget loe. gue salut sama loe. bisa ngerubah Cakka 100 % gitu. Ckckck.” Decak Alvin kagum disertai anggukan Rio dan Gabiel.
“Yaudah cabut yuk, temuin Cakka.” Usul Gabiel seraya menggenggam tangan Ify.
“Yaudah Yuk.” Jawab yang lain dan langsung pergi. Shilla baru saja ingin melangkah, tangannya sudah di tarik oleh seseorang dan orang itu langsung membawa Shilla ke atap gedung tua itu.
YYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY
“Ada apa kak ???” Tanya Shilla setelah sampai di atap gedung sekolah
“Gue pengin ngomong sama loe.” Jawab Rio seraya duduk di sebelah tiang diikuti Shilla yang juga ikut duduk di sebelah Rio “Ngomong apa ???” Tanya Shilla
“Gue pengin minta maaf sama loe. kelakuan gue selama ini emang udah keterlaluan sama loe. dan loe harus tahu, baru kali ini gue minta maaf sama cewe. Loe cewe kedua yang bikin gue ngerasa bersalah kalau gue nglakuin sesuatu yang menurut gue salah. Setelah nyokap gue.” Terang Rio
“kenapa loe minta maaf sama gue ???”
“Gue gatahu. Yang jelas gue ngerasa bersalah sama loe dan gue pengin minta maaf sama loe. loe mau kan maafin gue ???” Tanya Rio seraya menatap Shilla
“(menganggukkan kepalannya 2x). gue maafin loe kok kak. Gue boleh Tanya ???”
“Boleh, Tanya apa ???”
“Kenapa sih, loe selalu berkutat sama buku. Setiap loe lagi baca pasti loe selalu susah untuk di ganggu. Kalau ada orang yang ganggu mesti loe selalu marah dan kesel. Maaf kak, gue lancang Tanya ini sama loe. gue Cuma penasaran aja.” Tanya Shilla dengan perasaan bersalah.
“Iya, gapapa kok. Gue Cuma lagi mencari kesibukkan aja. Soalnya sebelum gue berkutat sama buku terus, gue itu selalu ngelamun. Ngelamunin hal yang gak penting tepatnya. Dulu, gue punya cewe, gue cinta banget sama dia, gue sayang banget sama dia. Dan dia selalu ngasih gue kebahagiaan yang gak pernah gue dapet dari siapa-siapa kecuali dari keluarga gue. Dia selalu ada di saat gue lagi butuhin dia. dia selalu jadi sandaran gue kalau gue punya masalah atau gue lagi seneng.” Terang Rio menghela nafas kemudian melanjutkan.
“Tapi gara-gara gue, dia gak ada untuk selamanya. Dia pergi ninggalin gue selamanya dan itu semua gara-gara gue. Gue yang bunuh dia. gue yang bikin dia meninggal.” Gumam Rio lirih seraya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.
“Kok loe bisa mikir gitu sih kak. Emang kejadiannya gimana ???”
“Gue pernah ngajakkin dia ke puncak berdua buat refreshing. Gue ngendarain mobil gue dengan kecepatan tinggi karena gue mikir jalanan menuju puncak itu sepi banget. Dan cewe gue berkali kali meringatin gue supaya gue gak ngebut karena bahaya. Tapi gue gak pernah ngedengerin perkataan dia.” Terang Rio seraya mengambil nafas sejenak
“Gue tetep ngebut dan pas di perempatan jalan gue lihat ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi juga. Karena gue gak konsen gara-gara gue ngajakkin cewe gue bercanda mulu, akhirnya mobil gue menabrak truk itu. Karena laju mobil gue dan truk itu sama sama tinggi dan gue gak bisa mengendalikan mobil gue akhirnya mobil gue nabrak pohon dan terbalik.”
“Gue masih sadar pas itu. Dan gue lihat cewe gue pingsan, dan gue berusaha keluar mobil dan langsung nyelamatin cewe gue. Akhirnya pas gue bisa nyelamatin dia, nyawa dia gak tertolong dan dia meninggal.” Lanjut Rio dengan nada lirih
“Itu bukan salah loe kak. Itu semua tuh takdir, bukan loe yang nyebabin cewe loe meninggal.” Ucap Shilla seraya memegang bahu Rio berusaha menguatkan hati pria di hadapannya.
”Itu salah gue Shil, kalau gue nurutin perkataan cewe gue, dia bakalan masih ada sekarang.”
“Loe yakin banget. Takdir itu gak bisa di rubah kak. Semuannya udah di atur. Dan cewe loe emang udah takdirnya buat gak ada. Dan loe harus terima itu. Gue juga pernah ngalamin kejadian yang sama kaya loe. gue pernah kehilangan kakak gue satu-satunya. Dia juga kecelakaan pesawat pada saat dia mau pergi ke Amerika buat kuliah. Tapi tiba-tiba pesawatnya itu mengalami kesalahan terknis dan gak bisa mengimbangi akhinya pesawat itu jatuh ke dalam laut dan semua penumpangnya itu meninggal. Pada saat itu gue juga sempat syok. Tapi beberapa saat kemudian gue sadar kalau kakak gue itu emang udah takdirnya buat gak ada.” Terang Shilla seraya menatap lurus kedepan dan sedari tadi Rio melihat wajahnya seraya mendengarkan cerita Shilla.
“loe jangan sedih gitu dong, gue yakin kok. Kakak loe pasti akan selalu ada di hati loe. dan dia pasti lagi tersenyum disana ngelihat loe. Thanks yah Shil, gue udah lega sekarang. Gue sadar kalau itu semua takdir. Dan gue ngucapin terima kasih banyak sama loe yang udah nyadarin gue.”
“Iyah kak, santai aja lagi. Gue seneng kok bisa bantuin loe.” Ujar Shilla tersenyum manis.
“Sorry yah atas kesalahan gue selama ini yang selalu kasar sama loe.”
“Iyah kak, gue juga minta maaf kalau gue sering bikin loe kesel.”
“Iyah Shill, sekarang kita temen.” Rio mengangkat jari kelingkinya
“Temen.” Ucap Shilla seraya menautkan kelingkinya pada kelingking Rio.
“yaudah, gabung Sama yang lainya yuk.” Usul Rio seraya berdiri.
“Ayok.” Setuju Shilla dan mengikuti langkah Rio berusaha menjajarkan langkahnya dengan Rio dan kembali ke temen-temen yang lain.
Reaksi: